Utsman bin Affan

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search
Utsman bin Affan
Utsman bin Affan.jpg
Lahir : 574 M
Wafat : 17 Dzulhijjah 35 H

Kembali ke Main Page << Nabi dan Penerusnya

Riwayat Hidup dan Keluarga

Utsman bin Affan bin Abul Ash lahir dari keluarga yang kaya dan berpengaruh dari suku Quraisy silsilah Bani Umayyah. Usianya lebih muda lima tahun dari Rasulullah Muhammad Saw. Di masa mudanya, ia telah menjadi seorang pedagang yang kaya dan dermawan. Dua kisah di atas merupakan bukti kedermawanannya. Ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar Ash Shiddiq dan termasuk golongan As-Sabiqun al-Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam)

Utsman berasal dari strata sosial dan ekonomi tinggi yang pertama-tama memeluk Islam. Ia memiliki kepribadian yang baik. Bahkan sebelum memeluk Islam, Utsman terkenal dengan kejujuran dan integritasnya. Rasulullah Muhammad Saw berkata, “Orang yang paling penuh kasih sayang dari umatku kepada umatku adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, yang paling gagah berani membela agama Allah adalah Umar bin Khattab, dan yang paling jujur dalam kerendah-hatiannya adalah Utsman bin Affan.”

Lahir

Utsman bin Affan lahir di kota Mekkah, Arab Saudi pada 574 Masehi dari golongan [[Bani Umayyah].


Wafat

Enam tahun pertama masa pemerintahan Utsman bin Affan berjalan dengan damai, namun enam tahun sesudahnya terjadi pemberontakan. Sayangnya Utsman tidak dapat menindak tegas para pemberontak ini. Ia selalu berusaha untuk membangun komunikasi yang berlandaskan kasih sayang dan kelapangan hati. Tatkala para pemberontak memaksanya melepaskan jabatan khalifah, ia menolak dengan mengutip perkataan Rasulullah Muhammad Saw, “Suatu saat nanti mungkin Allah SWT akan memakaikan baju kepadamu, wahai Utsman. Dan jika orang-orang menghendakimu untuk melepaskannya, jangan lepaskan hanya karena orang-orang itu.”

Setelah terjadi pengepungan yang lama, akhirnya pemberontak berhasil memasuki rumah Utsman bin Affan dan membunuhnya. Utsman bin Affan syahid pada hari Jumat, 17 Dzulhijjah 35 H, setelah memerintah selama dua belas tahun sejak 23 H.

Khalifah Utsman bin Affan Dimakamkan di Jannatul Baqi, Madinah, Arab Saudi.

Nasab Keturunan

Utsman bin Affan bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luwa’i bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’addu bin Adnan.1

Abu Amr, Abu Abdullah al-Quraisy, al-Umawi Amirul mukminin Dzun Nurain yang telah berhijrah dua kali dan suami dari dua orang putri Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Ibu beliau bernama Arwa binti Kuraiz bin Rabi’ah bin Hubaib bin [Abdusy Syams]] dan neneknya bernama Ummu Hakim Bidha’ binti Abdul Muththalib paman Rasulullah صلى الله عليه وسلم.


Keluarga

Kholifah Utsman bin Affan ra adalah famili Rasulullah Muhammad SAW, karena Ibunya yang bernama Urwah adalah sepupu Rasulullah Muhammad SAW.

Sedang Urwah adalah putri dari Ammahnya Rasulullah Muhammad SAW yang bernama Ummu Hakim Albaidhok binti Abdul Muttolib yang bersaudara dengan Sayyidina Abdulloh ayah Rasulullah Muhammad SAW. Dengan demikian Sayyidina Ali bin Abu Thalib kw juga adalah sepupu dari ibu Sayyidina Utsman ra.

Beliau Sayyidina Utsman adalah menantu Rasulullah Muhammad SAW. Bahkan beliau menikah dengan dua putri Rasulullah Muhammad SAW. Dimana setelah istrinya yang pertama Rugayyah binti Rosulillah SAW meninggal, maka beliau menikah dengan Ummu Kaltsum binti Rosulillah SAW.

Pendidikan

Ia mendapatkan pendidikan yang baik, belajar membaca dan menulis pada usia dini.

Kholifah Utsman Ibnu Affan ra adalah murid langsung Rasulullah Muhammad SAW.

Utsman bin Affan

Penerus Beliau

Keturunan

Jasa dan Karya Beliau

Mengumpulkan Mus’haf Al-Qur’an

Diantara jasa dan inisiatif Kholifah Rasulullah Muhammad ra yang sampai sekarang kita pakai dan ikuti adalah Al-Qur’an yang kita baca sekarang ini. Saat itu kholifah Utsman bin Affan ra menghadapi keadaan yang menghawatirkan, dimana saat itu Muslimin diberbagai daerah membaca Al-Qur’andengan cara yang berlainan. Mereka berbeda faham dalam menyikapi cara membaca Al-Qur’an, sehingga masing masing merasa dirinya yang benar.

Kholifah Utsman bin Affan ra kemudian mengumpulkan tokoh tokoh Sahabat dan diberitahukan mengenai kehawatirannya akan bahaya yang akan timbul akibat perselisihan dari perbedaan bacaan Kitabulloh (Al-Qur’an). Beliau menegaskan keadaan ini tidak boleh terjadi dan harus dihentikan.

Beliau kamudian meminta kepada Ummul Mukminin Hafshoh ra untuk menyerahkan lembaran lembaran Al-Qur’an yang ditulis oleh Sayyidina Ali bin Abu Thalib kw dan Zeid bin Tsabit pada masa kekhalifahan Abu Bakar Ash Shiddiq ra, yang kemudian dititipkan oleh Kholifah Umar bin Khattab ra kepada putrinya Hafshoh ra.

Selanjutnya Kholifah Utsman bin Affan ra mengumpulkan beberapa Sahabat dan kepada mereka Kholifah meminta agar menghimpun lembara lembaran tersebut menjadi satu naskah. Kemudian beliau berpesan, apabila berbeda pendapat, maka beliau berpesan agar kembali kedialek Quraisy. Hal mana karena Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa arab dialek Quraisy.

Hasilnya kemudian dikirim kedaerah daerah, dengan pesan agar apabila membuat baru supaya penulisan Mus’haf selanjutnya harus sama dan seragam dengan yang dikirim oleh Kholifah. Selanjutnya semua catatan catatan mengenai Mushaf (Al-Qur’an) yang lain supaya dibakar.

Usaha dan inisiatif Kholifah Utsman bin Affan ra ini membuat Sayyidina Ali bin Abu Thalib kw dan para Sahabat merasa gembira.

Menjadi Khalifah

Ibnu Abdil Barr berkata, “Utsman dibai’at sebagai khalifah pada Sabtu, 1 Muharram 24 H, tiga hari setelah pemakaman Umar bin Khattab.”

Khalifah sebelumnya, Umar bin Khattab telah menyiapkan sebuah komite yang terdiri dari enam orang sahabat Rasulullah Muhammad Saw untuk memilih khalifah di antara mereka. Mereka adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin Auf dan Sa’ad bin Abi Waqqash. Di antara mereka yang dipilih sebagai khalifah yang ketiga adalah Utsman bin Affan.

Enam tahun pertama masa pemerintahan Utsman bin Affan berjalan dengan damai, namun enam tahun sesudahnya terjadi pemberontakan. Sayangnya Utsman tidak dapat menindak tegas para pemberontak ini. Ia selalu berusaha untuk membangun komunikasi yang berlandaskan kasih sayang dan kelapangan hati. Tatkala para pemberontak memaksanya melepaskan jabatan khalifah, ia menolak dengan mengutip perkataan Rasulullah Saw, “Suatu saat nanti mungkin Allah SWT akan memakaikan baju kepadamu, wahai Utsman. Dan jika orang-orang menghendakimu untuk melepaskannya, jangan lepaskan hanya karena orang-orang itu.

Selama masa kekhalifahan Utsman bin Affan, kejayaan Islam terbentang dari Armenia, Kaukasia, Khurasan, Kirman, Sijistan, Cyprus hingga Afrika Utara. Kontribusi Utsman bin Affan yang paling besar dalam sejarah Islam adalah kompilasi teks asli Al-Qur’an yang lengkap. Banyak salinan Al-Qur’an berdasarkan teks asli juga telah dibuat dan didistribusikan ke seluruh dunia Islam.

Dalam mengerjakan proyek besar ini, Utsman dibantu dan banyak mendapatkan masukan dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Al-Ash dan Abdurrahman bin Al-Harits. Utsman juga berhasil membentuk administrasi kekhalifahan yang terpusat dan memantapkan penerbitan Al-Qur’an yang resmi.

Pengadilan agama yang semula dilakukan di Masjid, oleh Utsman dibangun gedung baru, khusus gedung pengadilan. Ia juga yang mengadakan perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram serta membentuk armada laut Islam yang pertama ketika terjadi perang Dzatusawari (perang tiang kapal) yang dipimpin Muawiyah bin Abi Sufyan pada 31 H.

Kisah Teladan Beliau

Mengenai sifat rendah hatinya ini, Rasulullah Muhammad Saw berkata, “Bukankah pantas aku merasa rendah hati terhadap seseorang yang bahkan malaikat pun berendah hati terhadapnya.”

Kepribadian Utsman benar-benar merupakan gambaran dari akhlak yang baik menurut Islam (akhlakul karimah). Ia jujur, dermawan, dan baik hati. Rasulullah Saw mencintai Utsman karena akhlaknya. Mungkin itulah alasan mengapa beliau mengizinkan dua anaknya untuk menjadi istri Utsman. Yang pertama adalah Ruqayyah. Ia meninggal setelah Perang Badar.

Rasulullah Muhammad Saw sangat tersentuh akan kesedihan yang dialami Utsman sepeninggal Ruqayyah dan menasihatinya untuk menikahi seorang lagi anak perempuan beliau, Ummu Kultsum. Karena kehormatan besar dapat menikahi dua anak perempuan Rasulullah, Utsman terkenal dengan sebutan Dzun Nurain atau Pemilik Dua Cahaya.

Kedermawanan Utsman nampak dalam kehidupannya sehari-hari. Ketika bencana kekeringan melanda Madinah, kaum Muslimin terpaksa menggunakan sumur Rum sebagai sumber air satu-satunya. Sayangnya, sumur tersebut milik Yusuf, seorang Yahudi tua yang serakah. Untuk mengambil air sumur itu, kaum Muslimin harus membayar mahal dengan harga yang ditetapkan si Yahudi.

Melihat keadaan penduduk Madinah, Utsman segera menemui Yusuf, si pemilik sumur. “Wahai Yusuf, maukah engkau menjual sumur Rum ini kepadaku?” tawar Utsman.

Yahudi tua yang sedang ‘mabuk duit’ itu segera menyambut permintaan Utsman. Dalam benaknya ia berpikir, Utsman adalah orang kaya. Ia pasti mau membeli sumurnya berapa pun harga yang ia minta. Namun di sisi lain ia juga tidak mau kehilangan mata pencahariannya begitu saja. “Aku bersedia menjual sumur ini. Berapa engkau sanggup membayarnya?”

“Sepuluh ribu dirham,” jawab Utsman.

Si Yahudi tua tersenyum sinis. “Sumur ini hanya akan kujual separuhnya. Kalau bersedia, sekarang juga kau bayar 12 ribu dirham, dan sumur kita bagi dua. Sehari untukmu dan sehari untukku, bagaimana?”

Setelah berpikir sejenak, Utsman menjawab, “Baiklah, aku terima tawaranmu.” Setelah membayar seharga yang diinginkan, Utsman menyuruh pelayannya untuk mengumumkan kepada para penduduk, bahwa mereka bebas mengambil air sumur Rum secara gratis.

Sejak itu, penduduk Madinah bebas mengambil air sebanyak mungkin untuk keperluan mereka. Lain halnya dengan si Yahudi tua. Ia kebingungan lantaran tak seorang pun yang membeli airnya. Ketika Utsman datang menemuinya untuk membeli separuh sisa air sumurnya, ia tidak bisa menolak walau dengan harga yang sangat murah sekalipun.

Ketika Perang Tabuk meletus, Utsman menanggung sepertiga biayanya. Seluruh hartanya ia sumbangkan sehingga mencapai 900 ekor onta dan 100 ekor kuda. Belum lagi uang yang jumlahnya ribuan dirham.

profil utsman bin affan

Karomah Kewalian

Sumber: Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastoni dan berbagai sumber lainnya.