Syekh Ahmad Khatib Sambassy

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah seorang ulama sufi yang mendirikan perkumpulan Thariqah Qadiriyah Naqsyabandiyah. Perkumpulan thariqah ini merupakan penyatuan dan pengembangan terhadap metode dua thariqat sufi besar. yakni Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

Sekilas, bagi orang awam akan mengira bahwa Syekh Ahmad Khatib Sambas itu adalah Syaikh Ahmad Khatib Minangkabau yang berasal dari Propinsi Sumatera Barat. Kebetulan sekali kedua ulama tersebut mempunyai nama yang sama yaitu Ahmad Khatib. Namun perbedaannya terletak pada tempat kelahirannya yang dinisbahkan pada ujung namanya. Syekh Ahmad Khatib Sambas misalnya, kata Sambas adalah nisbah/diambil dari nama Sambas yaitu suatu tempat/kota yang berada di pantai utara, Kalimantan Barat. Sehingga nama beliau yang semula adalah Ahmad Khatib kemudian ditambah menjadi Ahmad Khatib Sambas. Demikian pula nama Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, kata Minangkalau merupakan suatu nama tempat atau kota di Propinsi Sumatera Barat, yang kemudian kata itu dinisbahkan pada ujung nama beliau.


Riwayat Hidup dan Keluarga

Lahir

Ahmad Khatib Sambas dilahirkan di daerah Kampung Dagang, Sambas, Propinsi Kalimantan Barat, pada bulan shafar 1217 atau tahun 1803 M. dari seorang ayah bernama Abdul Ghaffar bin Abdullah bin Muhammad bin Jalaluddin. Ahmad Khatib terlahir dari sebuah keluarga perantau dari Kampung Sange’, Propinsi Kalimantan Barat.


Wafat

Syekh Ahmad Khatib Sambas wafat di Mekkah pada tahun 1289 H bertepatan pada tahun 1875 M dalam usia 72 tahun, terdapat beberapa perbedaan mengenai tahun wafat beliau ada yang menyebutkan tahun 1872m dan 1875M, namun tulisan di sini mengambil sumber dari buku "Perkembangan Ilmu Tasawuf dan tokoh-tokohnya di Nusantara".


Pendidikan

Pendidikan Masa Kecil

Sejak kecil, Ahmad khatib Sambas diasuh oleh pamannya yang terkenal sangat alim dan wara’ di wilayah tersebut. Ahmad khatib Sambas menghabiskan masa remajanya untuk mempelajari ilmu-ilmu agama, ia berguru dari satu guru-ke guru lainnya di wilayah kesultanan Sambas. Salah satu gurunya yang terkenal di wilayah tersebut adalah, H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas.


Pendidikan di Mekkah

Ahmad Khatib dalam usia belasan tahun berangkat ke Mekkah dengan pamannya untuk menuntut ilmu agama di sana. Singkat cerita, karena kecerdasannya pengkajian ilmu yang seharusnya ditempuh dalam 30 tahun, namun oleh Ahmad Sambas dalam waktu 3 tahun telah terselesaikan. Melihat kenyataan itu sang guru Syekh Syamsuddin sebelum wafatnya telah melantik beliau menjadi "Syekh Mursyid Kamil Mukammil dalam lingkungan Thariqat Qadiriyah Wan Naqsabandiyah", yaitu suatu gabungan dari kedua tariqat yaitu Qadiriyah dan Naqsabandiyah.


Nasab Keilmuan

Guru-gurunya :
1. H. Nuruddin Musthafa, Imam Masjid Jami’ Kesultanan Sambas
2. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
3. Syekh Daud Bin Abdullah Al Fatani (ulama asal Patani Thailand Selatan yang bermukim di Mekkah)
4. Syekh Abdusshomad Al Palimbani (ulama asal Palembang yang bermukim di Mekkah)
5. Syekh Abdul hafidzz al-Ajami
6. Syekh Ahmad al-Marzuqi
7. Syekh Syamsudin, mursyid tarekat Qadiriyah yang tinggal dan mengajar di Jabal Qubays Mekkah.


Penerus Beliau

Ketika kemudian Ahmad Khatib telah menjadi seorang ulama, ia pun memiliki andil yang sangat besar dalam perkembangan kehidupan keagamaan di Nusantara, meskipun sejak kepergiannya ke tanah suci, ia tidaklah pernah kembali lagi ke tanah air.

Murid Beliau

Masyarakat Jawa dan Madura, mengetahui disiplin ilmu Syekh Sambas, demikian para ulama menyebutnya kemudian, melalui ajaran-ajarannya setelah mereka kembali dari Mekkah. Syeikh Sambas merupakan ulama yang sangat berpengaruh, dan juga banyak melahirkan ulama-ulama terkemuka dalam bidang fiqh dan tafsir, termasuk Syeikh Nawawi al-Bantani adalah salah seorang di antara murid-murid Beliau yang berhasil menjadi ulama termasyhur.

Salah satunya adalah Syeikh Abdul Karim Banten yang terkenal sebagai Sulthanus Syeikh. Ulama ini terkenal keras dalam imperialisme Belanda pada tahun 1888 dan mengobarkan pemberontakan yang terkenal sebagai pemberontakan Petani Banten. Namun sayang, perjuangan fisiknya ini gagal, kemudian meninggalkan Banten menuju Makkah untuk menggantikan Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Syeikh Ahmad Khatib Sambas dalam mengajarkan disiplin ilmu Islam bekerja sama dengan para Syeikh besar lainnya yang bukan pengikut thariqat seperti Syaikh Tolhah dari Cirebon, dan Syaikh Ahmad Hasbullah bin Muhammad dari Madura, keduanya pernah menetap di Makkah.

Salah satu murid beliau yang masyhur juga dan melahirkan tokoh-tokoh besar adalah KH Cholil Bangkalan, Madura. Sepeninggal Syeh Ahmad Khatib Sambas, Imam Syeikh Nawawi al-Bantani ditunjuk meneruskan mengajar di Madrasah beliau di Mekkah. Sedangkan Syekh KH Cholil Bangkalan, Syeh Abdul Karim dan Syeh Tolhah diperintahkan pulang ke tanah Jawa dan ditunjuk sebagai Khalifah yang berhak menyebarkan dan membaiat murid dalam tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah.

Di antara murid-murid beliau yang lain yaitu:

  • Syekh Nuruddin, beliau berasal dari Filipina, makamnya terletak di Kampung Tekarang Kecamatan Tebas
  • Syekh Muhammad Saad, ia merupakan orang Sambas asli, makamnya terletak di Kecamatan Selakau, Kabupaten Sambas
  • Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad, dari Tasikmalaya yang mendirikan Pesanteran Tasikmalaya/Suryalaya, beliau adalah abah dari Syekh Ahmad Shohibulwafa Tajul Arifin (Abah Anom)
  • Syekh Abdul Latif bin Abdul Qadir Sarawak, dan lain-lain


Keturunan

Maka pada tahun 1820 M. Ahmad Khatib Sambas pun berangkat ke tanah suci untuk menuntaskan dahaga keilmuannya. Dari sini kemudian ia menikah dengan seorang wanita Arab keturunan Melayu dan menetap di Makkah. Sejak saat itu, Ahmad Khatib Sambas memutuskan menetap di Makkah sampai wafat pada tahun 1875 M.

Anak-anak beliau antara lain:

  • Syekh Yahya
  • Siti Khadijah
  • Syekh Abdul Gaffar.


Jasa dan Karya Beliau

Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah

Perlawanan yang dilakukan oleh suku Sasak, pengikut Thariqat Qadiriyyah wa Naqshabandiyyah yang dipimpin oleh Syeikh Guru Bangkol juga merupakan bukti yang melengkapi pemberontakan petani Banten, bahwa perlawanan terhadap pemerintahan Belanda juga dipicu oleh keikutsertaan mereka pada perkumpulan Thariqoh yang didirikan oleh Syeikh Ahmad Khatib Sambas ini.

Thariqat Qadiriyyah wan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia, terutama dalam membantu membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan semata karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang dari Nusantara, tetapi bahwa para pengikut kedua Thariqat ini adalah para pejuang yang dengan gigih senantiasa mengobarkan perlawanan terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Ajarah Syeikh Ahmad Khatib Sambas hingga saat ini dapat dikenali dari karyanya berupa kitab FATHUL ARIFIN nang merupakah notulensi dari ceramah-ceramahnya yang ditulis oleh salah seorang muridnya, Muhammad Ismail bin Abdurrahim. Notulensi ini dibukukan di Makkah pada tanggal tahun 1295 H. kitab ini memuat tentang tata cara, baiat, talqin, dzikir, muqarobah dan silsilah Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah.

Buku inilah yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan oleh para mursyid dan pengikut Thariqah Qadiriyyah wan Naqsyabandiyah untuk melaksanakan prosesi-prosesi peribadahan khusus mereka. Dengan demikian maka tentu saja nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas selalu dikenang dan di panjatkan dalam setiap doa dan munajah para pengikut Thariqah ini.


Kitab Beliau

Walaupun Syeikh Ahmad Khatib Sambas termasyhur sebagai seorang tokoh sufi, namun Beliau juga menghasilkan karya dalam bidang ilmu fikih yang berupa manuskrip risalah Jum’at. Naskah tulisan tangan ini dijumpai tahun 1986, bekas koleksi Haji Manshur yang berasal dari Pulau Subi, Kepulauan Riau. Demikian menurut Wan Mohd. Shaghir Abdullah, seorang ulama penulis asal tanah Melayu. Kandungan manuskrip ini, membicarakan masalah seputar Jum’at, juga membahas mengenai hukum penyembelihan secara Islam.

Pada bagian akhir naskah manuskrip, terdapat pula suatu nasihat panjang, manuskrip ini ditutup dengan beberapa amalan wirid beliau selain amalan Tariqat Qadiriyah-Naqsyabandiyah.

Karya lain (juga berupa manuskrip) membicarakan tentang fikih, mulai thaharah, sholat dan penyelenggaraan jenazah ditemukan di Kampung Mendalok, Sungai Kunyit, Kabupaten Pontianak, Kalimantan Barat, pada 6 Syawal 1422 H/20 Disember 2001 M. karya ini berupa manuskrip tanpa tahun, hanya terdapat tahun penyalinan dinyatakan yang menyatakan disalin pada hari kamis, 11 Muharam 1281 H. oleh Haji Ahmad bin Penggawa Nashir.

Sedangkan mengenai masa hidupnya, sekurang-kurangnya terdapat dua buah kitab yang ditulis dalam bahasa Arab oleh orang Arab, menceritakan kisah ulama-ulama Mekah, termasuk di dalamnya adalah nama Syeikh Ahmad Khatib Sambas. Kitab yang pertama, Siyar wa Tarajim, karya Umar Abdul Jabbar. Kitab kedua, Al-Mukhtashar min Kitab Nasyrin Naur waz Zahar, karya Abdullah Mirdad Abul Khair yang diringkaskan oleh Muhammad Sa'id al-'Amudi dan Ahmad Ali.


Ajaran Syekh Ahmad Khatib Sambassy

Ajaran Syeikh Ahmad Khatib Sambas adalah Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah memiliki ajaran yang diyakini kebenarannya, terutama dalam hal-hal kesufian. Beberapa ajaran yang merupakan pandangan para pengikut tarekat ini bertalian dengan masalah tarekat atau metode untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Metode tersebut diyakini paling efektif dan efisien. Karena ajaran dalam tarekat ini semuanya didasarkan pada Al-Qur'an, Al-Hadits, dan perkataan para 'ulama arifin dari kalangan Salafus shalihin.

Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia. Dan yang sangat penting adalah membantu dalam membentuk karakter masyarakat Indonesia. Bukan karena Syekh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang lokal (Indonesia) tetapi para pengikut kedua Thariqat ini ikut berjuang dengan gigih terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Survey tentang sejarah Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai hubungan yang erat dengan pembangunan masyarakat Indonesia. Thariqat ini merupakan salah satu keunikan masyarakat muslim Indonesia, bukan karena alasan yang dijelaskan di atas, tetapi praktek-praktek Thariqat ini menghiasi kepercayaan dan budaya masyarakat Indonesia.

Tarekat Qadiriyyah Naqsabandiyyah secara substansial merupakan aktualisasi seluruh ajaran Islam (Islam Kaffah); dalam segala aspek kehidupan. Tujuan Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah adalah tujuan Islam itu sendiri. Menurut sumber utamanya, Alquran, Islam sebagai agama diturunkan untuk membawa umat manusia ke jalan yang lurus, jalan keselamatan yang bermuara pada kesejahteraan di dunia dan kebahagiaan di akhirat (hasanah fi al-dunya dan hasanah fil al-akhirat).

Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah membawa manusia kepada Tuhan, dan secara horizontal memberikan rambu-rambu dan prinsip-prinsip bagaimana seharusnya hidup secara bersama dalam masyarakat. Tanbih mengandung ajaran moral, menyangkut perbagai kehidupan. Pandangan Tarekat Qadiriyyah Naqsabandiyyah menyangkut dengan Negara, misalnya, dapat dilihat dalam huraian Tanbih sebagai berikut:

“Pun kami tempat orang bertanya tentang Tariqah Qadiriyyah wa Naqsabandiyyah, menghaturkan dengan tulus ikhlas, wasiat kepada segenap murid-murid; berhati-hatilah dalam segala hal, jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan Agama maupun Negara. Insapilah , wahai murid-murid sekalian, janganlah terpaut oleh bujukan nafsu, terpengaruh oleh godaan syaitan, waspadailah akan jalan penyelewengan terhadap perintah Agama maupun Negara, agar dapat meneliti diri kalau tertarik oleh bisikan Iblis yang selalu menyelinap dalam hati sanubari kita”.

Pandangan filosofis Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mengenai hubungan kemasyarakatan, baik dengan sesama muslim mahupun dengan yang bukan muslim, dapat dilihat dalam bagian uraian Tanbih berikut:
1. Terhadap orang-orang yang lebih tinggi dari kita, baik zahir maupun batin, harus kita hormati, begitulah seharusnya hidup rukun saling menghargai.
2. Terhadap sesama yang sederajat dengan kita dalam segala-galanya jangan sampai terjadi persengketaan, sebaliknya harus bersikap rendah hati bergotong- royong dalam melaksanakan perintah Agama maupun Negara, jangan sampai terjadi perselisihan dan persengketaaan, kalau-kalau kita terkena firmanNya “Adzabun Alim” yang artinya duka nestapa untuk selama-lamanya dari dunia hingga akhirat;
3. Terhadap orang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah menghinanya atau berbuat tidak senonoh bersika angkuh, sebaliknya harus bersikap belas kasihan dengan kesadaran, agar mereka merasa senang dan gembira hatinya harus dituntun dan dibimbing dengan nasihat yang lemah lembut yang akan memberi keinsafan dalam menginjak jalan kebajikan;
4. Terhadap fakir miskin, harus kasih sayang, ramah tamah serta bermanis budi, bersikap murah tangan, mencerminkan bahwa kita sadar. Coba rasakan diri kita pribadi, betapa pedihnya jika dalam keadaan kekurangan.
Demikianlah sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran meskipun terhadap orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam as. Mengingat ayat 70 surat Isra yang artinya:
“Sangat Kami muliakan keturunan Nabi Adam dan Kami sebarkan segala yang berada di darat dan di lautan, juga Kami mengutamakan mereka lebih utama dari makhluk lainnya”.
Kesimpulan dari ayat ini bahwa kita sekalian seharusnya saling menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat surat Al-Maidah yang artinya: “Hendaklah kalian saling tolong menolong dalam melaksanakan kebajikan dan ketakwaan sungguh-sungguh terhadap Agama maupun Negara, sebaliknya jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan bermusuhan terhadap perintah Agama maupun Negara”.
Intisari tanbih di atas menjelaskan kepada kita bagaimana model ideal interaksi antara kita dengan orang yang lebih tinggi dari kita, dengan sesama, dalam erti yang sedarjat dalam segalanya, dengan orang yang ada di bawah kita dan dengan fakir miskin. Tanbih menjelaskan bahwa kedamaian zahir batin akan terwujud di tengah-tengah masyarakat manakala masing-masing individu berpegang teguh terhadap etika sosial: “Bukanlah dari golonganku orang yang tidak kasih sayang kepada yang ada dibawahnya, dan tidak menaruh hormat kepada orang yang ada di atasnya”.
Lebih dari itu, Tanbih juga memuat ajaran bagaimana seharusnya sikap kita dalam kehidupan sosial kemasyarakatan dengan orang asing, baik yang seagama dengan kita maupun yang tidak seagama.


Sumber: