Sekatenan

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Kembali ke Main Page << Nusantara

Setiap menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, dikota Solo dan Yogyakarta selalu diadakan kegiatan khusus yakni Sekaten. Perayaan khas Jawa ini berlangsung sejak awal penyebaran Islam yang dilakukan Walisanga. Sekaten berasal dari kata syahadatain atau dua kalimat syahadat yang menunjukkan kesaksian pemeluk agama Islam atas keesaan Allah SWT dan kenabian Muhammad.

Selain digelar pasar rakyat yang memasarkan souvenir dan kerajinan tangan, perayaan Sekaten dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan tradisi serta pameran benda-benda pusaka di keraton. Prosesi ritual berupa dibunyikan gamelan klasik Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari mulai pukul 09.00-24.00 (hanya istirahat saat waktu salat) di Bangsal Masjid Agung.

Upacara ini serentak diadakan di dua kota, yakni Solo dan Yogyakarta. Tradisi ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa. Hingga kini tradisi gamelan tetap dipertahankan sebagai penanda dimulainya perayaan Sekaten. Sekaten resmi dibuka pada hari Kamis lalu (17/1), dan akan berlangsung selama satu minggu, dengan puncak acara yakni Grebeg Mulud pada 24 Januari nanti.

Dua perangkat gamelan pusaka diangkut dari Bangsal Ponconiti menuju Masjid Gede Kauman, untuk prosesi Miyos Gongso di Keraton Ngayogyakarta. Gamelan pertama bernama Kyai Guntur Madu yang berada di bangsal Pradangga (sebelah kanan/selatan Masjid Agung Kasunanan Surakarta), dan yang kedua adalah Kyai Guntur Sari yang berada di bangsal Pragangga (sebelah kiri/utara Masjid Agung Kasunanan Surakarta). Sebanyak 120 abdi dalem keraton turut mengawal gamelan ini dari keraton menuju Masjid Agung.

Ada ritual khusus bagi para penabuh gamelan (pengrawit). Mereka wajib berpuasa sebelumnya dan memberikan sesajen berupa kembang, kemenyan, dan variasi buah-buhan pada kedua gamelan pusaka tersebut. Saat bertugas, para pengrawit juga mengenakan seragam khusus.

Kedua set gamelan dimainkan secara bergantian dari pagi hingga menjelang petang, selama 7 hari berturut-turut setelah sebelumnya diadakan pembacaan doa. Sesaat setelah gamelan ditabuh, janur kuning yang dipakai untuk menghias bangsal masjid keraton diperebutkan warga yang memenuhi lokasi. Janur kuning dipercaya dapat membawa berkah bagi hidup mereka. Pada malam terakhir (11 Mulud/ 23 Januari 2013), kedua gamelan pusaka akan dibawa pulang ke dalam Keraton.

Selain rangkaian upacara dan tradisi, Sekaten di kota berslogan The Spirit of Java ini juga diramaikan oleh pasar malam yang hanya muncul saat Sekaten saja. Pasar Malam Sekaten diadakan di Alun-alun Utara, Keraton Surakarta Hadiningrat. Berbagai wahana permainan masa kecil seperti komidi putar, bianglala, dan bombom car, ada di pasar ini. Selain itu, barang-barang unik yang jarang dijual di kota besar seperti celengan gerabah dan kapal tuk-tuk juga bisa Anda temukan di sana.

Yang menarik adalah tampak ribuan orang memadati halaman Masjid Agung. Mereka mengerumuni dua bangsal yang disebut pagongan atau Bangsal Pradangga. Dan uniknya, di sekeliling bangsal banyak terdapat penjual kinang.

Para penjual kinang yang sebagian besar nenek-nenek tadi pun dikerubuti oleh para pembeli. Satu paket kinang yang berisi daun sirih, bunga kantil, tembakau, dan enjet (batu kapur) dijual seharga Rp 2.000 - Rp 3.000.

Saat gamelan ditabuh pula, tanpa dikomando, masyarakat langsung beramai-ramai menginang. Mereka langsung mengunyah tembakau, lalu mengoleskan ke gigi. Mulut pun berubah menjadi kecoklatan.

Puncak perayaan Sekaten ditandai dengan diadakannya Grebeg Mulud, yang ditandai dengan keluarnya Gunungan Jaler dan Gunungan Estriakan. Dua tumpeng raksasa tersebut diarak dari Keraton Surakarta menuju Masjid Agung sekitar pukul 08:00. Momen puncak ini menarik perhatian ribuan warga. Mereka tak hanya datang dari Solo, namun juga daerah-daerah di sekitarnya, seperti Sragen, Karanganyar, Wonogiri, dan lain-lain.

Pengunjung yang hadir berharap ikut mendapatkan isi gunungan yang terdiri dari berbagai macam hasil bumi dan jajanan pasar. Biasanya berisi beras ketan, sayur-sayuran, dan buah-buahan. Pada momen ini, seluruh abdi dalem Keraton Surakarta beserta kerabat keraton ikut berkumpul. Gunungan didoakan terlebih dahulu sebelum kemudian dibagikan kepada masyakarat.


Sumber: http://www.infobudaya.com