Propinsi Sulawesi Tenggara

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Geografis

Provinsi Sulawesi Tenggara dilihat dari peta pulau Sulawesi di Jazirah Tenggara. Akan tetapi bila dilihat dari sudut geografis, maka Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara terletak di bagian Selatan garis Khatulistiwa yang memanjang dari Utara ke Selatan diantara 3 derajat L.S sampai 6 derajat L.S dan melebar dari Barat ke Timur diantara 120 0 45' Bujur Timur sampai 124 0 60' Bujur Timur. Di samping itu dari letak geografis, maka wilayah Provinsi Sulawesi Tenggara mempunyai Batas-Batas wilayah sebagai berikut :

• Di sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi selatan dan Provinsi Sulawesi Tengah,

• Di sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores.

• Di sebelah Timur berbatasan dengan Laut Banda

• Di sebelah Barat Berbatasan dengan Teluk Bone

Provinsi Sulawesi Tenggara meliputi daratan Konawe dan Kolaka. Sedangkan kepulauan meliputi Pulau Buton dan Pulau Muna serta pulau-pulau kecil yang tersebar di bagian Selatan dan Tenggara yaitu Pulau Wawonii, Pulau Labengki, Pulau Karame, Pulau Bawulu, Pulau Bokori, Pulau Saponda Barat, Pulau Saponda Laut, Pulau Hari, Pulau Lua Cempedak, Pulau Padamarang Labasina Besar, Pulau Labasina Kecil, Pulau Maniang, Pulau Buaya, Pulau Lemo, Pulau Pisang, Pulau Muna, Kepulauan Tiworo (Pulau Maginti, Pulau Balu, Pulau Katela, Pulau Mandi, Pulau Bero, Pulau Rangku, Pulau Maloang, Pulau Gola, Pulau Kayu Angin, Pulau Tabuang), Pulau Tobea Besar, Pulau Tobea Kecil, Pulau Wataitonga, Pulau Kaholifano, Pulau Bakealu, Pulau Buton, Pulau Kabaena, Pulau Telaga Besar, Pulau Telaga Kecil, Pulau Sagori, Pulau Damalawa, Pulau Masaloka, Pulau Tambako, Pulau Makassar, Pulau Kadatua, Pulau Siompu, Pulau Batu Atas, Pulau Wakiwolu, Pulau Lentea, Pulai Wanci, Pulau Kaledupa, Pulau Langee, Pulau Hoga, Pulau Tomia, Pulau Runduma, Pulau Binongko dan Pulau Kawi-Kawia.

Wilayah Sulawesi Tenggara, pada umumnya memiliki permukaan yang bergunung, bergelombang, dan berbukit, sedangkan permukaan tanah pegunungan yang relatif rendah yakni sekitar 1.868.860 hektar sebagian besar berada pada ketinggian 100-500 meter diatas permukaan laut dengan tingkat kemiringan mencapai 40 derajat.

Ditinjau dari sudut geologis, bantuan di Provinsi Sulawesi tenggara terdiri atas bantuan sedimen, bantuan metamorfosis dan bantuan beku. Dari ketiga jenis bantuan tersebut, bantuan sedimen merupakan bantuan yang terluas yaitu sekitar 2.878.790 hektar atau sebesar 75,47 persen. Sementara itu, jenis tanah di Provinsi Sulawesi Tenggara terdiri dari tanah podzolik seluas 2.394.698 ha (62,79 persen), tanah mediteran seluas 839.078 ha (22,00 persen), tanah latosol seluas 330.182 ha (8,66 persen), tanah organosol seluas 111.923 ha (2,93 persen), tanah aluvial seluas 117.830 ha (3,09 persen), dan tanah grumosal seluas 20.289 ha (0,53 persen).

Keadaan musim Provinsi Sulawesi Tenggara ada dua yaitu musim hujan terjadi antara bulan November dan Maret sedangkan musim kemarau terjadi bulan Mei dan Oktober. Curah hujan tidak merata, hal ini menimbulkan adanya wilayah daerah basah dengan curah hujan lebih dari 2.000 mm pertahun, sedangkan wilayah semi kering curah hujan kurang dari 2.000 mm pertahun. Karena wilayah daratan Sultra mempunyai ketinggian umumnya di bawah 1.000 meter dari permukaan laut dan berada di sekitar daerah khatulistiwa maka Provinsi Sulawesi tenggara beriklim tropis. Selama tahun 2005 suhu udara mencapai 13 m/detik dan tekanan udara mencapai 1.010,5 milibar.


Demografi

Pada tahun 1990, jumlah penduduk Sulawesi Tenggara sekitar 1.349.619 jiwa, sepuluh tahun kemudian yaitu tahun 2000 meningkat menjadi 1.776.292 jiwa, dan berdasarkan hasil pencatatan terakhir melalui SUSENAS BPS Tahun 2005, jumlah penduduk Sultra adalah 1.959.414 jiwa. Dengan demikian, laju pertumbuhan penduduk Sulawesi Tenggara pada kurun waktu 1990-2000 adalah 2,79 persen pertahun dan pada kurun waktu 2000-2005 menjadi 0,02.

Dari jumlah penduduk Sultra sebanyak 1.959.414 jiwa, yang tergolong angkatan kerja adalah 869.747 jiwa yang terdiri dari 757.223 jiwa bekerja dan 112.524 jiwa mencari pekerjaan, dengan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) sebesar 58,55%. Dari jumlah penduduk yang bekerja tersebut, jumlah terbesar bekerja pada sektor pertanian yaitu sebanyak 436.170 jiwa (57,60%), sedangkan yang terkecil bekerja pada sektor listrik yaitu sebanyak 987 jiwa (0,13%).

Penduduk asli Sulawesi Tenggara dapat dibagi menjadi 3 bagian besar, yaitu : Suku Tolaki, yaitu penduduk asli Kota Kendari. Umumnya berkulit putih dengan rambut lurus. Suku Buton, yaitu penduduk asli Bau-bau, umumnya dicirikan dengan kulit yang agak gelap dengan rambut ikal. Nama orang-orang buton seringkali diawali La (laki-laki) dan Wa (perempuan), dan untuk gelar kebangsawanan biasanya diawali dengan La Ode, atau Wa Ode. Suku Muna, yaitu penduduk pulau Muna dengan ciri-ciri mirip dengan orang Buton.


Sejarah

Sulawesi Tenggara pada zaman penjajahan hingga terbentuknya Kabupaten Sulawesi Tenggara pada tahun 1952 adalah suatu Afdeling, yaitu Afdeling Boeton Laiwoi dengan pusat Pemerintahannya di Bau-Bau. Afdeling Boeton Laiwui tersebut terdiri dari :

   Onder – Afdeling Boeton;
   Onder – Afdeling Muna;
   Onder – Afdeling Laiwui.

Onder – Afdeling Kolaka pada waktu itu berada di bawah Afdeling Luwu (Sulawesi Selatan), kemudian dengan Peraturan Pemerintah No. 34 Tahun 1952 Sulawesi Tenggara menjadi satu Kabupaten, yaitu Kabupaten Sulawesi Tenggara dengan ibu Kotanya Bau-Bau. Kabupaten Sulawesi Tenggara tersebut meliputi wilayah-wilayah bekas Onder – Afdeling Boeton Laiwui serta bekas Onder Afdeling Kolaka dan menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara dengan Pusat Pemerintahannya di Makassar ( Ujung Pandang ). Selanjutnya dengan Undang-Undang No. 29 Tahun 1959 Kabupaten Sulawesi Tenggara dimekarkan menjadi empat Kabupaten Daerah Tingkat II, yaitu :

   Kabupaten Daerah Tingkat II Buton ibukotanya Bau-Bau;


   Kabupaten Daerah Tingkat II Muna ibukotanya Raha;
   Kabupaten Daerah Tingkat II Kendari ibukotanya Kendari;
   Kabupaten Daerah Tingkat II Kolaka ibukotanya Kolaka.

Keempat Daerah Tingkat II tersebut merupakan bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Tenggara. Betapa sulitnya komunikasi perhubungan pada waktu itu antara Daerah Tingkat II se Sulawesi Selatan Tenggara dengan pusat Pemerintahan Provinsi di Ujung Pandang, sehingga menghambat pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan maupun pelaksanaan tugas pembangunan. Disamping itu gangguan DI/TII pada saat itu sangat menghambat pelaksanaan tugas-tugas pembangunan utamanya dipedesaan.

Daerah Sulawesi Tenggara terdiri dari wilayah daratan dan kepulauan yang cukup luas, mengandung berbagai hasil tambang yaitu aspal dan nikel, maupun sejumlah bahan galian lainya. Demikian pula potensi lahan pertanian cukup potensial untuk dikembangkan. Selain itu terdapat pula berbagai hasil hutan berupa rotan, damar serta berbagai hasil hutan lainya. Atas pertimbangan ini tokoh – tokoh masyarakat Sulawesi Tenggara, membentuk Panitia Penuntut Daerah Otonom Tingkat I Sulawesi Tenggara.

Tugas Panitia tersebut adalah memperjuangkan pembentukan Daerah Otonom Sulawesi Tenggara pada Pemerintah Pusat di Jakarta. Berkat Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, cita-cita rakyat Sulawesi Tenggara tercapai dengan keluarnya Perpu No. 2 Tahun 1964 Sulawesi Tenggara di tetapkan menjadi Daerah Otonom Tingkat I dengan ibukotanya Kendari.

Realisasi pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dilakukan pada tanggal 27 April 1964, yaitu pada waktu dilakukannya serah terima wilayah kekuasaan dari Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Selatan Tenggara, Kolonel Inf.A.A Rifai kepada Pejabat Gubernur Kepala Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara, J. Wajong.Pada saat itu Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara mulai berdiri sendiri terpisah dari Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan. Oleh karena itu tanggal 27 April 1964 adalah hari lahirnya Provinsi Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara yang setiap tahun diperingati


Sosial dan Budaya

Sulawesi Tenggara memiliki sejumlah kelompok bahasa daerah dengan dialek yang berbeda-beda. Perbedaan dialek ini memperkaya khasanah kebudayaan Indonesia. Kelompok bahasa daerah di Sulawesi Tenggara dan dialeknya masing-masing adalah sebagai berikut: 1. Kelompok Bahasa Tolaki terdiri dari :

a) Dialek Mekongga

b) Dialek Konawe

c) Dialek Moronene

d) Dialek Wawonii

e) Dialek Kulisusu

f) Dialek Kabaena

2. Kelompok Bahasa Muna terdiri dari :

a) Dialek Tiworo

b) Dialek Mawasangka

c) Dialek Gu

d) Dialek Katobengke

e) Dialek Siompu

f) Dialek Kadatua

3. Kelompok Bahasa Pongana terdiri dari :

a) Dialek Lasalimu

b) Dialek Kapontori

c) Dialek Kaisabu

4. Kelompok Bahasa Walio (Buton) terdiri dari :

a) Dialek Kraton

b) Dialek Pesisir

c) Dialek Bungi

d) Dialek Tolandona

e) Dialek Talaga

5. Kelompok Bahasa Cia-Cia terdiri dari :

a) Dialek Wobula

b) Dialek Batauga

c) Dialek Sampolawa

d) Dialek Lapero

e) Dialek Takimpo

f) Dialek Kandawa

g) Dialek Halimambo

h) Dialek Batuatas

i) Dialek Wali (di Pulau Binongko)

6. Kelompok Bahasa Suai terdiri dari :

a) Dialek Wanci

b) Dialek Kaledupa

c) Dialek Tomia

d) Dialek Binongko

Untuk mengatur hubungan kehidupan antara masyarakat, telah berlaku hukum adat yang senantiasa dipatuhi oleh warga masyarakat. Jenis hukum adat tersebut antara lain adalah Hukum Tanah, Hukum Pergaulan Masyarakat, Hukum Perkawinan dan Hukum Waris.

Provinsi Sulawesi Tenggara memiliki berbagai jenis kesenian yang potensial sehingga memperkaya khasanah kebudayaan Indonesia. Jenis-jenis kesenian tersebut adalah seni tari, seni ukir dan seni lukis serta seni suara dan seni bunyi. Seni tari, merupakan tarian masyarakat yang dipersembahkan pada setiap upacara tradisional maupun menjemput tamu-tamu agung yang diiringi oleh alat musik tradisional antara lain gong, kecapi dan alat tiupan suling bambu selain alat musik modern, jenis-jenis seni tari di Sulawesi Tengah adalah :

1. Tari Umoara

2. Tari Mowindahako

3. Tari Molulo

4. Tari Ore-ore

5. Tari Linda

6. Tari Dimba-dimba

7. Tari Moide-moide

8. Tari Honari

Selain itu di Sulawesi Tenggara terkenal juga dengan seni ukirnya yaitu ukiran perak. Sedangkan seni ukuran lainnya adalah anyaman rotan dan meja gempol dari kayu.


Potensi Daerah

Perkebunan

Sektor perkebunan didominasi oleh tanaman kopi, kelapa sawit, kakao, lada, vanili, tebu dan jambu mete. Luas areal perkebunan kopi pada 2005 adalah 10.541 ha dengan jumlah produksi 3.587 ton pertahun. Luas areal perkebunan kelapa sawit mencapai 3.602 ha, perkebunan kakao seluas 175.349 ha dengan jumlah produksi 110.521 ton pertahun. Luas perkebunan lada 12.3274 ha dengan jumlah produksi 2.851 ton pertahun, perkebunan vanili 1.280 ha dengan jumlah produksi 18 ton pertahun dan jambu mete luas areal 119.659 ha dengan jumlah produksi mencapai 34.034 ton.

Perikanan

Sektor kelautan dan perikanan merupakan sumber daya alam yang potensial. Pada lokasi penangkapan ikan berpotensi mencapai sebesar 250.000 ton/tahun. Tingkat pemanfaatan pada saat ini banyak 157.479 ton/tahun (±63%) dengan jenis produksi antara lain ikan layang, kembung, lemuru, ikan merah, tenggiri, dan kerapu.

Kehutanan

Di sektor kehutanan, ada 5 hutan suaka alam, 42 hutan lindung dan 52 hutan cagar budaya. Luas kawasan hutan seluruhnya 1.061.270 ha (40,82%). Luas lahan kritis pada 2005 mencapai 1.202.040 ha, Hasil hutan terbagi berdasarkan jenis hutan, yaitu hasil hutan Non HPH, dan hasil hutan ikutan. Hasil hutan non HPH pada 2004 berbentuk kayu bulat dengan total produksi 61.855,79 ton, kayu gergajian total produksi 953.94 m³ dan kayu olahan mencapai 9.539 ton. Sedangkan hasil hutan ikutan adalah rotan dengan produksi mencapai 14.861.82 m³.

Peternakan

Sektor peternakan didominasi oleh ternak sapi, kambing, domba, babi, dan itik. Populasi sapi potong pada 2005 sebanyak 212.000 ekor, jumlah pemotongan pertahun mencapai 24.020 ekor dan pertumbuhan populasi mencapai 2%. Pada hewan ternak kecil, jumlah populasi kambing tahun 2005 adalah 90.089 ekor, domba sebanyak 240 ekor dan babi mencapai 27.760 ekor.

Hewan unggas, antara lain ayam buras populasinya mencapai 7.431.140 ekor dan ayam petelur 40.820 ekor. Jumlah peternak mancapai 443.600 ton. Jumlah populasi ayam pedaging 810.000 ekor dengan jumlah peternak 232 orang. Rata-rata produksi pertahun daging yang dihasilkan sebanyak 648.560 ton perbulan.

Pertambangan

Sumber daya alam yang juga potensial adalah sektor pertambangan seperti aspal, marmer dan biji nikel. Lokasi penyebaran aspal di Kabupaten Biton dan Kabupaten Muna. Luas areal pertambangan aspal dikedua kabupaten itu sebesar 13.003,67 ha dengan jumlah cadangan potensi/deposit mencapai 680.747.000 ton, Pada jenis tambang batu marmer, lokasi penyebarannya di Kabupaten Buton, Kabupaten Muna, dan Kabupaten Kolaka dengan luas areal seluruhnya 189.082 ha dengan jumlah potensi/deposit mencapai 206.237.000.000 m³. Sedangkan biji nikel, produksinya menurut data tahun 2005 mencapai 1.426.672 ton.



Wilayah

Pesantren

Pesantren di Propinsi Sulawesi Tenggara


Pengurus Nahdlatul Ulama

Pengurus NU di Propinsi Sulawesi Tenggara


Tokoh

Sumber : • http://www.sulawesitenggaraprov.go.idhttp://www.indonesia.go.idhttp://www.bi.go.id