Propinsi Sulawesi Selatan

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Geografi

Provinsi Sulawesi Selatan terletak di 0°12' - 8° Lintang Selatan dan 116°48' - 122°36' Bujur Timur. Luas wilayahnya 62.482,54 km². Provinsi ini berbatasan dengan :

• Sebelah Utara berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Barat

• Sebelah Timur berbatasan dengan Teluk Bone dan Sulawesi Tenggara

• Sebelah barat berbatasan dengan Selat Makassar

• Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores


Demografi

Sulawesi adalah pulau dengan luas daratan 62.362,55 km2 dan memiliki relief berupa jazirah-jazirah yang panjang serta pipih yang ditandai fakta bahwa tidak ada titik daratan yang jauhnya melebihi 90 km dari batas pantai. Kondisi yang demikian menjadikan pulau Sulawesi memiliki garis pantai yang panjang dan sebagian daratannya bergunung-gunung. Jumlah Penduduk Sulawesi Selatan pada tahun 2009 kurang lebih berkisar 8,3 Juta Jiwa dan terdiri dari 24 Kabupaten/Kota yaitu 21 kabupaten dan 3 kotamadya yang memiliki 4 suku daerah yaitu suku Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja.


Sejarah

Zaman Prasejarah

Masa pra-sejarah di bumi Sulawesi khususnya di Sulawesi Selatan dimulai kira-kira sekitar 30.000 tahun silam. Dimana pulau ini menjadi salah satu daerah yang telah dihuni oleh manusia purba beserta peradabannya. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan penemuan pra-sejarah yang ditemukan di gua-gua dekat bukit kapur dekat Maros, sekitar 30 km sebelah timur laut Makasaa, Propinsi Sulawesi Selatan. Penemuan itu seperti lukisan-lukisan pra-sejarah di dinding gua (rock painting). Menurut dugaan dari para peneliti bahwa peninggalan tersebut berasal dari lapisan budaya yang tua selain itu juga diketemukan pula alat batu Peeble dan Flake yang telah dikumpulkan dari pinggiran sungai di lembah Walanae, diantara Sengkang dan Soppeng, termasuk fosil tulang-tulang yang berasal dari babi purba dan gajah purba yang telah punah, hal ini mengindikasikan adanya sebuah peradaban sosial masyarakat purba yang telah tertata dengan baik pada masa itu di Sulawesi Selatan purba

Zaman Perdagangan Nusantara dan Kejayaan Kerajaan-Kerajaan di Sulawesi Selatan (Abad ke-14 hingga Abad ke-19)

Pada awal abad ke-14 di Sulawesi Selatan terdapat beberapa kerajaan kecil dimana terdapat 3 kerajaan besar yaitu Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone-Bugis, dan Kerajaan Luwu. Sedangkan kerajaan-kerajaan kecil melakukan afiliasi dengan kerajaan-kerajaan tersebut. Kerajaan Gowa sendiri merupakan sebuah kerajaan besar yang kala itu mulai berkembang sejak tahun 1530 dan melakukan ekspansi (dengan menaklukan Kerajaan Bone pada Perang Makasar pada tahun 1608-1611 yang kala itu dipimpin oleh raja Bone Arung Palaka) dan menjadi pusat perdagangan di wilayah timur Indonesia pada pertengahan abad ke-16.

Sedangkan, Kerajaan Luwu sendiri adalah sebuah kerajaan besar dan merupakan kerajaan tertua di Sulawsi Selatan. Dimana secara historis, nama kerajaan ini sering dikaitkan dengan identitas La Galego yang hingga kini masih melekat di masyarakat Sulawesi Selatan.

Pada abad ke-15 bangsa Belanda melalui kongsi dagangnya yang dikenal dengan nama VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) mulai datang dan tertarik dengan segala kekayaan daerah Sulawesi Selatan. Hal ini disebabkan selain sumber daya yang melimpah juga disebabkan letak Sulawesi Selatan yang strategis dan menjadi pintu gerbang perdagangan rempah dari dan ke Kepulauan Maluku yang kala itu dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah. Mereka melihat Kerajaan Gowa sebagai sebuah ancaman bagi eksistensi VOC di Sulawesi karena tidak mau bekerja sama dengan VOC. Hal ini yang membuat VOC mengajak Pangeran Arung Palaka yang sedang dalam pengasingan akibat kekalahan Kerajaan Bone oleh Kerajaan Gowa pada masa Perang Makasar.

Tindakan Belanda untuk membentuk aliansi dengan Kerajaan Bone menciptakan perlawanan masyarakat di wilayah Kerajaan Gowa seperti di daerah Bone dan Sopeng kepada Kerajaan Gowa. Selain itu Kerajaan Gowa yang mulai melakukan perlawanan pasca ketidakpuasan atas isi Perjanjian Bongaya yang cenderung merugikan Kerajaan Gowa.Pada kala itu, Kerajaan Gowa dipimpin oleh Sultan Hasanudin. Sultan Hasanuddin (lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631 – meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun) merupakan Raja Gowa ke-16 yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe. Setelah memeluk agama Islam, ia mendapat tambahan gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, hanya saja lebih dikenal dengan Sultan Hasanuddin saja. Keberaniannya di dalam medan pertempuran membuatnya dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda yang artinya Ayam Jantan/Jago dari Benua Timur.


Sosial dan Budaya

Banyak etnis dan bahasa daerah digunakan masyarakat Sulawesi Selatan, namun etnis paling dominan sekaligus bahasa paling umum digunakan adalah Makassar, Bugis dan Toraja. Salah satu kebudayaan yang terkenal hingga ke mancanegara adalah budaya dan adat Tana Toraja yang khas dan menarik. Lagu daerah yang kerap dinyanyikan di antaranya lagu Makasar yaitu Ma Rencong-rencong, Pakarena dan Anging Mamiri. Sedangkan lagu Bugis adalah Indo Logo, dan Bulu Alaina Tempe dan untuk Tana Toraja adalah lagu Tondo.

Rumah-rumah adat di Bugis, Makassar dan Tator memiliki arsitektur tradisional yang hampir sama bentuknya. Rumah-rumah itu dibangun berdiri di atas tiang-tiang dan karenanya mempunyai kolong. Tinggi kolong disesuaikan tiap tingkatannya dengan status sosial pemilik, misalnya raja, bangsawan, orang berpangkat dan rakyat biasa. Masyarakat di sana percaya bahwa selama ini penghuni pertama zaman prasejarah di Sulawesi Selatan adalah orang Toale. Ini didasarkan atas temuan Fritz dan Paul Sarasin tentang orang Toale, yang berarti orang-orang yang tinggal di hutan, atau lebih tepat dikatakan penghuni hutan. Orang Toale masih satu rumpun keluarga dengan suku bangsa Wedda di Srilangka.

Salah satu upacara adat di Tanah Toraja (Tator) adalah upacara Rambu Solo (upacara berduka/ kematian) yang merupakan upacara besar sebagai ungkapan dukacita. Sedangkan dikalangan masyarakat Bugis terdapat falsafah hidup “Aja Muamelo Ribetta Makkala’ Ricappa’na Letengnge”, yang berarti masyarakat menanti dengan penuh harap pemimpin pemerintahan yang bertindak cekatan dan bereaksi cepat mendahului orang lain dengan penuh keberanian meskipun menghadapi tantangan berat.

Ada pula falsafah “Namo maega Pabbisena, Nabongngo Pollopina, Teawa Nalureng”. Maksudnya biar banyak pendayungnya tetapi juru mudinya tidak mahir, saya tidak mau menumpangi perahu itu. Dengan kata lain, falsafah ini mengajarkan jika terdapat pemimpin yang tidak cerdas, selayaknya dia tidak diikuti walaupun banyak punggawanya.


Potensi Daerah

Pertambangan

Jenis bahan tambang atau galian yang banyak terdapat di Sulawesi Selatan adalah batu gamping sebanyak 3.443.640,95 ton. Jenis tambang lainnya berupa tanah liat, nikel, pasir, dan marmer.

Pertanian

Sulawesi selatan merupakan penghasil tanaman panan dikawasan timur Indonesia. Predikat sebagai lumbun padi nasional mengukuhkan posisi sulawesi selatan sebagai produsen tanaman pangan yang cukup potensial. Selain ini padi sebagi komoditasi tanaman pangan andalan, tanaman pangan lainnya yang dihasilkan sulawesi selatan adalah jagun, ubi kayu, ubi jalar dan kacang – kacangan.

Produksi padi sul-sel tahun 2004 sebesar 3.229.912 ton yang dipanen dari area seluas 704.775 ha atau rata-rata 4,58 ton perhektar yang berarti turun sekitar 1,24 persen dibandingkan dengan tahun 2003, yang menghasilkan 4.003.078 ton padi dengan luas panen 847.305 ha dengan rata-rata produksi 4,72 ton per hektar.

Sebagian besar produksi padi di sul-sel dihasilkan oleh jenis padi sawah. Jenis padi ini menyumbang 99,65 persen dari seluruh produksi padi atau sebesar 3.218.651 ton sedangkan sisanya dihasilkan oleh padi lading. Produksi jagung sul-sel pada tahun 2004 sebesar 661.249 ton dengan luas panen 192.456 ha atau menghasilkan rata-rata 3,44 ton / ha. Produktivitas tanaman ini relative naik jika dibangdingkan dengan tahun 2003 yang berproduksi rata-rata 2,86 ton/ha. Produksi ubi jalar, ubi kayu dan kacang – kacangan.

Perindustrian

Sektor industri dapat dibedakan atas industri besar, sedang, kecil dan rumah tangga. Data mengenai industri esar dan besar tersedia setiap tahun yang di kumpulkan dengan cara sensus lengkap, sedangkan data industri kecil dan rumah tangga tidak tersedia setiap tahun.

Perusahaan Sulawesi Selatan tahun 2004 tercatat sebanyak 65.906 buah dengan jumlah tenaga kerja sebanyak 210.689 orang jumlah perusahaan ini mengalami penurunan diandingkan dengan tahun sebelumnya, dimana tercatata 74.212 buah dengan tenaga kerja 209.319.

Kehutanan

Hutan di sulawesi selatan pada tahun 2004 seluas 3.264.713 ha yang antara lain terdiri dari 1.207.301,90 ha hutan lindung, 488.551,00 ha hutan produksi terbatas, dan 131.041,10 ha hutan produksi biasa. Produksi hasil hutan terdiri dari kayu dan non kayu (seperti rotan dan dammar). Produksi hutan Sul-Sel pada tahun 2004 yang berupa kayu sebesar 147.739,24 kubik. Hasil lainnya yakni rotan 6.478,67 pon dan getah pinus 180.126,000.

Perikanan

Kontribusi sub sektor perikanan pada tahun 1994 terhadap PDRB sebesar 7,67 persen, meningkat menjadi 9,20 persen pada tahun 1999. Sedangkan kontribusi sub sektor perikanan terhadap sektor pertanian pada tahun 1994 sebesar 19,98 persen dan meningkat menjadi 21,94 persen pada tahun 1999.

Produksi perikanan laut pada tahun 1994 sebesar 394,4 ribu ton dan pada tahun 1999 meningkat menjadi 429,9 ribu ton dengan rata?rata perturnbuhan sebesar 4,23 persen. Produksi perikanan mengalami peningkatan sekitar 4,43 % pertahun yang berhasil dari penangkapan di laut, dan perairan umum, budidaya tambak, kolam dan mina padi. Sedangkan perdagangan hasil perikanan ke luar negeri adalah udang beku, teripang, rumput laut dan telur-telur ikan terbang.

Pariwisata

Sulawesi selatan mempunyai banyak objek wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan asing ataupun lokal. Objek wisata tersebut dapat dibagi dalam beberapa kategori diantaranya : wisata alam yang berupa agrowisata malino, makam sultan hasanuddin, Air Terjun Bantimurung, Goa Mimpi , Ke'te Kesu, dan masih banyak lagi. Sedangkan untuk kategori wisata bahari objek wisata di sulawesi selatan diantaranya adalah Pulau Kayangan, Pelabuhan Paotere, Pulau Samalona, Pulau Barrang Caddi, Pantai Losari, Pantai Akkarena. Di sulawesi selatan juga terdapat wisata sejarah dan budaya diantaranya Benteng Rotterdam, Benteng Somba Opu, Monumen Mandala, Monumen Korban 40.000 Jiwa, Makam Pangeran Diponegoro, Kompleks Makam Raja-Raja Tallo, Makam Syech Yusuf.





Wilayah

Pesantren

Pesantren di Propinsi Sulawesi Selatan


Pengurus Nahdlatul Ulama

Pengurus NU di Propinsi Sulawesi Selatan


Tokoh

Sumber : • http://www.sulsel.go.idhttp://syahruddindemat.blogspot.comhttp://regionalinvestment.bkpm.go.idhttp://www.bi.go.id