Propinsi Kalimantan Tengah

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Geografis

Propinsi Kalimantan Tengah secara geografis terletak di daerah khatulistiwa, yaitu 0°45 LU, 3°30 LS, 111 ° BT dan 116° BT. Wilayah Kalimantan Tengah terdiri atas daerah pantai dan rawa-rawa dengan ketinggian 0 - 50 m dari permukaan laut dan kemiringan 0% - 8%, daerah perbukitan dengan ketinggian 50 - 100 m dan ketinggian rata-rata 25%. Daerah pantai dan rawa terdapat di wilayah bagian Selatan, sedangkan dataran dan perbukitan berada di wilayah bagian Tengah dan pegunungan berada di bagian Utara dan Barat Daya. Propinsi Kalimantan Tengah memiliki Luas wilayah 157.983 Km2 dan berbatasan dengan :

• Utara berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur

• Selatan berbatasan dengan Laut Jawa

• Barat berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Barat

• Timur berbatasan dengan Propinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan

Hampir seluruh wilayah Kalimantan Tengah dialiri oleh sungai besar dan kecil yang mengalir dari Utara ke Selatan dengan bermuara di Laut Jawa.


Demografi

Jumlah penduduk pada tahun 2002 berjumlah 1.874.900 jiwa dengan perbandingan 49% perempuan dan 51% laki-laki. Perbandingan luas wilayah dengan jumlah penduduk menunjukkan bahwa tingkat kepadatan penduduk Propinsi Kalimantan Tengah tergolong kurang padat yaitu 12 jiwa/Km'. Bila diamati menurut Kabupaten dan Kota terdapat perbedaan kepadatan penduduk yang cukup berarti, dimana Kota Palangka Raya sebagai ibukota propinsi Kalimantan Tengah merupakan kota dengan kepadatan paling tinggi 71,50 jiwa/KM2, sedangkan Kabupaten Barito Utara merupakan Kabupaten dengan kepadatan penduduk paling rendah yaitu 6,30 jiwa/KM2.

Sejarah

Pada mulanya, wilayah Kalimantan Tengah masuk wilayah Karesidenan Kalimantan Selatan. kemudian atas aspirasi masyarakat Kalimantan tengah, berdasarkan UU Darurat No. 10 Tahun 1957 yang berlaku mulai tanggal 23 Mei 1957 terbentuklah Propinsi Otonom Kalimantan Tengah. Undang-undang ini kemudian disahkan dengan UU No. 21 Tahun 1958. yang sekaligus juga menetapkan ibukota Propinsi Kalimantan Tengah bernama Palangka Raya. Peresmian pemancangan tiang pertama pembangunan kota Palangka Raya dilakukan oleh Presiden RI Pertama Ir. Soekarno pada tanggal 17 Juli 1957. Tanggal 23 Mei 1957 ini kemudian ditetapkan menjadi tanggal lahir atau tanggal terbentuknya Propinsi Kalimantan Tengah. Dalam perkembangannya, pada masa kepemimpinan Gubernur Asmawi Agani, pada tanggal 2 Juli 2002 di Jakarta dilakukan peresmian pemekaran Kabupaten baru di Propinsi Kalimantan Tengah oleh Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno. Berdasarkan UU No. 5 Tahun 2002, Prop.Kalteng yang semula terdiri dari 5 kabupaten dan 1 kotamadya dimekarkan menjadi 13 kabupaten dan 1 kota. T.T. Suan (Januari 2001) seorang wartawan senior Kalteng menulis dalam Kalteng Pos: SEJAK 1 Januari 1957 di Banjarmasin dibentuk kantor persiapan pembentukan propinsi Kalteng dan penunjukkan Gubernur Kalteng RTA Milono selaku Gubernur Pembentukan Propinsi Kalteng itu. Telah dimulai perencanaan pembangunan jalan-jalan, terusan/kanal, dermaga, pelabuban dan lapangan terbang. Pahandut telah dipilih sebagai ibukota dan oleh pemerintah pusat untuk tahap pertama pembangunannya, disediakan biaya/dana sebesar Rp 25 juta (harian pagi nasional Yogyakarta edisi 23 April 1957). Panitia kerja mencari nama bagi ibukota Kalteng telah berhasil serta disetujui oleh pemerintah pusat, namanya Palangka Raya. Pembangunan kota Palangka Raya dilaksanakan oleh tenaga bangsa Indonesia sendiri. Akan dibangun jalan dari Palangka Raya menuju Kasongan-Sampit-Pangkalan Bun-Sukamara (ke arah Barat), ke Pulang Pisau-Kuala Kapuas terus ke Banjarmasin (ke arah Selatan) dan ke Kuala Kurun-Muara Teweh-Puruk Cahu -Ampah¬Buntok (ke arah Utara dan Timur) dan lain-lain jurusan.

Pembangunan lapangan terbang mulai di Palangka Raya. Pada tahap pertama “kota terbangun” seluas 10 kali 10 km, “isinya” berupa pembuatan jalan-jalan, berbagai gedung/ perumahan, fasilitas jasa seperti jaringan distribusi telepon, instalasi listrik, instalasi air minum dan lain-lain (Tjilik Riwut Kalimantan Memanggil 1958 halaman (174). Memulai pelaksanaan pembangunan kota Palangka Raya dan daerah Kalimantan Tengah dihadapi serba keterbatasan serta rasa kesulitan berupa: kekurangan tenaga trampil, ketiadaan dana/biaya, ketiadaan prasarana/sarana dan fasilitas kerja, sedangkan wilayah sangat luas dengan alamnya yang dahsyat dan jumlah penduduk sangat sedikit.

“Aset awal” yang menonjol yang dimiliki, 11 buah sungai besar/panjang berfungsi sebagai prasarana transportasi di perairan. Jalan darat hanya ada sepanjang kurang lebih 40 Km (Ampah-Tamiang Layang) sambungan dari Kalsel, adalah jalan peningggalan zaman Belanda. Dalam keadaan yang demikian serta keterbatasan dan kekurangan itu, “berjalan beriring” menyertai semangat pembangunan lapangan terbang dan lain-lain dibayang-bayangi “rasa” pesimistis yang bisa-bisa berupa hanya angan-angan. Sungguh, hanya berbekalkan semangat, ikrar bersama seluruh peserta pertemuan akbar, yang dicetuskan dalam Kongres Rakyat Kalteng pertama; 2-5 Desember 1956 di Banjarmasin. Cetusan tekad disertai semboyan Isen Mulang meningkatkan harkat dan martabat Rakyat Indonesia di Daerah Kalteng


Sosial budaya

Suku Dayak yang terdapat di Kalimantan Tengah terdiri atas Dayak Hulu dan Dayak Hilir. Dayak Hulu terdiri atas : Dayak Ot Danum, Dayak Siang, Dayak Murung, Dayak Taboyan, Dayak Lawangan, Dayak Dusun dan Dayak Maanyan. Sedangkan Dayak Hilir (Rumpun Ngaju) terdiri atas: Dayak Ngaju, Dayak Bakumpai, Dayak Katingan, dan Dayak Sampit. Suku Dayak yang dominan di Kalimantan Tengah adalah suku Dayak Ngaju, suku asal Kalimantan lainnya yang tinggal di pesisir adalah Banjar Melayu Pantai merupakan ¼ populasi Kalteng. Disamping itu ada pula suku Jawa, Madura, Bugis dan lain-lain. Gabungan suku Dayak (Ngaju, Sampit, Maanyan, Bakumpai) mencapai 37,90%. Di Provinsi Kalimantan Tengah terdapat berbagai jenis agama dan kepercayaan yang menyebar diseluruh daerah ini, antara lain :

• Islam

• Kristen Protestan

• Katolik

• Hindu Bali

• Budha

• Hindu Kaharingan

Kaharingan adalah kepercayaan penduduk asli Kalimantan Tengah yang hanya terdapat di daerah Kalimantan sehingga untuk dapat diakui sebagai agama maka digabungkan dalam agama Hindu. Penganut Agama Hindu Kaharingan tersebar di daerah Kalimantan Tengah dan banyak terdapat di bagian hulu sungai, antara lain hulu sungai Kahayan, sungai Katingan dan hulu sungai lainnya.

Masyarakat Suku Dayak Kalimantan Tengah sangat menjunjung tinggi kerukunan, saling menghormati, tolong menolong terhadap sesama manusia baik antara Suku Dayak sendiri maupun Suku Bangsa lain yang datang atau berada di Bumi Tanbun Bungai, mereka tidak mempersoalkan terhadap suku-suku bangsa lain, hal ini terlihat dari budaya masyarakat Dayak yang sangat dikenal yaitu Budaya Rumah Betang.

Rumah Betang adalah sebuah rumah panjang yang didalamnya dihuni beberapa orang/keluarga yang hidup rukun damai antara satu dengan yang lainnya.

Upacara Adat

Masyarakat Dayak sangat menghormati dan menjunjung tinggi adat istiadat dalam kehidupan sehari-hari, sebagai contoh adalah Ucapara Adat Perkawinan, Adat Menerima Tamu, Adat menghormati orang yang rneninggal dunia khususnya bagi masyarakat Dayak yang masih memeluk Agama Hindu Kaharingan.

Falsafah Hidup Masyarakat

Falsafah masyarakat Kalimantan Tengah adalah Huma Betang yang mengandung arti berbeda-beda, akan tetapi tetap satu dan dilengkapi dengan falsafah " belum bahadat�? yang artinya bahwa manusia itu hidup berada pada suatu tempat menjunjung tinggi etika dan estetika antara adat istiadat masyarakat setempat.

Belum Penyang Hinje Simpei, artinya kehidupan dalam suatu daerah harus diwujudkan dalam hidup yang rukun dalam suatu kebersamaan.

Potensi daerah

Kehutanan

Propinsi Kalimantan Tengah mencakup luas wilayah 15.798.359 Ha, yang terdiri dari kawasan budidaya 14.038.279 Ha dan kawasan Hutan Lindung 1.760.079 Ha. Dari kawasan budidaya seluas 14.038.279 Ha terdiri dari kawasan hutan produksi biasa dan hutan produksi 8.517.000 Ha sedangkan lainnya kawasan pertanian, perkebunan, pertambangan, pemukiman dan lain-lain. HPH di Kalimantan Tengah yang masih aktif berjumlah 65 unit dengan total areal 5.632.516 Ha.

Terdapat pula pusat-pusat pengolahan kayu meliputi Sawn Timber, Ply Wood, Moulding/Dowel, Veener, Lumber Core dan Black Board. Selain itu Hasil Hutan ikutan juga cukup menjanjikan potensinya di Kalimantan Tengah, antara lain Rotan. getah jelutung, damar, kuht gemor, buah tengkawang, sirap, arang, gaharu merang, sarang burung, perahu, kayu bulat kecil, akar kayu, pasak bumi, ujung atap, rotan manau dan madu serta hasil hutan lainnya.


Pertambangan

Bahan-bahan galian sangat meyakinkan dan mempunyai prospek yang cukup cerah dimasa mendatang. Menurut hasil pemetaan dengan ketelitian semi mikro ditemukan berbagai bahan galian, mulai dari bahan galian vital ( seperti gas bumi, batu bara, emas dan intan) hingga bahan galian golongan C berupa zirkon, kristal kuarsa, batu gamping, pasir kwarsa, lempung, kaolin, andesit, basal dan garanit. Hingga tahun 1999 tercatat 28 buah Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dan 15 buah Kontrak Karya (KK) di bidang pertambangan emas.

Perkebunan

Pengembangan perkebunan di Kalimantan tengah dilaksanakan untuk menjangkau seluruh potensi lapisan masyarakat dan menyebar di seluruh wilayah. Untuk usaha perkebunan ini pemerintah daerah memproyeksikan pencadangan lahan seluas 3.139.500 Ha. Pendekatan pengembangan usaha perkebunan dilakukan dengan beberapa pola, seperti : Pola Swadaya, Pola UPP, Pola PIR dan Pola PBSIPBSN. Beberapa komoditi unggulan di bidang perkebunan adalah : Karet, Kelapa, Kelapa Sawit, Lada Kopi, Cengkeh, Kakao dan Tebu.

Perikanan

Potensi perikanan di Kalimantan Tengah meliputi perikanan laut dan perikanan darat. Potensi perikanan laut potensinya pada panjang pantai 750 Km, dengan potensi lestasi 126.000 ton/tahun. Berdasarkan data produksi tahun 1998 baru dimanfaatkan sebesar 50.897,3 ton, berarti baru termanfaatkan sebesar 40,39 % per tahun. Budi daya ikan laut belum dikembangkan. Sedangkan potensi perikanan darat, berupa potensi budi daya air payau/tambak 90.437 Ha. Perairan umum terdiri dari sungai, danau dan rawa luasnya 2.293.633 Ha. Potensi lestari 130.000 ton/tahun dan baru dimanfaatkan sebesar 27,3%.

Peternakan

Pengembangan usaha peternakan di Kalimantan Tengah ditujukan untuk mewujudkan upaya swasembada pangan, baik karbohidrat maupun protein hewani. Agribisnis sub sektor peternakan dikembangkan melalui Pola Inti Rakyat (PIR) dengan memperkuat koperasi, melalui pengembangan serta penetapan teknologi maju dalam berbagai usaha budidaya peternakan.

Perkembangan populasi ternak, produksi daging, produksi telur dan pemotongan ternak di Kalimantan Tengah umumnya meningkat dari tahun ke tahun.

Petanian

Luas lahan sawah di Kalimantan Tengah 273.206 Ha (1,78%) dan lahan kering 15.083.194 Ha (92,22%). Ditinjau dari penggunaannya masih relatif kecil, yaitu lahan sawah yang 273.206 Ha baru 37,88% (103.498 Ha) dan 62% (169.708 Ha)

yang tidak/belum diusahakan. Sedangkan untuk lahan keringnya yang tidak/belum diusahakan masih 1.609.140 Ha atau 10,67%. Bebagai tanaman palawija meliputi jagung, ubi kayo, ubi jalar, kedelai, kacang tanah dan kacang hijau. Sementara itu tanaman holtikultura meliputi bawang daun, petai, sawi, kacang panjang, tomat, cabe, terong, buncis, ketimun, labu siam, kangkung, bayam dan lain-lain cukup tersedia di pasaran. Sebahagian produksi tanaman palawija dan holtikultura merupakan hasil dari unit-unit transmigrasi yang sudah jadi.




Wilayah

Pesantren

Pesantren di Propinsi Kalimantan Tengah


Pengurus Nahdlatul Ulama

Pengurus NU di Propinsi Kalimantan Tengah


Tokoh

Sumber : • http://www.kalteng.go.idhttp://www.koperasindo.org/http://infokalimantan.wordpress.comhttp://budayakalteng.blogspot.com/