Kiai Hambali, Pemalang

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Dari KH Musthofa Bisri (Gus Mus) dalam pertemuannya dengan Kiai Hambali, Pemalang menceritakan sebagai berikut: "Alhamdulillah, kemarin, di Warung Asem Pekalongan ketemu kiai sepuh yang benar-benar sepuh, Kiai Hambali (118 tahun!) dari Pemalang. Beliau cerita banyak dari ceritanya itu, di samping menunjukkan bahwa ingatannya masih kuat, beliau juga terus mengikuti perkembangan zaman, cerita ini disampaikan pada tahun 2012.

Beliau misalnya cerita saat mondok ke pesantren tua TERMAS dan bertemu Allah yarham KH. Dimyathi. Dalam bahasa Pekalongan yang medok, beliau menceritakan waktu pertama kali datang di Termas ditanya Kiai Dimyathi, "Naik apa dari Pemalang?" beliau menjawab, "Jalan kaki." | "Berapa lama?" | "16 hari" | "Ah, masih lama aku," kata Kiai Dimyathi; "Ketika aku mencari ilmu ke Uzbekistan, jalan kaki sampai 2 tahun." Beliau mondok Termas mulai tahun 1912 hingga tahun 1922. Kemuidan ke Mataram, Lombok Barat dg berjalan kaki 26 hari. Ngaji ke Kiai Hasan Hariri. Beliau juga cerita tentang Kiai Abdul Manan bin Kiai Dzulkifli Weleri yang merobohkan pohon dengan diameter 5 meter dari alas Roban dan memotongnya 4 bagian. 2 di antaranya diperuntukkan Kiai Dimyathi, untuk soko guru mesjid Termas dan Kiai Saleh Darat, dibuat bedug.

Beliau sempat mengritik kiai-kiai yang ikutan menjadi tim sukses di pemilihan umum, pilpres maupun pilkada; tentang adanya 'haji hadiah' dari pemerintah; sampai dengan bicara soal kekayaan Indonesia, termasuk produksi emas Freeport, yang kemanfaatannya tidak kembali kepada rakyat."