KH Utsman Al Ishaqi Surabaya

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Manaqib Romo KH. Utsman Al-Ishaqi Surabaya

Bagi murid-murid atau pengikut Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, figur Kiyai Utsman tidak asing lagi. Karena disamping beliau sebagai mursyidnya, juga penyusun silsilah thariqah yang paling banyak pengikutnya ini.

Lahir di Surabaya pada bulan Jumadil Akhir 1334 H setelah bertapa selama 16 bulan dalam rahim ibu. Beliau memiliki silsilah keturunan hingga Rasulullah Saw. yang ke-37. Kiyai Utsman lebih banyak masa kecilnya dihabiskan untuk belajar dan mengaji ke beberapa guru di lingkungan beliau lahir. Tak heran jika pada usia 7 tahun Kiyai Utsman kecil telah 3 kali khatam al-Qur’an.

Pesantren yang pertama kali disinggahi untuk menuntut ilmu ialah pesantren yang diasuh oleh Kiyai Khozin Siwalan Panji. Tidak lama kemudian beliau pindah ke pesantren yang diasuh Kiyai Munir Jambu Madura. Selanjutnya oleh kedua orang tuanya, Kiyai Utsman dipondokkan di pesantren Tebuireng Jombang asuhan KH. Hasyim Asy’ari dan akhirnya Kiyai Utsman memantapkan hatinya untuk memperdalam ilmunya di pesantren Rejoso Peterongan Jombang yang diasuh oleh Kiyai Romli at-Tamimi.

Keterangan: Hadhratus Syekh KH. Muhammad Utsman Al Ishaqy ( Surabaya) bersama Habib Ali bin Husein al-Atthos Jakarta (Habib Ali Bungur)

Mengenal Thariqah

Perjalanan Kiyai Utsman dalam mencari ilmu diwarnai dengan berbagai lelaku. Tidak saja dalam hal makanan dan minuman saja yang harus dihindari. Akan tetapi juga dalam hal memperbanyak waktu untuk tidurpun juga harus dijalani.

Dalam hal tirakat, Yai Utsman tidak pernah pulang ke rumah selama mondok, kecuali badannya sudah kurus benar. Sebab jika pulang dalam keadaan badan gemuk, dapat dipastikan kedua orang tuanya akan marah besar. Jika hal ini terjadi, berarti selama mondok dianggap aktifitasnya hanya makan dan minum saja, bukan mencari ilmu.

Setelah cukup waktu nyantri di Kiyai Romli, Kiyai Utsman dibai’at oleh Kiyai Romli sebagi murid thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah dan sekaligus mendapat tugas dari kiyainya untuk menyusun silsilah thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah yang terhimpun dalam kitab Tsamrat al-Fikriyah.

Babak kehidupan baru pun dimulai, setelah dirasa cukup dalam menimba ilmu dan telah menjadi salah satu murid thariqah, Kiyai Utsman pulang kampung untuk mengamalkan berbagai disiplin ilmu yang telah dimilikinya. Akan tetapi meski telah berada di lingkungan keluarga, Kiyai Utsman masih secara rutin hadir ke Kiyai Romli untuk mengikuti majelis khususi dengan cara berjalan kaki, kadang juga naik kendaraan dan itu dilakukan selama empat tahun. Selanjutnya atas saran KH. Hasyim Asy’ari, Kiyai Utsman beserta keluarga pindah sementara ke Peterongan agar lebih dekat dengan gurunya.


Diba’iat Menjadi Mursyid

Dalam pandangan Kiyai Romli, Kiyai Utsman selama mondok dan sebagai murid Thariqah, memiliki keistimewaan dan kekhususan yang tidak dimiliki oleh santri lainnya. Seperti ketika Kiyai Utsman berusia 13 tahun memiliki kemampuan melihat Ka’bah di Makkah tanpa harus datang ke Masjidil Haram. Juga kemampuannya melihat kepribadian seseorang menyerupai serigala, dan hewan sejenis tergantung nafsunya masing-masing. Termasuk selama mondok di Rejoso ini Kiyai Utsman sering dijumpai oleh Nabi Khidir As.

Kiyai Romli berpendapat bahwa untuk meneruskan ajaran thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah, diperlukan estafet kepemimpinan thariqah. Dalam hal ini diperlukan seorang mursyid (guru) baru. Ini dimaksudkan agar ajaran thariqah tetap langgeng sampai kiamat nanti. Diantara sekian murid (santri) yang menurut pandangan Kiyai Romli memiliki kemampuan sebagai mursyid thariqah ialah Kiyai Utsman.

Maka pada suatu hari tepatnya jam 2 dini hari Kiyai Utsman diminta menghadap Kiyai Romli untuk diangkat menjadi Mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah. Ketika Kiyai Romli melaksanakan perintah Allah dengan cara mengusapkan tangannya di atas kepala Kiyai Utsman, maka seketika itu pula Kiyai Utsman pingsan tidak sadarkan diri selama satu minggu, selama itu pula beliau tidak makan tidak minum tidak tidur tidak mandi tidak buang air besar maupun kecil juga tidak salat.

Setelah resmi menjadi mursyid, Kiyai Utsman atas saran Kiyai Romli diminta tinggal di Desa Ngelunggih tidak jauh dari Rejoso. Tidak beberapa lama kemudian Kiyai Utsman pindah ke dekat gunung Lawu Ngawi untuk menyebarkan ajaran agama Islam. Ketika ada peristiwa Madiun, banyak yang menyarankan agar Kiyai Utsman pulang kampung di Surabaya. Meski masyarakat dimana beliau tinggal banyak yang keberatan, bahkan jika Kiyai Utsman mau tetap tinggal di Ngawi, ada sebagian masyarakat berkenan menghibahkan tanah seluas 20 ha. Akan tetapi Kiyai Utsman tetap memilih kembali ke Surabaya.


Istiqomah dalam Perilaku

Kiyai Utsman sejak kecil hingga akan pulang ke rahmatullah selalu istiqomah dalam perilaku. Perbuatan serta ucapan-ucapannya selalu meniru Rasulullah Saw. Semua menyaksikan bahwa seluruh waktunya hanyalah untuk mengabdi kepada Allah. Maka pantaslah jika kemudian Kiyai Romli memilih Kiyai Utsman sebagai kholifahnya. Dalam hal ini Kiyai Romli pernah bermimpi bahwa di Surabaya terdapat sebuah pabrik besar yang terus-menerus berproduksi di bawah pimpinan Kiyai Utsman, itulah thariqah Qadiriyah wa Naqsabadiyah yang beliau asuh.

Karena saking cintanya kepada Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra, Kiyai Utsman kemudian merintis penyelenggaraan manaqiban dengan cara membaca sejarah singkat Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. seorang ulama besar asal Timur Tengah. Kegiatan yang merupakan rintisan ini ternyata mendapat sambutan yang cukup baik dari Kiyai Romli Rejoso dan akhirnya Kiyai Romli menyetujui dan meminta untuk diteruskan (dilanggengkan).

Salah satu kegemaran Kiyai Utsman ialah melakukan ziarah ke wali-wali Allah baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Bahkan karena dekatnya hubungan beliau dengan para wali Allah, Kiyai Utsman menyemarakkan peringatan hari wafat mereka (haul), terutama wafatnya Syekh Abdul Qadir al-Jailani Ra. sehingga tiada terlewatkan setiap harinya di kota maupun di desa di Jawa Timur untuk senantiasa menggelar manaqib.

Setelah Kiyai Utsman mendapat kepercayaan dari kiyai Romli sebagai kholifah (mursyid thariqah), beliau di rumah Jatipurwo menggelar acara manaqiban selama 4 tahun yang hanya diikuti oleh 7 orang. Di tengah-tengah memimpin istighotsah, Kiyai Utsman didatangi oleh seseorang yang tidak dikenal, kemudian menelentangkan Kiyai Utsman dengan sebilah pedang di leher kiyai.

Peristiwa tragis ini kemudian disampaikan ke Kiyai Romli, dan beliau hanya menjawab: “Teruskan apa yang telah kamu amalkan, pasti orang itu tidak berani lagi mengulangi perbuatan yang sama”. Apa yang yang disampaikan oleh Kiyai Romli benar-benar terjadi, bukannya orang tersebut mengulangi lagi perbuatan yang sama, akan tetapi malah menjadi pengikut Kiyai Utsman yang setia.


Beberapa Karomah yang Dimiliki Kiyai Utsman

KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi (salah satu putra Kiyai Utsman) menceritakan, ketika ayahanda berusia 13 tahun mempunyai kemampuan melihat Ka’bah secara nyata dari rumahnya Jatipurwo Surabaya. Beliau menganggap apa yang dilihatnya merupakan mimpi, tapi setelah berkali-kali matanya diusap, bahwa apa yang dia lihat bukan sekedar mimpi, akan tetapi benar-benar terjadi dan yang tampak hanyalah Ka’bah di Makkah. Kemudian Kiyai Utsman minta dibelikan kaca mata, beliau mengira bahwa matanya sudah rusak. Setelah dibelikan dan dipakai, ternyata hasilnya sama saja.

Menurut Kiyai Asrori, itulah awal kasyaf yang dialami ayahandanya dan sejak saat itu Kiyai Utsman bisa melihat orang dengan segala kepribadiannya. Ada yang menyerupai serigala, ada yang seperti ayam dan kucing tergantung pembawaan nafsu masing-masing. Akan tetapi Kiyai Utsman tidak berani mengatakan terus terang, karena hal itu menyangkut kerahasiaan seseorang.

Pada saat bermukim di lereng gunung dekat Ngawi, Kiyai Utsman pernah bermimpi ketemu KH. Hasyim Asy’ari Tebuireng dan berpamitan dengan Kiyai Utsman dengan mengatakan: “Saya duluan Utsman!”. Ternyata pada esok harinya beliau mendengar berita bahwa KH. Hasyim Asy’ari meninggal dunia (pulang kerahmatullah).

Kiyai Muhammad Faqih Langitan Tuban pernah mengatakan bahwa Kiyai Zubeir Sarang Rembang bermimpi ketemu Rasulullah Saw. sedang menemui 2 orang laki-laki dan Rasulullah Saw. menyatakan kepada Kiyai Zubeir: “Keluargaku banyak tersebar di tanah Jawa diantaranya ialah Romli dan Utsman”.

Salah seorang sopir Kiyai Utsman pernah mengatakan, dalam perjalanan dari Rejoso menuju Surabaya, tiba-tiba mobil yang dikendarai Kiyai Utsman bensinnya habis padahal seluruh uang sakunya telah diserahkan ke pondok. Kemudian Kiyai memerintahkan kepada sopirnya: “Begini saja, tangki mobil diisi dengan air teh tanpa gula secukupnya.”

Karena sopir itu percaya dengan kiyai, maka perintah itu dilaksanakan dengan sepenuh hati. Kemudian Kyai Utsman menanyakan: “Sudah kau isi bensin?”

“Mobil kami isi dengan teh sesuai dawuh Kyai,” jawab sopir.

Kyai Utsman pun segera mengajak pulang ke Surabaya. Dan atas izin Allah Swt. mobil itu bisa berjalan sampai ke Surabaya dengan bahan bakar teh.

Demikian sepenggal biografi ulama besar KH. Utsman al-Ishaqi asal Jatipurwo Surabaya, yang kemudian nama beliau terpatri dalam nama Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah.

Sepeninggal Kiyai Usman, tongkat estafet mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah al-Utsmaniyah diberikan kepada salah satu putranya yakni alm. KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi. Pengalihan tugas itu berdasarkan wasiat Kiyai Utsman menjelang wafatnya.

Disadur dari: ( http://alkhidmahprogo.wordpress.com/2009/04/02/kh-utsman-al-ishaqi-ra/ )


Tentang Pembagian Tugas Putra-putra dalam Meneruskan Cita-cita, Harapan dan Langkah Kiyai Utsman Sepeninggalnya

Pengantar

Bismillaahhirrahmaanirrahiim. Alhamdulillaahi wahdah. Washsholaatu wassalaamu ‘alaa Sayyidinaa Muhammadibni ‘Abdillah wa‘alaa Aalihii washohbihii waman tabi’a hudaah. Walaa haula walaa quwwata illaa billaah.

Pada Juni 1994, Syaikhuna Romo KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi memberikan beberapa kaset dan mengutus kami, untuk menerjemahkan ke Bahasa Indonesia dan sekaligus menuangkannya dalam bentuk teks/tulisan. Kaset tersebut berisi rekaman suara Romo KH. Muhammad ‘Oetsman al-Ishaqi. Beliau sedang menyampaikan dawuh-dawuh penting di hadapan putra-putra dan keluarga besar beliau. Isi dawuh-dawuh tersebut merupakan wasiat yang sangat penting dan berarti, terutama di masa sepeninggal beliau dan sampai seterusnya.

Isi dawuh beliau pada garis besarnya dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga) bagian. Pertama, wasiat tentang keberadaan dan kedudukan tanah pondok pesantren Jatipurwo Surabaya. Kedua, wasiat tentang pembagian tugas putra-putra dalam meneruskan cita-cita, harapan dan langkah beliau sepeninggalnya. Dan ketiga, wasiat tentang tatacara pembangunan pondok.

Sewaktu hasil ikhtiar sebatas yang mampu kami lakukan itu kami haturkan kepada Romo KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi, kami lantas didawuhi diutus untuk menyimpannya. Namun setelah lima belas tahun kemudian, tepatnya bulan Juni 2009 – dan pada saat berikutnya baru kita mengerti bahwa ternyata hanya sekitar satu setengah bulan sebelum kita semua ditinggalkan Romo KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi menghadap ke Hadhratillah, kami didawuhi agar simpanan tadi itu dicetak menjadi sebuah buku.

Selang beberapa hari setelah sepeninggal beliau, kami coba maturkan ke beberapa sesepuh tentang amanat yang belum terwujudkan ini dan saat itu dibijaki untuk ditunda dulu mengingat situasi masih belum atau kurang kondusif. Tapi, Subhaanallah, Mahasuci Allah – Dzat yang meletakkan keistimewaan kepada kedua Guru Mulia tersebut dalam menjangkau jauh ke masa depan – ternyata pada situasi seperti di saat sekarang ini, ketika sudah sama-sama ditinggalkan keduanya, kita baru menyadari betapa sangat membutuhkan dokumen tersebut.

Puji Syukur Alhamdulillah, atas restu dan persetujuan para sesepuh yang duduk di Limapilar, dengan niat semoga jadi baik semuanya, kami menghaturkan sebagian atau potongan dari teks berisi wasiat tersebut. Panjatan doa kita ke Hadirat Allah Swt., melalui berkah para Guru, khususnya berkah dari Romo KH. Muhammad ‘Oestman al-Ishaqi dan Romo KH. Ahmad Asrori al-Ishaqi – Rodhiyallaahu ‘anhumaa, Allah SWT membuka hati dan membuang semua hijab di hati kita, untuk kemudian diisi hidayah serta diberikan taufiq, sehingga semakin bertambah mendekat batas umur kita maka semakin bertambah kokoh pula keyakinan kita. Semoga diberikan istiqomah, tumakninah, ilaa yaumil-qiyaamah. Aamiin Allaahhumma Aamiin yaa Rabbal-‘aalamiin.

Perlu kami haturkan kepada Pembaca, bahwa dalam ikhtiar menunaikan perintah menerjemahkan ini, kami berusaha sebisa mungkin untuk menjaga serta mempertahankan keaslian (originalitas) dan sifat “apa adanya” (objektivitas) dari tuturan aslinya; yakni logat tutur jawa yang khas Romo KH. Muhammad ‘Oetsman al-Ishaqi Ra. Hal ini sengaja kami lakukan dengan harapan supaya Pembaca lebih menangkap “rasa bahasa” dan “suasana komunikasi”-nya. Sehingga isi pesan dan hal-hal yang mencerminkan kehalusan rasa, budi bahasa, kesabaran dan ketelatenan Si Penutur Ra. bisa terserap secara optimal.

Oleh karena itu maka, Bahasa Indonesia yang nanti akan Pembaca ikuti, barangkali tidak lazim. Banyak yang tidak baku dan/atau menyalahi kaidah; baik kosa kata maupun struktur kalimat dan komposisinya. Persisnya, ini Bahasa Indonesia yang kental dengan aroma ragam tutur lisan Jawanya. Dalam hal ini kami mohon dimaafkan.

Transkrip Terjemah:

Wasiat asy-Syeikh Romo KH. Muhammad ‘Oetsman al-Ishaqi Ra. kepada Segenap Putra-putra dan Keluarga Besarnya

Dikutip dan dipotong dari bagian 2:

Tentang Pembagian Tugas Putra-putra dalam Meneruskan Cita-cita, Harapan dan Langkah Beliau Ra. Sepeninggalnya

Dulu ketika saya mengaji, saya ingat ada hadits Rasulullah Saw. beliau dawuh: “Ketika engkau bangun pagi hari, jangan engkau merasa bakal hidup sampai sore hari”. Itu dawuh. prakteknya bagaimana? Prakteknya, saya ingin bagaimana agar hidup saya ini bisa diisi, digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat. Entah apakah nanti sore, entah sehabis saya bicara ini, entah kapan saya bakal mati, itu terserah Allah Swt. Pokoknya, hidup saya ini berisi manfaat.

Sekarang ini, saya ingin berterus-terang. Mumpung juga saat ini pada berkumpul semua. Ada yang tua-tua, ada famili, saudara, anak juga ada. Saya sebenarnya saat ini memikul beban yang cukup berat. Ibarat seorang tukang yang biasa mengangkat karung, bagi dia 25 kilogram itu ringan. Lha, bagi saya, yang tidak biasa mengangkat yang berat-berat? Saya merasa apa yang telah diamanatkan oleh Kiyai Romli ini terasa berat sekali.

Kebutuhan orang-orang terhadap saya, dalam bentuk menuntun dalam thoriqohnya, yang menjadi peninggalan Kiyai Romli, sekarang ini jumlahnya sudah tidak lagi ribuan tapi puluhan ribu. Sekarang ini, kalau saya mendatangi acara, yang hadir umumnya rata-rata sudah di atas tiga ribu. Kalau tidak percaya mari ikut saya untuk membuktikan. Yang saya hadapi? tidak hanya orang biasa. kadangkala ada kyai dan sebagainya.

Jadi, sekarang ini rasanya saya tidak punya banyak waktu lagi untuk bisa bertemu famili, bertemu anak. Waktu saya ingin saya gunakan lebih banyak untuk menyendiri, menghadap kepada Allah Swt. Saya hanya berdoa kepada Allah, mudah-mudahan anak cucu saya menjadi orang yang benar hatinya. Hatinya dulu. Kedua, angan-angan saya, mudah-mudahan saya bisa benar dalam hal menjaga peninggalan Kiyai Romli. Ketiga, mudah-mudahan anak cucu saya semua dapat memelihara peninggalan saya yang ada. Sudah mengerti?

Mumpung saat ini bertemu semuanya, dan memang sudah saya rancang, saya akan ngomong. Meskipun setiap saat saya bisa bertemu dengan anak-anak saya, tapi belum tentu saya ada sempat untuk ngomong. Memang jarang sekali. Jika tidak sangat penting saya jarang bisa ada sempat untuk omong-omong. Hal ini karena begitu banyaknya garapan saya sekarang ini, yakni titipan Kiyai Romli itu. Bagi yang muda-muda mereka paham, sudah hafal. Jadi, ini mumpung pada berkumpul, saya gunakan kesempatan ini untuk ngomong.

Kelak, jika sudah saatnya saya tinggal, saya tidak meninggali kantor, saya tidak meninggali pabrik, ataupun sawah. Jika saya meninggali sawah, tentu pesan saya, “Kalian yang benar dalam mengolah tanahnya”, “sapinya diberi makan” begitu. Jika saya meninggali kantor, tentu anak-anak akan saya sekolahkan. Kalau saya meninggali tambak, saya mungkin pesan, “Belajarlah membikin jala” dan begitu seterusnya. Sekarang ini, yang tampak di depan mata adalah bahwa saya meninggali pondok. harapan saya, pondok ini bisa saya wasiatkan.

Beberapa dari anak-anak saya, laki-laki. Bukan maksud saya menjunjung anak-anak saya, tidak. Tapi, Alhamdulillah, meski cuma satu-dua kalimat, anak-anak saya ini sudah menyandang ilmu. Jadi pondok ini, yang sudah ada kegiatan pengajian, ada khususi dan sebagainya, saya pasrahkan kepada anak-anak saya. Saya pasrahkan dengan mengikut keahliannya masing-masing. Harapan saya kepada yang diwasiati, berpeganglah pada kompas. Kiblatnya apa? Niat memelihara peninggalan orang tua.

Silakan menggali ilmu sampai Pintar. silakan mengasah pikirannya sampai tajam. Tapi jangan lupa, semuanya ini demi untuk bersama-sama memelihara peninggalan orang tua.

Arifin, misalnya. “Aku lebih tua …!!” Jangan, ini bukan urusan siapa yang lebih tua. Dasarnya adalah kebenaran. Mana yang benar itu yang digunakan. Juga, jangan meninggalkan musyawarah.

Dalam soal ilmiah, pondok ini sudah diakui oleh para sesepuh. Diantaranya dan terutamanya adalah al-Habib Ali bin Husein al-Aththos, Wali al-Ghouts. Kepada beliau, semua kitab dan pelajaran di sini sudah saya laporkan. Kata beliau: “Ini kitab-kitab pilihan. ‘uluumus-salaf”. Ini kesaksian al-Ghouts. Beliau termasuk satu-satunya kepala wali di zamannya. Jadi saya tidak berani mengubah.

Sekarang, saya berwasiat. Apa yang menjadi isi, yakni bab ilmiah agama di sini, biar tetap saja. Adapun jika ada yang belum diajarkan dan ingin ditambah untuk diajarkan, ya silakan, asal masih ada hubungan perurutan dengan yang asli. Misalkan Safinah, silakan. Kembangkan semampu kalian, kitab apa saja silakan.

Walhasil, pelajaran yang ada di sini jangan diubah. Termasuk, yang sudah menjadi amaliyah yaumiyah, itu juga jangan diubah. Biar tetap saja. Kalau mau ditambah, tidak apa-apa, asalkan tambahan tersebut tidak keluar dari ilmu-ilmu yang sudah ditetapkan. Sudah.

Seingat saya, saya tidak sampai meninggalkan untuk meminta doa dari yang tua-tua. Misalnya Habib Ali atau jika ada tamu Habib lainnya. Termasuk juga para kyai Mbah Ma’shum misalnya. Saya matur: “Doakan kyai, ini anak-anak saya. semoga bisa menggantikan saya”. Jawab beliau: “Alhamdulillah mudah-mudahan kyai. amin”. Saya mesti tidak lupa itu. Setiap berjumpa dengan orang sepuh, saya pandang alim, lebih-lebih habib, saya mesti tidak lupa untuk minta didoakan supaya anak saya semua bisa “trep” menggantikan saya, baik dalam hal ilmiahnya, atau wiridnya, atau bacaannya, semuanya itu bisa “pantes”.

Jadi, jangan diubah-ubah. Boleh ditambah, tapi masih satu saluran.

Minan ..!! Ahmad ..!! Mengerti ini? Sebab sekarang ini, kitab itu bermacam-macam. Dengan saya pakem begini, maksudnya agar jangan sampai tercampur oleh faham yang macam-macam.

Adapun mengenai yang mengajarkan ilmu-ilmu tersebut, saya sudah mempunyai angan-angan, dan sudah saya putuskan. Sudah saya tetapkan.

Sekarang ini, dengan disaksikan semuanya, ya?

Begini. saya lihat, anak saya yang paling tua itu Arifin. Pengamatan saya, Arifin itu mempunyai keahlian dalam pergaulan, dalam “Serawung”. Pergaulan di luar, di mana saja dengan siapa saja, Arifin itu seakan-akan kenal semua. Jadi, penetapan saya, Arifin saya jadikan penghubung luar.

Tugas penghubung luar itu, misalnya, kalau ada acara dan kita butuh mengundang. Kalau ada undangan, “Fin..!! Kamu kan banyak kenal? Ayo, tafadhol, nanti malam di rumah saya”, begitu. Itu saja tugasnya. Itu tugas Arifin. “Mayar”, saya beri tugas “Mayar” untuk mengundang orang-orang di luar.

Sudah, jangan ditambahi, lho …!!

Jadi penetapan yang saya wasiatkan, tugas penghubung luar itu Arifin. Arifin sebagai penghubung luar karena berdasarkan pengamatan saya, Arifin itu banyak yang kenal. Yang ahli kenal ya saya jadikan bagian undangan.

“Thok..!!” Jangan dilebihi, lho..!! Sudah. Jangan dilebihi. Itu “thok”. Sudah.

Kemudian mengenai yang ilmiah, bagian mengajar, kalau saya lihat di sini yang dekat untuk bisa diberi tugas mengajar itu Minan, Ahmad, Asrori. Jadi, tugas anak saya yang tiga itu, berkaitan mengenai soal ilmiah. Jadi bagian ilmu, atas dasar sebatas penglihatan saya, itu Minan, Ahmad, Asrori.

“Penggerayang” saya, dan saya cocokkan dengan persiapan saya atas bahan-bahan pelajaran yang sudah ada, maka saya punya penetapan begini: 1. Minan, itu tugasnya bagian mengajar tafsir dan hadits. itu pokok. Jadi yang pokok buat Minan, tafsir dan hadits. itu yang pokok. 2. Ahmad, menurut “penggerayang” saya, dan rupanya dalam hal ini nanti perlu penjelasan lagi. Ahmad itu memegang ilmu alat, seperti tashrifan dan sebagainya. 3. Asrori, atas dasar pengamatan saya, Asrori itu saya beri bagian tasawwuf dan fiqh.

Itu yang pokok. Pokok dari wasiat tentang tugas mengajar bagi ketiga anak saya tadi. Adapun keluar dari pokok, umpamanya, minan ingin ikut campur mengajar bidayah, itu tasawwuf kan? Bisa saja. Atau Ahmad ingin mengajar fiqh dengan maksud supaya tambah ingat lantas ikut mengajar Sullam, bisa saja.

Jadi, sekitar kepentingan apa yang bersangkutan dengan ilmu tafsir, itu urusan Minan. Kalau ada keterangan yang menyangkut dengan ilmu hadist, ya berurusanlah dengan Minan. Ini, “Fayaquulu …” ya berurusanlah dengan Ahmad. Kalau begini ini termasuk murid, kalau begini termasuk syeikh, kalau begini termasuk bab apa? Lha, ini bagiannya Asrori.

Begini, untuk tugas ini, jika saya pikir-pikir Asrori itu ternyata “nuwe’i”. Tapi juga asal mulanya sebenarnya bukan saya yang menetapkan. Hal begini ini atas sepersetujuan Gus ‘Ud.

Jadi, bab tasawwuf, apa tasawwuf itu? Mengenai thoriqoh, itu bagiannya Asrori, bukan bagiannya Arifin. Mengerti, Fin …?? Mengerti, kamu …??

Arifin memang sudah baiat, sudah... sudah baiat. Tapi, tidak bisa lantas, “Aku yang tua kan?” tidak begitu. Jika ini saya ubah, berarti saya mengubah apa yang telah disetujui oleh Gus ‘Ud. Tidak berani saya. Mengerti semua, ya?

Jadi thoriqoh ini, gampangnya, menurut permufakatannya Gus ‘Ud, yang menggantikan adalah Asrori. Lha, toriqoh itu kitabnya kitab tasawwuf. Begitu.

Jadi tidak bisa umpamanya nanti Arifin, “Koq tidak diberikan ke yang tua saja?” jangan ditawar, sudah. Karena begini, sebagai orang tua, saya juga maklum. Saya pernah mendengar begini. Sewaktu saya pergi, waktu itu hari Minggu, saya tidak ada di sini. Yang jadi imam Arifin. Itu pengertiannya darurat. Itu darurat. Jangan diberi makna seterusnya, jangan. “Lha Buya waktu pergi, saya yang menggantikan koq..!!” Bukan itu maknanya. Itu menggantikan sebagai ganti darurat.

Jadi, penetapannya itu kalau Arifin hanya bagian undangan. Sudah. Minan tafsir dan haditsnya. Ahmad ilmu alatnya. Thoriqohnya Asrori. sudah, begitu saja. Ringkas.

Disadur dari ( http://kholil.speedytaqwa.com/post/detail/1586/mr )