KH TAUFIQUL HAKIM

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search
KH Taufiqul Hakim
Kh taufiqul hakim (5).jpg
Lahir : 14 Juni 1975
Wafat :

Kembali ke Main Page << Nabi dan Penerusnya

Riwayat Hidup dan Keluarga

Dari tujuh bersaudara, hanya KH Taufiqul Hakim yang berprofesi sebagai guru umat alias kiai. Karena keberhajaan keluarga kampung itu, saat Taufiq lahir, tidak ada yang menduga, bocah itu akan lahir menjadi ulama muda yang menghasilkan karya yang mendunia.

PP Darul Fallah Jepara yang dipimpinnya kini membimbing tidak kurang dari 650 santri. Santri PP Darul Fallah Jepara ada dua kategori: santri tetap dan santri kilatan. Santri tetap harus mengikuti semua aturan yang ada dalam program Amtsilati, sementara santri kilatan tidak diwajibkan banyak hafalan. Masa belajar bagi santri kilatan antara 1 minggu s.d. dua bulan saja. Nama Al-Falah diambil dari nama PP Mathaliul Falah Pati, tempat dia pernah menjadi santri. Secara tidak resmi, PP Darul Fallah Jepara ada sejak KH Taufiqul Hakim lulus dari Pesantren. Secara resmi, PP Darul Fallah Jepara didaftarkan ke Notaris (Bapak H. Zainurrohman, S.H. Jepara) tanggal 01 Mei 2002 dengan nomor registrasi 02.

Lahir

KH Taufiqul Hakim lahir pada 14 Juni 1975 di Sidorejo RT. 03 RW. 12 Bangsri, Jepara, Jawa Tengah. Dia adalah anak terakhir dari tujuh bersaudara. Dia bukan keterunan kiai atau bangsawan. Ayah dan ibunya hanya petani. Dari tujuh bersaudara hanya dia yang berprofesi sebagai seorang guru, dan saat ini dia dikenal sebagai kiai. Hal yang paling disesalinya adalah ketika ayahnya meninggal, dia tidak sempat ikut mengantarkan jenazah ayahnya karena harus menyelesaikan tugas belajar.

Wafat

Nasab Keturunan

Pendidikan

Pendidikannya dimulai dari pendidikan TK, SD dan MTs di desanya. Kemudian dia melanjutkan pada jalur informal yaitu pesantren. Pilihannya jatuh pada PP Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah yang diasuh oelh DR KH MA Sahal Mahfudz (Rais Aam PBNU). Selain itu ia juga menimba ilmu Madrasah Aliyah dan Diniyyah di lingkungan Perguruan Islam PP Mathaliul Falah Pati, Pati. Sebuah madrasah bergengsi di seantero pesisir utara Jawa Tengah, yang juga asuhan Mbah Sahal dan ulama kharismatik KH Abdullah Salam, yang telah melahirkan banyak ualama berbobot.

Melalui sistem pendidikan ketat, terutama di bidang ilmu alat dikedua almamaternya itulah KH Taufiqul Hakim memperoleh bekal ilmu agama yang terbilang cukup. Tak hanya ilmu alat dan ilmu agama, Perguruan Mathaliul Falah juga terkenal dalam hal memperkenalkan dan mengakrabkan santri-santrinya dengan tradisi tulis-menulis.

Tradisi tersebut secara tak langsung juga membuat santri terbiasa dengan pola berpikir yang sistematis dan terkonsep. Tak mengherankan jika kelak kemudian banyak alumninya yang menghasilkan karya-karya tulis berbobot, bahkan sebagian menggeluti sebagai penulis muda NU yang produktif.

Tradisi dan budaya positif itulah yang belakangan memberi modal yang lebih dari cukup bagi KH Taufiqul Hakim untuk menghasilkan Amtsilat, dan karya-karya lain yang jumlahnya sudah lumayan banyak.

Sanad Keilmuan

Para Guru

Silsilah Keilmuan dari para Imam

Penerus Beliau

Murid

Keturunan

Jasa dan Karya Beliau

KH Taufiqul Hakim Dan Keluarga

Berawal Dari Kegelisahan

Meski semua santri diwajibkan mengahafal kitab Alfiyyah, tidak semuanya mengerti kegunaan seribu bait syair kitab itu dalam membaca kitab kuning, termasuk diantaranya KH Taufiqul Hakim. Tak menyerah dengan keadaan, ia mengutak-atik syair-syair Alfiyyah. Hasilnya sebuah kesimpulan dari ribuan nadham hanya 150 bait yang menjadi pokok pelajaran nahwu.

Penemuan Metode Membaca Kitab ‘Amstilaty’

Dari situ ia melihat muridnya kesulitan menghafal seribu bait Alfiyyah, yaitu syair arab yang mengandung hukum dan aturan dalam ilmu nahwu (tata bahasa) untuk bias membaca Arab gundul. KH Taufiqul Hakim berfikir untuk mencari bait-bait yang terpenting saja. Ia memilih 150 bait saja.

Seratus lima puluh bait itu menjadi cikal bakal metode cepat membaca huruf arab tanpa harakat atau tanda baca.

Melalui pengujian selama enam tahun, ia akhirnya menemukan rumus ajaib itu pada ramadhan 2001. Dinamainya Amtsilati, yang berarti contoh-contohku. Metode baru itu ia uji cobakan pada empat rekannya, berhasil. Tapi, ketika diajarkan pada murid lain yang masih muda, tak sukses. Ia kemudian mencari terobosan dengan memberikan banyak contoh dan disampaikan dengan lagu. Murid pun betah belajar. Dalam enam bulan mereka bisa membaca Arab gundul. Padahal, dengan metode lama, butuh 6-9 tahun. Yang menarik, murid yang sudah menyelesaikan buku pertama bisa mengajar siswa baru. Begitu seterusnya, sehingga proses belajar bias lebih cepat.

Untuk lebih memperkenalkan metode ini, KH Taufiqul Hakim mengantar muridnya yang lulus ke rumah orang tuanya. Sang murid mempraktekkannya di depan orang tua. Dari sini, metode itu menyebar dikawasan Bangsri. Tapi KH Taufiqul Hakim tak digubris ketika memperkenalkan metodenya di Jepara. Peluncuran buku temuannya pada 2002 sepi pengunjung. Tak putus asa, ia membawanya ke Mojokerto dan sukses. Metodenya menjadi pilihan di pesantren pesantren tradisional. Sejak itu, metode Amtsilaty menyebar dengan cepat.

Edisi awal buku itu hanya berupa foto kopi. Kemudian karena banyak permintaan, diperbanyak dengan mesin percetakaan yang besar yang sanggup mencetak 2000 eksemplar setiap hari.

Di antara karyanya adalah Program Pemula Membaca Kitab Kuning: Amtsilati jilid 1-5; Qaidati: Rumus dan Qaidah, Shorfiyah: Metode Praktis Memahami Sharaf dan I’lâl, Tatimmah: Praktek Penerapan Rumus 1-2, Khulashah Alfiyah Ibnu Malik, ‘Aqidati: Aqidah Tauhid, Syari’ati: Fiqih, Mukhtarul Hadits 1-7, Muhadatsah, Kamus At-Taufik 587 halaman, Fiqih Muamalah 1-2, Fiqih Jinayat, Fikih Taharah, Fikih Munakahat, Fikih Ubudiyah 1-2, dan beberapa kitab lainnya. Sudah ada sekitar 30 buku, dan masih terus menulis. “Di mana saja menulis, di mobil, di mana saja menulis. Kalau ada mud menulis, kalo tidak, ya tidak,” katanya.

Kisah Teladan Beliau

Karomah Kewalian