KH Saifuddin Amsir

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Kembali ke Main Page << Nabi dan Penerusnya

Beliau adalah ulama ahli fikih dari Betawi yang menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode sampai dengan tahun 2015 dengan pemikiran fikih dan kebangsaan yang patut menjadi teladan kita semua.

Atas keteguhan dan keistiqomahan beliau di bidang fikih, KH Saifuddin Amsir dianugerahi "Fikih Award" bersama tokoh lainnya, seperti KH Abdul Aziz Arbi dan KH Ali Musthofa Ya'kub dalam bidang ilmu Al Qur'an dan Hadist oleh penerbit buku Islam di Jakarta, Pena Ilmu dan Amal. Selanjut beliau akan diangkat sebagai "Duta Fikih Indonesia" untuk menjadi tokoh pembicara utama di bidang fikih.


Riwayat Hidup

Kelahiran

Kyai Saifuddin Amsir bukan putra seorang ulama, dan tidak dibesarkan di lingkungan pesantren. Ia, yang lahir di Jakarta pada tanggal 31 Januari 1955, tumbuh dan besar di sebuah keluarga yang sangat sederhana. Ayahnya, Bapak Amsir Naiman, “hanya” seorang guru mengaji di kampung tempat tinggalnya, Kebon Manggis, Matraman. Sedangkan ibunya, Ibu Nur’ain, juga “hanya” seorang ibu rumah tangga yang secara penuh mengabdikan diri untuk mengurus keluarga.

Sejak kecil, putra kelima dari sepuluh bersaudara ini sudah diajari sifat-sifat yang menjadi teladan bagi dirinya kelak di kemudian hari. Dengan keras sang ayah mendidiknya untuk berperilaku lurus dan mandiri. Tidak ada kompromi bagi suatu pelanggaran yang telah ditetapkan ayahnya. Bersama sembilan orang saudaranya, ia dibiasakan untuk menunaikan shalat secara berjamaah.

Keinginan kuatnya dalam menimba ilmu-ilmu agama sudah terpatri kuat sedari kecil. Menyadari bahwa dirinya bukan berasal dari keluarga ulama dan juga bukan dari kalangan yang berada, Saifuddin kecil menyiasatinya untuk berusaha mandiri dan tidak bergantung kepada kedua orangtuanya. Ia berusaha menutupi biaya kebutuhan pendidikannya sendiri, bahkan sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Keluarga Beliau

Istri beliau bernama Hj. Siti Mas’udah dan beliau memiliki empat orang putri.


Masa Menuntut Ilmu

Pendidikan Awal

Berkat ketekunannya dalam belajar, ia pun selalu mendapat beasiswa dari pihak sekolah. Kegigihannya dalam terus mempelajari berbagai macam ilmu secara otodidak maupun berguru pada ulama-ulama terkemuka di masa-masa mudanya, telah menjadikannya sebagai salah seorang ulama Jakarta yang cukup disegani saat ini.

Di waktu kecil, selain mengaji kepada kedua orangtuanya sendiri, ia juga belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Washliyah. Di sela-sela waktunya, ia mempelajari berbagai macam ilmu secara otodidak. Ia juga senang membaca berbagai macam bacaan sejak masih kecil. Sewaktu duduk di bangku tsanawiyah, ia mulai banyak berguru ke beberapa ulama di Jakarta]. Beliau dilahirkan di Kampung Berlan, Matraman, Jakarta Pusat pada tahun 31 Januari 1955.


Pendidikan Lanjut

Di antara ulama yang tercatat sebagai guru-gurunya adalah K.H. Abdullah Syafi’i, Muallim Syafi’i Hadzami, Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Attas, dan Guru Hasan Murtoha. Kepada guru-gurunya tersebut, ia mempelajari berbagai cabang ilmu-ilmu keislaman. Pada saat menimba ilmu kepada Habib Abdullah Syami, di antara kitab yang ia khatamkan di hadapan gurunya itu adalah kitab Minhajuth Thalibin (karya Imam Nawawi) dan kitab Bughyatul Mustarsyidin (karya Habib Abdurrahman Al-Masyhur).

Di lain sisi, setelah pendidikan formalnya di jenjang pendidikan dasar dan menengah usai ia lewati, ia menjadi mahasiswa di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah (UIA) dan mendapat gelar sarjana muda di sana. Kemudian ia merampungkan gelar sarjana lengkapnya di Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, atau Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta saat ini. Dari waktu ke waktu dalam menempuh pendidikan formalnya itu, ia selalu menorehkan prestasi yang gemilang. Sewaktu lulus aliyah, ia tercatat sebagai lulusan aliyah dengan nilai terbaik se-Jakarta. Tahun 1982 ia mendaftarkan diri di Jurusan Akidah dan Filsafat IAIN saat jurusan itu baru dibuka oleh Rektor IAIN Prof. Dr. Harun Nasution, M.A. dalam sebuah program pendidikan yang saat itu dinamakannya sebagai Program Doktoral.

Karena berbagai prestasi yang telah dicapai sebelumnya, ia menjadi satu-satunya mahasiswa yang diterima di IAIN tanpa melewati tes masuk pada tahun itu. Dan setelah merampungkan masa kuliahnya, di waktu kelulusan lagi-lagi ia tercatat sebagai lulusan IAIN terbaik.

Guru Beliau

Beliau berguru kepada KH Syafi’I Hadzami, Rais Syuriyah PBNU 1994-1999, pendiri pesantren Ma‘had Ali Al-Arbain Al-Asyirotus Syafi‘iyah, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Beliau juga pernah berguru cukup lama kepada KH Abdullah Syafi‘i, pendiri perguruan Asy-Syafi‘iyyah, Tebet dan Pondok Gede. Selain pada keduanya.

Kiai Saifuddin juga menimba ilmu agama dari para kiai Betawi seperti Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Attas dan Guru Hasan Murtohadi serta guru lainnya.


Teladan Beliau

Keseharian Beliau

Kini, beliau mengajar di sejumlah majelis taklim di Jakarta. Antara lain, dia mengajar tafsir Ibnu Katsir pada majelis taklim Ahad pagi di Masjid Ni’matul Ittihad, Pondok Pinang, dan kitab Ihya Ulumiddin pada Masjid Taman Puring, Gandaria, Jakarta Selatan, Senin malam. Dalam kesehariannya, Kiai Saifuddin tercatat sebagai dosen tetap di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta.


Ahli Fikih

Beliau menyampaikan bahwa saat ini fikih di Indonesia semakin berkembang ke dalam berbagai kajian yang spesifik. Muncul beberapa kajian khusus seperti fikih anti korupsi, fikih aborsi, dan fikih sosial. KH Sahal Mahfudh, Rais Aam PBNU, disebut -sebut sebagai tokoh yang mempopulerkan kajian fikih sosial. Menurut Kiai Amsir, perkembangan itu merupakan respon dari berbagai perkembangan zaman. Dirinya menampik anggapan bahwa fikih sering terlambat dalam merespon perkembangan-perkembangan itu. "Anggapan itu hanya dilontarkan oleh mereka yang sinis," katanya singkat.

Dalam kesempatan itu Kiai Amsir menegaskan bahwa disiplin ilmu fikih bersumber dari dua sumber hukum utama yakni Al-Qur'an dan Hadits. Dirinya mengkritik kalangan pengkaji fikih lintas agama yang menurutnya sering menempatkan berbagai poin pemikiran dalam paham pluralisme menggungguli dua sumber hukum utama Islam itu.

Kebangsaan

Beliau juga mengajak semua warga agar senantiasa menjaga keutuhan bangsa yang harus didahului dengan menjaga ukhuwah basyariah atau persatuan umat manusia. KH Saifuddin berpesan kepada ribuan jamaah agar mementingkan untuk membantu dan menolong saudara-saudara dan tetangga yang hidup dalam kesulitan. Karena tidaklah cukup menjadi seorang Muslim, hanya rajin shalat dan berdzikir tetapi mengabaikan keadaan saudara-saudara dan tetangganya.

Lebih lanjut ulama yang disegani masyarakat Jakarta ini menjelaskan, seorang muslim yang baik adalah ia yang selalu mendekatkan diri kepada Allah dengan rajin beribadah dan dekat dengan lingkungannya. "Mereka yang dekat dengan lingkungan, berarti dekat kepada Tuhannya. Mereka yang jauh dari lingkungan berarti juga jauh dari Tuhannya. Allah memerintahkan hamba-hambanya untuk peduli kepada saudaranya, karenanya muslim sejati harus juga memiliki kepekaan terhadap lingkungan dan para tetangganya," terang beliau.


Cetak Massal Kitab Ulama Nusantara

Menurut KH Saifuddin Amsir, karya ulama Nusantara tidak kalah bobot dari karya ulama yang berasal dari pelbagai penjuru dunia. Selain berkualitas, ulama Nusantara juga menghasilkan karya dengan lintas disiplin mulai dari ilmu kalam, fiqih, nahwu, balaghah, ushul fiqih, falak, kamus, tasawuf, tarikh, shorof, mushtholah hadis hingga mujarobat.

“Selama ini baru ada beberapa karya ulama kita yang beredar di toko-toko seperti karya Syekh Nawawi Banten, Syekh Yasin Al-Fadani, Syekh Ihsan Jampes Kediri, dan beberapa ulama kita. Selebihnya, masih banyak lagi yang belum terpublikasi,” kata KH Saifuddin Amsir.

Padahal karya-karya ulama Nusantara sudah beredar sejak lama di pasar kitab di Timur Tengah. Dengan itu, orang-orang di sana lebih berkesempatan mengakses karya ulama Nusantara dibanding muslim di Indonesia. Karena, percetakan di sana sudah menggarap itu, tambah KH Saifuddin Amsir. KH Saifuddin menambahkan, para ulama Nusantara bukan semata konsumen pasif kitab ulama Timur Tengah. Mereka juga intelektual muslim yang sangat produktif berkarya dalam pengembangan keilmuan.

Karya mereka di atas itu baru karya berbahasa Arab atau karya terjemahan dari kitab berbahasa Arab. Tetapi, mereka juga menulis karya dengan bahasa-bahasa lokal yang ada di Indonesia mulai dari Melayu, Sunda, Jawa, Makassar dan bahasa lokal lainnya, tutup KH Saifuddin Amsir.


Cerita Keberanian Gus Dur

Ketokohan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sangat luar biasa. Keberaniannya melakukan manuver politik patut kita hargai dan teladani. Banyak hal yang tidak dilakukan orang karena takut, Gus Dur berani melakukannya. Contoh, Gus Dur dengan tanpa beban menyebut SDSB (Soeharto dalang segala bencana). Padahal, zaman itu sedang musim Petrus (penembakan misterius). Banyak orang yang kritis terhadap pemerintah Orde Baru tiba-tiba mati tertembak atau hilang tanpa kabar.

Kiai Amsir juga menceritakan, pada Muktamar ke-30 NU di Pondok Pesantren Lirboyo pada November 1999, pemikiran Gus Dur tentang doa bersama non muslim banyak dipersoalkan. Namun, ketika ulama Betawi ini didaulat untuk memimpin sidang bahtsul masail diniyyah waqi’iyyah, ia berpendapat bahwa kegiatan tersebut boleh, asal dipimpin oleh orang Islam.

Tidak jarang kiai yang mengritik keras pendapat Gus Dur, namun banyak pula yang mengajukan pembelaan. Kiai Saifuddin Amsir sendiri tak jarang memberikan catatan atas sejumlah pendapat yang disampaikan Gus Dur. Terkait keberanian Gus Dur, satu hal yang menarik bagi Saifuddin Amsir, Gus Dur pernah menulis kata pengantar di buku biografi LB Moerdani. Ada satu kalimat Gus Dur yang mencengangkan: “Meskipun intelektualitasnya mumpuni, namun saya tidak setuju dengan penembakan misterius (petrus).”

“Ini kan menunjukkan betapa Gus Dur itu tidak sekedar berani namun piawai memainkan kritiknya. Satu sisi dia memuji Moerdani, tetapi pada saat yang sama dia dengan tegas menolak aksi yang dilakukan jenderal itu,” ujar Rais Syuriyah PBNU ini.


Menjauhi Yang Syubhat

Di dalam keluarga, K.H. Saifuddin Amsir adalah sosok seorang ayah yang sederhana, demokratis, sabar, tapi tegas dalam hal mendidik anak. Ayah empat orang putri ini adalah seorang yang sangat mengutamakan keluarga dan sangat memperhatikan sisi pendidikan anak-anaknya. Ia menyadari, ilmu pengetahuan adalah warisan terbaik kepada anak-anaknya kelak.

Pendidikan dalam keluarganya dimulai dengan menerapkan aturan-aturan yang harus ditaati segenap anggota keluarga, dengan bersandar pada pola hidup yang diterapkan Rasullullah SAW. Pola hidup yang dimaksud adalah pola hidup sederhana dan menjauhi hal-hal yang syubhat. Menurut Hj. Siti Mas’udah, istrinya, K.H. Saifuddin Amsir adalah ayah sekaligus guru dan sahabat bagi istri dan putri-putrinya. Ia senantiasa menekankan pentingnya agama dan ilmu kepada anak sejak mereka masih kecil. Shalat berjamaah adalah suatu keharusan dalam keluarga ini.

Dalam hal makanan, ia tidak memperkenankan anggota keluarganya mengonsumsi makanan-makanan yang belum terjamin kehalalannya, seperti makanan-makanan produk luar negeri. Sejak dari usia bayi, mereka juga sudah dijauhkan dari makanan-makanan yang belum terjamin kesehatannya, seperti makanan-makanan yang banyak menggunakan bahan pengawet, makanan siap saji, atau makanan yang menggunakan bahan-bahan penyedap.

Setali tiga uang, istrinya, yang akrab disapa Umi, juga tidak kurang perannya dalam membentuk citra kebersahajaan dan kemandirian dalam keluarga. Di samping menangani segala urusan rumah tangga, mulai dari memasak, mencuci, bahkan menjahit, ia juga masih menyempatkan diri aktif pada bidang-bidang sosial keagamaan dan mengajar di sejumlah majelis ta’lim.

Dengan menerapkan pola pembinaan dan pendidikan keluarga yang demikian, ia telah berhasil menjadikan putri-putrinya sebagai insan-insan pecinta ilmu agama dan pengetahuan. Banyak sudah yang telah diraih keempat putrinya itu. Mengikuti jejak sang ayah, mereka selalu mendapatkan beasiswa dan menjadi lulusan terbaik di almamaternya. Bahkan si bungsu, Rabi’ah Al-Adawiyah, misalnya, sejak berusia 12 tahun sudah hafal tiga puluh juz Al-Quran dengan baik.


Sumber: