KH Said Aqil Siradj

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search
Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA
Said-agil-siradj.jpg
Lahir : 1953 M
Wafat : -

Kembali ke Main Page << Nabi dan Penerusnya

Kesan konservatif, seperti umumnya para kiai di Indonesia, tak tersirat pada diri Said Aqiel Siroj. Sikap ulama asal Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, itu bisa dikatakan sangat moderat. Bahkan, ia cenderung kontroversial. Keberaniannya mempertanyakan kembali dasar-dasar penting yang telanjur baku dalam praktik kehidupan beragama umat Islam mengingatkan orang kepada apa yang pernah dilakukan pendahulunya, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dan Nurcholish Madjid.

Atas keberanian sikapnya yang “kelewat batas” itu, Said Aqiel pernah dikafirkan oleh 12 orang kiai. Ada pula yang melayangkan surat ke almamaternya — Universitas Ummul Qura, Mekkah — meminta agar mencabut gelar doktornya. “Jangankan gelar doktor, gelar haji pun ambillah. Enggak usah digelari haji juga enggak apa-apa,” tukasnya menanggapi serangkaian tudingan “miring” atas dirinya itu.

Harlah NU ke 87

Tudingan “miring” itu bermula dari sejumlah sikapnya yang dinilai nyeleneh. Misalnya, beliau menjalin persahabatan yang begitu erat dengan tokoh-tokoh non muslim, seperti Romo Mangunwijaya (almarhum), Romo Mudji Sutrisno, dan Romo Sandyawan Sumardi. Ia juga tercatat sebagai salah satu penasihat Angkatan Muda Kristen Republik Indonesia.

Lalu, minatnya terhadap masalah kebangsaan dan hak asasi manusia juga tercermin dari keberadaannya sebagai salah satu pendiri Gerakan Keadilan dan Persatuan Bangsa, bersama tokoh-tokoh seperti Siswono Yudohusodo dan Sarwono Kusumaatmadja. Selain itu, ia juga bergabung dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Peristiwa Kerusuhan 12-14 Mei 1998.

Menurut Said Aqiel, serangkaian sepak terjangnya itu bukan tanpa alasan. Ia hanya ingin menunjukkan tiga hal penting yang seharusnya menjadi dasar penghayatan agama oleh setiap orang: toleran, moderat, dan akomodatif. “Islam yang benar itu, ya, moderat, toleran, dan akomodatif,” tandas kiai yang senantiasa berpenampilan sederhana itu.

Dibesarkan di lingkungan pesantren, ia ahli tasawuf ini asli Cirebon. Ayahnya, Kiai Aqiel Siradj, adalah seorang ulama bersahaja yang memiliki pondok pesantren kecil di Desa Kempeg, Kecamatan Ciwaringin, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Pesantren itu kini dikelola oleh saudara-saudara K.H. Said Aqiel Siroj dan menampung sekitar seribu murid.

Said Aqiel menamatkan pendidikan madrasah ibtidaiyah (setingkat sekolah dasar) di kampung halamannya. Masa pendidikan pesantren setingkat sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas dihabiskannya di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Pada 1980, didampingi istrinya (Nurhayati), ia melanjutkan studi dengan beasiwa di Tanah Suci Mekkah, Arab Saudi. Hidup di perantauan dilaluinya hingga 1994, dengan oleh-oleh gelar doktor bidang Ushuluddin (ilmu perbandingan agama) dari Universitas Ummul Qura, Mekkah. Dan di Mekkah pula keempat buah hatinya lahir.

Meski dikenal sebagai intelektual yang kritis, Said Aqiel ternyata mempunyai sense of humor yang lumayan tinggi. Suatu hari, ia bercerita tentang kekonyolan penyeragaman yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah Soewardi melalui program kuningisasi menjelang dan selama Pemilihan Umum 1997. “Saat itu, jangankan trotoar serta pagar, bedug mesjid, bahkan hewan kurban yang hendak dipotong pada Idul Adha pun harus dicat kuning,” tuturnya. “Itu kan konyol,” tambah kiai yang juga mengajar di Universitas Islam Malang dan Perguruan Tinggi Ilmu Quran, Jakarta, itu.


Salam World Summit di Turki

Riwayat Pribadi

Nama lengkap: Said Aqil Siradj
Nama Ayah : KH. Aqiel Sirodj
Nama Ibu : Hj. Afifah
Nama Isteri  : Nur Hayati Abdul Qodir
Nama Anak  :
1. Muhammad Said Aqil
2. Nisrin Said Aqil
3. Rihab Said Aqil
4. Aqil Said Aqil
Tempat dan tanggal lahir: Cirebon, 03 Juli 1953


Riwayat Pendidikan

Formal Education

1. S1 King Abdul Aziz University, majoring in Ushuluddin and Da’wah, graduated 1982
2. S2 University of Umm al-Qura, majoring in Comparative Religion, graduated 1987
3. S3 University of Umm al-Qura, majoring in Aqidah / Islamic Philosophy, graduated 1994


Non-Formal Education

1. Madrasah Tarbiyatul Mubtadi’ien Kempek Cirebon
2. Pesantren Hidayatul Mubtadi’en Lirboyo Kediri (1965-1970)
3. Pesantren Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta (1972-1975)


Stadium General STAI Mathaliul Falah Kajen Margoyoso Pati

Pengalaman Organisasi

1. Sekertaris PMII Rayon Krapyak Jogjakarta (1972-1974)
2. Ketua Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) Mekkah (1983-1987)
3. Wakil katib ‘aam PBNU (1994-1998)
4. Katib ‘aam PBNU (1998-1999)
5. Penasehat Gerakan Anti Diskriminasi Indonesia (GANDI) (1998)
6. Ketua Forum Komunikasi Kesatuan Bangsa (FKKB) (1998-sekarang)
7. Penasehat Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam UI (1998-sekarang)
8. Wakil Ketua Tim Gabungan Pencari fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 1998 (1998)
9. Ketua TGPF Kasus pembantaian dukun santet Banyuwangi (1998)
10. Penasehat PMKRI (1999-sekarang)
11. Ketua Panitia Muktamar NU XXX di Lirboyo Kediri (1999)
12. Anggota Kehormatan Matakin (1999-2002)
13. Rais syuriah PBNU (1999-2004)
14. Ketua PBNU (2004-sekarang)


Professional Activities

1. Indonesian expert team in the daily newspaper Al-Nadwah Mecca (1991)
2. Lecturer at the Institute of Higher Education Sciences of the Qur’an (PTIQ) (1995-1997)
3. Post-graduate lecturer Syarif Hidayatullah Jakarta (1995-present)
4. Deputy director of the Islamic University of Malang (Unisma) (1997-1999)
5. MKDU faculty adviser at the University of Surabaya (Ubaya) (1998-present)
6. Vice-chairman of the five teams drafting drafter Bylaw PKB (1998)
7. Commission member (1998-1999)
8. Extraordinary professor of Islamic Institute Tribakti Lirboyo Kediri (1999 – present)
9. People’s Consultative Assembly members representing fraction of NU (1999-2004)
10. Unisma graduate director (1999-2003)
11. Indonesian Tourism Community Advisors (MPI) (2001-present)
12. ST postgraduate lecturer Ibrahim Maqdum Tuban (2003-present)
13. Lecturer University graduate UNU NU Solo (2003-present)
14. Unisma graduate lecturer (2003-present)


Scientific Forum

Tausiyah Umum

Pembicara Tingkat Nasional

1. Simposium nasional tentang Transpalansi Ginjal, Jakarta, 08 September 1995
2. Diskusi Panel ITB tentang Pola keterkaitan Pesantren, Perguruan Tinggi dan LSM dalam Pendidikan dan Pengembangan Ekonomi Masyarakat, Bandung, 13-14 April 1996
3. Seminar nasional tentang Rekonsiliasi Tasawuf dan Syari’at: Perspektif Sejarah, Bengkulu, 3-4 Desember 1996
4. Lokakarya nasional Dep. Transmigrasi tentang Transmigrasi Pesantren, Sukabumi, 16-17 Desember 1996
5. Seminar Nasional SDES, Cipayung, 1-2 April 1997
6. Temu tahunan jaringan penelitian IAIN se-Indonesia, Palembang, 16-19 Juni 1997
7. Seminar Hikmah Budhi-KMB dengan tema Buku Aksi Cinta, Jakarta, 11 Oktober 1997
8. Dialog nasional antar generasi, UGM, Yogjakarta, 25 November 1997
9. Simposium Dikbud RI tentang peringatan hari AIDS se-Dunia, Jakarta, 29 November 1997
10. Seminar Wanhankamnas tentang Strategi Pembangunan Nasional, Yogyakarta, 17-20 Desember 1997
11. Lokakarya dan seminar nasional tentang Reformasi Politik, Ekonomi, Hukum, Moral dan Budaya, Surabaya 25-27 Mei 1998
12. Sarasehan Paroki Santa Anna dengan tema Umat Beriman Mengaktualisasikan Keadilan, Kebenaran, Kasih dan Kebebasan, 7 Juni 1998
13. Seminar nasional dengan tema Umat Islam dalam Dinamika Politik Bangsa di Era Reformasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jogjakarta, 4 Juli 1998
14. Seminar Bamus antar Gereja dengan tema Wawasan Kebangsaan II dan III, Malang, 6-7 Agustus 1997, dan 4-6 Agustus 1998
15. Seminar sehari IAIN Jakarta dengan tema Keberadaan Agama Khonghucu di Indonesia, Jakarta, 20 Agustus 1998
16. Pelatihan pemuda Therevada di Vihara Dharma Mitra, Malang, 15-17 Agustus 1998
17. Konferensi kerja kerabat pelayanan oleh GKD, GKRI, YMPI, JRC Apostolos, KOS, YMBI, CLR, Bogor, 25-28 Januari 1999
18. Dialog nasional Forum Mahasiswa Syari’ah Se-Indonesia dengan tema Formasi Hukum dan Pluralisme Politik, Jakarta, 17 Februari 1999
19. Seminar setengah hari UKI, Atmajaya dengan tema Pemilu dan Masalah Integritas Bangsa, Jakarta, 4 Maret 1999
20. Seminar nasional Lemhanas dengan tema Pendidikan Tinggi dalam rangka Mewujudkan Masyarakat Madani, Jakarta April 1999
21. Pelatihan bagi pelatih HAM untuk kalangan rohaniawan yang diselenggarakan oleh Komnas HAM, Bogor, 26-30 Juli 1999
22. Temu Nasional Kebangsaan II, Semarang, 5 Agustus 1999
23. Seminar sehari Departemen Pariwisata, Seni dan Budaya dengan tema Wali Songo, Islam di Indonesia dan Prospek Wisata Ziarah, Jakarta, 8 September 1999
24. Dialog kerukunan antar umat beragama dengan tema Menjalin Persaudaraan Sejati yang Terbuka, Jakarta, 27 Februari 2000
25. Sarasehan Lintas Iman dan Wawasan Kebangsaan, Denpasar, 25 Desember 2000
26. Seminar nasional LIPI dengan tema Mengkaji Kebijakan Kebudayaan Masa Orde Baru untuk Menyongsong Indonesia Baru, Jakarta, 23 Januari 2001
27. Seminar nasional Depdiknas dengan tema Reformasi Pendidikan Nasional , Jogjakarta 16-17 Maret 2001
28. Dialog interaktif Mabes Kepolisian Negara RI dengan tema Antisipasi Kepolisian Menghadapi Kemungkinan Tindak Anarkis Masyarakat, Jakarta, 25 April 2001
29. Seminar Sekolah Lanjutan Perwira Polri dengan tema Transformasi Kultural dalam Tubuh Polri Menuju Profesionalisme, Jakarta, 14 Juni 2001
30. Musabaqoh Al-Qur’an tingkat V Telkom dengan tema Implementasi Akhlaq Qur’ani, 23 April 2002
31. Halaqoh nasional Depag dalam rangka Musyawarah Kerja Ulama-Ulama Ahli Al-Qur’an, Jakarta, 28-30 April 2003
32. Seminar dengan tema Kerukunan Umat Beragama di Propinsi DKI Jakarta, Jakarta 3-4 September 2003
33. Simposium nasional Patria (Pemuda Theravada Indonesia) dengan tema Nasionalisme dan Profesionalisme Pers Indonesia, Jakarta, 25-27 Februari 2004
34. Muzakaroh dan Muhasabah Perwira Rohani Islam TNI, Jakarta, 24-27 Mei 2004


Pembicara di forum internasional 2012 GPC Opening

Speakers International Level

1. Al-Taqrib baina al-madzahib, Al-islam Din al-Tasamuh, Teheran, Iran 1999
2. Al-Taqrib baina al-madzahib, Huquq al-insan fi al-Islam, Teheran, Iran 2000
3. Konferensi Internasional dengan tema Asian Gathering of Muslim Ulama and Christian Bishops, Manila, 18-21 Agustus 2003
4. Internasional Conference of Islamic Scholar dengan tema Daur al-Ma’ahid al-Islamiyah fi bina’I Hadhoroh al-Syu’bi Indonesiya, Jakarta, 23-25 Februari 2004
5. Internasional Conference of Islamic Scholar II dengan tema Al Mujatama’ al-Islami wa masuliyyatiha alhadhoriyyah, Jakarta, 19- 22 Juni 2006


Scientific Works

1. Rasail al-Rusul fi al-‘Ahdi al-jadid wa Atsaruha fi al-Masihiyah (Pengaruh Surat-Surat para rasul dalam Bibel terhadap Perkembangan Agama Kristen), thesis dengan nilai memuaskan, (1987)
2. Allah wa Shillatuhu bi al-Kaun fi al-Tasawwuf al-Falsafi (Hubungan Antara Allah dan Alam Perspektif Tasawwuf Falsafi), desertasi dengan nilai Cum Laude (1994)
3. Ahlussunah wal jama’ah; Lintas Sejarah (1997)
4. Islam Kebangsaan; Fiqih Demokratik Kaum Santri1 (1999)
5. Kyai Menggugat (1999)
6. Ma’rifatullah; Pandangan Agama-Agama, Tradisi dan Filsafat (2003)
7. Tasawuf Sebagai Kritik Sosial, Mengedepankan Islam sebagai Inspirasi bukan Aspirasi (2006)

Kajian Tasawuf rutin mingguan


Teladan Beliau

Pancasila Sudah Final

Menurut beliau bahwa bangsa ini tidak perlu lagi mendiskusikan asas Pancasila dan bagi kita dalam berbangsa dan bernegara, Pancasila seharusnya sudah final. Kyai Said menyatakan bahwa sewaktu beliau sedang menjadi mahasiswa studi di Saudi, beliau memperoleh makalah dari KH Ahmad Shiddiq, "Pintu Indonesia jadi Negara Islam Sudah tertutup." Makalah tersebut mengundang para kyai di tahun 1985an untuk mengkaji relasi negara dan Islam. Tinjauan fiqh relasi agama dan negara telah dituntaskan para kyai dalam Muktamar 1936 dan 1946. Muktamr NU '85 tentang Pancasila itu penegasan atas NKRI '45.

Muktamar NU 1985 yang menerima Pancasila memang menghebohkan. Bangsa ini juga harus tahu bahwa kyai-kyai juga heboh dalam pemikiran dan konsep. Di luar kajian-kajian yang dilakukan para kyai tentang Pancasila, muncul juga Cak Nur & Munawwir Sadzali, dua tokoh "kyiai" yang mempopulerkan Piagam Madinah.

Sepulang Studi dari Saudi, beliau menerjemahkan Naskah Piagam Madinah, untuk memberikan bukti empirik bahwa Pancasila itu sudah tepat. Piagam Madinah itu konstitusi persatuan yang melibatkan penganut agama-agama dan suku-suku, begitu pula dengan Pancasila juga alat pemersatu. Piagam Madinah tidak menyebut kata Islam dan al-Quran, begitu juga Pancasila tidak menyebut kata Islam dan Al-Quran.

Perlu diingat bahwa dengan Piagam Madinah saja, masih muncul pengkhianatan dari dalam negeri saat Madinah diserang musuh. Juga dengan Piagam Madinah saja, masih terjadi warga negara yang tidak mau mengakui kepemimpinan Rasulullah. Dan atas dasar Piagam Madinah, Rasulullah menindak dengan mengasingkan pengkhianat-pengkhianat bangsa dan menghukum pelaku tindak pidana.

Maka jika kita tidak mau Pancasila sebagai pemersatu kita, lalu apalagi alat pemersatu kita lanjutkan kehidupn berbangsa-negara. Jika tak mau Pancasila, apa alat pemersatu kita dlm menghadapi musuh? Apa alat pemersatu kita dalam mewujudkan cita-cita bangsa? Pancasilalah jawabannya, Pancasila sudah final.


Kang Said: Semangat Gus Dur Selalu Hidup di PBNU

Almarhum KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur masih menjadi sosok yang sangat diidolakan bukan hanya oleh warga Nahdlatul Ulama. Untuk selalu mengenang dan meneladani sosok Gus Dur, PBNU melalui beliau mengapresiasi dan mengizinkan lantai dasar PBNU digunakan untuk Pojok Gus Dur, yang keberadaannya diharapkan bisa selalu menghidupkan semangat perjuangan mantan presiden RI keempat tersebut untuk kemajuan NU.

Pojok Gus Dur yang berada di lantai dasar PBNU dan merupakan bekas ruang kerja tokoh lintas agama tersebut, dianggap oleh Kang Said akan semakin menghidupkan PBNU. Kang Said sendiri mengaku memiliki banyak kenangan dengan ruangan yang kini disulap menjadi Pojok Gus Dur. "Kesederhanaan dan keteguhan sikap Gus Dur juga harus kita ikuti. Gus Dur itu kalau mau kaya sebenarnya tinggal bilang saya mendukung Pak Harto, semuanya bisa didapatkan. Tapi Gus Dur tidak katakan itu dan memilih hidup terseok-seok, hidup pas-pasan," beber Kang Said tegas.

Tidak hanya semangat hidup Gus Dur yang diharapkan bisa diserap oleh seluruh Nahdliyyin, keberadaan Pojok Gus Dur di PBNU yang menyajikan dokumentasi, perpustakaan dan kisah perjalanan hidup Gus Dur, diharapkan menjadi sebuah bentuk penghormatan. "Keberadaan Gus Dur harus bisa diabadikan. Pojok Gus Dur ini diharapkan bisa melestarikan seluruh peninggalan beliau yang masih ada disini," pungkasnya.


Ceramah Perdana Putra Indonesia (Prof. DR. KH. Said Aqil Siraj, MA - Ketua umum PBNU) di hadapan Raja Muhammad VI dalam rangka undangan pengajian durus tentang demokratisasi dan Pancasila

KH Said Aqil Siradj Kembali Masuk Jajaran 20 Besar Muslim Berpengaruh di Dunia

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kembali masuk dalam tokoh muslim paling berpengaruh di dunia dengan menduduki urutan ke-19 untuk tahun 2012 versi The Royal Islamic Strategic Studies Centre Yordania. Sejak menjabat sebagai ketua umum PBNU sejak 2010, ia telah masuk dalam jajaran tokoh elit muslim dunia. Tahun 2010, menduduki peringkat ke19, 2011, peringkat ke-17 dan tahun 2012 peringkat ke-19.

Pengaruhnya ini dinilai tak lepas dari besarnya Nahdlatul Ulama dengan pengikut lebih dari 70 juta dan terus melakukan perluasan jaringan. NU memiliki jaringan dari pusat sampai ke tingkat ranting atau desa serta melakukan perluasan cabang di luar negeri dimana banyak anak NU yang belajar di berbagai universitas atau bekerja di berbagai institusi.

NU dinilai memiliki layanan sosial yang memberi kontribusi sangat besar pada masyarakat Indonesia di bidang pendidikan, kesehatan dan pengurangan kemiskinan. Dalam bidang politik kebangsaan, NU turut serta dalam gerakan anti korupsi, reformasi sosial yang berakar pada nilai-nilai Islam. NU juga memiliki perhatian besar dalam menjaga harmoni sosial di Kiai Said juga mendirikan Said Aqil Center (SAS), sebuah pusat studi di Mesir yang berfokus pada pengembangan wacana keislaman, khususnya di dunia Arab.

Posisi Kiai Said ini lebih tinggi dari sejumlah Raja atau pemimpin politik. Sultan Muhammadu Sa’adu Abubakar III, raja Sokoto di Nigeria yang menjadi pemimpin bagi 74.6 muslim menduduki peringkat ke-22, pemimpin tareket Tijani Sheikh Ahmad Tijani Ali Cisse menduduki peringkat ke-23.

President Turki Abdullah Gül, yang merupakan presiden Turki dengan latar belakang Islam menduduki peringkat ke-24 sedangkan raja Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah ke-25.

Ilmuwan Suriah Sheikh Dr M Sa’id Ramadan Al-Bouti di peringkat 27 sedangkan Sekretaris Jenderal Hizbullah, organisasi perlawanan Israel menduduki peringkat ke-28. Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin berada di posisi 39.

Pengurus NU lain yang masuk dalam kategori tokoh berpengaruh adalah KH Sahal Mahfudh, rais aam PBNU yang terpilih untuk periode ketiga kalinya. Sejak tahun 2000, ia menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menjadi wadah bagi umat Islam di Indonesia. Salah satu peran yang dipegang MUI adalah fatwa halal. Kiai Sahal juga menjadi pengasuh pesantren Maslahul Huda, sebuah pesantren yang memiliki perhatian cukup besar dalam hal pengembangan ekonomi, khususnya UKM.

KH Bisri Mustofa Bisri menjadi tokoh berpengaruh atas perannya sebagai ulama yang sekaligus sebagai novelis, pelukis, dan penyair. Ia dinilai sebagai ikon bdudaya dan mendorong kebebasan berekpresi yang ditentang oleh kelompok radikal. Ia berpengaruh dalam pengembangan sosial ekonomi NU selama tiga puluh tahun terakhir.


Sumber: http://kangsaid.net, NU Online