KH Muntaha Al Hafidz

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search
Mbah Mun
Kyai Muntoha alhafidz.jpg
Lahir : 1910M M
Wafat : 29 Desember 2004

Kembali ke Main Page << Nabi dan Penerusnya


Di antara deretan ulama di tanah air, nama KH Muntaha Al Hafidz tentulah bukan nama yang asing Pengasuh PP Al Asyariah Wonosobo . Ia adalah sosok di balik megahnya bangunanan Pondok Pesantren, sekolah SMA dan SMP Takhassus Al-Qur`an serta UNSIQ, Wonosobo, [[[Jawa Tengah]], yang sebelumnya bernama IIQ, sewaktu ia masih menjabat sebagai Rektor.

Riwayat Hidup dan Keluarga

Lahir

KH Muntaha Al Hafidz lahir sekitar tahun 1910M di Kalibeber, Wonosobo. Ia adalah ulama Multidimensi yang mempunyai segudang ide dan pemikiran cemerlang yang bisa dijadikan sebagai pelajaran bagi ulama lainnya.

Wafat

Setelah mengabdi dan mengamalkan ilmunya selama puluhan tahun kepada umat, akhirnya beliau dipanggil untuk menghadap-Nya, kembali kepada Tuhan yang menciptakannya, Allah swt. Tepatnya pada hari Rabu Tanggal 29 Desember 2004. Beliau dimakamkan di dekat makam ayahnya KH Asy‘ari Wonosobo yaitu di bukit Ndero. Mudah-mudahan Allah swt. menempatkan beliau pada tempat yang mulia yaitu tempatnya orang-orang yang shaleh yang berada di dekat-Nya.

Istri

KH Muntaha Al Hafidz pernah mempersunting lima orang istri, yaitu Ny Hj Saudah dari Wonokromo Wonosobo, Ny Hj Maryam dari Parakan Temanggung, Ny Hj Maijan Jariyah Tohari dari Kalibeber, Ny Hj Hinduniyah dari Kalibeber Mojotengah, dan Ny Hj Sahilah dari Munggang Mojotengah.

Nasab Keturunan

KH Muntaha Al Hafidz adalah putra KH Asy‘ari Wonosobo bin KH Abdurrahim bin K Muntaha bin K Nida Muhammad. Ibunya bernama Hj Syafinah.


Pendidikan

KH Muntaha Al Hafidz menuntaskan hafalan Al-Qur'an saat berumur 16 tahun di Pondok Pesantren Kauman, Kaliwungu, Kendal, di bawah asuhan KH Utsman (Mertua KH Asror Ridwan). Setelah selesai menghafal Al Qur'an di Pesantren Kaliwungu beliau lalu memperdalam ilmu-ilmu Al Qur'an di Pondok Pesantren al-Munawwir (PP Krapyak Yogyakarta) asuhan KH Munawwir ar-Rasyad (KH Munawir, Krapyak, Yogyakarta). Selanjutnya KH Muntaha Al Hafidz berguru kepada KH Dimyati di Termas, Pacitan, Jawa Timur.

Pendidikan Masa Kecil

Alkisah, saat usia beliau masih belia, beliau berangkat menuntut ilmu ke Pesantren Kauman, Kaliwungu, [[PP Krapyak Yogyakarta]], Jogja dan PP Termas, Pacitan, Pacitan, beliau tempuh perjalanan dengan cara berjalan kaki. Melakukan riyadhah demi mencari ilmu semacam itu, dilakukannya dengan niatan ikhlas demi memperoleh keberkahan ilmu.

Di setiap melakukan perjalanan menuju Pesantren, KH Muntaha Al Hafidz selalu memanfaatkan waktu sambil mengkhatamkan bacaan Al Qur'an saat beristirahat untuk melepas lelah. Kisah ini menunjukkan betapa kemauan keras dan motivasi spiritual yang tinggi yang dimiliki beliau dalam mencari ilmu.

Dan pada tahun 1950 kembalilah beliau ke Kalibeber untuk melanjutkan estafet kepemimpinan ayahnya dalam mengasuh PP Al Asyariah Wonosobo. Berbagai ide KH Muntaha Al Hafidz terimplementasikan selama memimpin Pondok.

Ide di bidang pendidikan tampak dengan munculnya berbagai unit pendidikan, antara lain Taman Kanak-kanak Hj. Maryam, Madrasah Diniyah Wustho, Madrasah Diniyah Ulya, Sekolah Madrasah Salafiyah al-Asy‘ariyyah, Tahfizdul Qur'an, SMP Takhassus Al-Qur'an, SMU Takhassus Al-Qur'an, SMK Takhassus Al-Qur'an, dan Universitas Sains Al-Qur'an (UNSIQ).

Sanad Keilmuan

Sanad tahfidz beliau yaitu: KH Muntaha Al Hafidz dari KH Utsman Kaliwungu/KH Munawwir Krapyak/KH Muhammad Dimyati Termas, dari Abdul Karim bin Abdul Badri, dari Isma‘il Basyatie, dari Ahmad ar-Rasyidi, dari Mustafa bin Abdurrahman, dari Syekh Hijazi, dari Ali bin Sulaiman al-Mansuri, dari Sultan al-Muzani, dari Saifuddin Ata'illah al-Fudali, dari Syahadah al-Yamani, dari Nasruddin at-Tablawi, dari Imam Abi Yahya Zakariya al-Mansur, dari Imam Ahmad as-Suyuti, dari Abu al-Khair Muhammad bin Muhammad ad-Dimasyqi al-Mansur bin al-Hizrami, dari Abu Abdullah Muhammad bin Abdul-Khaliq, dari Abu al-Hasan Ali bin Suja‘ bin Salim bin Ali bin Musa al-Abbasi, dari Abu al-Qasim asy-Syatibi as-Syafi‘i, dari Abu Hasan Ali bin Muhammad bin Huzail, dari Abu Dawud Sulaiman Ibnu Majah al-Andalusi, dari Abu Umar Utsman Sa‘id ad-Dani, dari Abu al-Hasan Tahir, dari Abu al-Abbas Ahmad bin Sahl bin al-Fairuzani al-Asynani, dari Abu Muhammad Ubaid bin Asibah bin Sahib al-Kufi, dari Abu Umar Hafs bin Sulaiman bin al-Mugirah al-Asadi al-Kufi, dari Asim bin Abi Najud al-Kufi, dari Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Habib Ibnu Rabi‘ah as-Salam, dari Utsman bin Affan]]/Ali bin Abi Talib/Zaid bin Sabit/Abdullah bin Mas‘ud/Abu Bakar]/Umar bin al-Khattab, dari Rasulullah saw., dari Allah swt. melalui perantara Jibril as.

Para Guru

KH Utsman Kaliwungu

Silsilah Keilmuan dari para Imam

Penerus Beliau

Murid

Banyak Santri-santri KH Muntaha Al Hafidz yang menjadi tokoh/Ulama di daerahnya masing-masing, diantaranya yaitu: KH Mufid Mas‘ud PP Sunan pandanaran, Yogyakarta, KH Umar Bantul, KH Syakur Brebes, KH Sholihin Pekalongan, KH Musta‘in Malang, KH Luthfi Cilacap, KH Nidhomuddin Asror Kendal, KH Hubullah Cirebon, KH Abdul Halim Wonosobo, KH Ahmad Ngisom Banjarnegara, dan KH Yasin Pati.

Keturunan

Jasa dan Karya Beliau

Perjuangan kemerdekaan.

Ideologi jihad memainkan peran yang sangat penting dalam gerakan anti kolonial. Ideologi ini telah mendorongpara pejuang Islam yang sebagianbesar para pejuang itu adalah santri dan kiai dari pesantren. KH Muntaha Al Hafidz dalam aktivitas perjuangan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda di daerah Temanggung. Ia menjadi komandan dalam Barisan Muslim Temanggung (BMT)22. Dalam perjuangan tersebut KH Muntaha Al Hafidz yang masih muda itu bertemu dengan perjuangan lainnya di BMT, yaitu Munawir Syadzali yang kemudian pernah menjadi mentri agama Republik Indonesia. Sehingga tidak heran sewaktu Haji Muwawir Syadzali MA, menjabat menjadi mentri agama RI, menyempatkan diri bersilaturrahmi, berkunjung ke PP Al Asyariah Wonosobo Kalibeber Mojotengah Wonosobo.

KH Muntaha Al Hafidz mewarisi sifat nenek moyangnya yaitu Raden Hadiwijoyo, atau KH Muntaha bin Nida Muhammad. Dalam dirinya mengalir darah kepahlawanan. KH Muntaha Al Hafidz dalam perjuangan di daerah Kedu bersama-sama, bahu membahu dengan tokoh-tokoh dari pesantren dan pejuang Islam yang lainnya. KH Muntaha Al Hafidz yang terkenal dalam bambu runcingnya.Para pejuang itu bersatu padu mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari cengkeraman penjajah.

Walaupun hanya dengan senjata-senjata tradisional yang dibuat sendiri seperti bambu runcing, tombak dan keris, mereka mampu mempertahankan kemerdekaan dari penjajah yang memiliki peralatan yang canggih seperti senjata api, dan meriam, sebab adanya persatuan dan kesatuan. Menurut penuturan yang ada, senjata-senjata tersebut diberi do’a-do’a tertentu, sehingga keampuhan senjata itu tidak terkalahkan jika dibandingkan dengan kecanggihansenjata musuh. Bahkan hanya dengan senjata-senjata tradisional tersebut para ulama, kiai dan pejuang Islam mampu mengalahkan penjajah. Begitu juga para pejuang yang tergabung dalam Barisan Muslim Temanggung (BMT) yang dipimpinnya23. KH Muntaha Al Hafidz dalam pe rjuangan tidak hanya di wilayah Temanggung saja, tetapi juga ikut berjuang dan mengungsi ketika pondok pesantren Kalibeber di porak-porandakan olehBelanda. Sehingga koleksi mushaf al Qur’an tulisan tangan KH. Abdurrahim,(kakek KH Muntaha Al Hafidz) hilang bersama dengan berbagai kitab-kitab kuning lainnya, yang dimiliki oleh pesantren.

Kepala Departemen Agama

Kepala Departemen Agama dan anggota konstituante Republik Indonesia. Pengabdian KH Muntaha Al Hafidz pada Negara, juga diisi dengan pengabdian kepada pemerintah dengan menjadi aparat Departemen Agama dan pernah menjabat kepala kantor Departemen Agama kabupaten Wonosobo pada tahun 1956.

KH Muntaha Al Hafidz, semakin naik dan banyakdikenal, tidak hanya dari kalangan politisi saja, tetapi juga dari para pejabat, baik dari tingkat pusat ataupun daerah. Sehingga ia pernah diangkat sebagai anggota konstituante RI di Bandung, mewakili Nahdlotul Ulama wilayah Jawa Tengah. KH Muntaha Al Hafidz dalam mengikuti kegiatan-kegiatan konstituante sampai dibubarkan lembaga ini, pada tanggal 5 Juli 1959.24 Di lembaga kemasyarakatan atau ormas Islam, KH Muntaha Al Hafidz menjadi anggota Syuriyaah NU, kemudian menjadi anggota mustasyar NU kabupaten Wonsobo.

Pendidikan

Ide Pendidikan. Dalam dunia pendidikan KH Muntaha Al Hafidz merupakan teladan karena keberhasilannya mengembangkan pendidikan di bawah naungan Yayasan Al-Asy`ariyyah. Yayasan tersebut saat ini menaungi berbagai jenjang pendidikan antara lain, Taman Kanak-Kanak Hj. Maryam, Madrasah Diniyah Wustho, 'Ulya dan Madrasah Salafiayah Al-Asy`ariyyah, SMP dan SMU Takhassus Al-Qur'an, SMK Takhassus Al-Qur`an, Universitas Sains Al-Qur`an (UNSIQ), khusus untuk Perguruan Tinggi UNSIQ ini di bawah naungan Yayasan Pendidikan Ilmu-Ilmu Al-Qur'an (YPIIQ) namun cikal bakalnya Pesantren Al Asy'ariyah. YPIIQ sendiri sebelumnya telah mendirikan Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) JawaTengah sebagai embrio dari UNSIQ. KH Muntaha Al Hafidz juga menjadi salah seorang pendiri bahkan memegang jabatan Rektor pada saat Perguruan Tinggi ini sebelum berubah menjadi universitas adalah merupakan bukti implementasi dari ide dan pemikirannya.

Implementasi dari ide dan pemikirannya di bidang pendidikan diwujudkan dengan memadukan antara pesantren yang notabene merupakan pendidikan non formal dan pendidikan formal sejak dari TK sampai Perguruan Tinggi.

Dakwah dan Sosial

Ide Tentang Dakwah dan Sosial. Dalam bidang dakwah, dibentuk Korps Dakwah Santri (KODASA). Korps ini merupakan wadah untuk aktifitas santri PP Al Asyariah Wonosobo dalam menyiarkan Islam, baik yang diperuntukkan bagi kalangan santri (sesama santri) dalam rangka meningkatkan kualitas diri, maupun kepada masyarakat dalam bentuk pengabdian dan kepedulian pondok pesantren terhadap kondisi riil yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya di bidang sosial keagamaan. Adapun aktifitasnya, meliputi: bacaan shalawat, Qira'atul Qur'an, khitobah dengan menggunakan empat bahasa, yakni: bahasa Inggris,Arab dan bahasa Indonesia serta bahasa Jawa, juga Qosidah dan rebana yang merupakan kesenian bernuansa islami. Dalam bidang sosial, ia juga merintis berdirinya Pusat Pengembangan Masyarakat (PPM) bersama dengan Adi Sasono Dan DR KH MA Sahal Mahfudz

Tentang kesehatan

Ide Tentang kesehatan. Dalam bidang kesehatan, implementasi dari ide dan pemikirannya diwujudkan dalam pendirian balai pengobatan dan pendirian Pendidikan Akademi Keperawatan (AKPER). Akper ini sekarang berada di lingkungan Universitas Sains Al-Qur`an (UNSIQ) Wonosobo, Jawa Tengah. Karenanya institusi ini diberi nama AKPER UNSIQ. Selain itu, dibentuk Poliklinik Maryam. Poliklinik ini tidak hanya melayani santri dan mahasiswa saja, akan tetapi juga melayani masyarakat umum di sekitar poliklinik bahkan sering pula masyarakat dari daerah atau kecamatan lain yang memeriksakan kesehatannya di Poliklinik Maryam ini. Bahkan sebelumnya, ia telah merintis dan mendirikan Balai Kesehatan di Tieng, Kejajar, pada tahun 1986, yang disusul pula dengan pendirian Rumah Sakit Islam (RSI) Kabupaten Wonosobo.

Tentang Pemikiran Islam

Ide Tentang Pemikiran Islam, Ia juga tidak ketinggalan dalam memberikan ide dan pemikiran di bidang pemikiran Islam. Dalam bidang ini, ia membentuk "tim sembilan" untuk menyusn tafsil Al-Maudhu`i.

Dalam rangka menghadapi era globalisasi, KH Muntaha Al Hafidz memiliki ide dan pemikiran tentang perlunya penguasaan bahasa, yakni tidak hanya bahasa Indonesia dan bahasa Arab saja, melainkan juga bahasa Inggris, Cina, Jepang, dan lain-lain bagi para santri PP Al Asyariah Wonosobo untuk bisa menjelaskan isi dan kandungan Al-Qur`an kepada masyarakat luas (internasional). Dan ide ini telah dipraktekan di Pondok PP Al Asyariah Wonosobo, juga di SLTP, SMU, dan SMK Takhassus Al-Qur'an, termasuk di dalamnya Universitas Sains Al-Qur`an.

Implementasi dalam bidang seni

Implementasi dalam bidang seni, terutama seni kaligrafi ia wujudkan dalam tulisan "Mushaf Al-Asy`ariyyah" (Al-Qur'an Akbar). Al-Qur'an ini memang berukuran besar, bahkan pada waktu dipublikasikan Al-Qur'an ini tercatat paling besar di dunia. Ukuran mushafnya 2 x 15 m pada saat kondisi tertutup dan berukuran 2 x 3 m dalam kondisi terbuka. PP Al Asyariah Wonosobo adalah tokoh dan figur pemimpin yang patut untuk menjadi teladan. Aktifiatas, ide, dan pemikirannya selalu berorientasi ke masa depan. Sehingga santri-santrinya digembleng sedemikian rupa dengan harapan, di kemudian hari nanti mampu berinteraksi dengan komunitas masyarakat yang heterogin dan berbeda kondisi sosialnya.


Kisah Teladan Beliau

Pecinta Al-Qur’an Sepanjang Hayat

Kecintaan PP Al Asyariah Wonosobo terhadap Al-Qur’an sebenarnya berawal dari kecintaan ayahandanya, KH Asy'ari Wonosobo terhadap Al-Qur’an. Dalam usia relatif muda yakni 16 tahun, PP Al Asyariah Wonosobo telah menjadi seorang hafidz (orang yang hafal) Al-Qur’an. Sebenarnya gelar bagi penghafal al-Quran adalah al-Hamil tapi entah sejak kapan di Indonesia gelar bagi penghafal al-Quran adalah al-Hafidz.

Hampir seluruh hidup Mbah Muntaha didedikasikan untuk mengamalkan dan mengajarkan nilai-nilai al-Quran kepada para santrinya dan juga pada masyarakat umumnya. Dalam kesehariannya, Mbah Muntaha selalu mengajar para santri yang menghafalkan Al-Qur’an. Para santri selalu tertib dan teratur satu per satu memberikan setoran hafalan kepada KH Muntaha Al Hafidz.

Sepanjang hidup Mbah Muntaha, Al-Qur’an senantiasa menjadi pegangan utama dalam mengambil berbagai keputusan, sekaligus menjadi media bermunajat kepada Allah swt. Mbah Muntaha tidak pernah mengisi waktu luang kecuali dengan Al-Qur’an. Sering Kiai Muntaha membaca wirid atau membaca ulang hafalan Al-Qur’an di pagi hari seraya berjemur di serambi rumahnya. Menurutnya, wirid dan dzikir yang paling utama adalah membaca Al-Qur’an. Itulah sebabnya, KH Muntaha Al Hafidz selalu menasehati para santrinya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an paling tidak seminggu sekali.

Kecintaan KH Muntaha Al Hafidz terhadap Al-Qur’an juga diwujudkan melalui pengkajian tafsir Al-Qur’an, dengan menulis tafsir maudhu'i atau tafsir tematik yang dikerjakan oleh sebuah tim yang diberi nama Tim Sembilan yang terdiri dari sembilan orang ustadz di Pondok Pesantren al-Asy'ariyyah dan para dosen di Institut Ilmu al-Quran (sekarang UNSIQ) Wonosobo. Gagasan KH Muntaha Al Hafidz tentang penulisan tafsir ini mengandung maksud untuk menyebarkan nilai-nilai al-Qur’an kepada masyarakat luas.

KH Muntaha Al Hafidz

Karomah Kewalian

Banyak tokoh pemimpin Negeri ini yang menyempatkan datang ke desa Kalibeber yang terletak di pegunungan Dieng untuk sowan Mbah Muntaha. Di Antara mereka misalnya, KH Abdurrahman Wahid, Wiranto, dan Akbar Tnjung. Mbah Muntaha adalah pendiri Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ) Wonosobo yang pada waktu berdirinya memiliki 3 Fakultas, yaitu Tarbiyah, Dakwah, dan Syari’ah. Atas prakarsa Mbah Muntaha, IIQ sekarang telah berubah nama menjadi Universitas Sains Al Qur’an (UNSIQ) Wonosobo yang memiliki Fakultas- Fakultas umum.Sejak IIQ di dirikan (1988) sampai tahun 2001, KH Muntaha Al Hafidz menjabat sebagai rektor IIQ Wonosobo. Begitulah KH Muntaha Al Hafidz adalah seorang kyai pesantren yang memiliki komitmen tinggi terhadap pendidikan Al qur’an. Dan di sisi lain, masyarakat percaya bahwa beliau memiliki beberapa Karomah, termasuk kisah kisah yang Khoariqul ‘adat.

Kisah aneh ini berikut dituturkan oleh KH Habibullah Idris yang menemani KH Muntaha Alhafidz ketika dia berkunjung ke beberapa negara di Timur Tengah , yakni Arab Saudi, Iraq, Iran, Syiria, Turki, Mesir, dan Abu dha-bi Malam hari setelah sholat isya. Di madinah, selepas melepas lelah dan istirahat di pemondokan, KH Muntaha Alhafidz tertidur. Selepas tidur ia bangun malam. Jam dinding menunjukkan sekitar pukul 23.00 waktu setempat. KH Habibullah Idris menuturkan sehabis bangun tidur malam itu, KH Muntaha Al Hafidz mengambil air wudlu dan bergegas pergi menuju keluar. Tentu saja Pak Habib mengikuti kemana Mbah Muntaha akan pergi. Apalagi dia pergi malam hari.“ Mau pergi kemana Mbah ?”“menuju makam Rasullah” jawab Mbah Mun singkat.Mengetahui Mbah Muntaha akan pergi ke makam Nabi Muhammad saw. Pak Habib bermaksud mencegah.

Setiap orang tahu bahwa makam Nabi Muhammad yang terletak di masjid Nabawi itu jika malam hari senantiasa dikunci dan dijaga oleh petugas keamanan yang selalu menjaga dengan tegas.Mbah Muntaha tetap saja pergi malam itu menuju Makam. Bahkan, seperti duko (jawa halus marah) terhadap pak habib yang mencegahnya. Akhirnya, pak habib pun mengikuti di belakang Mbah Muntaha.“Bagaimana akan menuju makam Nabi malam malam seperti ini? Pintunya pasti trekunci dan di jaga petugas yang tidak sega aegan memukul dengan pentungan di tangannya,”pikir Pak Habib dalam hati.Akan tetapi ditepiskannya keinginan untuk mencegah Mbah Mun. Dan Pak Habib terus mengikuti dari belakang Mbah Mun. Ternyata, Mbah menuju ke salah satu mkam Nabi. Yang mengherankan, pintu Makam Nabi tersebut ternyata kini terbuka lebar . tidak ada yang menjaganya.

Padahal sungguh sesuatu hal yang mustahil apabila pintu itu terbuka lebar, apalagi tidak terjaga oleh petugas. Dalam ketakjuban Pak Habib mengikuti Mbah Muntaha menuju makam Nabi.Lama Mbah Mun terdiam. Kemudian, Pak Habib menyaksika Mbah Muntaha menangis di hadapan makam Nabi. Barangkali Mbah Muntaha sedang berhadapan dengan Nabi yang sebenarnya?Dan di situ Mbah Mun menjalankan sholat malam hingga waktu Shubuh menjelang.Ya, mengapa pintu makam Nabi yang biasanya selalu terkunci dan di jaga pada malam hari, bisa terbuka lebar untuk Mbah Muntaha? Wallahu a’lam.


Sumber : Berbagai Sumber