KH Munawir, Krapyak, Yogyakarta

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Tak keliru jika dikatakan bahwa Bulan Ramadhan adalah bulannya Al-Quran, ya karena di dalam bulan inilah Al-Quran diwahyukan pertama kali kepada Rasulullah, Nabi Muhammad saw.

Biografi ini disadur sedikit saja dari Buku “MANAQIBUS SYAIKH: K.H.M. MOENAUWIR ALMARHUM: PENDIRI PESANTREN KRAPYAK YOGYAKARTA” yang diterbitkan oleh MAJLIS AHLEIN (Keluarga Besar Bani Munawwir) Pesantren Krapyak, keluaran tahun 1975. Jadi jika Anda ingin meng-COPY-PASTE biografi beliau ini, mohon SERTAKAN PULA SUMBERNYA, yakni buku tersebut. Biografi singkat seorang Maestro Al-Quran, Ulama Besar yang menebar semerbak harum Al-Quran di manapun ia berada, terutama di Tanah Jawa, dan menelurkan ribuan Ulama Ahli Quran serta Huffadz Al-Quran yang tersebar di penjuru Nusantara.

Semoga dengan dikenangnya Seorang Shalih lewat dunia maya ini, Allah Ta’ala berkenan melimpahkan Rahmatnya kepada kita semua. Selamat menikmati;

NASAB K.H.M. MOENAWIR

Simbah K.H.M. Moenauwir adalah putra K.H. Abdoellah Rosjad bin K.H. Hasan Bashori.

Dahulu, ada seorang ulama pejuang, K.H. Hasan Bashori namanya, atau yang lebih dikenal dengan nama Kyai Hasan Besari ajudan Pangeran Diponegoro. Beliau sangat ingin menghapalkan Kitab Suci Al-Quran namun terasa berat setelah mencobanya berkali-kali. Akhirnya beliau melakukan riyadhoh dan bermujahadah, hingga suatu saat Allah swt. mengilhamkan bahwa apa yang dicita-citakan itu baru akan dikaruniakan kepada keturunannya.

Begitu pula anak beliau, K.H. Abdoellah Rosjad, selama 9 tahun riyadhoh menghapalkan Al-Quran, ketika berada di Tanah Suci Makkah, beliau mendapat ilham bahwa yang akan dianugerahi hapal Al-Quran adalah anak-cucunya.

K.H. Abdoellah Rosjad dikaruniai 11 orang anak dari 4 orang istri, salah satunya adalah K.H.M. Moenauwir yang merupakan buah pernikahan beliau dengan Nyai Khodijah (Bantul).


MASA BELAJAR

Guru pertama beliau adalah Ayah beliau sendiri. Sebagai Targhib (penyemangat) nderes Al-Quran, Sang Ayah memberikan hadiah sebesar Rp 2,50 jika dalam tempo satu minggu dapat mengkhatamkannya sekali. Ternyata hal ini terlaksana dengan baik, bahkan terus berlangsung sekalipun hadiah tak diberikan lagi.

K.H.M. Moenauwir tidak hanya belajar Qiro’at (Bacaan) dan Menghafal Al-Quran saja, tetapi juga ilmu-ilmu lain yang beliau timba dari Ulama-ulama di masa itu, di antaranya;

1. K.H. Abdullah (Kanggotan – Bantul) 2. K.H. Cholil (Bangkalan – Madura) 3. K.H. Sholih (Darat – Semarang) 4. K.H. Abdurrahman (Watucongol – Magelang)

Setelah itu, pada tahun 1888 M. beliau melanjutkan pengajian Al-Quran serta pengembaraan menimba ilmu ke Haramain (Dua Tanah Suci), baik di Makkah Al-Mukarromah maupun di Madinah Al-Munawwaroh. Adapun Guru-guru beliau antara lain;

   Syaikh Abdullah Sanqoro
   Syaikh Syarbini
   Syaikh Mukri
   Syaikh Ibrohim Huzaimi
   Syaikh Manshur
   Syaikh Abdus Syakur
   Syaikh Mushthofa
   Syaikh YUSUF HAJAR (Guru beliau dalam Qiro’ah Sab’ah)

Pernah dalam suatu perjalanan dari Makkah ke Madinah, tepatnya di Rabigh, beliau berjumpa dengan seorang tua yang tidak beliau kenal. Pak Tua mengajak berjabat tangan, lantas beliau minta didoakan agar menjadi seorang Hafidz Al-Quran sejati. Lalu Pak Tua menjawab “Insyaa-Allah.” Menurut K.H. Arwani Amin (Kudus), orang tua itu adalah Nabiyullah Khidhr a.s.

K.H.M. Moenauwir ahli dalam Qiro’ah Sab’ah (7 bacaan Al-Quran). Dan salah satunya adalah Qiro’ah IMAM ‘ASHIM riwayat IMAM HAFSH, berikut inilah SANAD Qiro’ah Imam ‘Ashim riwayat Hafsh K.H.M. Moenawwir sampai kepada Nabi Muhammad saw., yakni dari;

   Syaikh Abdulkarim bin Umar Al-Badri Ad-Dimyathi, dari
   Syaikh Isma’il, dari
   Syaikh Ahmad Ar-Rosyidi, dari
   Syaikh Mushthofa bin Abdurrahman Al-Azmiri, dari
   Syaikh Hijaziy, dari
   Syaikh Ali bin Sulaiman Al-Manshuriy, dari
   Syaikh Sulthon Al-Muzahiy, dari
   Syaikh Saifuddin bin ‘Athoillah Al-Fadholiy, dari
   Syaikh Tahazah Al-Yamani, dari

10. Syaikh Namruddin At-Thoblawiy, dari 11. Syaikh Zakariyya Al-Anshori, dari 12. Syaikh Ahmad Al-Asyuthi, dari 13. Syaikh Muhammad Ibnul Jazariy, dari 14. Al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Kholiq Al-Mishri As-Syafi’i, dari 15. Al-Imam Abi al-Hasan bin As-Syuja’ bin Salim bin Ali bin Musa Al-‘Abbasi Al-Mishri, dari 16. Al-Imam Abi Qosim As-Syathibi, dari 17. Al-Imam Abi al-Hasan bin Huzail, dari 18. Ibnu Dawud Sulaiman bin Najjah, dari 19. Al-Hafidz Abi ‘Amr Ad-Daniy, dari 20. Abi al-Hasan At-Thohir, dari 21. Syaikh Abi al-‘Abbas Al-Asynawiy, dari 22. ‘Ubaid ibnu as-Shobbagh, dari 23. Al-Imam Hafsh, dari 24. Al-Imam ‘Ashim, dari 25. Abdurrahman As-Salma, dari 26. Saadaatina Utsman bin ‘Affan, ‘Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, ‘Ali bin Abi Tholib, dari 27. Rasulullah, Muhammad saw. dari Robbil ‘Aalamiin Allah swt., dengan perantaraan Malaikat Jibril a.s.

Beliau menekuni Al-Quran dengan Riyadhoh, yakni sekali khatam dalam 7 hari 7 malam selama 3 tahun, lalu sekali khatam dalam 3 hari 3 malam selama 3 tahun, lalu sekali khatam dalam sehari semalam selama 3 tahun, dan terakhir adalah Riyadhoh membaca Al-Quran selama 40 hari tanpa henti hingga mulut beliau berdarah karenanya. Setelah 21 tahun menimba ilmu di Tanah Suci, beliau pun kembali ke kediaman beliau di Kauman, Yogyakarta, pada tahun 1909 M.


AKHLAQ

K.H.M. Moenauwir selalu memilih awal waktu untuk menunaikan Sholat, lengkap dengan Sholat Sunnah Rawatibnya. Sholat Witir beliau tunaikan 11 Raka’at dengan hafalan Al-Quran sebagai bacaannya. Begitu juga dalam mudawamah beliau terhadap Sholat Isyroq (setelah terbit Matahari), Sholat Dhuha dan Sholat Tahajjud.

Beliau mewiridkan Al-Quran tiap ba’da Ashar dan ba’da Shubuh. Walau sudah hapal, seringkali beliau tetap menggunakan Mushaf. Bahkan kemana pun beliau bepergian, baik berjalan kaki maupun berkendara, wirid Al-Quran tetap terjaga. Beliau mengkhatamkan Al-Quran sekali tiap satu minggu, yakni pada hari Kamis Sore. Demikianlah beliau mewiridkan Al-Quran semenjak berusia 15 tahun.

Waktu siang beliau lewatkan dengan mengajarkan Al-Quran, dan di waktu senggang beliau masuk ke dalam kamar khusus (dahulu terletak di sebelah utara masjid) untuk bertawajjuh kepad Allah swt. Sedangkan di malam hari beliau istirahat secara bergilir di antara istri-istri dengan demikian adilnya.

Beliau memiliki 5 orang istri, adapun istri kelima, dinikahi setelah wafatnya istri pertama, yakni;

   Nyai R.A. Mursyidah (Kraton Yogyakarta)
   Nyai Hj. Sukis (Wates Yogyakarta)
   Nyai Salimah (Wonokromo Yogyakarta)
   Nyai Rumiyah (Jombang – Jawa Timur)
   Nyai Khodijah (Kanggotan – Yogyakarta)

Begitulah K.H.M. Moenauwir hidup beserta keluarga di tengah ketenangan, kerukunan, istiqomah dan wibawa, dengan berkah Al-Quranul Kariim.

Orang hafal Al-Quran (Hafidz) yang beliau akui adalah orang yang bertakwa kepada Allah, dan Sholat Tarawih dengan hafalan Al-Quran sebagai bacaannya.

Begitu besar pengagungan beliau terhadap Al-Quran, sampai-sampai undangan Haflah Khotmil Quran hanya beliau sampaikan kepada mereka yang jika memegang Mushaf Al-Quran selalu dalam keadaan suci dari Hadats.

Pernah terjadi seorang santri asal Kotagede dengan sengaja memegang Mushaf Al-Quran dalam keadaan hadats. Setelah diusut oleh K.H.M. Moenauwir, akhirnya santri tersebut mengakuinya. Atas pengakuannya, si santri dita’zir, kemudian dikeluarkan dari Pesantren dalam keadaan sudah menghapalkan Al-Quran 23,5 juz.

Setiap setengah bulan sekali, beliau memotong rambut, juga tak pernah diketahui membuka tutup kepala, selalu tertutup, baik itu dengan kopyah, sorban, maupun keduanya. Menggunting kuku selalu beliau lakukan tiap hari Jum’at.

Pakaian beliau sederhana namun sempurna untuk melakukan ibadah, rapi dan bersetrika. Jubah, sarung, sorban, kopyah dan tasbih selalu tersedia. Pakaian dinas Kraton Yogyakarta selalu beliau kenakan ketika menghadiri acara-acara resmi Kraton. Untuk bepergian, beliau sering mengenakan baju jas hitam, sorban, dan sarung.

Beliau tidak suka makan sampai kenyang, terlebih lagi di bulan Ramadhan, yakni cukup dengan satu cawan nasi ketan untuk sekali makan. Jika ada pemberian bantuan dari orang, beliau pergunakan sesuai dengan tujuan pemberinya, jika ada kelebihan, maka akan dikembalikan lagi kepada pemberinya.

Walau beliau termasuk dalam abdi dalem (anggota dalam) Kraton, namun beliau tidak suka mendengarkan pementasan Gong Barzanji. Sebagai hiburan, beliau senang sekali mendengarkan lantunan Sholawat-sholawat, Burdah dan tentunya Tilawatil Quran.

Para santri beliau perintahkan untuk berziarah di Pemakaman Dongkelan tiap Kamis Sore. Tiap berziarah, beliau membaca Surah Yasin dan Tahlil. Apabila terjadi suatu peristiwa yang menyangkut ummat pada umumnya, beliau mengumpulkan semua santri untuk bersama-sama tawajjuh dan memanjatkan do’a kehadirat Allah, biasanya dengan membaca Sholawat Nariyyah 4444 kali atau Surat Yasin 41 kali.

Selain mengasuh santri, beliau tak lantas meninggalkan tugas sebagai kepala rumah tangga. Tiap ba’da Shubuh, beliau mengajar Al-Quran kepada segenap keluarga dan pembantu rumah tangga. Nafkah dari beliau, baik untuk istri-istri maupun anak-anak, selalu cukup menurut kebutuhan masing-masing. Suasana keluarga senantiasa tenang, tenteram, rukun, dan tidak sembarang orang keluar-masuk rumah selain atas ijin dan perkenan dari beliau.

Hampir-hampir beliau tak pernah marah kepada santrinya, selain dalam hal yang mengharuskannya. Pernah suatu waktu beliau tiduran di muka kamar santri, tiba-tiba bantal yang beliau pakai diambil secara tiba-tiba oleh seorang santri, sampai terdengar suara kepala beliau mengenai lantai. Lantas beliau memanggil santri yang mengambil bantal tadi seraya berkata; “Nak... saya pinjam bantalmu, karena bantal yang saya pakai baru saja diambil oleh seorang santri.”

Seringkali beliau memberikan sangu kepada santri yang mohon ijin pulang ke kampung halamannya, dan sangat memperhatikan kehidupan santri-santrinya. Para santri pun dianjurkan untuk bertamasya ke luar pesantren, biasanya sekali tiap setengah bulan, sebagai pelepas penat.

Sebagai layaknya seorang Ulama, K.H.M. Moenauwir juga akrab dan sering mendapat kunjungan dari Ulama-ulama lain, di antaranya;

   Murid-murid Syaikh Yusuf Hajar dari Madinah
   K.H. Sa’id (Gedongan – Cirebon)
   K.H. Hasyim Asy’ari (Jombang)
   K.H.R. Asnawi (Kudus)
   K.H. Manshur (Popongan)
   K.H. Siroj (Payaman – Magelang)
   K.H. Dalhar (Watucongol – Magelang)
   K.H. Ma’shum (Lasem)
   K.H.R. Adnan (Solo)

10. K.H. Dimyati (Tremas – Pacitan) 11. K.H. Idris (Jamsaren – Solo) 12. K.H. Abbas (Buntet – Cirebon) 13. K.H. Siroj (Gedongan – Cirebon) 14. K.H. Harun (Kempek – Cirebon) 15. K.H. Muhammad (Tegalgubuk – Cirebon) 16. Para Kyai dari Jombang dan Pare 17. Sri Sultan Hamengku Buwono VIII dan IX 18. B.R.T. Suronegoro 19. K.H. Asy’ari (Wonosobo) yang merupakan teman semasa belajar di Tanah Suci.

Selain dikunjungi, beliau juga kerapkali mengadakan kunjungan balasan terhadap Para Ulama yang lain, seperti kepada K.H. Hasyim Asy’ari (Jombang), K.H. Ahmad Dahlan (Yogyakarta), maupun yang lainnya.

Beliau juga mendapat kepercayaan dari pihak Kraton untuk menjadi anggota JEMANGAH, yakni jama’ah Sholat tetap yang terdiri dari 41 orang Ulama, dimaksudkan sebagai penolak bencana Negara.


DAKWAH

Sepulang dari Makkah pada tahun 1909 M., beliau lantas mendakwahkan Al-Quran di sekitar kediaman beliau di Kauman. Tepatnya di sebuah langgar kecil milik beliau, tempat tersebut sekarang sudah menjadi Gedung Nasyiatul ‘Aisyiyyah Yogyakarta.

Lantas pindah ke Gading, tinggal bersama kakak beliau, K.H. Mudzakkir. Namun karena berbagai sebab, juga atas saran dari K.H. Sa’id (Pengasuh Pesantren Gedongan, Cirebon), pada tahun 1910 M. beliau pun hijrah ke Krapyak setelah selesainya pembangunan tempat tinggal dan komplek pesantren di sana, di tanah milik Bapak Jopanggung yang kemudian dibeli dengan uang amal dari Haji Ali.

Pada 15 November 1910, Pesantren Krapyak mulai ditempati untuk mengajar Al-Quran. Dilanjutkan dengan pembangunan Masjid atas prakarsa K.H. Abdul Jalil.

Konon, K.H. Abdul Jalil dalam memilih tempat untuk pembangunan masjid, adalah dengan menggariskan tongkatnya di atas tanah sehingga membentuk batas-batas wilayah yang akan dibangun masjid. Dengan Kehendak Allah, wilayah yang dilingkupi garis itu tidak ditumbuhi rumput.

K.H.M. Moenauwir selalu mengerahkan segenap santri untuk melakukan amaliyah membaca Surah Yasin tiap selesai pembangunan berlangsung. Pembangunan terus berlanjut secara bertahap, mulai dari masjid, akses jalan, dan gedung komplek santri hingga tahun 1930 M.

Di Pesantren Krapyak inilah beliau memulai berkonsentrasi dalam pengajaran Al-Quran. Para santri sangat menghormati beliau, bukan karena takut, melainkan karena Haibah, wibawa beliau.

Pengajian pokok yang diasuh langsung oleh K.H.M. Moenauwir adalah Kitab Suci Al-Quran, yakni terbagi atas 2 bagian; BIN-NADZOR (membaca) dan BIL-GHOIB (menghafal). Santri bermula dari Surat Al-Fatihah, lantas Lafadz Tahiyyat sampai dengan Shalawat Aali Sayyidina Muhammad, kemudian Surat An-Nas sampai Surat An-Naba’, baru kemudian Surat Al-Fatihah diteruskan ke Surat Al-Baqoroh sampai khatam Surat An-Nas.

Selain itu, pengajian Kitab-kitab juga digelar sebagai penyempurna. Suatu hari pada tahun 1910, seorang santri dari Purworejo, yang dianggap mampu oleh beliau, diperintahkan; “Ajarkanlah ilmu Fiqh kepada santri-santri di hari Jum’at, biarlah mereka mengenal air.”

Begitu seterusnya berkembang, baik kitab Fiqh maupun Tafsir, makin menonjol disamping Pengajian Al-Quran yang utama. Beliau mengajar secara sistem MUSYAFAHAH, yakni sorogan, tiap santri langsung membaca di hadapan beliau, jika ada kesalahan beliau langsung membetulkannya.

Adab (Tata Krama) dalam pengajian Al-Quran sangat beliau tekankan kepada para santri. Berbagai aturan dan ta’ziran beliau berlakukan terhadap para santri. Untuk santri yang telah khatam, maka dipanjatkanlah doa untuknya langsung oleh K.H.M. Moenauwir, lantas diberikanlah baginya sebuah Ijazah, yang intinya berisi pengakuan Ilmu dari guru kepada muridnya serta Tarottubur-Ruwat (Urutan Riwayat) atau Sanad dari Sang Guru sampai kepada Rasulullah saw. secara lengkap.

Banyak di antara murid-murid beliau yang juga meneruskan perjuangan di kampung masing-masing, berupa mendakwahkan Islam pada umumnya, dan pengajaran Al-Quran pada khususnya. Misal;

   K.H. Arwani Amin (Kudus)
   K.H. Badawi (Kaliwungu – Semarang)
   Kyai Zuhdi (Nganjuk – Kertosono)
   K.H. Umar (Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan – Solo)
   Kyai Umar (Kempek – Cirebon)
   K.H. Noor (Tegalarum – Kertosono)
   K.H. Muntaha (Pesantren Al-Asy’ariyyah, Kalibeber – Wonosobo)
   K.H. Murtadho (Buntet – Cirebon)
   Kyai Ma’shum (Gedongan – Cirebon)

10. K.H. Abu Amar (Kroya) 11. K.H. Suhaimi (Pesantren Tamrinus Shibyan, Benda – Bumiayu) 12. Kyai Syathibi (Kyangkong – Kutoarjo) 13. K.H. Anshor (Pepedan – Bumiayu) 14. K.H. Hasbullah (Wonokromo – Yogyakarta) 15. Kyai Muhyiddin (Jejeran – Yogyakarta) 16. Haji Mahfudz (Purworejo)

Untuk para Mutakhorrijiin (Alumni), beliau senantiasa menjalin hubungan dan bimbingan, bahkan berupa kunjungan ke tempat masing-masing.


KAROMAH

       K.H. Abdullah Anshor (Gerjen – Sleman) mengetahui beliau wafat, maka menangislah ia, serta mengatakan tak kerasan lagi hidup di dunia tanpa beliau. Setelah pulang ke rumah, K.H. Abdullah langsung menyusul pulang ke Rahmatullah.
       Kyai Aqil Sirodj (Kempek - Cirebon) di kala masih berusia sekitar 8 tahun belum bisa mengucap dengan jelas bunyi “R”. Namun setelah minum air bekas cucian tangan beliau, langsung dapat membaca “R” dengan jelas.
       Kala mengajar, biasanya beliau sambil tiduran, bahkan kadang benar-benar tertidur. Namun bila ada santri yang keliru membaca, beliau langsung bangun dan mengingatkannya.
       Saat baru berusia 10 tahun, beliau berangkat mondok kepada K.H. Cholil di Bangkalan, Madura. Sampai di sana, saat akan dikumandangkan iqomah, K.H. Cholil tidak berkenan menjadi imam shalat seraya berkata; “Mestinya yang berhak menjadi imam shalat adalah anak ini (yakni K.H.M. Moenauwir), walaupun ia masih kecil, tetapi ahli qiro’ah.”
       Sewaktu awal di tanah suci, beliau mengirimkan surat kepada ayahnya, menyatakan niat untuk menghapalkan al-Quran. Namun ayah beliau belum memperkenankannya, sehingga berniat mengirimkan surat balasan. Namun, belum sempat mengirimkan surat balasan, sang Ayah sudah mendapat surat kedua dari putranya yang menyatakan bahwa ia sudah terlanjur hapal. Dihapalkannya dalam waktu 70 hari (keterangan lain menyatakan 40 hari).
       Dan banyak lagi.


MAQOLAH

       Sebuah Hadits Riwayat Abi Hurairah bahwa Nabi Muhammad saw., bersabda; “Yaa Aba Hurairah, pelajarilah Al-Quran dan ajarkanlah kepada orang lain. Tetaplah engkau seperti itu hingga mati. Sesungguhnya jikalau kamu mati dalam keadaan seperti itu, malaikat berhaji ke kuburmu sebagaimana kaum Mukminin berhaji ke Baitullah al-Haram.”
       Sebuah sya’ir; “Semua ilmu termuat di dalam Al-Quran – Hanya saja orang-orang tak mampu memahami seluruh kandungannya.”
       “Jikalau engkau bermaksud akan sesuatu, maka bacalah Surah Yasin.”
       “Kalau mengaji Al-Quran, maka kajilah sampai khatam, supaya menjadi orang mulya.”
       “Waktu luang yang tidak digunakan untuk nderes Al-Quran adalah kerugian yang besar.”
       “Setelah seseorang hafal Al-Quran, maka haruslah ia TIDAK suka omong kosong dan TIDAK menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja mencari dunia.”
       “Wahai putera dan menantuku yang mempunyai tanggungan al-Quran, apabila kalian belum lancar benar, maka jangan sampai merangkap apapun, baik berdagang ataupun lainnya.”
       “Orang hafal Al-Quran berkewajiban memeliharanya, maka dari itu jangan melakukan hal-hal -termasuk menuntut ilmu- yang tidak fardhu, sekiranya dapat menyebabkan hafalannya hilang.”
       “Kalau kamu tidak mengaji Qiro’ah Sab’ah kepadaku, maka mengajilah kepada Arwani Amin Kudus.”

10. “Buah Al-Quran adalah kebahagiaan dunia dan akhirat.”

11. Beliau berkata kepada K.H. Basyir; “Marilah uzlah seperti saya, guna mengajarkan al-Quran. Kalau kita memikirkan harta dunia, maka akan binasalah Al-Quran nanti.”

12. Beliau berkata kepada putri beliau, Nyai Hindun; “Orang hafal Al-Quran, mengamalkan isi kitab Majmu’ dan Mudzakarot, insyaAllah menjadi orang shalihah.”

13. Beliau tidak mengijinkan santri-santrinya menjadi Pegawai Negeri Pemerintah Penjajah pada waktu itu.

14. Beliau menyampaikan apa yang pernah diterima dari guru beliau, K.H. Cholil Bangkalan; “Apabila hidayah tiba, permusuhan pun musnah. Jadilah engkau bagaikan Air, dibutuhkan oleh siapa dan apa saja. Jika tidak begitu, maka jadilah seperti Batu, tidak ada bahaya maupun manfaat (secara aktif –red). Janganlah engkau laksana Kalajengking, siapa melihat maka ia pun takut.”

15. “Seyogyanya engkau hadiahkan berkah Surah al-Fatihah kepada segenap kaum Muslimin yang masih hidup, lebih-lebih diwaktu tertimpa marabahaya atau berperangai buruk, barangkali dapat menjadi obatnya. Sebagaimana guru saya K.H. Cholil pernah mengajarkan; (di nomor 16)

16. Beliau menyampaikan apa yang disampaikan guru beliau, K.H. Cholil; “Teman-teman sekalian, jikalau engkau menghadiahkan berkah surat al-Fatihah jangan hanya kepada Muslimin yang sudah meninggal saja, tetapi juga yang masih hidup. Syukurlah jika kepadaku juga. Sebab Nabi Muhammad saw. pernah bersabda; ‘UDDA NAFSAKA MIN AHLIL QUBUUR (anggaplah dirimu termasuk ahli Qubur).”

17. “Apabila engkau memohon kepada Allah, maka mohonlah Kesejahteraan (‘Aafiyah).”

18. “Kelak di akhir jaman, Shin akan menguasai seluruh daerah.”

19. Sebuah sya’ir; “Aku tak bisa mendapatkan kembali apa yang telah meninggalkan diriku, baik dengan LAHFA (kalau), dengan LAYTA (seandainya), ataupun dengan LAW-INNI (andaikan saya).”

20. “Selama saya masih hidup, puteraku yang lelaki selalu saya suruh memakai kopyah. Sedangkan yang perempuan segera saya carikan jodoh, tak usah menunggu orang lain yang datang melamarnya.”


WAFAT DAN PENERUS BELIAU

Sebagaimana manusia pada umumnya, K.H.M. Moenauwir menderita sakit selama 16 hari. Pada mulanya terasa ringan, namun lama-kelamaan semakin parah. Tiga hari terakhir saat beliau sakit, beliau tidak tidur.

Selama sakit, selalu berkumandanglah bacaan Surah Yasin 41 kali yang dilantunkan oleh rombongan-rombongan secara bergantian. Satu rombongan selesai membaca, maka rombongan lain menyusulnya, demikian tak ada putusnya.

Akhirnya, beliau, K.H.M. Moenauwir wafat Ba’da Jum’at tanggal 11 Jumadil Akhir tahun 1942 M. di kediaman beliau di komplek Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta. Di kala beliau menghembuskan nafas terakhir, ditunggui oleh seorang putri beliau, Nyai Jamalah, yakni ketika rombongan pembaca Surah Yasin belum hadir.

Sholat Jenazah dilaksanakan bergiliran lantaran banyaknya orang yang bertakziyyah. Imam shalat jenazah kala itu adalah K.H. Manshur (Popongan – Solo), K.H.R. Asnawi (Bendan – Kudus), dan besan beliau K.H. Ma’shum (Suditan - Lasem).

Beliau tidak dimakamkan di kompleks Pesantren Krapyak, melainkan di Pemakaman Dongkelan, yakni sekitar 2 km dari kompleks Pesantren. Dan sepanjang jalan itulah, terlihat Kaum Muslimin dari berbagai golongan penuh sesak mengiring dan bermaksud mengangkat jenazah beliau, sampai-sampai keranda jenazah beliau cukup ‘dioperkan’ dari tangan ke tangan yang lain, sampai di Pemakaman Dongkelan.

Jenazah K.H.M. Moenauwir dikebumikan di sana, dan selama lebih dari seminggu pusara beliau selalu penuh dengan penziarah dari berbagai daerah untuk membaca Al-Quran.

Beliau wafat meninggalkan Pesantren yang merupakan tonggak pemisah suasana. Suasana sebelum dibangun pesantren, Krapyak dikenal sebagai tempat rawan, penuh kegelapan, abangan dan sedikit yang menjalankan ajaran Islam. Bersamaan dengan didirikannya Pesantren, banyak pula usaha busuk dari golongan-golongan Klenik yang dengki dan selalu merintangi perintisan Pesantren.

Namun upaya-upaya itu musnah, dan suasana gelap beralih menjadi ramai dan meriah dengan alunan Ayat-ayat Suci Al-Quran dengan segala konsekuensinya.

Almarhum K.H.M. Moenauwir berwasiyat, agar keluarga melanjutkan perjuangan Pesantren, tepatnya kepada 2 orang putra dan 4 orang menantu. Akan tetapi karena beberapa udzur, perjuangan Pesantren dikawal secara langsung oleh 3 tokoh yang dikenal sebagai Tiga Serangkai;

(1) K.H.R. Abdullah Affandi (putra beliau dari Nyai R.A. Mursyidah asal Kraton Yogyakarta). Di samping menangani pengajian Al-Quran, beliau juga mengurusi hubungan Pesantren dengan dunia luar. Beliau wafat pada 1 Januari 1968.

(2) K.H.R. Abdul Qodir (putra beliau dari Nyai R.A. Mursyidah asal Kraton Yogyakarta). Pada tahun 1953, para santri penghafal al-Quran dikelompokkan menjadi satu dalam sebuah wadah, yakni Madrasatul Huffadz yang disponsori oleh K.H.R. Abdul Qodir, dibantu K.H. Mufid Mas’ud (menantu K.H.M. Moenauwir), Kyai Nawawi (menantu K.H.M. Moenauwir) dan Hasyim Yusuf dari Nganjuk. Ada 2 sistem yang ditempuh di Madrasatul Huffadz;

Pertama, adalah Sistem Perseorangan, yakni Kyai menurut kepada santri untuk menghafalkan suatu ayat, surat maupun juz.

Kedua, adalah Sistem Jama’ah Mudarosah, yakni seorang santri disuruh menghafal suatu ayat, surat atau juz, kemudian membacanya lantas berhenti dan dilanjutkan oleh santri yang lain, demikian sampai khatam 30 juz.

Untuk mentash-hih kembali hafalan santri-santri yang sudah khatam, maka diharuskan melakukan ‘Ardloh secara Musyafahah sampai tiga kali khatam. Untuk menguji kelancaran hafalan, adalah dengan dibacanya suatu ayat oleh Kyai dan santri disuruh melanjutkannya. Begitu pula ditanyakan kepada santri tentang letak ayat tersebut dalam surat apa, halaman berapa, bagian mana, lembar kiri atau kanan, ayat nomor berapa, sampai surat baru masih berapa ayat lagi.

Seperti itulah seluk beluk menghafalkan Al-Quran di Madrasatul Huffadz saat itu. Setelah hafal seluruh Al-Quran, maka selama 41 hari dilanjutkan Mudarosah (nderes) dengan mengkhatamkan 41 kali juga. K.H.R. Abdul Qodir wafat pada 2 Februari 1961

(3) K.H. ‘Ali Ma’shum (menantu beliau asal Lasem, suami dari Nyai Hj. Hasyimah). Beliau sudah turut mengasuh Pesantren sejak 1943, beliau adalah perintis dan pengasuh pengajian Kitab-kitab selepas K.H.M. Moenauwir wafat, yakni sejak kepulangan beliau dari Tanah Suci dalam rangka menimba ilmu. Dalam penyelenggarannya, beliau menerapkan beberapa sistem, yakni Sistem Madrasi (Klasik) dan Sistem Kuliyah, yang masing-masing dilengkapi dengan Pengajian Sorogan (individual).

Adapun Pengajian Sorogan ini, beliau berlakukan dengan model Semi-Otodidak, yakni dengan ditentukannya suatu kitab oleh K.H. ‘Ali Ma’shum untuk dikaji seorang santri. Tiap sore hari, santri tersebut harus menghadap beliau untuk membaca kitab. Dalam hal ini, santri harus berusaha mempelajarinya sendiri, baik dalam cara membaca maupun menela’ah maknanya, baik dengan bertanya maupun berdiskusi dengan rekan dan kitab yang sudah ada maknanya.

Sedangkan K.H. ‘Ali Ma’shum cukup menyimak bacaan santri sambil mengajukan beberapa pertanyaan, dan membenarkan jika ada kesalahan membaca maupun memahami isinya. Dengan sistem ini, beliau maupun santri telah banyak menghemat waktu serta membuahkan hasil yang memuaskan lagi cermat. K.H. ‘Ali Ma’shum wafat pada 1989.

Demikianlah estafet kepemimpinan Pesantren terus bergulir, semakin berkembang seiring bertambahnya usia, baik dalam metode maupun corak Pesantren, namun tak lepas dari sentuhan khas salafiyahnya.

Dan tentunya, tetap berkonsentrasi pada misi awal yang dirintis Sang Muassis (Pendiri), yakni membumikan Al-Quran, memasyarakatkan Al-Quran dan meng-al-Quran-kan masyarakat.


KETURUNAN K.H.M. MOENAWWIR ALMARHUM

   :  ISTRI-ISTRI
   :  PUTERA DAN PUTERI
   :  CUCU LELAKI DAN PEREMPUAN
   :  BUYUT LELAKI DAN PEREMPUAN
   :  CANGGA LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

ISTRI

KH. M. Moenauwir mempunyai enam orang isteri. Istri yang kelima (Ny. Khodijah), dinikahi sesudah wafatnya istri yang pertama (Ny. RA. Mursidah); Istri yang keenam (Ny. Wuryan), dinikahi sesudah firaq dengan istri yang keempat (Ny. Rumyati). Pada akhirnya, istri yang keenam (Ny. Wuryan) pun difiroq. Diantara ke enam istri beliau adalah :

  • Ny. R.A. Mursyidah-Kauman, Yogyakarta
  • Ny. Hj. Khodijah (Suistiyah)-Wates, Kulonprogo, Yogyakarta
  • Ny. Salimah-Wonokromo, Bantul, Yogyakarta
  • Ny. Rumiyah-Jombang, Jawa Timur
  • Ny. Khodijah-Kanggotan, Bantul, Yogyakarta
  • Ny. Wuryan – Wonokromo, Bantul, Yogyakarta


PUTERA DAN PUTERI

KH. M. Moenauwir dari pernikahannya dengan kelima istrinya memiliki 34 putra-putri, yaitu :

Dari Ny. R.A. Mursyidah menurunkan putera-puteri

  • Abdullah Siraj-lahir Ahad Pon jam 13.00, tanggal 8 Sya’ban tahun Alif [1843] wafat waktu kecil) 8 Sya’ban 1331 H/13 Juli 1913 M.
  • Khodijah, lahir Rabo Kliwon, jam 07.00, tanggal 4 Shoffar tahun 1842 Wawu (wafat waktu kecil). 1 Februari 1911 M (Rabo Kliwon)/1 Shoffar 1329 H.
  • Ummatullah, lahir malam Kamis Pahing, tanggal 6 Rabiul Awwal tahun Za’ (wafat waktu kecil [1846]) 7 Rabiul Awwal 1334 H/13 Januari 1916 M.
  • KH. R. Abdullah Affandi, lahir Sabtu Kliwon, jam 17.00, tanggal 28 tahun Be (1848) 1336 H/1918 M.
  • K.H.R. Abd. Qodir, lahir Sabtu Legi, jam 17.00 tanggal 7 Zulqa’dah tahun Jim Akhir (1850) 7 Zulqa’dah 1338/25 Juli 1920.

Dari Ny. Hj. Khodijah (Suistiyah) menurunkan putra-putri

  • H. Muhammad, lahir Kamis Pahing, jam 13.00, tanggal 14 Rabiul Tsani tahun Za, (1846) 17 Februari 1916 M/12 Rabiul Tsani 1334 H.
  • Badruddin, lahir Senin Legi, jam 15.00 tanggal 16 Rajab tahun Be (wafat masih kecil) 26 Apeil 1918 M/16 Rajab 1336.
  • Jazilah, lahir Senin Legi, jam 07.00, tanggal 27 Ramadhan tahun Jim (1850 Akhir [wafat masih kecil]) 14 Juni 1920 M/27 Ramadhan 1338 H.
  • Ny. Hj. Hasyimah, lahir Rabo 16 Kliwon 16 Rajab 1340 H tahun Ha (1852) 15 Maret 1922 M.
  • K.H. Zaini Munawwir, lahir Ssabtu Kliwon, jam 24.00, tanggal 2 Syawal tahun Jim Awal (1853) 19 Mei 1928 M/3 Syawal 1341 H.
  • Badawi, lahir Rabo Wage, jam 23.00 tanggal 26 Syawal tahun Be (wafat masih kecil) 9 Mei 1926 M/26 Bodo 1344 H/Be 1856.
  • Ny. Jamalah, lahir Ahad Kliwon, jam 24.00 tanggal 2 Zulqa’dah 1346 H tahun Jim Akhir (1858) 23 April 1928 M.
  • Hani’ah, lahir Selasa Pahing, jam 03.00, tanggal 28 Zulqa’dah (1860) tahun Ha, 29 April 1930.
  • K.H. Zainal Abidin Munawwir, lahir Sabtu Pahing, jam 17.30, tanggal 18 Jumadil Akhir tahun Za/31 Oktober 1931/18 Jumadil Akhir 1350 H/1862.
  • K.H. Ahmad Warson Munawwir, lahir Jum’at Pon, jam 00.30, tanggal 22 Sya’ban tahun Wawu (1865) 30 Nopember 1934/20 Sya’ban 1353 H.
  • Ny. Fatimah, lahir Senin Legi, jam 03.00, tanggal 17 Rabiul Tsani tahun Za (1870) 5 – 6 Juni 1939 M (17 Rabiul Tsani 1358 H).


Dari Ny. Salimah menurunkan putra-putri

  • Ny. Hj. Hindun, lahir Selasa Kliwon, jam 01.00, tanggal 17 Shoffar 1340 H. tahun Ha (1852). (wafat saat wukuf di Arafah tahun 1975), 20 Oktober 1922 M.
  • Aminah, lahir Kamis Kliwon, jam 21.00, tanggal 8 Syawal tahun Alif (1859) (wafat masih kecil), 6 Januari 1931 M/16 Sya’ban 1349 H.
  • Ny. Zulaikha’,
  • Ny. Hj. Badi’ah,
  • Washil, lahir Senin Wage, jam 21.00, tahun Wawu (1865), (wafat masih kecil) 1935 M/1353/Jumadil Akhir 1866 H.
  • Ja’far, lahir Selasa Wage, jam 11.00, tanggal 18 Sya’ban tahun Jim Awal (1861) (wafat masih kecil), 6 Januari 1931 M/16 Sya’ban 1349 H.
  • K.H. Dalhar Munawwirr, lahir Kamis Pon, jam 13.00, tanggal 14 Sya’ban tahun Dal (1863) 15 Desember 1932 M/16 Sya’ban 1351 H.
  • Ny. Hj. Jauharoh, lahir Sabtu Pon, Ramadhan tahun Jim.
  • Hidayatullah 1936 M/1354 Jumadil Akhir 1866.

Dari Ny. Rumiyah menurunkan

  • Ny. Juhannah, kembar dengan
  • Ny. Zainab
  • K. Zainuddin, lahir Kamis Pahing, jam 06.30 tanggal 17 Jumadil Awal tahun Za (1862) 1 Oktober 1931/18 Jumadil Awal 1350.
  • Ny. Badriyah, lahir Senin Pon, Jam 08.00 tanggal 7 Ramadhan tahun Be (1864) 25 Desember 1933 M/7 Ramadhan 1352 H.

Dari Ny. Khodijah menurunkan

  • Juwariyyah, lahir Sabtu 12 Januari 1931 Pon jam 02.00 tanggal 25 Ramadhan tahun Jim Awal (wafat masih kecil).
  • Dzuriyyah, lahir Rabo Pahing jam 20.00 tanggal 3 Jumadil Akhir tahun (1863) Dal.
  • Ny. Hj. Walidah, lahir Jum’at Legi, jam 09.00 tanggal 21 Ramadhan tahun Wawu (1865), 28 Desember 1934 M/21 Ramadhan 1353 H.
  • K.H. Ahmad Munawwir, lahir Sabtu Pon, jam 14.30 tanggal 10 Zulqa’dah tahun Alif (1355), 23 Januari 1937.
  • Ny. Hj. Zuhriyyah, lahir Rabo Kliwon tanggal 2 Jumadil Akhir tahun Za (1870). 19 Juli 1939 M/2 Jumasil Tsani 1358 H.
  • Dari Ny. Wuryan, Tidak menurunkan putra-putri


III.CUCU LELAKI DAN PEREMPUAN

   K.H. ABDULLAH AFANDI bin R.A. Mursyidah (istri 1) menikah dua kali, yaitu :

Dari istri pertama : Ny. Syamsiyyah (Kauman, Magelang) :

   R.H. Wasil Abd. Muhaimin

Dari istri kedua  : Ny. Semiati (Temanggung) :

1. M. Arwani 2. Istiqamah 3. Abdul Kholiq

   K.H.R. ABD. QODIR bin R.A. Mursyidah menurunkan dari isteri Ny. Salimah (Jejeran, Yogyakarta) :

1. Fatimah 5. KH. Muhammad Najib

2. Nurjihan (wafat) 6 Ny. Hj. Munawwaroh

3. Widodo (wafat) 7. K. Abdul Hamid

4. Ny. Hj. Ummi Salamah 8. KH. Abdul Hafidzh

   NY. H. HASYIMAH bin Ny. H. Suistiyah (istri ke II dari KH> Munawwir) bersuamikan K.H. Ali Ma’shum (Lasem, Rembang) :

1. Adib (wafat) 5. Ny. Hj. Durroh Nafisah

2. KH. Attabik Ali 6. Nafi’ah (wafat)

3. KH. Jirjis Ali 7. Muhammad Rifqi Ali

4. Ny. Hj. Hanifah 8. Ny. Hj. Rufaida Ali

   K.H. Zaini bin Ny. Suistiyah beristrikan dua orang :
   Ny. Hj. Qomariyyah (Lirboyo, Kediri) menurunkan :

1. Muhammad Rifqi Widodo 2. KH. Thoha

3. KH. Habibullah 4. Hasan

   Ny. Ruqiyyah Kempek, Cirebon menurunkan :

1. Farohah 2. M. Sholeh Zaini 3. Abdullah Rosyad

4. Nuriyyah 5. Fatimatuz Zahro

05. Ny. Jamalah binti Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan 3 orang berturut-turut

   K. Syaifuddin (Kediri) tidak berputera
   K. Muhammad  Sofwan  (Rembang), menurunkan :

1. M. Nawawi Sufwan 2. Zaenal ‘Arifin

   K.H. Baqir (Dongkelan, Jogjakarta), menurunkan :

1. Umaimatul Anin 2. Muhammad Muslih

  06. K.H. Zainal Abidin bin Ny. Hj. Suistiyah beristrikan Ny. Hj. Ida Fatimah (Bangil, Pasuruan), menurunkan :

1. M. Munawwir 2. Khoiruzzad 3. Khumairo’

07. K.H. Ahmad Warson Munawwir bin Ny. Suistiyah beristrikan Ny. Hj. Husnul Khotimah (Kutoarjo) menurunkan :

1. H. Muhammad Fairuz 2. Qurriy ‘Aina

 08. Ny. Fatimah binti Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan K.Abdullah Tsabit (Krapyak, Yogyakarta) menurunkan :

1. Elya Zaulfa 2. Maria Ulfah

3. Muhammad Najib Ali Al Ghorb

09. Ny. Hindun binti Ny. Salimah (istri III) bersuamikan dua orang berturut-turut :

   K. Yusuf (Kempek, Cirebon) menurunkan :

1. Ny. Hj. Jazilah 2. K.H. Ma’ani

   K.H. Umar (Kempek, Cirebon) menurunkan :
     1. K.H. Fadlu
10. Ny. Atikah binti Ny. Salimah bersuamikan K. Syuthibi (Kyangkong, Kutoarjo) menurunkan :

1.Ny. Siti Rahmah 2. Afifah

11. K.H. Dalhar bin Ny Salimah beristrikan Ny. Ma’munah (Purworejo) menurunkan :
    1. Fuad Ashnawi    2. H. Fathoni                3. KH. Fairuzi Afik
4. Faishol Majdi     5. Fahmi                      6. Hj. Fanny Rifqoh

12. Ny. Jauharoh binti Ny. Salimah bersuamikan K.H. Mufid Mas’ud (Klaten) menurunkan :

   1. Ny. Hj. Sukainah                       2. H. Ibnu Jauzi                 3. Hj. Kunny Afifah
   4. Hj. Wiwik Fashihah       5. Hj. Muflihah       6. H. Mu’tashim Billah
   7. Hj. Shohifah                  8. Hj. Nurul Hikmah
      13. K. Zainuddin bin Ny. Rumiyah (istri IV) beristrikan 3 orang :
     Ny. Juwairiyah (Blora)
   Ny. Shofiyyah (Banyuwangi)
   Ny. Halimah (Kempek, Cirebon) menurunkan :
   Hamdan
     14. Ny. Badriyyah binti Ny. Rumiyah (istri IV) bersuamikan dua orang berturut-turut
   Abd. Rahim (Karangnongko, Purworejo) menurunkan :
     Zuhriyah
    Muhammad Ja’far Shadiq
       Busyra (Karangkajen, Yogyakarta) menurunkan :
   Muhammad Muhtarom Busro

15. Walidah binti Ny. Khotijah (istri V) bersuamikan K.H. Nawawi (Kutoarjo) menurunkan :

1. K. M. Ngasim 2. K. M. Yasin 3. Ny. Istiqomah

4. K. Abd. Mukti 5. Hj. Barokah 6. Binti Nafisah

7. Hj. Umi Azizah 8. Muslim 9. Wardah

10. Ulfah 11. Zakiyyah

16. K.H. Ahmad bin Khotijah (istri V) beristrikan Ny. Shofiyah (Cirebon) menurunkan :

   Muhammad  Munawwar.

IV.BUYUT LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

   R.H. Washil Abdul Muhaimin bin K.H. R. Abdullah Affandi bin Ny. R.A. Mursyidah (istri I), beristrikan Ny. Muti’ah (Babat, Lamongan) menurunkan :

1. Jamilah 2. Muniroh Kusumaningsih

3. Ny. Hj. Mariyatul Qibtiyah 4. Mursyidah 5. M. Munawwir

6. H. M. Chaidar Muhaimin 7. Inats Tsuroya 8. Nur ‘Aliyah

9. H. M. Ijtabahu Robbuhu 10. Muhammad Makhfi

   Ny. Istiqamah binti K.H. R. Abdullah Affandi bin Ny. R.A. Mursyidah (istri I), bersuamikan dua orang :
       Muhadi (Temanggung), menurunkan :

1. Andi Hamzah

   Asyhari (Temanggung)
   1. Su’ud Al-Asyhari                 2. Mustajib Fasih        
   3. Maulana Abdillah Faqih      4. Nabilah Khairun Nisa’
   Ny. Hj. Ummi Salamah binti K.H.R. Abdul Qadir bin Ny. R.A. Mursyidah bersuamikan K.H. Masyhuri Ali Umar (Blitar) menurunkan :

1. Atiqoh Alifah 2. Azza Iffana 3. Muhamad Nabih

4. Nadhiroh Aniqoh 5. Abdul Qodir (alm) 6. Ahmad Sidqi

   K.H. M. najib bin K.H.R. Abdul Qadir bin Ny. R.A. Mursyidah, beristrikan Ny. Musta’anah Saniyyah (Klaten), menurunkan :
    Nilnal Minah
       Ny. Hj. Munawwaroh binti K.H. R. Abdul Qodir bin Ny. Mursyidah, bersuamikan KH. Nur Hadi (Magelang), menurunkan :

1. Ifadah 2. Husna Nur “Aini 3. Nila Nur Qodriyah

4. Rabiah Adawiyah 5. Lailia Muyassaroh

   K. Abdul Hamid bin K.H.R. Abdul Qodir bin Ny. R.A. Mursyidah, beristrikan Ny. Lu’luil Maftuhah (Malang), menurunkan :

1. M. Baihaqi 2. Nabila Amalia 3. Kholafi Muhammad

06 K. Abdul Hafidhz bin K.H. R. Abdul Qodir bin Ny. R.A. Mursyidah beristrikan Ny. Nur Lailiyah (Magelang), menurunkan :

   Muhammad Azka                  2. Dewi Salma                        

3. Najwa 4. Aufa

   Drs. K.H. Atabik bin Ny. Hj. Hasyimah binti Hj. Suistiyah (istri III) beristrikan Ny. Hj. Maryati (Jakarta), menurunkan :

1. Hj. Dina Zaad 2. Hj. Athiyyah Laila

   Drs. H. Jirjis bin Ny. Hj. Hasyimah binti Ny. Hj. Suistiyah, beristrikan Ny. Hj. Luthfiyyah (Cirebon), menurunkan :

1. Diana 2. Nadia

   Ny. Hanifah binti Ny. Hj. Hasyimah binti Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan Drs. K.H. M. Hasbullah S.H. (Jepara), menurunkan

1. Nur Aini (alm) 2. Hilmi Muhammad 3. Afif Muhammad

4. Zaki Muhammad 5. Maya Fitria

   Hj. Durroh Nafisah binti Nashih Hamid (Pasuruan), menurunkan :
   Hj. Hindun Annisa
       Ny. Ida Rufaida binti Ny. Hj. Hasyimah binti Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan Dr. dr. H. Hamam Hadi (Majenang, Cilacap) menurunkan :

1. Ali Firdaus 2. Fikri Rusma Kumala 4. Defi Ifsantin Maula

   KH. Thoha bin K.H. Zaini bin Ny. Hj. Suistiyah beristrikan 2 orang :
       Ny. Na’mussholikhah, menurunkan

1. Thoifatul Munawwiroh. 2. Ahmad Najmuddin M.Y.

3. Tutik nurul Jannah

   Ny. Afif Khoridah, menurunkan

1. A. Rofu’a Qodruhu 2. Fina Durrotun Nafisah 3. Nila Nihayah

   KH. Ahmad Habibullah bin K.H. Zaini bin Ny. Hj. Suistiyah, beristrikan Umi Sa’adah (Bojonegoro) menurunkan :

1. Lia Hikmatul Maula 3. Arina Maqsurah Fil Khiyam

2. Ahmad Khuwarizmi Ijtabahu Rabbahu 4. M. Hilmy Biknada

   Ny. Farroh binti K.H. Zaini bin Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan K. Baejuri (Sleman) menurunkan :

1. Muhammad Aminuddin 2. Hasimah Durrah Nafisah

   Muhammad  Sholeh bin K.H. Zaini bin Ny. Hj. Suistiyah beristrikan Ny. Nadziroh (Tegal) menurunkan :
   Muhammad  Munadi   2.                     3
   Nuriyah binti K.H. Zaini bin Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan A. Zahid Mubari (Kediri), menurunkan :
   Ahmad Rikza Aufarul Umam        2. Izza Nurin Nabilah
   Fatimatuz Zahro binti K.H. Zaini bin Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan M. Solikhah menurunkan :
   Silviana                              2. Nailis
   M. Nawawi bin Ny. Jamalah binti Ny. Hj. Suistiyah beristrikan Ny. Fatimah (Tegal) menurunkan :

1. Najihah 2. Muhamad Faiq 3. Faelasufa

   Zainal Arifin bin Ny. Jamalah binti Ny. Hj. Suistiyah, beristrikan Ny. Tumirah (Krapyak), menurunkan :

1. Lathifah 2. Afah Mumtazah

   H. Muhammad Fairuz bin KH. A. Warsun Munawwir bin Ny. Hj. Suistiyah, beristrikan Athi Luthfiyah (Kediri), menurunkan :

1. 2.

   Qurriy ‘Aina bin KH. A. Warsun Munawwir bin Ny. Hj. Suistiyah, bersuamikan Kholid (Solo), menurunkan :

1. 2.


   Elya Zulfa binti Ny. Fatimah binti Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan Akhid Masfuad (Sleman), menurunkan :

1. Khotimatul Aisyah 2. Muhamad Syarif Hidayatullah

3. Maulana Muhiburrahman 4. Zaenab 5. A. Masduqi

   Maria Ulfah binti Ny. Fatimah binti Ny. Hj. Suistiyah, bersuamikan Nur Kholis (Sleman), menurunkan :

1. Anzilna Luthfa Ashfiya’ 2. Muh. Mustakfi Billah

3. M. Afkar 4. Aliya

   Muhammad Najib Ali Al Ghorb bin Ny. Fatimah binti Ny. Hj. Suistiyah, beristrikan Amanah (Kroya Cilacap), menurunkan :

1

   Siti Rahmah binti Ny. Atikah binti Ny. Salimah (istri III), bersuamikan K. Tanwir (Purworejo), menurunkan :

1. Munawwir 4. Siti Sidiqoh 7. Siti Zulfah

2. Munawwiroh 5. M. Mudzakir

3. Abdul Aziz 6. Hilmy Muhammad

   Fuad Asnawi bin K.H. Dalhar bin Ny. Salimah, beristrikan Anna Amina (Bantul), menurunkan :

1. Anisun Nur Faiqah 2. Faiq Muhammad

3. Qorry Izzatul Muna

   H. Fathoni bin K.H. Dalhar bin Ny. Salimah, beristrikan Yuliawati (Bekasi), menurunkan :
   Salwa Nafira
       Fairuzi Afiq bin K.H. Dalhar bin Ny. Salimah beristrikan Siti Mukaromah (Wonosobo), menurunkan :
   Sulma Safinatus Shofiyyah                2. Sullamul Hadi ‘Alaly
       Faishal Majdi bin K.H. Dalhar bin Ny. Salimah, beristrikan  Ismah (Yogyakarta), menurunkan :

1. Raihan Fakhriza Majdi

   Ny. Hj. Sukainah binti Ny. Jauharoh binti Ny. Salimah bersuamikan K.H. Masykur (Brebes), menurunkan :

1. Hj. Ema Ainun Hakimah 2. H. Arif Hakim

3. H. Ali Hifni 4. Muhammad Rifa’at

   Ibnu Jauzi bin Ny. Jauharoh binti Ny. Salimah beristrikan Hj. Azizah menurunkan :

1. Hj. Musyarofah 2. Hj. Farah Faidah 3. H.Abd. Hafidz

4. Hamidah 5. Haris Ahmad Qurnain

6. Muhammad hanif 7. Adam

   Hj. Wiwik Fasikhah binti Ny. Jauharoh binti Ny. Salimah bersuamikan Fasihin Fadholi menurunkan :

1. H. Muhammad Nahdi 2. Azka Sya’bana

   Hj. Muflihah binti Jauharoh bin Ny. Salimah bersuamikan Drs. H. Asnawi M. (I) menurunkan :
   H. Saidah Difla Iklila

Dan bersuamikan H. Hasan Karyono, menurunkan :

1. Anny Mustarsyidah 2. Hj. Qounita 2. H. Qowwam

3. H. Qois

   Hj. Sofhah binti Ny. Jauharoh binti Ny. Salimah, bersuamikan Drs. H. Attabik Yusuf Zuhdi, menurunkan :

1. Afiqi 2. Nidaul Hana 3. Rifadul Diana

4. Musthofiatul Aufa

   H. Mu’tasim Billah bin Ny. Jauharoh binti Ny. Salimah, beristrikan Siti Faiqoh Mahfudhoh ( Banjarnegara), menurunkan :

1. Jannety

   M. Sholihah bin Ny. Jauharoh binti Ny. Salimah, bersuamikan H. Abdul Wahid, menurunkan :

1. Nauroh 2. Ahmad 3. Aiman

   Hj. Nurul Hikmah binti Ny. Jauharoh binti Ny. Salimah, bersuamikan H. Muslim, menurunkan :

1. Amanda Amni Malihah 2. Fara Fatimah Zahroh

   Hamdan bin K. Zainuddin bin Ny. Ny. Rumiyah (istri IV), beristrikan  Nafisah (Cirebon), menurunkan :

1. Hasna’ Nabilah 2. Naufal Muhammad

   Ny. Zuhriyyah bin  Ny. Badriyyah binti Ny. Rumiyah (istri IV), bersuamikan H. Sumarsudi (Wates-Kulonprogo), menurunkan :

1. Nur Alifiani 2. Arif Muttaqin

3. Milla Hudriyani 4. Esti Fahmiluwati

   K. Muhtarom Busyro bin Ny. Badriyyah binti Ny. Rumiyah (istri IV), beristrikan Ny. Alfiatun (Cilacap), menurunkan :

1. Muhammad Farmawi 2. Author Muwattho’

   K. Muhammad Ngasim bin Ny. Walidah binti Ny. Khodijah, beristrikan Ny. Farcha (Cirebon), menurunkan :

1. Adib 2. Thohiroh 3. Qorri’ Aina 4. Najmul Huda

   K. Muhammad Yasin bin Ny. Walidah binti Ny. Khodijah beristrikan Ny. Lialik (Tulungagung), menurunkan :

1. Qoni’ah 2. Muhammad Afif 3. Idris Nuri

4. Nuruz Zaman

   Istiqomah binti Ny. Walidah binti Ny. Khodijah, bersuamikan Muhyiddin (Magelang), menurunkan:

1. Ummi Maslahah 2. Faqih Muhammad 3. A. Azhar Fuadi

4. Sahlul Muna 3. Husni Baihaqi 4. Dzikron Aulawy

   K. Abdul Mu’thi bin Ny. Walidah binti Ny. Khodijah beristrikan Thoyyibatus Sariroh (Banyuwangi) menurunkan :

1. Sabiq Abqori 2. Atini Zulfa 3. AM. Fawaid

   Ny. Binti Nafi’ah binti Ny. Walidah binti Ny. Khodijah, bersuamikan H. Nur Hadi (Bantul), menurunkan :

1. Yumna Nadiroh 2. Nizza 3. M. Muktafi

4. Khotibul Umam 5. Muh. Ni’am 6. Muh. Shohib

   Hj. Umi Azizah binti Ny. Walidah binti Ny. Khodijah, bersuamikan Basyir (Jepara) menurunkan :

1. Izzatu Muhammad 3. Rif’ah 5. Minanullah

2. Lina 4. ‘Iffad 6. Thariq Ziyad

   Muslim bin Ny. Walidah binti Ny. Khodijah, beristrikan Hj. Lilik Nur Kholidah (Muntilan), menurunkan :

1.

   Wardah binti Ny. Walidah binti Ny. Khodijah, bersuamikan H. Ahmad Haris Masduqi (Wonosari), menurunkan :

1. Nabil Ahmad

   Zakiyyah binti Ny. Walidah binti Ny. Khodijah, bersuamikan Thoha (Kediri), menurunkan:
   Khodijah Zuyyinatul Jannah


V.CANGGAH LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN

   Hj. Maryatul Qibtiyyah  binti R.H. Wasil Abdul Muhaimin bin K.H. R. Abdullah Affandi bin Ny. R.A. Mursyidah, berusuamikan M. Nur Hasyim (Babad), menurunkan :

1. Lina Rifa’ah 2. Anita Sahara 3. M. Fu’ad Hasyim

   Mursyidah binti R.H. Wasil Abdul Muhaimin bin K.H.R. Abdullah Affandi bin Ny. R.A. Mursyidah, bersuamikan Drs. H.Aly. Hadianto, menurunkan :

1. Ika Faiqoh 2. Iqlima Naqiyya 3. Maulana Majazaka

   M. Munawwir bin R.H. Washil Abdul Muhaimin bin K.H.R. Abdullah Affandi bin Ny. R.A.  Mursyidah, beristrikan Duroroyah (Purworejo), menurunkan :

1. Millati Khusna 2. Ahmad Mahmud

3. Aisyah Zumrotus Sabiqoh

   H. M. Chaidar bin K.H. Washil Abdul Muhaimin bin K.H.R. Abdullah Affandi bin Ny. R.A. Mursyidah beristrikan Zahrotul Mu'minati (istri pertama )(Yogya), menurunkan

1. Qonita Hukaimah 2. Qosyirotut Thorfi

Dan beristrikan Hj. Ani Hargiani, menurunkan :

1. Abdullah Muhammad Abiyakhsa 2. Ahmad Muhammad Gumilang Notonegoro 3. Tanjung Muhammad Hasan Bessari

   Inats Tsuroyyah binti R.H. Washil Abdul Muhaimin bin K.H.R. Abdullah Affandi bin Ny. R.A. Mursyidah, bersuamikan Ridwan M. Noor (Tasikmalaya), menurunkan :

1. Ahdiyatul Maula 2. Khusna Ahmad Kandiyas Maulidana

3. Rachmi Turisinal Alvia Mazaya

   Ijtabahu Rabbuhu bin K.H. Washil Abdul Muhaimin bin K.H.R. Abdullah Affandi bin Ny. R.A. Mursyidah beristrikan Musyarofah ( Rembang), menurunkan :

1. M. Naufal Ziyaul haq

   Atiqoh Alifah binti Ummi Salamah binti K.H.Abdul Qodir bin Ny. R.A. Mursyidah, bersuamikan Anas Malik (Demak_, menurunkan :

1. A. Syauqi Malik 2. Ahmad Fikri Malik 3. Asmia Maufurah

   Azzah Ilfana binti Ny. Hj. Ummi Salamah binti K.H.R. Abdul Qodir bin Ny. R.A. Mursyidah, bersuamikan Muhtarom Ahmad (Indramayu), menurunkan :

1. A. Nuthqi Hikam 2. Iim Nur Shoimah (Lim)

3. Ahmad Hubaib 4. Ahmad Ni’amullah

   Muhammad Nabih bin Ny. Hj. Ummi Salamah binti K.H.R. Abdul Qodir bin Ny. R.A. Mursyidah, beristrikan Rabiah Maziyah (Malang), menurunkan :

1. Muhammad Althof Fadlur Rohman

   Dinazad binti K.H. Atabik Ali bin Ny. Hj. Hasyimah binti Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan H. Khoirul Fuad (Kediri), menutunkan :
   Gabrielle Muhammad                          2. Raobith Judan
   Hj. Athiyah Laila  binti K.H. Atabik Ali bin Ny. Hj. Hasyimah binti Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan Anas Urbaningrum (Blitar), menutunkan

1. Akmal Nasheery 2.

   Hilmy Muhammad bin Ny. Hj. Hanifah bin Ny. Hj. Hasyimah binti Ny. Hj. Suistiyah beristrikan Hj. Nur Chasanah (Pekalongan),  menutunkan

1. Ali fauzi 2. Ahmad Faruq

   Zaky Muhammad bin Ny. Hj. Hanifah bin Ny. Hj. Hasyimah binti Ny. Hj. Suisiyah beristrikan Fatma Zuhratun Nisa’ (Jember),  menutunkan

1. Ahmad Rabbani

   Hj. Hindun Anisah  binti Hj. Durro Nafisah bin Ny. Hj. Hasyimah binti Ny. Hj. Suistiyah bersuamikan H. Nuruddin Amin (Jepara), menutunkan

1. Muhammar Arif Arafat.

   Thoifatul Munawwaroh binti Thoha bin K.H. Zaini bin Hj. Suistiyah, bersuamikan Ahmad Fahrurozi (Malang Jatim), menurunkan:
   Ahmad. Tholhah al-Fayyadh Diponegoro
   Ahmad Fatih Al-Faiz Binashrillah
        Munawwiroh  binti Siti Rohmah bin Zulaikhao’  binti Ny. Salimah, bersuamikan Junaidi (Tegal), menurunkan :
     1. Muhammad Ulil Azmi


Sumber: