KH Muhammad Martain Karim

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

KH Muhammad Martain Karim atau yang akrab dengan panggilan Kyai Martain ini pada usia muda dan selama menjadi santri atau mahasiswa adalah seorang aktivis yang ulet dan haus akan pengetahuan agama dan hampir semua pelajaran di pesantren telah beliau dalami, dan yang paling beliau kuasai adalah ilmu fiqh dan nahwu. Berbagai pesantren besar telah beliau mukimi, dan yang paling lama adalah Ponpes Tambak Beras dan Ponpes Lasem. Di samping itu, beliau masih sempat mendapatkan gelar sarjana muda dari Fakultas Tarbiyah bidang pendidikan agama Islam dari Universitas Sunan Giri Surabaya pada tahun 1973.

Sebelum menetap dan mendirikan Pondok Pesantren AlHidayah di Batu, kiprah dan perjuangan Kyai Martain muda telah cukup panjang antara lain keterlibatan dalam pendirian pesantren di beberapa tempat di Kabupaten Malang, dan beberapa lokasi lainnya. Selama pencarian beliau juga merintis dan mendirikan sekaligus mengajar berbagai madrasah, SMA Islam ataupun PGA (Pendidikan Guru Agama) sebagai guru Agama Islam dan Bahasa Arab. Sebagai bagian dari dakwah, Kyai Martain muda selalu mencoba untuk menularkan ilmu yang beliau kuasai kepada masyarakat luas. Di tanah kelahiran beliau, Desa Tambak Dono, sebuah desa di pingiran Surabaya yang berbatasan dengan Gresik, beliau juga mendirikan lembaga pendidikan Madrasah.

Selanjutnya sejarah panjang Yayasan Alhidayah Batu dimulai pada tahun 1972 ketika Kyai Martain menikahi Nyai Hajjah Muslihah dan mendirikan sebuah pondok pesantren di Kaliputih – Batu. Pesantren tersebut pada perkembangannya lebih sering disebut Pondok Kaliputih, mengambil lokasi dimana lokasi pesantren berdiri. Hal ini lazim sebagaimana pesantren-pesantren besar lainnya yang lebih dikenal dengan sebutan lokasinya seperti Pondok Pesantren Lirboyo – Kediri, Tebu Ireng dan Tambak Beras – Jombang, Langitan – Tuban, Gontor – Ponorogo, Lasem – Rembang, Krapyak – Yogyakarta, dan lain-lain.

Ketika memasuki Batu, ayah dari 8 anak dan kakek dari 4 cucu ini berbekal dari dana yang diberikan oleh orangtua beliau, seorang petani tambak yang sukses. Dari dukungan dana tersebut dan tambahan wakaf sebidang tanah di Kaliputih dari seorang warga Batu, Kyai Martain memulai pendirian pesantren pada tahun 1977. Pesantren ini terus berkembang, dan sekitar tahun 1984 pondok pesantren mulai dikembangkan menjadi sebuah yayasan dan mulai mengembangkan unit-unit pelayanan teknisnya antara lain dengan menyediakan pendidikan gratis untuk santri miskin, terlantar, dan yatim piatu. Karena terbatasnya bangunan fisik yang ada maka Pesantren Alhidayah tidak dapat menampung jumlah santri yang semakin bertambah serta pengajian-pengajian yang melibatkan ratusan jamaah dari luar Batu tidak dapat dilakukan di Alhidayah.

Oleh karenanya sejak tahun 1995 Alhidayah mulai membangun gedung asrama II di Glonggong Temas. Asrama II akrab disebut oleh masyarakat sebagai Pondok Glonggong. Perlahan tapi pasti berbagai ketertinggalan mulai dikejar. Selain asrama dan ruang kelas untuk Madrasah Diniyah, Alhidayah II mulai mengembangkan sayap pendidikan formalnya melalui dibukanya kelas-kelas Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah, dan kursus-kursus yang dianggap menjadi bekal penting santri ketika terjun ke masyarakat nantinya. Hingga saat ini ribuan alumni telah dicetak oleh pesantren ini dan menyebar ke berbagai pelosok wilayah, mulai Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, Kalimantan, Madura, Bali, Nusa Tenggara Timur, hingga Malaysia.

Kyai Martain yang memandang pendidikan sebagai unsur penting dalam mengentaskan umat dari belenggu kemiskinan selalu mengupayakan pendidikan formal bagi seluruh santri dan anak asuhnya. Seluruh santri dan anak asuh Ponpes Alhidayah wajib mengikuti pendidikan formal disamping pendidikan Islam ala pesantren salaf.

Ditengah-tengah perjuangan tersebut, tidak jarang riak gelombang menerjang. Penolakan, fitnah, kabar yang tidak sedap dan tidak berdasar adalah menjadi fitrah dari perjuangan dan makanan sehari-hari bagi Kyai Martain. Kyai pendiam namun tegas dalam pemikiran serta low profile ini bahkan tidak luput dari teror karena ketidak-senangan seseorang/kelompok dengan kiprah beliau sebagai kyai, lontaran dan tudingan tidak sedap dll. Belum lagi kebakaran hebat yang melanda pesantren pada tahun 1983, tetap tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap membina pesantren sebagai jalan dakwah dan perjuangan.

Kyai Martain mempunyai delapan putra dan putri yakni Muhyiddin (Gus Udin), Taufiqurrohman (Gus Oviex), Umi Hanik (Ning Hanik), Habib Maulana Asyik Hidayatullah (Gus Habib), Qurrota’ayun (Ning Ayun), Firman Hadi Firdaus (Gus Firman), Fathoni Amiruddin Akbar (Gus Tony), dan Fathir Hizbullah (Gus Fathir). Kelima putra-putri beliau telah mentas dan berkiprah dalam berbagai bidang mulai dari pemerintahan, wirausahawan, profesional, aktivis LSM, dan akademisi. Adapun ketiga putra beliau masih menduduki bangku kuliah dan SMA. Memasuki usia pensiun, Kyai Martain menyerahkan manajemen Pesantren Alhidayah kepada putra-putrinya. Dan untuk pengelolaan pesantren sehari-hari diamanatkan kepada Gus Habib-yakni putra keempat (Pondok Glonggong) dan Ning Ayun-putri kelima (Pondok Kaliputih).

Saat ini Kyai Martain lebih banyak aktif di Thoriqoh dan beliau menjabat sebagai Mudir atau Ketua Umum Jamiyah Thoriqoh Muktabaroh An-Nahdliyyah Jawa Timur yakni lembaga sayap otonom NU terbesar yang bergerak dibidang ilmu tasawuf (sufi). Beliau juga menjadi figur sentral di forum bahtsul masail (pembahasan masalah-masalah Islam). Ditengah kesibukan beliau dalam dakwah dan pengabdian, Kyai ini juga masih menyempatkan untuk menulis tiga kitab yakni Kitab Mahdul Atfal yang berisi tentang ilmu prama sastra Bahasa Arab, Kitab Al-Khozanah berisi tentang hadist-hadist sahih, dan Kitab Kanjus Suyuf yakni kitab yang berisi tentang kumpulan doa dan amalan-amalan.

Pemikiran-pemikiran beliau juga menjadi acuan bagi Robithotul Maahid Al Islamiyah (Ikatan Persatuan Pondok Pesantren Se-Indonesia) dalam melaksanakan kebijakannya. Selain itu beliau juga menjadi referensi utama bagi Jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) dan MUI Kota Batu dalam penetapan fatwa-fatwanya, serta masih terlibat aktif pula dalam mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan kesejahteraan sosial (K3S). Tawaran untuk turun ke gelanggang politik juga sangat deras mengalir, tapi beliau punya pilihan garis perjuangan yang sangat jelas, yaitu melalui pesantren.

Selanjutnya ditengah mulai berkurangnya ulama ahli fiqh (banyak yang meninggal dan semakin sepuh) kiprah Kyai Martain semakin besar. Kyai berpenampilan bersahaja ini mengingatkan kita pada sosok KH Ilyas Ruchiat, KH Sahal Mahfudz, atau KH Ali Ma’shum, ulama fiqh NU di masa lalu. Dalam jejaringannya, Kyai ini juga bersahabat erat dengan almarhum Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani Al Makky, seorang ulama kharismatik Mekkah yang sangat dihormati di dunia. Mendiang Syech Al-Maliki dua kali berkunjung ke Pesantren Alhidayah pada tahun 1983 dan pada tahun 1986 untuk mendukung perjuangan Kyai Martain dalam dakwah-dakwahnya. Komunikasi beliau dengan Syeh Al-Maliki sangat intens, baik melalui surat maupun telpon hingga beliau meninggal pada tahun 2003 lalu.

Akhirnya, Pesantren Alhidayah hanyalah salah satu dari sekian daftar panjang dari kiprah dan perjuangan KH Martain dalam dakwah untuk menegakkan Islam dan mengentaskan kemiskinan umat dengan mengedepankan aspek pendidikan. Perjuangan dan pemikiran-pemikiran beliau sangat inspiratif dan patut menjadi panutan bagi kita semua.