KH Mas Abdurrahman

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

KH. Mas Abdurahman adalah putra dari K. Mas Djamal Al-Djanakawi yang lahir pada tahun 1868 di Kampung Janaka, tepatnya di lereng Gunung Haseupan di Distrik Labuan Kawedanan Caringin Kabupaten Pandeglang Banten. Gelar "Mas" merupakan gelar kehormatan yang diberikan turun temurun yang berasal dari nama seorang senopati Pajajaran bernama Mas Jong dan Agus Ju. Mereka adalah tangan kanan raja Pajajaran bernama Pucuk Umun. Ketika Kerajaan Pajajaran ditaklukan oleh Sultan Maulana Hasanudin Putra Syarief Hidayatullah Sultan Cirebon, Pucuk Umun lari ke selatan, sedangkan Senopati Mas Jong dan Agus Ju menyerahkan diri kepada Sultan Maulana Hasanudin. Kemudian Mas Jong dan Agus Ju memeluk agama Islam serta mendapat kedudukanpenting sebagai senopati Kasultanan Banten dengan gelar kehormatan Ratu Bagus Ju dan Kimas Jong. Pada masa keruntuhan kasultanan Banten, para ulama/kyai dan guru agama keluarga besar kasultanan Banten meninggalkan istana masuk ke daerah pedalaman. Mereka menjauhkan diri dari keramaian kota, karena Kesultanan sudah berubah menjadi Keresidenan Banten yang dipimpin oleh seorang Residen Bangsa Belanda. Dengan berakhirnya kekuasaan Sultan Banten sebagai pusat dakwah islam, Para Ulama/Kiai, guru agama yang semula bertugas secara resmi sabagi perangkat Kesultanan, kini menjadi orang buronan yang selalu diawasi dan di kejar-kejar dianggap sabagai sumber malapetaka dan pemberontak terhadap pemerintahan Belanda, termasuk keturunan Mas Jong dan Agus Ju pergi mininggalkan istana Kesultanan masuk ke pedalaman di Lereng Gunung Haseupan tepatnya dusun Janaka dalam rangka menusun kembali kekuatan untuk bergerilya melawan Belanda, termasuk di antaranya K. Mas Djamal Al Djanakawi ayahnya KH. Mas Abdurahman. P E N D I D I K A N Walaupun K. Mas Djamal Al Djanakawi tinggal di sebuah dusun terpencil yang sukar di jangkau, namun ia memiliki perhatian dan motivasi yang tinggi terhadap masa depan putranya. Ia berfalsafah pohon pisang “bahwa ia tidak ingin meniggal dunia sebelum putranya berhasil atau memiliki bekal ilmu pengetahuan yang memadai” . Sebagaimana pohon pisang walaupun ditebang beberapa kali, tetap akan terus mengeluarkan tunasnya, setelah menghasilkan buah, baru ia rela untuk mati. Dengan dasr ilmu pengetahuan yang didapat dari ayahnya sendiri terutama pengetahuan dasar baca Al-Qur’an, selanjutnya KH. Mas Abdurahman dididik oleh orang lain untuk mendapatkan pendidikan lanjutan. Diantaranya KH. Shahib di Kampung Kadupinang. Karena jaraknya cukup jauh, sedangkan alat transportasi belum ada., satu-satunya jalan adalah di gendong ayahnya. Setelah cukup dewasa. KH Mas Abdurahman dititipkan di sebuah Pondok Pesantren Al-Qur’an yang berada di daerah Serang dibawah bimbingan KH. Ma’mun yaitu seorang guru spesialis dalam bidang Al-Qur’an. Setelah puas melihat putra-nya dapat menyelesaikan pendidikan di pesantern Al-Qur’an, beliau berangkat ke Tanah Suci menunaikan ibadah Haji, sehingga ia Wafat. Tinggalah KH. Mas Abdurahman yang di rungdung duka, ditinggalkan ayah tercinta tempat mengadu dan harapan pergi untuk selama-lamanya, tetapi peristwa ini tidak melarutkan dalam kedukaan MENUNAIKAN IBADAH HAJI Pada tahun 1905 berangkatlah KH. Mas Abdurahman ke Mekah walaupun dengan bekal hanya cukup untuk ongkos pergi saja, tetapi dengan tekad dan kemauan kuat beliau berangkat dengan tujuan disamping menunaikan ibadah haji, ia juga berniat bermukim untuk menuntut ilmu agama sekaligus berziarah ke pusara ayahandanya walaupuhn tidak jelas dimana kuburannya. Karena kuburan di sana tidak meiliki tanda yang tertulis dalam batu nisan seperti di Indonesia, namun ia merasa puas dapat berziarah secara dekat. Semua hambatan dan rintangan telah dihadapinya, baik uang saku yang terbatas maupun kondisi alam di Mekkah yang tidak sesuai dengan kondisi alam Indonesia. Negeri Mekkah pada waktu itu tergolong negeri yang masih miskin, tidak mempunyai sumber ekonomi tetap. Satu-satunya devisa yang ada adalah dari datangnya musim haji, saat itulah penduduk negeri Mekkah mendpat penghasilan untuk bekal selama satu tahun sampai datangnya musim haji berikutnya. Namun karena tekad dan keingin beliau sangat kuat tertanam dalam hatinya, segala hambatan dan rintangan serta kesusahannya dalam menuntut ilmu dapat di atasi. Selama diperantauan beliau tidak meiliki pemondokan yang tetap, tempatnya selama bermukim adalah di Masjidil Haram, baik tidur maupun belajar. Pakaianpun hanya yang melekat di badannya, apabila dicuci ditunggunya sampai kering. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya kadang-kadang ia pergi ke luar kota mencari kayu bakar untuk dijual dan hasilnya ditukar dengan beras. Karena sulitnya mendapatkan bahan makanan, beras tersebut dicampur dengan pasir , satu sendok beras berbanding satu liter pasir ditambah air yang banyak agar dikala makan dipilihlah butiran nasi satu persatu, perut jadi kenyang akibat terlalu lama memilah-milah beras dan pasir sehingga timbulnya rasa kesal memilih butiran nasi tersebut. Hal ini dilakukan hampir setiap hari selama sepuluh tahun beliau bermukim, kecuali jika musim haji tiba, beliau banyak mendapat penghasilan dari hasil mengantar jama’ah haji yang ziarah Seluruh pelajaran diikutinya dengan penuh perhatian dan ketekunan walau sarana serta peralatan menulis tidak lengkap, kebanyakan cukup hanya mendengarkan. Tetapi keberhasilan dan kemahirannya dalam menyerap ilmu pengetahuan khususnya bidang agama sangat mendalaminya, diantaranya ilmu bahasa Arab, Fiqh, Usul Fiqh, Nahu, Shorof, Balaghah, Tafsir, Ilmu Ushul, Tasawuf dll Diantara guru- guru beliau yang berasal dari Indonesia yakni, Syech Nawawi Al-Bantani, berasal dari Tanahara yang terkenal dengan kitab tafsirnya dan Syech Achmad Chotib yang berasal dari Minangkabau yang terkenal dengan Ilmu Tasyawufnya. Dengan keberhasilannya menguasai ilmu pengetahuan agama, KH. Mas Abdurahman direncanakan diangkat sebagai BADAK (asisten dosen) pengajian di Masjidil Haram, tetapi tidak berlanjut karena adanya permohonan dari para Ulama/Kyai Banten (Menes) agar beliau segera kemabli ke tanah air. Selama di Tanah suci beliau belajar bersama dengan KH. Hasyim Asy’hari dari Surabaya yang kemudian dikenal sebagai pendiri Nahdlatul ‘Ulama tahun 1926 dan KH. Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah tahun 1912 KEMBALI KE TANAH AIR Sejak para ulama/kyai meninggalkan kesultanan, masyarakat umumnya jarang sekali memperoleh kesempatan belajar menuntut ilmu agama (Islam) secara memadai. Untungnya masyarakat Banten telah memiliki jiwa keislaman yang tertancap secara mendalam, sehingga setiap keluarga merasa berkewajiban mewariskan ilmu agama secara turun temurun sekalipun masih berbaur dengan takhayul, ibadah dan syari’ah dengan bid’ah dan khurafatnya. Secara umum kondisi masyarakat Banten khususnya dari segi pendidikan memang sangat memprihatinkan, sekolah – sekolah yang dibangun oleh penjajah Belanda tidak disiapkan untuk pribumi, hanya golongan tertentu yang bisa masuk disekolah tersebut. Atas keprihatinan tersebut, para kyai mengadakan musyawarah bertempat di Kampung Kananga dipimpin oleh KH. Entol Mohammad Yasin dan KH. Tb. Mohammad Sholeh serta ulama-ulama di sekitar Menes. Akhirnya musyawarah tersebut mengambil keputusan untyuk memanggil pulang seorang pemuda bernama KH. Mas Abdurahman yang sedang belajar di Mekkah Al Mukaromah. Ia Tengah menimba ilmu Islam kepada seorang guru besar yang berasal dari Banten yakbi Syech Mohammad Nawawi Al-Bantani yang telah diakui oleh seluruh dunia Islam tentang kebesarannya sebagai seorang faqih dengan karya-karya tulisnya dalam berbagai cabang ilmu Islam. Dengan adanya keputusan tersebut, KH. Entol Mohammad Yasin segera mengirim surat beserta ongkos pulang untuk KH.Mas Abdurahman yang dititipkan melalui seseorang yang akan menunaikan ibadah haji. Sebelumnya ia menolak permintaan pulang tersebut dan berat hati meninggalkan tanah suci. Dengan menumpang kapal semprong milik Kongsi KPM beliau akhirnya KH. MAs Abdurahman kembali ke tanah air yang sebelumnya beristirahat terlebih dahulu selama tiga hari di makan Nabi Ibrahim. KH. Mas Abdurahman bin K. MAs Jamal Al-Djanakawi kembali dari tanah suci Mekkah sekitar Tahun 1910 M. Dengan kehadiran kyai muda yang penuh semangat untuk berjuang mengadakan pembaharuan Islam bersama-sama kyai-kyai sepuh, dapatlah diharapkan untuk membawa umat Islam keluar dari alam gelap gulita ke jalan hidup yang terang benderang. Sekembalinya dari tanah suci, KH. Mas Abdurahman dinikahkan dengan putrid KH.Tb. Mohammad Sholeh yakni Nyi. Enong. Selang beberapa bulan, Nyi enong beserta ibundanya diberangkatkan untuk menunaikan ibdah haji. Namun nasib malang tak dapat dihindarkan, sesampainya di pelabuhan Tanjung Priok, Nyi Enong jatuh sakit dan maut merenggutnya untuk kembali ke Illahi Robbi. Urunglah niat ibundanyapun tak jadi berangkat. Tragedi ini adalah suatu ujian bagi KH. Mas Abdurahman untuk selalu tabah dan sabar dalam mendekatkan diri kepada sang penciptaNya. Sepeninggal putrunya, KH. Tb. Mohammad Sholeh kedatangan seorang saudagar Menes yang terkenal dimasanya bernama H. Alimemohon untuk menjodohkan putrinya bernama Aminah dengan KH. Mas Abudrahman. Kiranya jodoh berada ditangan Allah, pernikahanpun telah terlaksana atas IrodatNya BERDIRINYA MATHLA’UL ANWAR Langkah pertama yang dilakukan KH. Mas Abdurahman dismaping mengadakan pengajian dan tabliq ke berbagai tempat, juga menyelenggarakan pendidikan pondok pesantren. Dengan segala keterbatasannya, pendidikan pondok pesantren dirasakan kurang sistematis, baik dalam hal sarana, dana, manajemen maupun kader mubaliq kurang dapat dihasilan. Ditambah pula dengan kondisi yang kurang aman dari berbagai pengawasan oleh Pemerintah Belanda. Maka para kyai mengadakan musyawarah di antaranya KH. Entol Mohamad Yasin sebagai kyai yang tergolong intelektual, beliau cenderung membentuk pendidikan sistem madrasah dan hl ini sependapat dengan KH. Mas Abdurahman. Beranjak dari sini, akhirnya pertemuan melahirkan kata sepakat untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang dikelola dan dan diasuh secara jema’ah dengan mengkoordinasikanberbagai disiplin ilmu terutama ilmu Islam yang dianggap merupakan kebutuhan yang mendesak. Lembaga pendidikan tersebut bukan lagi bersifat tradisional seperti pondok pesantren yang telah ada, namun harus ditingkatkan menjadi bentuk madrasah. Untuk mencapai tujuan luhur ini sudah tentu dibutuhkan tenaga ahli dalam bidangnya. Dari sekian banyak nama madrasah yang diajukan, maka musyawarah memutuskan bahwa pemberian nama lembaga pendidikan diserahkan kepada KH. Mas Abdurahman untuk melakukan “istikhoroh”. Dari hasil istikhoroh tersebut maka lahirlah nama “ MATHLA’UL ANWAR” yang mempunyai makna “ TERBITNYA CAHAYA” pada tanggal 10 Ramadhan 1334 H bertepatan dengan Tanggal 10 Juli 1916 M yang ditetapkan sebagai tanggal lahirnya Organisasi Mathla’ul Anwar. Sebagi mudir atau direktur adalah KH. Mas Abdurahman dengan presiden bistirnya KH. Entol Mohammad Yasin dari Kampung Kaduhawuk (Menes) serta dibantu oleh sejumlah kyai dan tokoh masyarakat sekitar Menes. Unutk sementara kegiatan belajar mengajar diselenggarakan di rumah KH. Mustaghfiri seorang dermawan Menes yang bersedia rumahnya digunakan untuk tempat belajar mengajar. Selanjutnya dengan modal wakaf tanah dari Ki Demang Entol Djasudin yang terletak di pinggir jalan raya, dibangunlah sebuah gedung madrasah dengan cara gotong royong oleh seluruh masyarakat Menes pada tahun 1920. Bangunan pertama ini berukuran seluas 1000 m2 (20 m x 50 m) yang samapi saat ini masih berfungsi sebagai tempat penyelenggaraan pendidikan mulai dari TK sampai Madrasah Aliyah (sederajat SMA). Gedung ini tidak lain adalah pusat perguruan Mathla’ul Anwar yang terletak di Kota Menes Pandeglang. Dari madrasah inilah mulai dihasilkan kader-kader mubaligh serta kyai dan ulama Mathla’ul Anwar ayng kemudian bergerak menyebar luaskan Mathla’ul Anwar keluar daerah pandeglang seperti ke Kabupaten Lebak, Serang, Tangerang, Bogor, Karawang sampai ke residenan Lampung. PAda Tahun 1936 jumlah madrasah MAthla’ul Anwar telah mencapai 40 madrasah yang tersebar di 7 daerah tersebut. Perhatian masyarakat terhadap Mathla’ul Anwar tidak lagi terbatas dari kalangan pelajar, tetapi kaum intelektualpun mulai berpartisipasi aktif. Dengan proses perkembangannya sangat pesat, maka timbulah gagasan-gagasan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas perkembangan organisasinya baik bersifat teknis pedagogis maupun secara administratif organisasi dan keanggotaannya. Maka pada Tahun 1936 diadakan kongres pertama Mathla’ul Anwar dengan menghasilkan keputusan-keptusan penting diantaranya : 1. Mengesahkan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) yang meliputi : dikukuhkannya Nama, Waktu dan Tempat lahirnya Mathla’ul Anwar berdasarkan Islam sepanjang tuntunan Ahli Sunnah Wal Jama’ah yang bersumberkan Al-Qur’an, Al-Hadits, Al-Ijma dan Al-Qiyas 2. Menetapkan susunan Pengurus Besar (Hoofd Bestuur) antara lain : a. KH. Entol Mohammad Yasin sebagai Ketua Umum (Presiden) b. KH.. Abdulmukti sebagai Wakil Ketua (Vice Presiden) c. E. Ismail sebagai Sekretaris Untuk terlaksananya rencana pelajaran dengan baik dan sesuai dengan ketentuan, maka diangkatlah seorang Inspektur (pengawas) yang berkedudukan di Pusat. Jabatan ini diamanatkan kepada KH. Mas Abdurahman samapi beliau wafat pada Tahun 1943 M Para Ulama dan Kyai yang termasuk pendiri Mathla’ul Anwar selain KH. Mas Abdurahman, KH. Entol Mohammad Yasin dan KH. Tb.Mohammad Sholeh juga diantaranya KH. Sulaeman, Kyai Daud, KH.Abdul Mukti, Kyai Syaifudin, Kyai Rusdi, E. Dawawi, E. Djasudin, turut pula golongan muda seperti E. Ismail dll. Perlu dicatat bahwa KH.Mas Abdurahman dan KH.Entol Mohammad Yasin merupakan “Dwi Tunggal” Adapun ulama dan kyai semasa dan satu generasi dengan KH. MAs Abdurahman diantaranya : Kyai Asnawi (Caringin), Kyai Tegal, Kyai Sugiri (Mandalawangi), Kyai Ruyani (Kadupinang), Kyai Mansyur (Jakarta) Generasi dan murid – murid pertama yang menjadi pejuang dan penerus Mathla’ul Anwar antara lain :

   KH. Mohammad Ra’is
   KH. Abdul Latif
   KH. Syafei
   KH. Uwes Abubakar
   KH. Syidik
   KH. M. Yunan
   KH.Hudori
   KH. Achad Suhaemi
   KH. Suhaemi
   K.Tb. Achmad
   KH. Moch. Ichsan

Untuk memudahkan dalam mempelajari pengetahuan agama, KH. Mas Abdurahman banyak menyusun karya-karya tulis dan kitab-kitabnya yang disusun dalam bahasa sunda diantaranya :

   Tajwid
   Tauhid
   Nahu Ajurumiyah jilid I, II, dan III
   Syaraf Taqlif
   Ilmu Balaghah/Bayan
   Djawa’iz
   Tauhfah
   Munhajulqawin

Fatwa dan pandangan KH. Mas Abdurahman terhadap pemerintah colonial Belanda adalah kafir, menerima gaji dari dari pemerintah colonial Belanda adalah haram, sampai – sampai anaknyapuntidak bolehmasuk sekolah yang didirikan oleh kolonial Belanda. Satu lagi fatwanya, jika seseorang dinikahkan oleh Naib/onder maka dianggap tidak syah dan harus dinikahkan kembali oleh kyai yang bukan pegawai colonial Belanda (disusun dari berbagai sumber dari sejarah KH. Mas Abdurahman)

Sumber: