KH Mahrus Aly

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search
KH Mahrus Aly
Kh-mahrus-aly.jpg
Lahir : Tahun 1906 M
Wafat : Hari Ahad malam Senin Tanggal 06 Ramadlan 1405 H/ 26 Mei 1985 M

Kembali ke Main Page << Nabi dan Penerusnya

Riwayat Hidup dan Keluarga

KH Mahrus Aly adalah anak bungsu dari sembilan bersaudara. Masa kecil beliau dikenal dengan nama Rusydi dan lebih banyak tinggal di tanah kelahiran. Sifat kepemimpinan beliau sudah nampak saat masih kecil. Sehari-hari beliau menuntut ilmu di surau pesantren milik keluarga.

Lahir

KH Mahrus Aly lahir di dusun Gedongan, kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, dari pasangan KH Aly bin Abdul Aziz dan Hasinah binti Kyai Said, tahun 1906 M.

Wafat

Senin, 04 Maret 1985 M, sang istri tercinta, Nyai Hj Zaenab berpulang ke Rahmatullah karena sakit Tumor kandungan yang telah lama diderita. Sejak saat itulah kesehatan KH Mahrus Aly mulai terganggu, bahkan banyak yang tidak tega melihat KH Mahrus Aly terus menerus larut dalam kedukaan. Banyak yang menyarankan agar KH Mahrus Aly menikah lagi supaya ada yang mengurus beliau, namun dengan sopan beliau menolaknya.

Hingga puncaknya yakni pada sabtu sore pada tanggal 18 mei 1985 M, kesehatan beliau benar-benar terganggu, bahkan setelah opname selama 4 hari di RS Bayangkara Kediri, beliau dirujuk ke RS Dr. Soetomo, Surabaya. Delapan hari setelah dirawat di Surabaya dan tepatnya pada Hari Ahad malam Senin Tanggal 06 Ramadlan 1405 H/ 26 Mei 1985 M, KH Mahrus Aly berpulang Ke Rahmatullah. Beliau wafat diusia 78 tahun. (al Fatihah)

Nasab Keturunan

Pendidikan

Beliau diasah oleh ayah sendiri, KH Aly dan sang kakak Kandung, Kyai Afifi. Saat berusia 18 tahun, beliau melanjutkan pencarian ilmu ke Pesantren Panggung, Tegal, Jawa Tengah, asuhan Kyai Mukhlas, kakak iparnya sendiri. Disinilah kegemaran belajar ilmu Nahwu KH Mahrus Aly semakin teruji dan mumpuni. Selain itu KH Mahrus Aly juga belajar silat pada Kyai Balya, ulama jawara pencak silat asal Tegal Gubug, Cirebon. Pada saat mondok di Tegal inilah KH Mahrus Aly menunaikan ibadah haji pada tahun 1927 M.

Suatu ketika kakaknya mengadakan lomba hafalan dan pemahaman kitab Alfiyah. Namun KH Mahrus Aly kalah dan merasa malu dengan keluarganya. Hingga akhirnya KH Mahrus Aly pergi meninggalkan rumah tanpa meminta izin kepada keluarganya, dan tentu saja membuat sedih sang ibundanya, Nyai Hasinah. Maka sepanjang hari ibunya bermunajat kepada Allah agar anaknya yang meninggalkan rumah dan keluarganya dijadikan ulama yang alim.

Di tahun 1929 M, KH Mahrus Aly melanjutkan ke Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah asuhan KH Kholil Kasingan. Setelah 5 tahun menuntut ilmu di pesantren ini (sekitar tahun 1936 M) KH Mahrus Aly berpindah menuntut ilmu di PP Lirboyo, Kediri. Karena sudah punya bekal ilmu yang mumpuni KH Mahrus Aly berniat tabaruqan di PP Lirboyo. Namun beliau malah diangkat menjadi Pengurus Pondok dan ikut membantu mengajar.

KH Mahrus Aly dan Pesantren Lirboyo

Tak puas dengan bekal ilmu yang dimiliki, KH Mahrus Aly meminta izin kepada ibunya untuk menimba ilmu di PP Lirboyo. Karena sudah punya bekal ilmu yang mumpuni KH Mahrus Aly berniat tabarukan di PP Lirboyo. Namun beliau malah diangkat menjadi pengurus pondok dan ikut membantu mengajar.

Bermula pada tahun 1936 KH Mahrus Aly belajar di Lirboyo di bawah asuhan KH Abdul Karim. Melihat kecerdasan yang dimiliki KH Mahrus Aly membuat gurunya terkagum-kagum dan jatuh hati pada KH Mahrus Aly.

Selama nyantri di PP Lirboyo, beliau dikenal sebagai santri yang tak pernah letih mengaji. Jika waktu libur tiba maka akan beliau gunakan untuk tabarukan dan mengaji di Pesantren lain, seperti PP Tebuireng Jombang, asuhan KH Hasyim Asy’ari. Pondok Pesantren Watu congol, Muntilan, Magelang, asuhan Kyai Dalhar dan juga pondok pesantren di daerah lainnya seperti; Pesantren PP Langitan Widang Tuban, Tuban, Pesantren Sarang dan Lasem, Rembang.

KH Mahrus Aly mondok di Lirboyo tidak lama, hanya sekitar tiga tahun. Namun karena alimnya kemudian KH Abdul Karim menjodohkan dengan salah seorang putrinya yang bernama Zaenab, tahun 1938 M. Pada tahun 1944 M, KH Abdul Karim mengutus KH Mahrus Aly untuk membangun kediaman di sebelah timur komplek pondok.

Sepeninggal KH Abdul Karim KH Mahrus Aly bersama KH Marzuqi Dahlan meneruskan tampuk kepemimpinan PP Lirboyo. Di bawah kepemimpinan mereka berdua, kemajuan pesat dicapai oleh PP Lirboyo. Santri berduyun-duyun untuk menuntut ilmu dan mengharapkan barokah dari KH Marzuqi Dahlan dan KH Mahrus Aly. Bahkan di tangan KH Mahrus Aly lah, pada tahun 1966 lahir sebuah perguruan tinggi yang bernama IAIT (Institut Agama Islam Tribakti).

Lirboyo sendiri diambil dari nama sebuah desa yang terletak di Kecamatan Mojoroto Kotamadya Kediri Jawa Timur. Di desa inilah telah berdiri hunian atau pondokan para santri yang dikenal dengan sebutan Pondok Pesantren Lirboyo. Ponpes Lirboyo sendiri berdasarkan catatan, berdiri pada tahun 1910 M. Dalam perjalanan sejarahnya, PP Lirboyo juga turut membantu pergerakan melawan penjajah kolonial Belanda.

Sanad Keilmuan

Para Guru

1. Kyai Mukhlas

2. Kyai Balya

3. KH Kholil Kasingan

4. KH Hasyim Asy’ari

5. Kyai Dalhar

6. KH Abdul Karim

Silsilah Keilmuan dari para Imam

Penerus Beliau

Murid

Keturunan

Jasa dan Karya Beliau

Memperjuangkan Kemerdekaan

PP Lirboyo merupakan pondok pesantren yang memiliki sejarah panjang dan memiliki peran besar dalam sejarah memperebutkan kemerdekaan Indonesia. Ponpes ini juga memiliki kisah perjuangan yang melegenda saat awal kemerdekaan. Pada medio September 1945 disebutkan, tentara sekutu datang ke Indonesia dengan menggunakan nama tentara NICA. Hal itu lalu membuat para kiai HBNU (sebelum PBNU) memanggil seluruh ulama di Jawa dan Madura membicarakan hal ini di kantor HBNU Jalan Bubutan, Surabaya.

Dalam pertemuan itu para ulama mengeluarkan resolusi Perang Sabil, yaitu perang untuk melawan Belanda dan kaki tangannya dengan hukum fardhu a'in. Rupanya keputusan inilah yang menjadi motivasi para ulama dan santrinya untuk memanggul senjata ke medan laga, termasuk Pesantren Lirboyo.

Tepat pada jam 22.00 berangkatlah para santri PP Lirboyo sebanyak 440 menuju ke tempat sasaran di bawah komando KH Mahrus Aly

dan  Mayor H Mahfudz. Sebelum penyerbuan dimulai, seorang santri yang bernama  Syafi’i  Sulaiman yang pada waktu itu berusia 15 tahun  menyusup ke dalam markas Dai Nippon yang dijaga ketat. Maksud tindakan itu adalah untuk mempelajari dan menaksir kekuatan lawan. Setelah penyelidikan dirasa sudah cukup,  Syafi’i  segera melapor kepada KH Mahrus Aly dan Mayor H Mahfudz.

Saat-saat menegangkan itu berjalan hingga pukul 01.00 dini hari dan berakhir ketika Mayor Mahfudz menerima kunci gudang senjata dari komandan Jepang yang sebelumnya telah diadakan diplomasi panjang lebar. Dalam penyerbuan itu, gema takbir “Allahu Akbar” berkumandang menambah semangat juang para santri.

Saat datangnya Jenderal AWS Mallaby pada tanggal 25 Oktober 1945 di Pelabuhan Tanjung Perak, stabilitas kemerdekaan mulai nampak terganggu terutama di daerah Surabaya. Terbukti pada tanggal 28 Oktober 1945, para tentara sekutu ini mulai mencegat pemuda di Surabaya dan merampas mobil milik mereka. Puncaknya adalah mereka menurunkan bendera merah putih yang berkibar di Hotel Yamato dengan bendera Belanda.

Selang beberapa lama, Mayor H. Mahfudz melapor kembali kepada KH Mahrus Aly di Lirboyo bahwa tentara sekutu yang memboncengi Belanda telah merampas kemerdekaan dan Surabaya banjir darah pejuang. Maka KH Mahrus Aly mengatakan bahwa kemerdekaan harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan. Kemudian KH Mahrus Aly mengintruksikan kepada santri Lirboyo untuk berjihad kembali mengusir tentara Sekutu di Surabaya. Hal ini disampaikan lewat Agus Suyuthi maka dipilihlah santri-santri yang tangguh untuk dikirim ke Surabaya.

Dengan mengendarai truk, para santri di bawah komando KH Mahrus Aly berangkat ke Surabaya. Meskipun hanya bersenjatakan bambu runcing, mereka bersemangat berjihad menghadapi musuh. Santri yang dikirim waktu itu berjumlah sebanyak 97 santri. Peristiwa itu belakangan dikenal dengan perang 10 November. Hal ini juga yang menjadi embrio berdirinya Kodam V Brawijaya. Selain itu KH Mahrus Aly juga berkiprah dalam penumpasan PKI di sekitar Kediri.

KH Mahrus Aly juga mempunyai andil besar dalam perkembangan jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Bahkan beliau diangkat menjadi Rois Syuriyah NUJawa Timur selama hampir 27 tahun, hingga akhirnya diangkat menjadi anggota Mutasyar PBNU pada tahun 1985 M.

Mahrus Ali (Lirboyo-Kediri) dan As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki (Mekkah), saat kunjungan beliau ke Pondok Pesantren Lirboyo-Kediri tahun 1981 M.

Kisah Teladan Beliau

Mesin politik Orde Baru untuk mengokohkan kekuasaannya adalah Golkar. Dan NU adalah partai terbesar (1971) yang diangap sebagai penghalang utamanaya. Apapun caranya, Golkar harus menjadi partai besar, tiada tandingan. Dan oleh karena itu, NU harus dikerdilkan, apapun caranya. Seluruh aparat pemerintah baik sipil maupun militer berusaha menggolkarkan apa saja, utamanya NU.

Adalah KH Mahrus Aly, Rais Syuriah NU Jawa Timur dan pimpinan pesantren Lirboyo Kediri, yang diincar Golkar. Para pejabat tinggi negara berdatangan ke pesantren itu. Laksamana Sudomo termasuk pejabat yang awal-awal dating, dan tidak baen-baen, dia ke Lirboyo membawa mobilbaru, untuk dihadiapkan KH Mahrus Aly.

Sang kiai mau menerima mobil itu, asal tanpa syarat. Mobil diberikan tanpa syarat apapun. Tapi suatu ketika pejabat setempat mulai neko-neko ngajak sang kiai masuk Golkar. Maka kiai Lirboyo asal Cirebon itu mengancam akan mengembalikan mobil pemberian Sudomo. Akhirnya KH Mahrus Aly tak dipaksa masuk Golkar.

Golkar ngotot. Dicari cara lain dan kasar. Suatu ketika pemerintah memberikan sumbangan aliran listrik untuk penerangan pesantren dan jalan ke Lirboyo. Tapi, menjelang peresmian instalasi listrik itu dipasanglah bendera Golkar sepanjang jalan menuju pesantren. Tentu saja Kiai Mahrus protes mendatangi Kamtib setempat dengan mengatakan:

“Pemasangan listrik ini merupakan sumbangan dari pemerintah bukan Golkar, karena itu bendera Golkar harus dicopot. Kalau pimpinan Golkar tidak mau mencopot, biar para santri yang mencabuti.”

Pihak Kamtib menjawab, “Kalau begitu ya sudah Kiai, bisa-bisa nanti listriknya tidak jadi disambung.” “Kalau listriknya tidak jadi dipasang, silahkan pohon-pohon yang sudah ditebang sepanjang jalan itu dihidupkan kembali,” blas KH Mahrus Aly.

“Wah! Susah bagaimana bisa menghidupkan pohon. Ya kiai, listrik akan tetap disambung dan tetap akan diresmikan oleh para pejabat,“ jawab Kamtib.

Penolakan para kiai terhadap Golkar bukan sikap yang apriori, tapi berdasarkan pengalaman banyak kiai dan warga NU yang diintimidasi, disiksa, dimasukkan penjara bahkan ada yang dibunuh. Ketika Golkar makin agresif dalam menggolkarkan kiai, beberapa Kiai NU seperti Kiai Mustain Ramli Jombang sudah masuk Golkar, juga ada beberapa Kiai NU di jawa Tengah sudah masuk Golkar.

Di Indramayu, Jawa Barat, tokoh NU disiksa, beberapa rumah dan masjid dirusak Angkatan Muda Siliwangi. Intimidasi terjadi merata di kantong-kantong santri, dari Brebes Jawa Tengah hingga Situbondo, Jawa Timur, dari Bekasi hingga Banten.

Untuk menghadapi agresivitas Golkar itu, KH Mahrus Aly saat itu berpesan, “Ojo sampek anak turunku mlebu Golkar sampe pitung turunan, nek sampek ning Golkar maka tidak akan panjang umur (jangan sampai keturunanku masuk Golkar sampai tujuh turunan, kalau sampai masuk Golkar maka tidak akan panjang umur).”

Kemudian kiai Lirboyo yang lain juga berpesan, “Poro santriku tak pesen ojo melu-melu Golkar” (para santriku jangan ikut-ikutan Golkar). Peringatan diberikan karena saat itu sedang galak-galaknya Golkar mengintimidasi para tokoh dan warga NU.

Namun demikian KH Mahrus Aly menasehatkan pada para santrinya agar tetap mengetahui arah politik sebagaimana dikatakan dalam sebuah kaidah campuran Jawa Arab, “Man lam ya’rif politik akalaahul politik (barang siapa tidak mengetahui politik, maka akan dimakan politik).”

Memang kebanyakan para kiai menjadi politisi NU. Dengan prinsip yang ditanamkan kiai seperti itu maka pesantren pada umumnya menjadi benteng NU dan benteng ajaran ahlussunnah yang sangat kokoh. (Abdul Mun’im DZ, disadur dari buku Biografi Para Kiai Lirboyo, dan beberapa sumber lainnya)

Sumber : http://mbakdloh.wordpress.com/2011/04/18/bagaimana-kiai-mahrus-menghadang-golkarisasi/

Karomah Kewalian

Kiai Mahrus Ali Menghentikan Hujan

Diriwayat kan oleh Gus Anwar Iskandar ketua tanfidziyah NU kodya Kediri.Bahwa KH Mahrus Aly adalah seorang ulama karismatik dikalangan nu yang memiliki karomah.

Alkisah,gedung-gedung IAIT (Institut Agama Islam Tribakti) akan diresmikan penggunaannya ,ribuan santri ulama dan pejabat memenuhi kampus ,beberapa santri berdiri membentuk pagar menyambut Menteri Agama.

Akan tetapi suasana berubah ,langit kediri yang pagi itu cerah mendadak mendung dan kemudian hujan pun turun.Sementara itu Menteri Agama sudah berada di Kediri,istirahat sejenak di kantor Walikota .Panitia tampak gundah,seiring dekatnya waktu peresmian ,hujan semakin deras. Lain halnya dengan KH Mahrus Aly,beliau justru keliatan tenang .mendengar rombongan Menteri Agama menuju kampus,beliau penuh dengan percaya diri maju ke panggung.

Para santri ,mari kita mengangkat tangan ,berdoa kepada Allah .kita minta, agar hujan dihentikan pinta beliau. Beliau kemudian berdoa dan hadirin mengamini,tidak lebih dari 5 menit ,hujan tiba-tiba berhenti .Langit Kediri kembali cerah,seiring itu,rombongan Menteri Agama sampai ditempat acara.

Kurang lebih 1 jam ,acara peresmian berlangsung ,Menteri Agama meletakkan batu pertama pembangunan Musholla kampus .Usai acara diiringi sholawat Nabi ,rombongan bertolak kembali ,ke balai kota Kediri .hadirin belum sempat angkat kaki ,hujan deras tiba-tiba krmbali mengguyur kota Kediri yang tadi cerah sebentar.

Pembicaraan santri Lirboyo bukan lagi tertuju gedung baru kampus,atau pidato menteri,namun ihwal hujan yang sempat tertahan oleh doa beliau ,bagi santri baru ,peristiwa itu sungguh menakjubkan ,peristiwa itu membuat santri baru kagum dan hormat kepada pengasuhnya,akan tetapi ,bagi Kiai Halimi ,kisah seperti itu bukanlah hal baru.

Itu peristiwa untuk kesekian kalinya yang saya lihatkata Kiai yang puluhan tahun mendampingi beliau .Kyai Halimi menuturkan,ada doa khusus, untuk menunda hujan yang biasa dibaca beliau.

Sumber : Berbagai Sumber.