KH Imam Faqih Asy’ari

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Masa Kanak-Kanak

Ikhtiyar Kedua Orang Tua Beliau

Hidup itu perjuangan dan pengabdian…………………!

Terkadang betapa jauh kenyataan ini dibanding dengan angan-angan belaka. Dalam mewujudkan kenyataan, banyak hal yang harus dilakukan. Bahasa yang sering digeluti santri “Harus Riyadloh” bahkan kadang kala orang tua yang harus meriyadlohi. Namun pada akhirnya kata seorang santri ”itulah taqdir ilahi” atau kata orang “yaaa………..itulah nasib”. Memang itulah hidup, merupakan kenyataan bukanlah sekedar impian belaka.

Beliau KH. Imam Faqih Asy’ari adalah seorang yang berhasil dalam hidupnya, alim arif dan bijaksana dalam segala langkahnya, sudah semenjak kecil beliau diberi nama Imam Faqih, lahir di sebuah desa yang tak jauh dari kota Pare, tepatnya di desa Tertek kecamatan pare kabupaten kediri. Beliau lahir pada hari Senin legi tanggal 01 Januari 1917 M Bertepatan pada tanggal 07 Robiul awal 1335 H. di tengah–tengah lingkungan yang alami, keluarga yang islami, penuh dengan kesederhanaan pada kehidupan kedua orang tua beliau, bukan kesederhanaan karena tidak punya harta sama sekali atau keterpaksaan sebagaimana pola hidup yang sering kita lihat.

Memang kedua orang tua beliau yang bernama H. Asy’ari dan Nyai Hj. Halimah itu selalu dalam kesederhanaan. Hal ini beliau lakukan dalam rangka meriyadlohi putra-putri beliau. Beliau setiap harinya selalu bepuasa kecuali hari-hari yang diharomkan. Suatu hal yang sangat sensitif sekali, bahkan perlu dicatat bahwa beliau bapak H. Asy’ari sangat mencintai Kyai atau Ulama’. Ini diwujudkan ketika sudah memiliki dua putra.

Beliau berdua setiap hari Kamis atau Sabtu selalu berusaha mengikuti pengajian di Pondok Jampes, Kediri. Itu semua dilakukan dengan istiqomah dan semangat. Yang kala itu Pengasuh Pondok Jampes adalah beliau Kyai Dahlan. Dan setelah beberapa waktu beliau Kyai Dahlan melihat pada bapak H. Asy’ari dengan merasa iba. Tak lama kemudian beliau menyuruhnya untuk mengaji di PP. Darul Hikam Bendo Pare yang diasuh oleh Kyai Khozin yaitu ayah Kyai Hayat. Hal yang perlu diperhatikan juga, bila Pondok Jampes dan Bendo mengadakan khotaman, beliau berdua selalu menghadirinya serta mereka datang dengan kendaraan andong (Dokar) dengan membawa beberapa oleh-oleh. Dari sinilah kita bisa melihat betapa sungguh-sungguhnya kedua orang tua KH. Imam Faqih Asy’ari yang sangat khidmat dan hormat kepada Kyai atau Ulama’.

Dalam kehidupan bapak H. Asy’ari dan Ibu Hj. Halimah dikaruniai enam putra, yaitu:

Hj. Umi Kultsum, yang bertempat di Kalen, Wates, Kediri.

Bapak Syahid, yang bertempat di Genukwatu, Sekoto, Badas, Kediri.

Hj. Fatimah, yang bertempat di Tertek, Pare, Kediri.

KH. Imam Faqih Asy’ari. yang bertempat di Sumbersari, Kencong, Kepung, Kediri.

KH. Masyhadi, yang bertempat di Junggo, Ngoro, Jombang.

Ning Ruqoyyah, beliaulah saudara bungsu KH.Imam Faqih Asy’ari yang kembali ke rohmatulloh pada usia muda, yaitu ketika mondok di Tegalsari, Tulungrejo, Pare, Kediri, pada saat pulang tepat 24 hari berada dirumah, beliau dipanggil Alloh SWT.

Dari keenam saudara itulah, beliau KH.Imam Faqih Asy’ari memulai karir dalam kehidupannya. Semenjak kecil beliau KH.Imam Faqih Asy’ari sudah dididik oleh kedua orang tuanya dengan berbagai disiplin ilmu agama terutama tentang membaca Al-Qur’an dan Al-Barzanji. Bahkan tak cukup hanya didikan oleh kedua orang tua beliau, disamping masih mengaji pada Kyai Danuri, Semanding, Tertek, Pare, Kediri. Pada saat itu beliau belum dikhitan, namun sudah tampak ketekunan dan kegigihannya dalam menuntut ilmu agama.


Mulai Belajar Di Tebuireng Jombang

Pada hari Kamis Pon Tanggal 01 Januari 1925 M. Bertepatan tanggal 05 Jumadil Akhir 1343 H. ketika beliau berusia delapan tahun yang dalam keadaan belum khitan, beliau sudah mulai mendalami berbagai ilmu agama. Dengan tekat yang kuat beliau mondok ke Tebuireng, Jombang, di bawah asuhan KH. Hasyim Asy’ari.

Pada saat itu Pondok Tebuireng sudah menunjukkan adanya sistem pendidikan yang sudah maju. Terbukti dengan sudah adanya sistem Pendidikan Madrasah (Klasikal), dan pengajian Weton. Kedatangan beliau KH. Imam Faqih Asy’ari ditemani saudari kandungnya, yaitu Nyai Hj. Fatimah yang berusia sepuluh tahun. Sesampainya di Tebuireng beliau bertempat di Ndalem K. Alwi adik KH. Hasyim Asy’ari. Dalam pergaulan di pondok pesantren Tebuireng, beliau ditemani oleh bapak Muhsin putra dari Bapak H. Anwar, Tertek, Pare, Kediri. Setelah beliau KH.Imam Faqih Asy’ari bertempat di ndalem K. Alwi, dengan penuh kesungguhan beliau langsung masuk ke Madrasah Salafiyah Syafi’iyyah Tebuireng dimulai dari:

³ Shifir Awal.

³ Shifir Tsani.

³ Kelas I – V Ibtida’iyyah.

Ketika Beliau memasuki Shifir Tsani yang saat itu sudah diajarkan Ilmu Tajwid juga pelajaran yang sederajat, beliau masih tergolong anak-anak, Maka dalam kebutuhan kesehariannya beliau masih menggantungkan pada kakak perempuannya yaitu Nyai Hj. Fatimah yang juga sama-sama mondok di Tebuireng.


Kegiatan yang dilakukan dan Pelajaran Yang Di Tempuh di Pondok Tebuireng

Sistem kelas di pesantren Tebuireng sudah cukup rapi sekali, mulai dari pelajaran Fiqih di kelas IV Ibtida’iyah yaitu Tahrir, kelas V Ibtidaiyah yaitu Fathul Wahab. sehingga santri-santri tamatan Tebuireng sudahlah sangat mumpuni.

Aktivitas Madrasah Salafiyah Assyafi’iyah di mulai pukul 08.00 wist. sampai pukul 12.00 wist (masuk pagi). Kemudian setelah Ashar mengaji ke Khadrotus Syaih Hasyim Asy’ari, ba’da maghrib semua santri harus mengaji kepada guru masing-masing yang berada di Pondok Tebuireng, sistem ini atas perintah langsung KH. Hasyim Asy’ari. Disamping itu beliau KH. Imam Faqih Asy’ari juga turut mengaji kepada para guru, karena beliau menyadari bahwasanya memang begitulah kebiasaan santri, selain itu KH. Imam Faqih Asy’ari mengaji kepada KH. Mahfudz Anwar (Pengasuh Pondok Seblak, Jombang), sekaligus menekuni kitab Al ‘Amriti hingga tamat. Hal ini juga atas bimbingan KH. Mahfudz Anwar. Memang perlu menjadi catatan, proses belajar mengajar di Tebuireng cukup baik, artinya hubungan antara guru dan santri sangat akrab sekali, sehingga terbina toleransi yang kreatif.

Pembatasan jumlah murid dalam satu kelas pada waktu itu belum ada, sehingga murid yang diajar oleh KH. Mahfudz Anwar kurang lebih ada seratus Murid. Yang di dalamnya ada beliau KH. Imam Faqih Asy’ari.

Sungguh merupakan keuntungan yang sangat besar, dalam seusia itu sudah mendapatkan pendidikan berbagai disiplin Ilmu Agama di Pondok Pesantren Tebuireng atas asuhan KH. Hasyim Asy’ari, juga didukung keistimewaan beliau yaitu aktif (sregep), mempeng ngaji dan sekolah, serta tidak aneh- aneh dalam tingkah laku. Sedangkan yang paling istimewa beliau dikenal sebagai santri yang aktif ngaji dan sekolah.

Perjalanan beliau antara Tebuireng–Pare sangat mudah sekali, cukup dengan kereta api. maka tidak terasa sampailah kurang lebih enam tahun lamannya sudah menamatkan kelas lima Ibtidaiyah Tebuireng. Dalam jangka waktu itu beliau merasa dituntut untuk meneruskan mondoknya ke tempat lain, begitu juga teman–teman yang lain ada yang pindah pondok ada yang tetap di Tebuireng. Pondok pesantren yang beliau tuju adalah pondok pesantren Lirboyo, Kediri. Setelah beliau pindah ke pondok pesantren Lirboyo, Kediri. Tidak begitu lama di pondok pesantren Tebuireng ditambah satu tingkatan lagi yaitu kelas enam Ibtidaiyah.


Nyantri di Lirboyo

Tepat pada tahun beliau menuju pondok Lirboyo, dengan dibarengi masa perkembangan kepribadian, maka langkah pertama adalah memulai aktif matla’ah, mempeng ngaji dan tidak aneh-aneh terus berjalan.

Tidak begitu lama kurang lebih tujuh bulan, dengan kedatangan beliau KH. Imam faqih, madrasah di Lirboyo menjadi stabil dan berkembang. Bermula dari panggilan K. Jauhari (Ayah Gus Ma’sum) yang memberi tugas kepada beliau agar menjadi guru di Lirboyo. Kata K. Jauhari,” kowe saiki kudu mulang moco lan nulis marang bocah-bocah cilik iku” (faqih ……kamu sekarang harus mengajar membaca dan menulis kepada anak–anak kecil itu)., sekaligus mendirikan lembaga pendidikan yang berbentuk Madrasah. Hal ini bukan berarti beliau merupakan pendiri awal Madrasah di Lirboyo, beliau hanya sebagai orang pertama yang menstabilkan dan mengefektifkan lagi lembaga Madrasah di Lirboyo hingga berkembang, karena sebelumnya Madrasah di Lirboyo sudah didirikan sebanyak tujuh kali, namun begitu didirikan terus mati, dengan berbagai macam sebab.

Sebagai seorang santri yang punya rasa hormat kepada orang tua dan tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. ketika diangkat menjadi guru, beliau langsung pulang pamitan dan sungkem kepada orang tuanya, setelah itu langsung kembali lagi ke pondok Lirboyo.

Pada hari Ahad Kliwon 01 Januari 1933 M. Bertepatan 05 Romadlon 1351 H. beliau KH. Imam Faqih secara resmi telah menjadi pengajar di Lirboyo dengan murid sebanyak 40 Murid. Jenjang tingkatan dan sebagian matapelajaran di Madrasah Lirboyo oleh kyai Imam Faqih disamakan dengan Madrasah Salafiyyah di Tebuireng. Misalnya pelajaran pokok kelas II Ibtida’iyyah : Tasrifan, Kelas III Ibtidaiyyah Al Amrithi, kelas IV Ibtidaiyyah : Alfiyyah Ibnu Malik awwal, kelas V Ibtidaiyyah : Jauharul Maknun dan Alfiyyah Tsani.

Menurut cerita K. Damari (Grogol), bahwa KH Imam Faqih adalah searang figur guru yang sangatlah telaten. Kata beliau: Belum pernah ditemukan seorang yang telaten seperti beliau……! dimana dalam mengajar Al-Imrithi, Alfiyyah, Jauharul Maknun dilanjutkan Uqudul Juman semuanya dengan sistem imla’ Setiap sembilan atau sepuluh bait terus diberi makna gandul, pada keesokan harinya setiap murid berdiri disamping beliau untuk hafalan. Proses seperti ini terus dijalankan setiap hari, bukti lagi ketelatenan dalam mengajar beliau sering memberi ta’liq (berbahasa arab). satu usbuk sekali buku-buku dari murid-murid dikumpulkan, biasanya pada waktu dikumpulkan beliau meniliti makna dan cara memahami, kerapian dan seterusnya. Pada hari Sabtu bukunya dikembalikan pada murid.

Sifat yang dimiliki oleh beliau adalah tekun sekali mengaji dan nderes, bahkan sering membacakan kitab pada santri lain. Namun demikian beliau masih mengikuti pengajian Mbah K. Manaf. Padahal wiridan Mbah Manaf jarang kitab yang besar, misalnya Fathil Qorib, Alfiyyah, dan Dalailul Khoirot setelah Ashar. Maka dengan ketekunan dan ketelatenan beliau KH. Imam faqih hingga tak sempat ngobrol/jagongan (bicara yang tidak bermanfaat).

Beliau juga terkenal sebagai seorang santri yang dermawan, terbukti ketika beliau mendapat kiriman dari rumah terus memerintahkan khodamnya untuk mengambil tiga dandang yang besar-besar guna memasak nasi. Setelah masakan matang sebanyak 21 murid diajak makan bersama-sama. Beliau juga sangat memperhatikan murid-muridnya sehingga semua nama murid sampai orang tuanya bahkan alamatnyapun beliau ketahui, yang demikian ini dibarengi dengan sifat ramah tamah dan penuh keakraban.

Dikala beliau KH. Imam Faqih ikut menangani madrasah di pondok Lirboyo pelajaran yang tertinggi adalah Jauharul Maknun, bertepatan juga pada saat itu beliau mengajar Jauharul Maknun. Jumlah murid yang saat itu dipegang beliau kurang lebih 25 murid. setelah khatam Jauharul Maknun sebanyak 21 murid meminta beliau untuk melanjutkan kitab Uqudul Juman. Maka setiap murid mengumpulkan sebanyak 50 sen, untuk membeli papan tulis, meja, kursi dan kitab ‘uqudul juman, bahkan diceritakan beliau belum pernah mempelajari kitab uqudul juman. Dalam usaha mengkhatamkan kitab tersebut beliau hanya membutuhkan waktu 18 bulan, sekaligus cara pengajaran seperti pengajaran yang lain.

Saat mengajar ‘Uqudul Juman muridnya kebanyakan sudah menjadi guru. Ada yang mengajar Al-Amrithi, ada yang mengajar Al Fiyyah Ibnu Malik bahkan ada yang mengajar Jauharul Maknun. Walaupun begitu sistem yang dipakai beliau tetap sistem hafalan, dan setiap bulannya diadakan setoran. Proses ini bejalan sampai khotam. Sehingga yang mampu mengkhatamkan ‘Uqudul Juman tinggal sebelas murid. Seperti : Mabah Sholeh (Blitar), Mbah Mad (Slumbung, Ngadiluwih, Kediri), bapak Jufri Trenggalek (yang ngemong KH. Ali Shodiq pada saat mondok di Lirboyo) dan sebagainya. Sedangkan sebagai akhir kegiatan beliau di Lirboyo adalah membacakan kitab “Shohih Bukhori”.

Masa Pelaksanaan Sunnah Rosul dan Perjuangan Di Jombangan

Setelah dirasa cukup di Lirboyo Kediri tepat pada hari Kamis Pahing 01 januari 1942 M. Bertepatan pada tanggal 13 Dzulhijjah 1360 H. beliau KH. Imam Faqih Asy’ary pulang dari Lirboyo untuk mengabdikan diri di kampung halamannya. Kurang lebih lima hari dari kepulangannya beliau menjalankan Sunnah Rosul dengan putri bapak K. Abu Amar pengasuh pondok pesantren Miftahul Ulum Jombangan, Tertek, Pare, Kediri.

Dari pernikahan tersebut, beliau dikaruniai beberapa putra dan putri yaitu :

Nyai Hj. Saudah Menikah dengan KH Roziqin Pengasuh Pondok Pesantren Darun Najah Bulurejo Damarwulan Kepung Kediri KH. Hudlori menikah dengan Nyai Hj.

Mahmudah Pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Kapasan Kandangan Kediri

Nyai Hj. Fathiyah menikah dengan KH Sholihan Pengasuh Pondok Pesantren Roudlus Salam Kebonwangi Kandangan Kandangan Kediri

Nyai Hj. Sholihatin menikah dengan KH Zaini Khudlori pengasuh Pondok Pesantren Darul Falah Balongsari Krecek Badas Kediri

KH Ahmad Zainuri menikah dengan Nyai Hj. Siti Lathifah pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Kencong Kepung Kediri

Nyai Hj. Roihanah menikah dengan KH Asyrofi Abi Yusa’ Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hidayah Sumbersari Kencong Kepung Kediri

Nyai Hj. Maslihah menikah dengan KH Abi Musa Asy’ari Pengasuh Pondok Pesantren Darul Qur’an Sumbersari Kencong Kepung Kediri

Hanik Mahmudah ( meninggal dunia pada usia 10 tahun karna sakit)

Setelah resmi menjadi menantu K. Abu Amar, beliau mendapat kepercayaan penuh dari mertuanya untuk membantu pelaksanaan pendidikan di Jombangan. serta tak lama setelah mendapat kepecayaan itu, beliau mendirikan Madrasah, walaupun sebelumnya di Jombangan sudah ada Madrasah, namun khusus untuk anak-anak kecil. Dengan kedatangan beliau KH. Imam Faqih Asy’ari Madrasah di jombangan semakin stabil, tertib dan semakin maju. Dengan sistem pendidikan Madrasah masuk sore.

Beliau bukan hanya membantu di Madrasah saja, namun juga membantu proses pelaksanaan pengajian kitab kuning, sehingga tampak lebih maju dan berkembang. Dalam tempo waktu empat setengah tahun membantu di jombangan beliau menginginkan untuk “Nasyrul Ilmi Waddin“ di daerah lain maka dengan pertimbangan dan arahan dari mertuanya dipilihlah sebuah desa yang masih murni dan sepi dari kemajuan yaitu Sumbersari, Kencong, Kepung, Kediri, Jawa Timur.


Kedatangan KH. Imam Faqih Asy’ari di Sumbersari

Sewaktu beliau datang ke Sumbersari, keadaan kampung tersebut sangatlah sepi yang hanya didiami oleh dua keluarga yaitu keluarga K. Nur Aliman dan K. Iskandar serta rumah bangunan untuk para santri. Dengan demikian, hijrahnya beliau KH. Imam Faqih sangat beruntung sekali, dimana saat perpindahan itu dihadiri oleh Ulama’ besar, yaitu K. Khozin dari Bendo, Pare, Kediri. (Ayah dari Kyai Hayat ) yang ikut mendoakan dan merestuinya.

Sebuah rumah yang berada di tengah–tengah tegalan di selatan Masjid itulah, beliau yang diikuti dua belas santri dari Jombangan tepatnya hari Sabtu Kliwon tanggal 13 maret 1948 M. Bertepatan 02 Jumadil Ula 1367 H. mulai membuka Madrasah untuk melanjutkan Nasyrul Ilmi Waddinnya. Dua belas santri tersebut adalah :

Mukhtar berasal dari Bondo, Jajar, Wates, Kediri

Abdul Karim berasal dari Kirek, Badas, Badas, Kediri.

Damamini berasal dari Ngaglik Kandangan Kediri.

Hamim berasal dari Bunut, Tunglur, Badas, Kediri.

Sirojuddin berasal dari Sidomulyo, Puncu, Kediri.

Baidlowi berasal dari Lamong, Badas, Kediri.

Adzro’i berasal dari Semanding, Tertek, Pare, Kediri.

Thoha berasal dari Tawang, Gedangsewu, Pare, Kediri.

Abdul Shomad berasal dari Pujon, Malang

Rofi’i berasal dari Kemirahan, Damarwulan, Kepung, Kediri.

Dawami berasal dari Bojonegoro.

Husni Waluyo berasal dari Klampisan, Kandangan,Kediri.

Selanjutnya menurut K. Mukhtar yang beliau termasuk salah satu santri pertama, menuturkan, bahwa selain dua belas santri diatas masih ada satu santri lagi yaitu Wajidi / H.Marzuqi berasal dari Pogar Tunglur Badas Kediri.

Dengan bekal sejumlah santri tersebut, beliau memulai sistem pendidikan klasikal, namun pada umumnya hanya dibuka kelas empat dan lima Ibtidaiyyah. Dalam pelaksanaan pendidikan ini belum ada tempat yang kokoh. Kala itu kediaman beliau masih berupa rumah kecil yang berdinding bambu dan sebelah baratnya ada bangunan yang tak berdinding (kandang gedeg). Dan tempat ini merupakan tempat pendidikan setiap hari sebagai ajang menuntut ilmu. Mengingat situasi yang seperti itu, para santri tidak tinggal diam, mereka berusaha memperbaiki keadaan lokal pendidikan.

Searah dengan perjalanan waktu, sekitar kurang lebih lima bulan, telah didirikan bangunan baru yang dibilang baik. Setelah beberapa bulan madrasah berjalan, maka nama beliau mulai dikenal masyarakat sekitar, dan akhirnya banyak santri yang datang untuk menuntut ilmu. Dengan demikian beliau mengambil kebijaksanaan untuk mengelola adanya pendidikan supaya mengarah lebih maju, maka diusahakan tenaga dari murid yang sudah mampu untuk membantu kelas bawahnya. Diantaranya bapak Sirojuddin, bapak Hamim, bapak Thoha, bapak Mukhtar dan bapak Abdul Karim.

Setelah adanya perkembangan, madrasah ditambah satu tingkat lagi, yaitu Shifir Awwal dan Shifir Tsani. Pada tingkatan ini murid sudah mencapai sekitar lima puluh anak yang berasal dari desa Kencong dan sekitarnya. Atas inisiatif beliau dan bapak Hamim untuk memberi nama madrasah ini, beliau berdua selalu bermusyawaroh, dengan melihat lingkungan sekitar yang banyak ditanami pohon Salam beliau dapat menemukan inspirasi bahwasanya Madrasah ini diberi nama “Madrasah Islamiyyah Darussalamah”.

Dalam pelaksanaan belajar mengajar, untuk tingkat Ibtidaiyyah, lokasinya diserambi masjid, dan untuk tingkat yang lain di gedung yang sudah ada. Namun karena sarana pendidikan belum terpenuhi maka untuk tempat duduknya di lantai.

Keistimewaan beliau dalam mengemban “Nasyrul Ilmi Waddin” diantaranya adalah :

Beliau selalu istiqomah dalam segala hal, baik mengaji, mengajar maupun aurod (amalan) walaupun sedikit.

Beliau selalu istiqomah dalam melakukan sholat malam.

Beliau selalu Istiqomah membaca sholawat, apalagi sholawat yang terangkum dalam Dalailul Khoirot yang merupakan wiridan beliau. Hal ini ittiba’ kepada Beliau Mbah KH. Manaf Lirboyo.

Beliau kadang kala mengadakan manaqib, dan pada saat itu yang diundang secara rutin adalah Mbah K. Abdulloh dari Jombangan, Tertek, Pare, Kediri.


Beberapa Hambatan

Setelah bangunan baru didirikan agak baik, tertimpalah musibah “angin ribut”, sehingga bangunan tersebut porak-poranda. Peristiwa ini tepatnya di malam Jum’at legi. Dan hal ini tidak memutuskan semangat belajar para santri, mereka berusaha terus untuk memperbaiki yang telah rusak tersebut hingga berhasil.

Pulang ke Rohmatulloh

Setelah berhasil mengkoordinir pesantren dan madrasah yang syarat dengan kemajuan dari berbagai aspek dengan sistem pendidikan yang benar-benar Islami dan Salafi, tak lepas peran beliau sebagai kholifatulloh telah membawa kemenangan gemilang dalam mencetak generasi Islam yang bermutu dan siap pakai.

Sudah menjadi sunnatulloh yang tak mungkin lagi kita ingkari bahwa alam pasti berubah dan setiap sesuatu yang berubah itu baru. Maka sudah tak hayal lagi jika semakin hari kita semakin berkurang, dan fisik kita akan semakin lemah yang akhirnya akan menjadi tak berdaya lagi. Begitu ,juga yang dialami Beliau dari hari kehari kondisi Beliau semakin lemah sehingga tidak memungkinkan lagi untuk beraktivitas sebagai mana sebelumnya. Dan beliau lebih banyak beristirahat, selama 4 tahun terakhir, sebelum akhirnya beliau pulang ke Rohmatulloh, di tengah-tengah para santri yang giat belajar dan mengaji serta memusatkan segala perhatiannya demi kemajuan pesantren. Disaat suasana masih diselimutti kabut pagi Beliau dipanggil oleh yang Maha Kuasa, tepatnya pada hari Ahad Pon 28 Juni 1992 M. Bertepatan 27 DzulHijjah 1412 H. Kurang lebih Pukul 03.00 dini hari dalam usia 75 tahun. “Inna Lillahi Wainna Ilahi Roji’uun”.

Merupakan salah satu moment yang sangat penting yang perlu kita selalu ingat karena salah seorang Ulama’ besar panutan kita bersama telah kembali kepada sang pencipta. Khushuson Ila Rukhi K.H. Imam Faqih Asy’ari Wazaujatihi Al Fatihah………….

Demikian uraian biografi KH. Imam Faqih Asy’ari semoga dapat menjadikan suri tauladan sebagai bekal kehidupan kita semua dan biografi ini berdasarkan refisi serta penelitian dari sumber terpercaya dan akurat.


Sumber: http://darussalamsumbersari.com