KH Ihsan Jampes

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Kyai Ihsan ibn Dahlan al-Jampesi atau lebih akrab dipanggil Kyai Ihsan Jampes adalah sosok Kyai yang amat disegani. Dalam usia yang relatif masih muda (sekitar 31 tahun) beliau telah menyusun sebuah kitab Tasawuf yang signifikan, Siraj ath-Thalibin, setebal 800 halaman yang merupakan penjelasan (syarah) dari kitab Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali. Kitab ini menjadi salah satu bacaan wajib di banyak pesantren di Jawa dan Madura. Kyai Ihsan diyakini termasuk Wali Allah yang dikaruniai ilmu ladunni.

Kyai Ihsan Jampes, lahir tahun 1901, adalah putra dari Kyai Muhammad Dahlan dari Pesantren Jampes, Kediri. Beliau memperoleh pendidikan awal dari ayahnya sendiri. Pada masa remajanya Kyai Ihsan gemar menonton pertunjukan wayang, dan dikenal sebagai anak yang agak nakal. Melalui kisah-kisah wayang inilah Kyai Ihsan menyerap pelajaran tentang berbagai karakter manusia. Namun tak urung kegemaran Kyai Ihsan muda pada tempat-tempat keramaian yang cenderung dekat dengan tindak maksiat ini menggelisahkan keluarganya. Namun masa-masa kenakalan ini tak berlangsung lama karena Kyai Ihsan lekas bertobat dan kemudian mendalami laku Tasawuf. Konon, “pertobatan” Kyai Ihsan ini terkait dengan mujahadah neneknya, Nyai Isti’anah. Menurut kisah, sang nenek berziarah ke makam kakeknya, Ki Ageng Yahuda, seorang tokoh sakti yang juga penyebar Islam di daerah Pacitan hingga Ponorogo, yang masih keturunan Panembahan Senopati Mataram. Di makam Ki Ageng Yahuda inilah Nyai Isti’anah berdoa, “Ya Allah, kalau anak ini [pemuda Ihsan] tidak lekas taubat, semoga ia tak diberi umur panjang.” Lalu dikisahkan bahwa pemuda Ihsan pada suatu malam bermimpi bertemu dengan Ki Ageng Yahuda yang mendatanginya dengan membawa sebongkah batu besar. Kakek itu meminta pemuda Ihsan untuk bertaubat, namun pemuda Ihsan membantah dan meminta kakek itu tak mencampuri urusannya. Akhirnya Ki Ageng Yahuda menghantam kepala pemuda itu dengan batu hingga isi kepalanya berhamburan. Sejak mengalami mimpi ini pemuda Ihsan mulai sering berkhalwat dan melakukan pembersihan hati.

Kyai Ihsan Jampes melanjutkan pendidikannya ke beberapa kyai lain. Di antaranya adalah Kyai Khozin dari Pesantren Bendo Pare, Kediri. Kemudian belajar tata bahasa Arab kepada Syeikh KHOLIL BANGKALAN, Madura, K. H. Dahlan Semarang, dan K. H. Ma‘shum dari Pondok Pesantren Punduh Magelang. Beliau juga sempat berguru Tasawuf kepada Kyai SALEH DARAT Semarang. Tetapi Kyai Ihsan tak pernah menetap lama di satu pesantren. Setiap kali menuntut ilmu di suatu pesantren, beliau tak pernah mengaku sebagai anak Kyai Dahlan Jampes. Beliau berpenampilan seperti orang pedesaan lugu, dan bahkan oleh santri-santri lainnya dijadikan pesuruh untuk urusan dapur. Kyai Ihsan dengan senang hati melayani teman-teman santrinya. Namun ketika identitas aslinya sebagai anak kyai besar terkuak, dan santri lain mulai menghormatinya, beliau akan segera pergi dari pesantren itu. Selama menuntut ilmu, Kyai Ihsan sempat menikah dan bercerai hingga empat kali – kemungkinan istri-istrinya tidak tahan karena Kyai Ihsan lebih menekuni keilmuan.

Setelah ayahandanya meninggal, Kyai Ihsan pun pulang ke Pesantren Jampes untuk meneruskan kepemimpinan ayahnya. Selain mendalami ilmu, Kyai Ihsan juga sering melakukan ziarah ke makam-makam Awliya Allah. Makam yang sering dikunjunginya antara lain Kyai Wasil, Setonogedong, Kyai Mursyad dan Kyai Ihsan Pethuk. Kyai Ihsan Jampes meninggal dalam usia 52 tahun, pada tahun 1952.

Ajaran, karya dan karamah

Walaupun dikenal luas sebagai sufi yang telah menempati kedudukan Wali Allah, dan sehari-hari mengajar berbagai kitab kuning, baik fiqh maupun Tasawuf, Kyai Ihsan Jampes sangat mengapresiasi berbagai bentuk kesenian. Dalam tradisi pesantren ada ritual pembacaan Maulid Diba atau Barzanji, namun Kyai Ihsan tak jarang menggantinya dengan pembacaan Serat Anbiya, sebuah serat berisi ajaran spiritual berbahasa Jawa karangan pujangga Yosodipura II. Karena kegemarannya menonton wayang sejak muda, beliau bukan hanya paham betul kisah dan karakter wayang, tetapi juga piawai dalam mendalang.

Pada usia 29 tahun Kyai Ihsan telah menunjukkan kelebihan ilmu dan kecerdasannya dengan menulis kitab Tashriful-Ibarat, sebuah kitab ilmu falak. Kemudian pada usia sekitar 31 tahun, selama masa menduda, Kyai Ihsan menyelesaikan salah satu karya monumentalnya, Siraj ath-Thalibin yang terbit pada tahun 1936. Kitab tersebut juga diterbitkan di Mesir dan menggemparkan dunia intelektual di sana. Kitab Siraj ath-Thalibin dikaji di beberapa universitas di Timur Tengah, bahkan Raja Faruk dari Mesir meminta Kyai Ihsan Jampes menjadi warga kehormatan Mesir dan diajak untuk menjadi pengajar di Universitas al-Azhar. Namun Kyai Ihsan Jampes menolaknya dengan halus sebab beliau lebih memilih mengajar di Pesantren Jampes di Kediri. Kitab Siraj ath-Thalibin ini bahkan menjadi rujukan wajib di berbagai universitas di Eropa, Amerika dan Kanada pada jurusan teologi dan teosofi.

Karya lainnya yang tak kalah apik adalah Manahij al-Imdad, sebuah syarah (ulasan) atas kitab Irsyad al-Ibad karya Syekh Zainuddin Malibari. Kitab al-Imdad ini tebal sekali, sekitar 1088 halaman yang terdiri dari dua juz. Bahkan menurut beberapa ulama, kitab al-Imdad ini bukan lagi syarah, tetapi sebuah kitab tersendiri karena isinya jauh lebih luas dan mendalam ketimbang kitab yang diulas, yang hanya setebal 118 halaman.

Kyai Ihsan Jampes tak hanya menguasai fiqh dan Tasawuf, tetapi juga ilmu falak (astronomi). bahkan karya yang pertama adalah dalam bidang ini yang berjudul Tashrihul Ibarat, yang ditulis ketika masih berusia 30 tahun. Keahliannya dalam falak bahkan telah mencapai pada taraf kenujuman, tetapi ilmu itu tidak pernah digunakan. Sementara kitab yang terakhir ditulis adalah Irsyadul Ikhwan, yang yang hingga saat ini belum diterbitkan secara luas. Walaupun Kyai Ihsan tidak pernah belajar ke Mekah, tetapi kemampuan berbahasa Arab sangat sempurna, sehingga bisa menulis kitab sangat mengagumkan, dengan bahasa yang indah dan padat sekaligus mendalam, sesuai prinsip penulisan sastra Arab qalla kalamuhu wa kathura ma’nahu (sedikit kata penuh makna). Kiai Hasyim Asy’ari sangat mengaguminya dan menempatkan sejajar dengan ulama mujtahid yang lain, sehingga menyarankan santrinya untuk mengkaji kitab-kitabnya. Karya lainnya yang cukup unik adalah kitab fiqh yang membahas hukum minum kopi dan merokok – Irshad al-ikhwan fi Bayan al-Ahkam Shurb al-Qahwah wa ad-Dukhan.

Seperti Wali Allah lainnya, Kyai Ihsan memiliki kemampuan khawariq al-adah (karamah), yang sebagian bersumber dari ilmu ladunni yang dianugerahkan Allah kepadanya. Misalnya, melalui kasyaf rabbani-nya, beliau berhasil menyelamatkan seorang gadis dari tempat maksiat. Namun yang paling menonjol adalah karamah di bidang ilmu agama. Dalam rentang hidupnya yang tidak terlalu lama (hanya sekitar 50 tahun), beliau bisa menyusun banyak karya yang monumental dan bermutu tinggi, yang sebagian tebal. Jika diingat Kyai Ihsan adalah sosok yang juga sibuk mengajar dan berdakwah, dan saat itu belum ada komputer, prestasi penulisan ini tentu amat mengagumkan – dan tidak banyak orang yang mendapat karunia berkah umur yang begitu mulia ini.

Sumber: http://warkopmbahlalar.com

==

Tokoh Kediri: Syaikh Ihsan Jampes digg

Syaikh Ihsan Jampes (1901 – 1952) Ulama Dari Kediri Syaikh Ihsan lahir pada 1901 M. dengan nama asli Bakri, dari pasangan KH. Dahlan dan Ny. Artimah. KH. Dahlan, ayah Syaikh Ihsan, adalah seorang kiai yang tersohor pada masanya; dia pula yang merintis pendirian Pondok Pesantren Jampes pada tahun 1886 M.

Tidak banyak yang dapat diuraikan tentang nasab Syaikh Ihsan dari jalur ibu. Yang dapat diketahui hanyalah bahwa ibu Syaikh Ihsan adalah Ny. Artimah, putri dari KH. Sholeh Banjarmelati-Kediri. Sementara itu, dari jalur ayah, Syaikh Ihsan adalah putra KH. Dahlan putra KH. Saleh, seorang kiai yang berasal dari Bogor Jawa Barat, yang leluhurnya masih mempunyai keterkaitan nasab dengan Sunan Gunung jati (Syarif Hidayatullah) Cirebon.

Terkait dengan nasab, yang tidak dapat diabaikan adalah nenek Syaikh Ihsan (ibu KH. Dahlan) yang bernama Ny. Isti’anah. Selain Ny. Isti’anah ini memiliki andil besar dalam membentuk karakter Syaikh Ihsan, pada diri Ny. Isti’anah ini pula mengalir darah para kiai besar. Ny. Isti’anah adalah putrid dari KH. Mesir putra K. Yahuda, seorang ulama sakti mandraguna dari Lorog Pacitan, yang jika urutan nasabnya diteruskan akan sampai pada Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram pada abad ke-16. Itu dari jalur ayah. Adapun dari jalur ibu, Ny. Isti’anah adalah cicit dari Syaikh Hasan Besari, seorang tokoh masyhur dari Tegalsari Ponorogo yang masih keturunan Sunan Ampel Surabaya.

Berikut bagan nasab Syaikh Ihsan Jampes.

Ny. Isti’anah dan KH. Saleh-Pertumbuhan dan Rihlah ‘Ilmiah

Syaikh Ihsan kecil, atau sebut saja Bakri kecil, masih berusia 6 tahun ketika kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai. Setelah perceraian itu, Bakri kecil tinggal dilingkungan pesantren bersama sang ayah, KH. Dahlan, dan diasuh oleh neneknya, Ny. Isti’anah.

Semasa kecil, Bakri telah memiliki kecerdasan pikiran dan terkenal memiliki daya ingat yang kuat. Ia juga tekun membaca buku, baik yang berupa kiatab-kitab agama maupun bidang lain, termasuk majalah dan Koran. Selain itu, satu hal yang nyeleneh adalah kesukaannya menonton wayang. Di mana pun pertunjukan wayang digelar, Bakri kecil akan mendatanginya; tak peduli apakah seorang dalang sudah mahir ataukah pemula. Karena kecerdasan dan penalarannya yang kuat, ia menjadi paham benar berbagai karakter dan cerita pewayangan. Bahkan, ia pernah menegur dan berdebat dengan seorang dalang yang pertujukan wayangnya melenceng dari pakem.

Kebiasan Bakri kecil yang membuat risau seluruh keluarga adalah kesukaannya berjudi. Meski judi yang dilakukan Bakri bukan sembarang judi, dalam arti Bakri berjudi hanya untuk membuat kapok para penjudi dan Bandar judi, tetap saja keluarganya merasa bahwa perbuatan Bakri tersebut telah mencoreng nama baik keluarga. Adalah Ny. Isti’anah yang merasa sangat prihatin dengan tingkah polah Bakri, suatu hari mengajaknya berziarah ke makam para leluhur, khususnya makam K. Yahuda di Lorog Pacitan. Di makam K. Yahuda inilah Ny. Isti’anah mencurahkan segala rasa khawatir dan prihatinnya atas kebandelan cucunya itu.

Konon, beberapa hari setelah itu, Bakri kecil bermimpi didatangi oleh K. Yahuda. Dalam mimpinya, K. Yahuda meminta Bakri untuk menghentikan kebiasaan berjudi. Akan tetapi, Karena Bakri tetap ngeyel, K. Yahuda pun bersikap tegas. Ia mengambil batu besar dan memukulnya ke kepala Bakri hingga hancur berantakan. Mimpi inilah yang kemudian menyentak kesadaran Bakri; sejak saat itu ia lebih kerap menyendiri, merenung makna keberadaannya di dunia fana.

Setelah itu, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia keluar dari pesantren ayahnya untuk melalalng buana mencari ilmu dari satu pesantren ke pesantren lain. Beberapa pesantren yang sempat disinggahi oleh Bakri diantaranya:

Pesantren Bendo Pare Kediri asuhan KH. Khozin (paman Bakri sendiri), Pondok Pesantren Jamseran Solo, Pondok Pesantren asuhan KH. Dahlan Semarang, Pondok Pesantren Mangkang Semarang, Pondok Pesantren Punduh Magelang Pondok Pesantren Gondanglegi Nganjuk, Pondok Pesantren Bangkalan Madura asuhan KH. Kholil, sang ‘Guru Para Ulama’.

Yang unik dari rihlah ‘ilmiah yang dilakukan Bakri adalah bahwa ia tidak pernah menghabiskan banyak waktu di pesantren-pesantren tersebut. Misalnya, untuk belajar Alfiah Ibnu Malik dari KH. Kholil Bangkalan, ia hanya menghabiskan waktu dua bulan; belajar falak kepada KH. Dahlan Semarang ia hanya tinggal di pesantrennya selama 20 hari; sedangkan di Peantren Jamseran ia hanya tinggal selama satu bulan. Namun demikian, ia selalu berhasil menguasai dan ‘memboyong’ ilmu para gurunya tersebut dengan kemampuan di atas rata-rata.

Satu lagi yang unik, di setiap pesantren yang ia singgahi, Bakri selalu ‘menyamar’. Ia tidak mau dikenal sebagai ‘gus’ (sebutan anak kiai); tidak ingin diketahui identitas aslinya sebagai putra kiai tersohor, KH. Dahlan Jampes. Bahkan, setiap kali kedoknya terbuka sehingga santri-santri tahu bahwa ia adalah gus dari Jampes, dengan serta merta ia akan segera pergi, ‘menghilang’ dari pesantren tersebut untuk pindah pesantren lain.

Pada 1926, Bakri menunaikan ibadah haji. Sepulang dari Makkah, namanya diganti menjaid Ihsan. Dua tahun kemudian, Ihsan berduka karena sang ayah, KH. Dahlan, dipanggil oleh Allah SWT. Semenjak itu, kepemimpinan PP Jampes dipercayakan kepada adik KH. Dahlan, yakni KH. Kholil (nama kecilnya Muharror). Akan tetapi, dia mengasuh Pesantren Jampes hanya selama empat tahun. Pada 1932, dengan suka rela kepemimpinan Pesantren Jampes diserahkannya kepada Ihsan. Sejak saat itulah Ihsan terkenal sebagai pengasuh Pesantren Jampes.

Ada banyak perkembangan signifikan di Pesantren Jampes setelah Syaikh Ihsan diangkat sebagai pengasuh. Secara kuantitas, misalnya, jumlah santri terus bertambah dengan pesat dari tahun ke tahun (semula ± 150 santri menjadi ± 1000 santri) sehingga PP Jampes harus diperluas hingga memerlukan 1,5 hektar tanah. Secara kualitas, materi pelajaran juga semakin terkonsep dan terjadwal dengan didirikannya Madrasah Mafatihul Huda pada 1942.

Sebagai seorang kiai, Syaikh Ihsan mengerahkan seluruh perhatian, pikiran dan segenap tenaganya untuk ‘diabdikan’ kepada santri dan pesantren. Hari-harinya hanya dipenuhi aktivitas spiritual dan intelektual; mengajar santri (ngaji), shalat jama’ah, shalat malam, muthola’ah kitab, ataupun menulis kitab. Meskipun seluruh waktunya didesikannya untuk santri, ternyata Syaikh Ihsan tidak melupakan masyarakat umum. Syaikh Ihsan dikenal memiliki lmu hikmah dan menguasai ketabiban. Hampir setiap hari, di sela-sela kesibukannya mengajar santri, Syaikh Ihsan masih sempat menerima tamu dari berbagai daerah yang meminta bantuannya.

Pada masa revolusi fisik 1945, Syaikh Ihsan juga memiliki andil penting dalam perjuangan bangsa. PP Jampes selalu menjadi tempat transit para pejuang dan gerilyawan republik yang hendak menyerang Belanda; di Pesantren Jampes ini, mereka meminta doa restu Syaikh Ihsan sebelum melanjutkan perjalanan. Bahkan, beberapa kali Syaikh Ihsan turut mengirim santri-santrinya untuk ikut berjuang di garis depan. Jika desa-desa di sekitar pesantren menjadi ajang pertempuran, penduduk yang mengungsi akan memilih pp jampes sebagai lokasi teraman, sementara Syaikh Ihsan membuka gerbang pesantrenya lebar-lebar.

[B]Wafat dan Warisan Syaikh Ihsan [/B]Senin, 25 Dzul-Hijjah 1371 H. atau September 1952, Syaikh Ihsan dipanggil oleh Allah SWT, pada usia 51 tahun. Dia meninggalkan ribuan santri, seorang istri dan delapan putra-puteri. Tak ada warisan yang terlalu berarti dibandingkan dengan ilmu yang telah dia tebarkan, baik ilmu yang kemudian tersimpan dalam suthur (kertas: karya-karyanya yang ‘abadi’) maupun dalam shudur (memori: murid-muridnya).

Beberapa murid Syaikh Ihsan yang mewarisi dan meneruskan perjuangannya dalam berdakwah melalui pesantren adalah: (1) Kiai Soim pengasuh pesantren di Tangir Tuban; (2) KH. Zubaidi di Mantenan Blitar; (3) KH. Mustholih di Kesugihan Cilacap; (4) KH. Busyairi di Sampang Madura; (5) K. Hambili di Plumbon Cirebon; (6) K. Khazin di Tegal, dan lain-lain.

Sumbangan Syaikh Ihsan yang sangat besar adalah karya-karya yang ditinggalkannya bagi masyarakat muslim Indonesia, bahkan umat Islam seluruh dunia. Sudah banyak pakar yang mengakui dan mengagumi kedalaman karya-karya Syaikh Ihsan, khususnya masterpiecenya, siraj ath-Thalibin, terutama ketika kitab tersebut diterbitkan oleh sebuah penerbit besar di Mesir, Musthafa al-Bab- al-Halab. Sayangnya, di antara kitab-kitab karangan Syaikh Ihsan, baru siraj ath-Thalibinlah yang mudah didapat. Itu pun baru dapat dikonsumsi oleh masyarakat pesantren sebab belum diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Berikut daftar karya Syaikh Ihsan Jampes yang terlacak:

   Tashrih al-Ibarat (syarah dari kitab Natijat al-Miqat karya KH. Ahmad Dahlan Semarang), terbit pada 1930 setebal 48 halaman. Buku ini mengulas ilmu falak (astronomi).
   Siraj ath-Thalibin (syarah dari kitab Minhaj al-Abidin karya Imam al-Ghazali), terbit pada 1932 setebal ± 800 halaman. Buku ini mengulas tasawuf.
   Manahij al-Imdad (syarah dari kitab Irsyad al-‘Ibad karya Syaikh Zainudin al-Malibari), terbit pada 1940 setebal ± 1088 halaman, mengulas tasawuf.
   Irsyad al-Ikhwan fi Bayan Hukmi Syurb al-Qahwah wa ad-Dukhan (adaptasi puitik \[plus syarah] dari kitab Tadzkirah al-Ikhwan fi Bayani al-Qahwah wa ad-Dukhan karya KH. Ahmad Dahlan Semarang), t.t., tebal ± 50 halaman. Buku ini berbicara tentang polemik hukum merokok dan minum kopi.

Sumber: http://wongkediri.net