KH Guru Mughni

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

GambarK.H Guru adalah sesesok kiai dari tanah Batavia yang bernama lengkap K.H Abdul Mughni bin H. Sanusi bin Ayub bin Qoys. Lahir pada tahun 1860 di kampung Kuningan. Semenjak kecil, anak bungsu dari H. Sanusi ini memiiki kelebihan-kelebihan dari teman-temannya, salah satunya ia telah menjadi Hafidz Quran.


Potensi yang besar tersebut tidak disia-siakan orangtuanya. H. Sanusi mengirim Abdul Mughni atas rekomendasi dari Guru H. Jabir ke Mekkah. Di usia remaja, tepat 17 tahun tersebut ia hengkang dari kampung Kuningan untuk nyantri di Mekkah selama 9 tahun. Selama 9 tahun ia mengembara ke negeri arab, ia kembali ke tanah air untuk mengajar di kampungnya.

Tahun 1885, ia memutuskan untuk kembali ke Mekkah dalam pengembaraan intelektual. Ia berguru di Mekkah yang berjumlah 18 orang guru. Dan guru yang paling tersohor ketika itu adalah Syaikh Sa’id al Babashor, syaikhul akbar sekaligus mufti Mekkah kala itu.


K.H Guru Mughni menikahkan 8 orang wanita. Enam istrinya tersebut adalah berasal dari betawi, dua istrinya lagi berasal dari Belanda dan Tionghoa. Dari hasil penikahannya tersebut dikarunia 23 anak. Dan semua putra dari K.H Abdul Mughni menjadi seorang guru (kiai) yang mendedikasikan hidupnya untuk masyarakat. K.H Abdul Mughni memiliki murid-murid yang berpotensi dibidang-bidang Islam. Guru Abdurahman (Pondok Pinang) seorang ahli tafsir. Guru Kasim (Mester) seorang ahli tarbiyah, Guru Mughni (Lenteng Agung), Guru Raisin, Guru Hamim, dari K.H Naim (Cipete) H. Saidi (Blok A), K.H Abdullah Suhaimi (Mampang) seorang ahli ilmu falak dan tafsir, dll


K.H Abdul Mughni memiliki dua magnum opus (karya besar). Karya pertama, adalah kitab Taudhih al Dalail fi Tarjamati Hadist al Syama’il. Kitab ini menjelaskan pribadi Rasulullah secara intrinsik dan ekstrinsik. Dan kedua Naqlah min ’Ibarat al Ulama Nasihat Maw’izah li Awlad al Zaman Fi Adab Qira’at al Qur’an wa Ta’limih. Kitab kedua ini berisi nasihat-nasihat ulama tentang menghormati dan kehormatan Al Quran.


GambarKeadaan sosial yang sangat mencekan kala itu, yakni intimidasi dari pihak Belanda (kompeni) membuat K.H Abdul Mughni melakukan perlawanan. Jihad melawan kompeni, imperialisme sebagai musuh yang dikumandangkan melalui surau-surau kecil dipengajian rakyat. Pemberontakan demi pemberontakan yang terjadi di tanah Batavia membakar semangat jihad para masyarakat betawi. Kompenipun mencium pemberontakan tersebut biang kerok-nya adalah K.H Abdul Mughni dan menangkapnya. Masyarakat yang kesal kepada kompeni karena sang martir betawi ditahan, melakukan aksi massa yang berjumlah ratusan orang di kantor Landraad Mesteer. Kompenipun kalang-kabut dan membebaskan K.H Abdul Mughni


K.H Abdul Mughni wafat pada hari Kamis, sekitar pukul 11 siang. Guru Mughni memanggil anak-anak dan istri-istrinya, berkumpul disekitar kelambu (tempat tidur) . Kamar dan kelambu diminta untuk diberi minyak wangi. Kitab Al Quran dan kitab Al Hadist Sohih Bukhori dan Sohih Muslim diminta diletakkan di atas bantal yang diletakkan disamping kepalanya. Kemudian dia berkata: ”Ada tamu yang mau datang”. Tepat jam jam 2 siang Guru Mughni meninggal dunia. Guru Mughni meninggal karena menderita sakit asma yang berkepanjangan. Ratusan masyarakat berbondong-bondong menyolatkan jenazahnya dan mengantar ke kubur.


Sumber: http://ahmadsidqi.wordpress.com

  • Ahmad Sidqi bin K.H Abdul Azim bin K.H Abdullah Suhaimi. Cicit K.H Abdul Mughni dari ibunda Hj. Siti Wardah binti K.H Rohmatullah Bin K.H Abdul Mughni

=

Al Marhum Al Maghfurlah KH. Abdul Mughni (Guru Mughni)

Februari 23, 2011 Tinggalkan Komentar

Nama lengkap dari Guru Mughni adalah Abdul Mughni bin Sanusi bin Ayyub bin Qais. Beliau lahir sekitar tahun 1860 di Kampung Kuningan, Jakarta dan wafat pada hari Kamis, 5 Jumadil Awwal 1354H, dalam usia 70 tahun. Beliau merupakan anak bontot (bungsu) dari pasangan H. Sanusi dan Hj. Da`iyah binti Jeran. Saudara kandungnya yang lain adalah Romli, Mahalli dan Ghozali.

Keluarganya merupakan keluarga yang sangat taat dalam menjalankan ajaran agama Islam. Guru pertamanya adalah bapaknya sendiri, H. Sanusi. Selain mengaji kepada ayahnya, beliau dan kakak-kakaknya juga mengaji kepada H. Jabir.

Kecerdasannya membuatnya sang bapak bertekad mengirimnya untuk belajar ke Makkah. Pada usia 18 tahun, beliau dikirim bapaknya ke Makkah. Pada tahun 1885, beliau sempat kembali ke tanah air. Namun, karena merasa belum cukup berilmu, beliau kembali lagi Makkah unuk mengaji selama lima tahun. Keilmuannya yang mendalam, membuat beliau pernah diminta untuk mengajar di Masjidil Haram bersama ulama Makkah lainnya.

Di antara guru-gurunya selama di Makkah antara lain: Syekh Sa`id Al-Babsor (Mufti Makkah), Syekh Abdul Karim Al-Daghostani, Syekh Muhammad Sa`id Al-Yamani, Syekh Umar bin Abi Bakar Al-Bajnid, Syekh Muhammad Ali Al-Maliki, Syekh Achmad Al-Dimyathi, Syekh Sayyid Muhammad Hamid, Syekh Abdul Hamid Al-Qudsi, Syekh Muhammad Mahfuz Al-Teramasi, Syekh Muhammad Muktar Athorid A-Bogori, Syekh Sa`id Utsman Mufti Betawi, Syekh Muhammad Umar Syatho, Syekh Sholeh Bafadhal, Syekh Achmad Khatib Al-Minangkabawi, Syekh Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi.

Setelah 14 Tahun di Makkah, beliau kembali ke Tanah Air. Dengan kapasitas ilmunya, orang datang berduyun-duyun untuk belajar dan menimba ilmu darinya. Sejak itulah beliau dikenal dengan panggilan “Guru Mughni”. Dari beberapa pernikahannya, beliau dikaruniai banyak anak. Namun walaupaun punya banyak anak, Guru Mughni sangat perhatian terhadap pembentukan kepribadian dan masa depan semua anak-anaknya. Guru Mughni memiliki visi agar anak dan keturunannya mengikuti jejaknya untuk menjadi ulama. Karenanya beliau tidak segan-segan mengirim putra-putrinya untuk bermukim dan menuntut ilmu agama di kota Makkah walau usia mereka masih muda belia. Beliau ingin anak-anaknya menjadi pribadi yang mandiri namun berakhlak mulia dan memiliki ilmu yang mumpuni. Terbukti sekembalinya ke tanah air, anak-anaknya banyak yang berhasil menjadi ulama terkemuka, ulama yang mandiri, antara lain, yaitu: KH. Syahrowardi, KH. Achmad Mawardi, KH. Rochmatullah, KH. Achmad Hajar Malisi, KH. Ali Syibromalisi, KH. Achmad Zarkasyi, dan KH. Hasan Basri. Selain anak-anaknya, cucu-cucunya ada yang menjadi ulama Betawi terkemuka, antara lain, yaitu KH. Abdul Rozak Ma`mun, Dr. KH. Nahrawi Abdus Salam, KH. Abdul Azim AS, KH. Abdul Mu`thi Mahfuz, dan KH. Faruq Sanusi. Selain anak dan cucunya, cicitnya pun, baik yang putri maupun putra, ada yang menjadi ulama Betawi terkemuka, salah satunya adalah Dr. KH. Lutfi Fathullah Mughni,MA yang pada masa kecilnya pernah berguru kepada salah seorang kakeknya, KH. Ali Syibromalisi.

Di halaqah atau majelis taklimnya, Guru Mughni mengajar ilmu fiqih, tauhid, tafsir, hadits, akhlak, dan bahasa Arab. Untuk pelajaran fiqh, beliau gunakan kitab Safinah An- Najah untuk tingkat murid dan kitab Fath Al- Mu`in untuk tingkat guru. Untuk pelajaran tauhid, beliau gunakan kitab Kifayah Al-Awam. Untuk pelajaran tafsir, beliau gunakan Tafsir Jalalain. Untuk pelajaran hadits, beliau gunakan kitab Shahih Bukhori dan Shahih Muslim. Untuk pelajaran akhlak, beliau gunakan kitab Minhaj Al-Abidin. Untuk tata bahasa Arab, beliau gunakan kitab Alfiyah. Beliau tidak hanya mengajar, beliau juga menerjemahkan hadits-hadits yang terdapat dalam kitab Syama`il dan disusunnya dalam satu kitab yang beliau beri judul Taudhih Al-Dala`il fi Tarjamat Hadits al-Syama`il.

Murid-muridnya yang menjadi ulama Betawi terkemuka di antaranya adalah Guru Abdul Rachman Pondok Pinang, KH. Mughni Lenteng Agung, Guru Naim Cipete, KH. Hamim Cipete, KH. Raisin Cipete, Guru Ilyas Karet, Guru Ismail atau Guru Mael Pendurenan, KH.Abdurrachim dan KH. Abdullah Suhaimi yang menjadi salah seorang guru dari Syekh. Dr. Ahmad Nahrawi Abdussalam Al-Indunisi.(JIS)

Sumber: artikelislami.wordpress.com

Arifin Junaidi, "beliau salah satu murid Hasyim Asy'ari"