KH Abdul Kholiq Hasyim

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

KH. Abdul Kholiq Hasyim, Pengasuh Pesantren Tebuireng ke-5 yang memimpin selama 13 tahun, sejak 1952-1965. Beliau cukup disegani masyarakat, karena selain alim dalam fikih dan tasawuf, beliau juga memiliki ilmu kanuragan yang cukup tinggi. Sehingga dengan ilmunya itulah beliau maju dan bertempur melawan kolonial Belanda.

Masa Kecil

Ketika kecil namanya adalah Abdul Hafidz, kemudian berganti menjadi Abdul Kholiq. Beliau adalah putra keenam dari pasangan Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy'ari dengan Nyai Nafiqah yang lahir pada tahun 1916. Sejak kecil kelebihan Gus Hafidz atau Gus Kholiq ini sudah mulai tampak. Ketika ada tamu ayahnya yang datang dengan mobil misalnya, Gus Kholiq menekan ringan bodi mobil tersebut dengan jarinya. Anehnya seketika itu bagian yang dipencetnya penyok, padahal terbuat dari besi baja yang keras. Suatu ketika, sang ayah pernah menghukumnya. Gus Kholiq diikat di sebuah pohon sawo dan diberi kelangrang (semut merah ganas). Namun semut-semut itu hanya lewat begitu saja dan tidak mau menggigit tubuh Gus Hafidz. Hadratus Syaikh merasa ada kelebihan dengan anaknya yang satu ini. Hingga akhirnya, selain dididik ilmu agama seperti saudaranya yang lain, Gus Kholiq juga diajari ilmu-ilmu spiritual oleh sang ayah.

Ketika beranjak dewasa, Abdul Kholiq melanjutkan pendidikannya ke Pondok Pesantren Sekar Putih, Nganjuk. Lalu dilanjutkan menuju Pesantren Kasingan, Rembang (kota pesisir laut Utara). Di sana beliau belajar kepada Kiai Kholil bin Harun yang terkenal sebagai pakar nahwu, bahkan sampai dijuluki Imam Sibawaih zamanihi. Konon, ketika menjadi santri di Rembang, Gus Kholiq pernah ditemui Nabi Khidir AS. Belum puas dengan ilmu yang diperolehnya, beliau melanjutkan studinya ke Pesantren Kajen, Juwono, Pati, Jawa Tengah.

Pada tahun 1936, dalam usia 20 tahun, Abdul Kholiq pergi ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Di sana ia bermukim selama empat tahun sambil memperdalam ilmu pengetahuan. Salah seorang gurunya bernama Syekh Ali al-Maliki al-Murtadha.

Pada tahun 1939, Abdul Kholiq pulang ke tanah air. Setahun kemudian, ia menikah dengan salah seorang keponakan Kiai Baidhawi yang bernama Siti Azzah. Pada tahun 1942, Kiai Kholiq dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Abdul Hakam.


Melawan Penjajah

Sejak kecil keluarga Hadratus Syaikhsudah dididik cinta tanah air. Hingga tak heran ketika besar, keluarga Tebuireng betul-betul memiliki jiwa nasionalisme yang sangat tinggi. Nyai Nafiqah sering menceritakan kekejaman para penjajah terhadap bangsa Indonesia dan kesewenang-wenangan mereka atas kaum muslimin serta tindakan-tindakan keji mereka terhadap para kiai. Beliau senantiasa bercerita, “Dulu yang musuhi ayah, mbah dan para kiai itu adalah Belanda. ”Maka dengan perlahan jiwa membela tanah air telah tertancap kedalam jiwa Gus Kholiq. Sejak itu terukirlah dalam hatinya rasa benci yang sangat mendalam terhadap kolonial Belanda. Hal itu terbukti dengan pukulan yang ia hadiahkan kepada seorang pegawai Pabrik Gula Cukir berkebangsaan Belanda karena melakukan perbuatan yang tidak seharusnya.

Selama masa revolusi fisik, Kiai Kholiq aktif berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI. Tahun 1944, atau satu tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, Kiai Kholiq masuk dalam dinas ketentaraan nasional dan masuk dalam anggota PETA. Kiai Kholiq merupakan orang dekat Jenderal Sudirman bersama kakaknya, Kiai Wahid Hasyim.

Kiai Kholiq mengundurkan diri dari militer pada tahun 1952 dengan pangkat terakhir Letnan Kolonel (Letkol), kemudian pergi ke Makkah guna menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya.

Pada masa penjajahan, Kiai Kholiq pernah ditahan oleh tentara Belanda tanpa alasan yang jelas. Beliau hendak dijatuhi hukuman mati. Keluarga dan santri Tebuireng cemas dibuatnya. Pada detik-detik terakhir menjelang eksekusi, Kiai Kholiq meminta waktu kepada algojo untuk salat dua rakaat. Seusai salat, Kiai Kholiq mengangkat tangan berdoa kepada Allah. Anehnya, setelah itu pihak Belanda menyatakan bahwa Kiai Kholiq tidak jadi dihukum mati.

Ketika Presiden Soekarno menjatuhkan Dekrit Presiden 5 Juli 1959, Kiai Kholiq sebagai anggota Konstituante, menentang dengan keras. Dalam pandangannya, jalan musyawarah dan diplomasi masih bisa dilanjutkan. Kiai Kholiq mendapat teguran keras atas penentangannya itu, sehingga partai yang didirikannya dibubarkan. Kiai Kholiq kemudian keluar dari politik.

Mengasuh Tebuireng sejak awal kepemimpinannya, Kiai Kholiq banyak melakukan pembenahan pada sistem pendidikan dan pengajaran kitab kuning, yang pada tahun-tahun sebelumnya digantikan dengan sistem klasikal. Langkah pertama yang diambilnya ialah meminta bantuan kakak iparnya, Kiai Idris Kamali, untuk mengajar di Tebuireng. Kiai Idris diminta untuk mengajarkan kembali kitab-kitab kuning guna mempertahankan sistem salaf, serta melakukan revitalisasi sistem pengajaran.

Madrasah yang telah dirintis oleh para pendahulunya tetap dipertahankan. Saat itu Madrasah Tebuireng terdiri dari tiga jenjang, yakni Ibtidaiyah (SD), Tsanawiyah (SL TP), dan Mu'allimin. Kurikulumnya 70% ilmu agama dan 30% ilmu umum. Pada masa ini pula, Madrasah Nidzamiyah yang dulunya didirikan oleh Kiai Wahid, berganti nama menjadi Madrasah Salafiyah Syafi'iyah.

Selain terkenal memiliki karomah tinggi, Kiai Kholiq juga memiliki kebiasaan mengoleksi kitab-kitab syair berbahasa Arab (semacam antologi). Hal ini dapat dilihat dari kitab-kitab peninggalannya yang masih tersimpan rapi di Perpustakaan Tebuireng.


Wafat

Bulan Juni 1965, atau tiga bulan sebelum meletusnya pemberontakan G.30.S/PKI, Kiai Kholiq menderita sakit selama beberapa hari. Semua keluarga dan santri Tebuireng cemas dibuatnya. Mereka semua mengharap kesembuhan sang pengasuh. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat dihadang. Beberapa hari setelah itu, Kiai Kholiq menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inna liLlahi wa inna ilayhi raji'un. Tebuireng pun berduka.

Sebagaimana keluarga lainnya, jenazah Kiai Kholiq dimakamkan di komplek pemakaman keluarga Pesantren Tebuireng, sebelah barat masjid. Ribuan peta'ziyah dari berbagai kalangan hadir mengantar ke peristirahatan terakhir. Semoga Allah SWT memberikan tempat terbaik di sisi-Nya dan segala yang beliau rintis bermanfaat bagi generasi selanjutnya. Amin (Sipe/Yahy/Dawd/At/Umr)

Sumber Majalah Tebuireng edisi 12/Tahun II/Okt-Desember 2010