Kabupaten Jombang

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark(Redirected from Jombang)
Jump to: navigation, search

Geografis

Luas wilayah Kabupaten Jombang 115.950 Ha : 1.159,5 Km² dan Terletak membentang antara 7.20' dan 7.45' .Lintang Selatan 5.20º - 5.30 º Bujur Timur. Batas-batas wilayah Kabupaten Jombang adalah sebagai berikut :

- Sebelah Utara : Kabupaten Lamongan

- Sebelah Selatan : Kabupaten Kediri

- Sebelah Timur : Kabupaten Mojokerto

- Sebelah Barat : Kabupaten Nganjuk

Secara Administrasi Pemerintahan Kabupaten Jombang terdiri dari 21 Kecamatan dan 301 desa, 5 kelurahan. Kecamatan yang terluas adalah kecamatan Kabuh (13.233 Ha) dan yang terkecil Kecamatan Ngusikan (34,980 Ha).

Keadaan iklim khususnya curah hujan di Kabupaten Jombang yang terletak pada ketinggian 500 meter dari permukaan laut mempunyai curah hujan relatif rendah yakni berkisar antara 1750 - 2500 mm pertahun. Sedangkan untuk daerah yang terletak pada ketinggian lebih dari 500 meter dari permukaan air laut, rata-rata curah hujannya mencapai 2500 mm pertahunnya.

Kabupaten Jombang adalah termasuk yang mempunyai iklim tropis, sedangkan berdasarkan hasil perhitungan menurut klasifikasi yang diberikan oleh Smidt dan Ferguson termasuk tipe iklim D. Dimana tipe ini biasanya musim penghujan jatuh pada bulan Oktober sampai April dan musim kemarau jatuh pada bulan Mei sampai dengan bulan Oktober.


Demografi

Jumlah penduduk Kabupaten Jombang Tahun 2010 adalah 1.201.557 jiwa terdiri dari 597.219 Laki-laki dan 604.338 Perempuan ( Menurut Hasil Sensus 2010 BPS ). Penduduk terbesar terdapat di kecamatan Jombang (148.494 jiwa), sedangkan terkecil di Kecamatan Ngusikan ( 22.958 jiwa) pada tahun 2009. Pertumbuhan penduduk tahun 2007 s/d 2009 meningkat rata-rata 11,01 % pertahun.


Sejarah

Jombang termasuk Kabupaten yang masih muda usia, setelah memisahkan diri dari gabungannya dengan Kabupaten Mojokerto yang berada di bawah pemerintahan Bupati Raden Adipati Ario Kromodjojo, yang ditandai dengan tampilnya pejabat yang pertama mulai tahun 1910 sampai dengan tahun 1930 yaitu : Raden Adipati Ario Soerjo Adiningrat.

Menurut sejarah lama, konon dalam cerita rakyat mengatakan bahwa salah satu desa yaitu desa Tunggorono, merupakan gapura keraton Majapahit bagian Barat, sedang letak gapura sebelah selatan di desa Ngrimbi, dimana sampai sekarang masih berdiri candinya. Cerita rakyat ini dikuatkan dengan banyaknya nama-nama desa dengan awalan "Mojo" (Mojoagung, Mojotrisno, Mojolegi, Mojowangi, Mojowarno, Mojojejer, Mojodanu dan masih banyak lagi).

Salah Satu Peninggalan Sejarah di Kabupaten JombangCandi Ngrimbi, Pulosari Bareng Bahkan di dalam lambang daerah Jombang sendiri dilukiskan sebuah gerbang, yang dimaksudkan sebagai gerbang Mojopahit dimana Jombang termasuk wewenangnya Suatu catatan yang pernah diungkapkan dalam majalah Intisari bulan Mei 1975 halaman 72, dituliskan laporan Bupati Mojokerto Raden Adipati Ario Kromodjojo kepada residen Jombang tanggal 25 Januari 1898 tentang keadaan Trowulan (salah satu onderdistrict afdeeling Jombang) pada tahun 1880.

Sehingga kegiatan pemerintahan di Jombang sebenarnya bukan dimulai sejak berdirinya (tersendiri) Kabupaten jombang kira-kira 1910, melainkan sebelum tahun 1880 dimana Trowulan pada saat itu sudah menjadi onderdistrict afdeeling Jombang, walaupun saat itu masih terjalin menjadi satu Kabupaten dengan Mojokerto. Fakta yang lebih menguatkan bahwa sistem pemerintahan Kabupaten Jombang telah terkelola dengan baik adalah saat itu telah ditempatkan seorang Asisten Resident dari Pemerintahan Belanda yang kemungkinan wilayah Kabupaten Mojokerto dan Jombang Lebih-lebih bila ditinjau dari berdirinya Gereja Kristen Mojowarno sekitar tahun 1893 yang bersamaan dengan berdirinya Masjid Agung di Kota Jombang, juga tempat peribadatan Tridharma bagi pemeluk Agama Kong hu Chu di kecamatan Gudo sekitar tahun 1700.

Konon disebutkan dalam ceritera rakyat tentang hubungan Bupati Jombang dengan Bupati Sedayu dalam soal ilmu yang berkaitang dengan pembuatan Masjid Agung di Kota Jombang dan berbagai hal lain, semuanya merupakan petunjuk yang mendasari eksistensi awal-awal suatu tata pemerintahan di Kabupaten Jombang



Kebudayaan

Adat-istiadat orang Jombang begitu nampak dalam kehidupan masyarakat luar kota, karena masyarakat kota merupakan masyarakat yang sangat sulit untuk dipilah-pilahkan karena percampuran lingkungan heterogen dan pribumi sudah berbaur seiring dengan berkembangnya pola kehidupan jamannya. Namun jika kita memandang lingkungan di daerah luar perkotaan, dapat kita ketahui bahwa masyarakat Jombang merupakan manivestasi budaya masyarakat multi kultural.

Seperti budaya masyarakat didaerah Kecamatan Ngoro, Bareng, Mojowarno, Wonosalam, Jogoroto, Mojoagung, Sumobito, Kesamben secara umum memiliki latar belakang bahasc dialek dan adat-istiadat etnis Jawa Timuran asli/budaya “arek” hal ini ditandai dengan logat bicara yang berciri dengan menggunakan ucapan akhiran …se maupun …tah; contoh: ya’apa se, nang endi se, babah se. iya tah. age tah, wis mari tah dan sebagainya. Kemudian tercermin pada penekanan ucapan kata sifat biasa dipanjangkan, misalnya: adoh menjadi u…adoh. gedhe menjadi gu…edhe, apik menjadi u…apik, ireng menjadi u…irengdan sebagainya.

Berbeda dengan daerah Di Kecamatan Tembelang. Plandaan, Ploso, Kabuh, Kudu. Ngusikan tercemin budaya campuran etnis pesisir Utara, etnis Osing dan Jawa Tengahan. Hal ini dapat dibuktikan dengan kebiasaan dan dialek mereka sehari-hari memakai bahasa budaya kulonan (Jawa Tengahan) dan akhiran …ta; seperti: kowe, kuwi, ora, piye ta, endhi ta dan sebagainya. Anehnya di satu wilayah ini tepatnya di Desa Manduro Kecamatan Kabuh, masyarakatnya mempunyai bahasa dan kesenian Madura.

Di daerah tersebut kehidupan sehari-hari mayoritas sebagai petani padi dan patani tembakau, tetapi meraka juga suka berkesenian, seperti: kesenian ludruk, wayang kulit, dangdut, tayub dan campur sari. Dalam adat-istiadat masih menampakkan adat kejawaannya (kejawen); misalnya: walaupun agama yang dianut adalah agama islam tata cara berbicara, sikap dan tingkah laku dalam pergaulan jika bertamu biasa atau lebih akrab menggunakan kata kula nuwun atau nuwun sewu.

Lain halnya dengan di Kecamatan Megaluh, Perak, Diwek, Gudo dan Jombang bagian Barat di mana mereka memiliki etnis atau budaya campuran Jawa Tengah, Mataraman, Panaragan dan sedikit bercampur dengan budaya Jawa Timuran karena daerahnya berbatasan dengan Kabupaten Nganjuk, Kediri dan sebelah Timur Kecamatan Jombang adalah Kecamatan Jogoroto. Logat bicaranya-pun campuran budaya Jawa Tengahan/Mataraman dan budaya “arek”; contoh: piye se, ora se, gak mulih ta dan sebagainya. Walaupun pola kehidupan sehari-hari mayoritas sama dengan daerah tersebut diatas tetapi masih terdapat perbedaan, contoh: jenis keseniannya lebih dekat dengan budaya Jawa Tengahan, seperti wayang kulit, wayang krucil. Kuda Lumping jenis Sambaya dan kesenian reog Ponorogo.

Hal lain yang menurut tata bahasa Jawa janggal tetapi sudah menjadi kebiasaan mereka menggunakan tingkatan bahasa karma; misalnya: kula badhe siram, kula sampun dhahar, kula mboten pirsa. Sebaliknya tutur sapa kepada orang lain yang dihormati tata bahasanya di balik; misalnya: bapak sampun nedha, ibu tilem, mbah kesah, dan sebagainya. Mereka menyadari hal semacam itu, tetapi masih tetap dilakukannya karena sudah menjadi kebiasaan hingga turun- temurun sampai sekarang. Sehingga kebiasaan seperti itu disebut salah kaprah, artinya suatu yang tidak benar tetapi dianggap biasa. (Suyanto. 2002:7).

Secara universal masyarakat Jombang menunjukan kepribadian dan kehidupan mayoritas sebagai petani padi, sikap dan pola pikir yang terbuka (blak-blakan). Selain potensi alam yang dimiliki, di Kabupaten Jombang banyak terlahir tokoh yang mewarnai bumi pertiwi baik di tingkat lokal, regional, nasional bahkan diperthitungkan di tingkat internasional. Sehingga sampai sekarang masih bermunculan potensi sumber daya manusia di berbagai bidang, salah satunya bidang seni budaya yang mencerminkan budaya campuran, yaitu budaya Jawa Timuran, Jawa Tengahan, Jawa Pesisir Utara, Jawa Pesisir Selatan, Mataraman, Panaragan dan etnis Osing.

Menurut Ki Sareh, bahwa masyarakat Jombang merupakan wadah dan isi kebudayaan. Maksud kata wadah di sini adalah suatu tempat yang dijadikan penampungan dari berbagai etnis yang datang dan membaur satu dengan yang lainnya. Sedangkan isi adalah para tokoh serta pelaku seni budaya yang sadar akan pelestarian dan perkembangan seni budaya daerah. Sehingga keragaman budaya tersebut sebagai latar belakang seni budaya daerah yang majemuk menjadi kepribadian budaya masyarakat Jombang yang disebut “Gaya Jombangan” (Sareh, wawancara 2004). Di sisi yang lain ada pendapat Drs. Nasrul llah sebagai salah satu budayawan Jombang yang perlu digaris bawahi, karena relitanya Kabupaten Jombang mempunyai beberapa macam bentuk kesenian rakyat, seperti: Besutan, Ludruk, Jaran Kepang Dor, Hadrah, Kentrung, Sandur, Wayang Krucil, Wayang Topeng, Wayang Kulit dan sebagainya; di mana semua itu mencerminkan kearifan lokal masyarakat Jombang yang memiliki ragam berbeda dengan etnis Jawa Timuran yang lainnya



Potensi

Pariwisata

Air Terjun Tretes

Obyek wisata Air Terjun Tretes terletak di Dusun Tretes, Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam +/- 40 Km dari pusat kota Jombang arah Tenggara.

Goa Sigolo-golo

Goa alam yang indah ini terletak di dusun Kranten, Desa Panglungan, Kecamatan Wonosalam berjarak +/- 30 Km dari Air Terjun Tretes.

Wisata air Sumberboto

Wisata air Sumberboto di Kecamatan Mojowarno merupakan bentuk Wana Wisata binaan dari Perhutani yang banyak dikunjungi para remaja setiap bulannya. Suasana dingin dan asri penuh dengan pepohonan.

Gelanggang Wisata Air

Selain Wisata air Sumberboto, terdapat pula gelanggang wisata air, kolam pancing dan lapangan tenis yang terletak strategis +/- 2 Km arah timur pusat kota Jombang yang dikenal dengan "Tirta Wisata Keplaksari"

Kedung Cinet

Kedung Cinet terletak 10 km dari jembatan Brantas Ploso, tepatnya di desa Pojok Klitih , lokasinya di tengah hutanbelantar. Selama perjalanan pengunjung dimanjakan dengan pemandangan yang indah. Dan menyusuri sungai brantas sampai melintasi jembatan “ goyang “ yang mengasyikkan jika tertiup angina, sebelum akhirnya tiba di kedung cinet yang indah

Sumber Penganten

Sumber ini terletak sekitar 1 kilometer dari arah pusat Kecamatan Jogoroto. Lokasi Sumber Penganten sangat jauh dari keramaian, tapi tidak terpencil, mudah dijangkau kendaraan apapun. Mempunyai hamparan parker yang luas dan tentu saja aman

Goa Sriti

Goa Sriti terletak di Kecamatan Wonosalam , Kabupaten Jombang. Untuk mencapai Goa ini pengunjung harus melalui jalan setapak yang sangat panjang berliku, tetapi goa sriti rel;atif mudah karena pengunjung harus berjalan kebawah dengan jalan yang dilalui tidak begitu panjang dengan pemandangan kawaan hutan yang hijau alami dan sesekali melewati pematang sawah penduduk yang banyak ditumbuhi pohon jati maupun pisang.

Sendang Made

Sendang Made terletak di Desa Made, Kecamatan Kudu Kabupaten Jombang. Selain Sendang Made disekitarnya terdapat sendang-sendang lain yang lebih kecil, Diantaranya Sendang Payung, Sendang Padusan, Sendang Drajat, Sendang Sinden dan Sendang Omben. Ukuran Sendang Made 8 m X 11 m dan masih terlihat terawatt keberadaannya . Untuk menuju ke Sendang Made bisa dilalui dengan berbagai kendaraan.


Pertanian

Mendasarkan pada potensi sumberdaya lahan di Kabupaten Jombang ternyata jenis penggunaan lahan sawah dan tegalan pada Tahun 2002 masih cukup luas yaitu 49.476 Ha atau .... % dari luas wilayah Kabupaten Jombang. Disamping itu mata pencaharian penduduk pada sub sektor ini masih cukup dominan yaitu sebesar 74,14 % atau 269.569 orang. Dari sektor pertanian ini menghasilkan beberapa komoditi seperti padi,jagung, ubi-ubian, kacang-kacangan, kedelai, buah-buahan, dan sayur-sayuran.

Perikanan

Dengan semakin berkembangnya usaha perikanan maka kebutuhan benih ikan juga semakin meningkat oleh karena itu peluang investasi komoditi perikanan tidak hanya budidaya ikan melainkan pembenihan ikan dan juga olahan hasil perikanan. Untuk pembenihan peluang usaha masih cukup besar karena BBI Ngoro bisa mensuplai 40% kebutuhan benih masyarakat khususnya masyarakat Jombang. Dengan hasil komoditi seperti gurame, lele, patin, tombro, dan lain-lain.

Peternakan

Kabupaten Jombang cukup potensial untuk pengembangan usaha peternakan dimana daya dukung wilayah masih cukup besar dengan ketersediaan pakan berupa Hijauan Makanan Ternak dan limbah pertanian cukup banyak serta lahan pertanian masih cukup luas. Untuk meningkatkan daya dukung ternak direncanakan penanaman bibit HMT King Grass (rumput gajah) sebanyak 20.000 stek pada tahun 2007 dan 10 buah irigasi air dangkal dan pompa. Komoditi peternakan yang potensial dikembangkan ada tujuh komoditas yaitu sapi potong, sapi perah, kambing, domba, ayam buras, ayam ras pedaging, ayam ras petelur, dan itik.

Perkebunan

Tanaman perkebunan merupakan salah satu komoditi yang dijadikan bahan baku sektor industri pengolahan. Adapun jenis tanaman perkebunan yang menonjol di Kabupaten Jombang yaitu meliputi : Tebu, Tembakau , Kelapa, Kapuk Randu, Jambu Mete, Cengkeh, Kopi, Kakao dan Pandan.



Wilayah Kabupaten Jombang


Pesantren

Pesantren di Kabupaten Jombang


Pengurus Nahdlatul Ulama

PCNU Kabupaten Jombang


Tokoh

Tokoh di Kabupaten Jombang



Sumber :

http://www.jombangkab.go.id/ http://jawatimuran.wordpress.com