Imam Al Maturidi

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Kembali ke Main Page << Nabi dan Penerusnya

Riwayat Hidup dan Keluarga

Lahir

Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad al-Maturidi as-Samarqand, lahir di Maturid sebuah kota kecil dari daerah Samarqand pada pertengahan abad ke-3 H atau pertengahan kedua abad ke-9 M.

Wafat

Beliau meninggal pada tahun 944 M. Sayangnya, Imam al-Maturidi ini tidak banyak diketahui riwayat hidupnya.


Pendidikan Beliau

Adapun secara keilmuan, Imam al-Maturidi pernah berguru kepada Nasr bin Yahya Al Balakhi dalam bidang studi fiqh dan kalam madzhab Hanafi. Lalu, beliau berguru pula kepada Abu Nasr Al ‘Iyyad, Abu Bakr Al Jurjani dan Muhammad bin Hanbal Asy Syaibani.

Kota Samarqand tempat Imam al-Maturidi dibesarkan, pada waktu itu menjadi arena perdebatan antara aliran fiqh Madzab Hanafi dan fiqh madzab Syafi’i. Bersamaan dengan itu juga terjadi perdebatan antara fuqaha’ dan ahli hadis disatu pihak, dan dengan aliran Mu'tazilah di pihak lain. Kondisi yang demikian memberi motivasi kepada Imam al-Maturidi untuk mendalami fiqh dan usul fiqh serta usul ad-din. Sebagai pengikut Abu Hanifah yang banyak menggunakan rasio dalam pandangan keagamaan, Imam al-Maturidi banyak pula menggunakan akal dalam sistem kalamnya.

Literatur ajaran-ajaran Imam al-Maturidi tidak sebanyak literatur mengenai ajaran-ajaran Asy’ariyyah. Buku-buku yang banyak membahas soal sekte-sekte seperti buku-buku asy-Syahrastani, Ibnu Hazm, al-Bagdadi dan lain-lain, tidak memuat karangan-karangan tentang al-Maturidi. Karangan-karangannya seperti at-Tauhid dan kitab Ta’wil al-Qur’an dan lain-lainnya, masih belum dicetak dan masih tetap dalam bentuk MSS (Makhtutat).

Pokok Pemikiran Imam Al Maturidi

Dalam menguraikan pemikiran-pemikiran Imam al-Maturidi, dalam beberapa hal akan terungkap juga pemikiran-pemikiran Imam Asy’ari dan Mu'tazilah. Baik Imam Asy’ari maupun Imam al-Maturidi, kedua-duanya hidup pada waktu yang sama dan tujuan yang sama pula yaitu membendung dan melawan aliran Mu'tazilah. Hanya saja, kalau Imam Asy’ari menghadapi negeri kelahiran aliran Mu'tazilah yaitu Iraq dan Basrah, sedangkan Imam al-Maturidi menghadapi aliran Mu'tazilah di negerinya sendiri yaitu daerah Samarqand sebagai cabang atau kelanjutan aliran Mu'tazilah Irak.

Imam Al-Maturidi menggunakan metode berfikir ‘aqli (rasional), sedangkan Imam Asy’ari menggunakan metode berfikir naqli (berdasarkan pengertian teks ayat dan hadits). Bahkan ‘Abd al-Wahhab Khalaf mengatakan bahwa aliran Maturidiah merupakan aliran moderat (wast mu’tadil). Maturidiyah berada di antara posisi Mu'tazilah dan Asy’ariyyah.

Selanjutnya akan diungkapkan pokok-pokok pemikiran kalam Imam al-Maturidi sebagai berikut:

Akal dan Fungsi Wahyu

Akal sebagai daya berfikir yang ada dalam diri manusia, berusaha keras untuk sampai kepada Allah, dan wahyu sebagai pengkhabaran dari alam metafisika turun kepada manusia dengan keterangan-keterangan tentang Allah dan kewajiban-kewajiban manusia terhadap Allah.

Menurut pendapat Imam al-Maturidi, akal manusia dapat menjangkau kesimpulan tentang adanya Allah, juga mampu mengetahui kewajiban berterima kasih kepada-Nya. Karena Allah adalah pemberi nikmat, maka akal manusia harus dapat mengetahui keharusan berterima kasih kepada pemberi nikmat itu. Selanjutnya Imam al-Maturidi mengatakan, bahwa akal manusia dapat mengetahui baik dan buruk sesuatu berdasarkan sifat-sifat dasar (nature) yang baik pada perbuatan baik dan sifat-sifat yang buruk pada perbuatan buruk.

Imam Al-Maturidi lebih jauh mengatakan, walaupun akal itu dapat menentukan baik dan buruk, akan tetapi tidak dalam segala hal. Beliau membagi sesuatu baik dan buruk ke dalam tiga hal, yaitu kebaikan yang hanya dapat dicapai oleh akal semata-mata serta kebaikan dan keburukan yang tidak dapat dicapai oleh akal, dan hanya dapat diperoleh melalui wahyu. Akan tetapi sebagaimana halnya Imam Abu Hanifah dalam hal kewajiban melaksanakan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk, Imam al-Maturidi berpendapat, akal tidak bisa bertindak sendiri dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban, karena pembuat taklif itu hanya Allah SWT.

Dengan demikian bagi Imam al-Maturidi akal dapat mengetahui tiga persoalan pokok, sedangkan yang satu lagi yaitu kewajiban berbuat baik dan menjauhi yang buruk dapat diketahui hanya melalui wahyu. Dan dalam hal ini, Imam al-Maturidi lebih dekat kepada Mu'tazilah yang mengatakan akal dapat mengatasi empat persoalan pokok yang berhubungan dengan akal. Sedangkan Asy’ari mengatakan akal hanya dapat mengetahui adanya Tuhan, dan tiga pokok persoalan lainnya hanya dapat diketahui melalui bimbingan wahyu.

Perbuatan Manusia

Dalam hal perbuatan manusia, Imam al-Maturidi berpendapat bahwa perbuatan itu ada dua macam, pertama yaitu perbuatan Allah yang mengambil bentuk penciptaan daya pada diri manusia, kedua yaitu perbuatan manusia yang mengambil bentuk pemakaian daya itu berdasarkan pilihan dan kebebasan.

Daya itu diciptakan bersama-sama dengan perbuatannya, karenanya pebuatan manusia dikatakan ciptaan Allah. Perbuatan yang diciptakan itu diperoleh manusia melalui peran aktifnya dengan menggunakan daya ciptaan Tuhan. Seandainya perbuatan itu tidak dipergunakan, maka pebuatan pun tidak akan ada, manusia bebas memilih. Oleh sebab itu perbuatan manusia adalah perbuatan manusia dalam arti yang sebenanya, bukan dalam arti majazi.

Perbuatan Allah

Menurut pendapat Imam al-Maturidi, perbuatan Allah itu mengandung hikmah yang ditentukan-Nya sendiri, tidak akan ada perbuatan Allah yang sia-sia. Allah Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui, justru itu Dia akan berbuat yang terbaik.

Selanjutnya Imam al-Maturidi berpandangan, bahwa taklif berupa perintah dan larangan sudah pasti mengandung hikmah. Diperintahkan untuk mengerjakan sesuatu, karena banyak manfaatnya, sedangkan larangan untuk mengerjakan sesuatu karena banyak mudharatnya. Mustahil bagi Allah untuk memerintahkan perbuatan buruk atau melarang perbuatan baik. Akan tetapi perbuatan itu tidak wajib bagi Allah, karena jika wajib berarti meniadakan iradah Allah, jika wajib berarti Allah itu dipaksa, dan apabila dipaksa berarti derajat Allah dibawah derajat makhluk.

Perbuatan Dosa Besar dan Iman

Dalam hal akibat perbuatan dosa besar terhadap iman, Imam al-Maturidi sependapat dengan Imam Asy’ari yang menyatakan bahwa amal itu sebagian dari iman, jika seseorang melakukan dosa besar sedangkan ia masih beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, ia adalah seorang mukmin.

Lebih jauh Imam al-Maturidi mengatakan, melakukan dosa besar tidak membuat seseorang abadi di dalam neraka, sekalipun ia mati sebelum bertaubat. Alasan yang dikemukakannya adalah bahwa Allah akan membalas kejahatan dengan hukuman yang setimpal. Dosa yang tidak diampuni hanyalah dosa syirik. Jadi selama seseorang itu tidak syirik, maka ia tetap mukmin, dan kalaupun ke neraka tidak akan selamanya.

Sifat-Sifat Allah

Sebagaimana halnya Imam Asy’ari, Imam al-Maturidi pun berpendapat bahwa Tuhan memiliki sifat. Menurut Imam al-Maturidi sifat bukanlah sesuatu zat, sifat bukanlah yang tegak atau melekat pada zat, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa berbilangnya sifat akan mengakibatkan kepada ta’addud al-qudama’.

Pemikiran Imam al-Maturidi di atas dapat disimpulkan bahwa sifat menurut Imam al-Maturidi bukan zat dan bukan selain zat, tidak melekat pada zat dan tidak terpisah dari zat. Sebagai contoh, Tuhan Maha Mendengar, Imam Maturidi tidak mengatakan bahwa Allah itu Maha Mendengar dan pendengaran-Nya itu adalah zat-Nya. Juga tidak mengatakan bahwa pendengaran Tuhan itu berdiri sendiri terpisah dari zat-Nya yang mengakibatkan berbilangan yang qadim.

Keqadiman al-Qur’an

Mu'tazilah berpendapat bahwa al-Qur’an itu makhluk, jadi dia bersifat hadiŝ. Sebaliknya, Imam Asy’ari berpendapat bahwa al-Qur’an itu qadim, karena Allah telah bersabda semenjak zaman azali.

Dalam hal ini Imam Al-Maturidi berpendapat bahwa kalam Allah adalah makna yang berada pada zat-Nya. Ia qadim dengan keqadiman yang tinggi. Dalam hal itu persamaan pendapat Imam al-Maturidi dengan Imam Asy’ari bahwa al-Qur’an itu qadim. Selanjutnya Imam al-Maturidi berbeda pendapat dengan Imam Asy’ari, yaitu bahwa Imam Asy’ari berpendapat kalam Allah itu sejak awal terdengar (masmu’), sedangkan Imam al-Maturidi mengatakan bahwa kalam Allah itu pada mulanya tidak terdengar (gair masmu’), karena jika terdengar, itu berarti suara, sedangkan suara itu baharu, atau makhluk. Selanjutnya menurut Imam al-Maturidi, kalam Allah itu ada dua macam, yaitu kalam nafsi, kalam ini bersifat qadim, dan kalam lafzi, kalam itu bersifat hadiŝ.

Tuhan tidak akan pernah menyalahi janjinya, Tuhan pasti memberi pahala orang yang berbuat baik dan menghukum orang yang berbuat jahat. Tuhan tidak memiliki kekuasaan mutlak lagi karena dibatasi oleh keadilan-Nya. Selain itu, Imam Al-Maturidi juga berpendapat bahwa Tuhan tidak mungkin membebani hamba-Nya dengan beban diluar kemampuannya.

Pendapat Imam al-Maturidi di atas sama dengan pendapat Mu'tazilah, tetapi berbeda dengan Imam Asy’ari yang mengatakan bahwa Tuhan memiliki kekuasaan mutlak dan tidak mesti melaksanakan janji dan ancaman-Nya. Tuhan boleh saja menghukum orang yang berbuat baik, dan itu adalah adil.

Melihat Allah (Ru’yah Allah)

Dalam hal melihat Allah, Imam al-Maturidi berpendapat sama dengan Imam Asy’ari bahwa melihat Allah pada hari kiamat itu mungkin karena hari kiamat berbeda dengan dunia. Pada hari kiamat berlaku ilmu Allah yang khusus, tanpa harus bertanya bagaimana caranya. Adapun pengibaratan melihat Allah dengan melihat bulan tanpa awan adalah memudahkan pemahaman. Ibarat itu perlu diterima tanpa bertanya bagaimana (bila kaif).

Jadi dalam hal ru’yah allah, Imam al-Maturidi berlawanan dengan Mu'tazilah, namun mengapa Imam al-Maturidi berpendapat melihat Allah itu bisa tanpa bertanya bagaimana, dengan kata lain tidak perlu akal mengerti. Hal ini bukti bahwa Imam al-Maturidi memberikan porsi kekuasaan kepada akal tidak sebesar Mu'tazilah yang memposisikan akal sebagai peranan yang terpenting.

Penutup

Demikian sekilas pandang uraian tentang Imam al-Maturidi dan pokok-pokok pemikirannya. Dari paparan tersebut dapat ditarik ringkasan sebagai berikut.

Al-Maturidiyyah termasuk dalam term ahl as-sunnah wa al-jama’ah didirikan oleh Muhammad ibn Muhammad al-Maturidi di Samarqand hidup bersama Asy’ariyyah yang muncul di tengah-tengah masyarakat sebagai reaksi terhadap aliran Mu'tazilah yang memiliki konsep multi rasional.

Hasil pemikiran yang muncul dari Imam al-Maturidi mewarnai corak rasional bila dibandingkan dengan hasil pemikiran Imam al-Asy’ari. Sehingga dalam satu sisi hasil pemikiran Imam al-Maturidi lebih dekat kepada hasil pemikiran yang dimunculkan Mu'tazilah.

Menggaris-bawahi hasil pemikiran yang muncul dari Imam al-Maturidi, nampaknya hasil pemikiran Imam al-Maturidi bercorak moderat, hanya tidak sepenuhnya memposisikan akal yang terpenting sebagaimana yang dimunculkan oleh Mu'tazilah.