Habib Umar bin Thaha bin Yahya

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Melepas Dahaga Umat Sekalipun memiliki kepribadian dengan karakter keras, tegas, dan berani, ia juga seorang yang berhati sangat dermawan.

Di sekitar Kompleks Makam Sunan Ampel Surabaya atau tepatnya sekitar Jalan Nyamplungan, Jalan Sasak, Jalan K.H. Mas Mansyur, dan Jalan Kalimasudik, sejak lama dikenal sebagai kawasan Kampung Arab. Beberapa tokoh habaib ternama masa lalu pernah tinggal di sana, di antaranya Al-Habib Al-Quthb Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Al-Habib Al-Quthb Abubakar bin Umar Bin Yahya, Al-Habib Muhammad bin Husen Alaydrus, dan Al-Habib Ahmad bin Ghalib Al-Hamid.


Pada saat yang sama, sekitar setengah abad yang lalu, hidup pula seorang ulama sesepuh Alawiyyin di wilayah tersebut yang pada masanya adalah seorang ulama yang cukup disegani. la disegani baik karena keilmuannya maupun karena kharismanya yang sangat besar.

Sekian puluh tahun waktu berjalan, namanya tidak lagi banyak disebut. Padahal pada saat itu kedudukannya cukup disegani sebagai seorang yang dituakan dan dijadikan tempat bertanya bagi masyarakat Ampel dan sekitarnya.

Dialah Habib Umar bin Thaha bin Ali Bin Yahya. Pada masanya, ia juga dikenal dengan julukan Habib Umar Kendi.

Mengarungi Samudera Luas Habib Umar bin Thaha Bin Yahya lahir pada bulan Muharram 1282 Hijriyah atau sekitar bulan Juni 1865 M di Surabaya. la adalah putra Habib Thaha bin Ali Bin Yahya, yang wafat di Jeddah pada tahun 1326 H/1908 M, dan kakak Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya, atau termasyhur dengan gelar Pangeran Noto Igomo dari Kerajaan Kutai, Tenggarong, Kalimantan Timur.

Sejak muda usia, Habib Umar dikenal sebagai seorang pengelana dunia. Dengan menggunakan kapal layar ia berkeliling dan satu negeri ke negeri lainnya. Benua Asia sendiri, terutama di negeri-negeri Timur Tengah, hingga Amerika, Eropa, dan Afrika, sudah disinggahinya. Bahkan dikisahkan, ia juga sudah menginjakkan kakinya hingga ke kawasan Ujung Harapan.

Pengalaman kerasnya dalam mengarungi samudera luas selama berpuluh-puluh tahun tampaknya membekas dalam dirinya. ia seorang yang dikenal akan karakternya yang tegas, bahkan cenderung keras. Namun kekerasan dalam dirinya terutama terlihat saat ia menyatakan sebuah kebenaran. Di luar itu, sosoknya lebih dikenal sebagai seorang ulama yang tidak banyak bicara.

Selain tegas dan keras, ia seperti orang yang tidak memiliki rasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah SWT. Namun ia sendiri senantiasa berusaha meredam sifat keras yang dimilikinya. Untuk itu, ia lazim membaca ya Haliim dalam jumlah yang banyak setiap harinya. Bacaan ini pun banyak diijazahkan kepada orang lain semasa hidupnya, khususnya kepada mereka yang memiliki sifat yang temperamental.

Sekali waktu, seorang oknum militer pernah merasa tersinggung dengan kata-katanya yang tegas dan kemudian bermaksud menakut-nakuti Habib Umar dengan menunjukkan senjata api di hadapannya. Alih-alih merasa takut, Habib Umar bahkan mendekati orang tersebut dan mengarahkan senjatanya itu ke arah perutnya sambil menatapnya tajam dan menghardiknya lebih keras lagi. “Ayo, silakan tembak saya sekarang juga. Kamu pikir saya orang yang bisa ditakut-takuti dengan cara seperti ini. Ayo, tembak!”

Rupanya oknum tersebut jatuh mental di hadapan Habib Umar, yang kharismatis. Setelah itu, ia bahkan meminta maaf kepada Habib Umar.

Begitu pula saat menjelang pemberontakan G30S/PKI, suasana digambarkan begitu mencekam dan masyarakat dianjurkan untuk tidak keluar rumah sendirian. Namun kala itu, bila ada keperluan yang hendak dilakukan, sekalipun di malam hari, Habib Umar tetap keluar rumah seperti biasa, seolah tak ada satu kejadian apa pun.

Karena sering berkeliling dunia, ia memiliki hubungan yang luas dengan banyak pihak di luar negeri. Setelah tidak lagi banyak keluar, ia sering mengadakan korespondensi dengan kolega-koleganya di luar negeri. Dari korespondensinya yang berjalan selama beberapa puluh tahun, ia sempat pula menjadi seorang filateli, atau kolektor ‘perangko antik dari berbagai penjuru dunia. Di loteng atap rumahnya, perangko koleksinya sempat terkumpul dalam sebuah peti berukuran agak besar. Jumlahnya ribuan.

Koleksi perangko miliknya cukup diminati orang. Di kemudian hari sejumlah kolektor perangko memborong koleksi perangko miliknya itu.

Berkelana sambil Berguru Pada umumnya, Habib Umar berkeliling untuk keperluan perniagaan. la membeli barang-barang tertentu dari suatu negeri kemudian menjualnya kembali di negeri lain yang ia ketahui membutuhkan barang-barang tersebut. Namun kepergiannya ke banyak negeri di seluruh dunia itu kerap dimanfaatkannya juga untuk menimba ilmu dari beberapa tokoh ulama yang ia temui dalam perjalanannya.

Di antara wilayah di Timur Tengah yang beberapa kali sempat dikunjunginya adalah kota Istambul, Turki, dan kota Makkah, Arab Saudi. Sayangnya, tidak banyak keterangan yang didapat tentang guru-guru yang ditemuinya di setiap negeri persinggahannya. Selain berkunjung ke Istambul dan Makkah ia sempat pula mendatangi negeri leluhurnya, Hadhramaut dan bermukim di sana cukup lama, sekitar 15 tahun. Di Hadhramaut, di antara yang pernah menjadi gurunya adalah Al-Habib Al-Imam Ahmad bin Hasan Al-Attas dan Al-Habib Ahmad bin Abdul Qadir Bil-fagih.

Selain di negeri-negeri mancanegara, Habib Umar juga banyak berkeliling di kepulauan Nusantara. Sewaktu masuk ke Kalimantan, ia menuju Kalimantan Timur dan masuk ke daerah Tenggarong. Di sana ia menjumpai pamannya, Al-Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya, atau Pangeran Noto Igomo, dan berguru kepadanya. Pangeran Noto Igomo, yang di antaranya pernah berguru kepada Al-Habib Syech bin Ahmad Bafagih Boto Putih, adalah seorang ulama besar di zamannya. la banyak mengajarkan ajaran syari’at dan tasawuf Islam kepada masyarakat Tenggarong.

habib muhammad bin ali bin yahya sarkub.comHabib Muhammad bin Ali Bin Yahya kemudian menikahi putri Sultan A.M. Alimuddin yang bernama Aji Raden Lesminingpuri, yang juga kakak Sultan A.M. Parikesit. Pada masa pemerintahan Sultan A.M. Parikesit, Kerajaan Kutai memberikan gelar Pangeran Noto Igomo kepada Habib Muhammad bin Ali Bin Yahya, yang berarti “Orang yang Mengajarkan Agama”.

Sekalipun pamandanya adalah seorang yang sangat dihormati dan disegani di Kerajaan Kutai, baik karena kedudukan, jabatan, maupun karena pertalian pernikahan Pangeran Noto Igomo dengan putri Sultan, hal itu tidak membuat Habib Umar menjadi orang yang hidup bermalas-malasan. Sewaktu di Tenggarong, ia sering keluar masuk hutan untuk mengambil kayu-kayu sebagai bahan bakar buat keperluannya sehari-hari. Bahkan ia sendiri yang membelah kayu-kayu hasil pencariannya itu.


Menantu Cut Nya’ Dien Habib Umar memang dikenal sebagai seorang yang sangat disiplin dan terbiasa bekerja keras. Ketinggian kedudukan keluarganya di tengah-tengah masyarakat tidak membuatnya terlena. Imam Ali bin Abi Thalib KWh pernah mengatakan, “Bukanlah pemuda, orang yang mengatakan ayahku adalah si Fulan. Akan tetapi, pemuda adalah orang yang mengatakan: Inilah aku.” Begitu pun sosok Habib Umar bin Thaha Bin Yahya. Di tanah rantau, ia tetap menjadi seorang pemuda yang memiliki semangat yang keras dalam mengerjakan apa pun dan sama sekali tidak ingin menyandarkan pada kebesaran nama keluarganya.

Sementara di tempat kelahirannya sendiri, Surabaya, ia berguru kepada Al-Habib AI-Quthb Abubakar bin Umar Bin Yahya. Dengan Habib Abubakar Bin Yahya ini, ia memang sangat dekat. Kedekatan hubungan guru dan murid itu akhirnya berlanjut pada hubungan kekeluargaan. Salah seorang putra Habib Abubakar bin Umar Bin Yahya menikahi salah seorang putri Habib Umar bin Thaha Bin Yahya.

Sebagian besar masa muda Habib Umar dihabiskan dalam pengelanaannya mengelilingi dunia. Mungkin karena itu, rekaman hidup masa lalunya tidak banyak diketahui, terutama oleh generasi sekarang. Padahal semasa hidupnya dulu, Habib Umar memiliki kharisma yang diakui banyak orang.

Habib Muhammad bin Husein Ba’bud Lawang, seorang ulama besar yang sempat tinggal di lingkungan Nyamplungan, Surabaya, semasa hidupnya di dalam majelis-majelisnya sering menyebut-nyebut kisah dua tokoh habaib, salah satu-nya adalah Al-Habib Umar bin Thaha Bin Yahya ini. Sementara tokoh satunya lagi adalah Al-Habib Al-Quthb Abubakar bin Umar Bin Yahya, yang tak lain adalah guru Habib Umar bin Thaha Bin Yahya sendiri. Salah satu informasi yang didapat dari Habib Muhammad bin Husein Ba’bud adalah bahwa, sewaktu dalam pengelanaannya di Aceh, Habib Umar sempat menikah dengan putri Teuku Umar dan Cut Nya’ Dien. Namun dari perkawinan-nya tersebut, ia tidak beroleh anak.

Ulama Ahli Falaq Setelah masa-masa mudanya banyak dihabiskannya di lautan lepas, Habib Umar banyak berdiam di Surabaya, tepatnya di Nyamplungan, Gang 6. Di rumahnya ini ia tidak membuka majelis secara khusus. Ia hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan orang yang datang kepadanya.

Habib Umar adalah seorang yang banyak bacaaannya dan memiliki banyak koleksi kitab agama. Sekalipun tidak diketahui secara pasti jumlahnya, untuk ukuran saat itu jumlah kitab yang dimilikinya sangatlah banyak.

Salah seorang murid terdekat Habib Umar, Ustadz Umar Baraja’, bertahun- tahun lamanya mengikuti keseharian Habib Umar hingga akhir hayatnya. Ustadz Umar Baraja’ sangat dipercaya dalam menangani berbagai urusan pribadi dan keluarga Habib Umar. Termasuk bila Habib Umar akan merapikan atau menata ulang kitab-kitab yang dimilikinya.

Tidak sembarang orang dipercaya Habib Umar untuk mendampinginya dalam membereskan koteksi kitab-kitabnya tersebut. Hal ini dikarenakan Habib Umar dikenal sangat rapi dalam menyimpan segala sesuatu dan sangat mengingat keberadaan setiap benda yang dimilikinya, termasuk kitab-kitab koleksinya. Sayang sekali, sebagian besar koleksi kitabnya itu kini tidak diketahui lagi rimbanya. Hanya sebagian kecil di antara koleksinya itu yang masih disimpan anak keturunannya saat ini.

Secara berkala, Habib Umar merapikan sekaligus membersihkannya dari debu-debu yang melekat dengan bantuan Ustadz Umar Baraja’. Sekali waktu Habib Umar mengatakan ke-pada Ustadz Umar Baraja’, “Ya Umar, teruskanlah khidmatmu pada kitab-kitab peninggalan para salaf itu. Dengan kesungguhan khidmat dirimu dan keberkahan kitab-kitab salaf itu, suatu saat nanti ilmu yang ada dalam kitab-kitab itu akan masuk ke dalam hatimu.”

Benar saja. Berkat kesungguhan Ustadz Umar Baraja’ dalam menuntut ilmu dan keberkahan doa dari gurunya, Habib Umar bin Thaha Bin Yahya, dikemudian hari Ustadz Umar Baraja’ dikenal sebagai salah seorang pengajar agama yang alim dan produktif.

Habib Umar sendiri, sebagai seorang ulama, dikenal memiliki spesialisasi dalam bidang ilmu falaq dan hisab. Menjelang datangnya Ramadhan dan Idul Fitri, masyarakat selalu menunggu keputusan darinya. la memiliki banyak jam, dan setiap akan masuk bulan baru semua jam miliknya selalu ia cocokkan dengan jam besar yang ada di Masjid Ampel.

Dari patokan waktu yang telah diketahuinya secara teliti, ia menghitung waktu shalat dan waktu datangnya bulan sebagai pendukung dalam merukyat hilal. Setiap tahun ia pun selalu menyusun sendiri sebuah kalender Hijriyyah, lengkap dengan konversi Masehi serta jadwal shalat setiap harinya.


Kisah di Balik “Habib Kendi” Sebagaimana tipikal sebagian ulama tempo dulu, Habib Umar juga dikenal memiliki keahlian dalam ilmu bela diri, juga terutama ketabiban. la banyak menguasai pengetahuan tentang bahan-bahan ramuan alami untuk keperluan pengobatan orang-orang yang meminta tolong kepadanya.

Selain dengan bahan-bahan ramuan alami, ia juga memiliki perangkat khas yang digunakannya untuk mengobati penyakit. Yaitu, kendi. Habib Umar memiliki dua buah kendi, yang satu terbuat dari semacam logam kuningan dan yang satunya lagi terbuat dari tanah liat. Bentuk kendi yang dimilikinya itu sebenamya lebih menyerupai ceret terbuka atau dapat pula disebut sebagai mangkuk berkaki rendah. Akan tetapi orang-orang kebanyakan terbiasa menyebut benda milik Habib Umar itu sebagai kendi.

Kendi yang terbuat dari semacam logam kuningan ia dapat dari salah seorang gurunya di kota Istambul. Pada tubuh kendi itu, selain terdapat beberapa ayat Al-Quran juga terdapat kalimat dalam bahasa Turki. Sementara kendi yang lainnya ada yang mengatakan didapatnya dari salah seorang habib di Hadhramaut, ada pula yang mengatakan dipesannya sendiri dari pengrajin kendi di Jawa Timur dengan pesanan khusus berupa grafir (tulisan berupa cetakan timbul) sejumlah ayat Al-Quran.

Kedua kendi tersebut diletakkan Habib Umar pada salah satu dinding rumahnya yang menjorok masuk ke dalam, seukuran sekitar 20 x 40 x 60 cm3. Uniknya, kendi-kendi itu selalu berisi air walau ia tidak pernah mengisikan air ke dalamnya. Setelah air itu dibagikan kepada orang banyak yang memerlukannya untuk keperluan-keperluan tertentu, setiap pagi kendi tersebut telah terisi air lagi. Demikian tradisi lisan yang beredar, baik di tengah masyarakat maupun keterangan dari pihak keluarganya sendiri.

Konon, kendi milik Habib Umar memiliki khasiat sangat mujarab hingga menjadi tujuan banyak orang yang datang kepadanya, baik untuk keperluan berobat maupun untuk mengambil keberkahan air yang ada di dalamnya.

Bukan hanya masyarakat umum yang datang untuk tujuan-tujuan tertentu. Dikisahkan, hampir seluruh tokoh habaib pada masa itu datang kepadanya untuk meminum air di dalam kendinya tersebut. Tiga serangkai habaib Jakarta masa lalu, yaitu Habib Ali Kwitang, Habib Ali Bungur, dan Habib Salim Bin Jindan, termasuk di antara tokoh-tokoh habaib yang pernah minum air dari kendi Habib Umar.

Akan tetapi, julukan Habib Umar Kendi yang melekat pada dirinya sebenarnya bukan lantaran kendi tersebut. Habib Umar, sekalipun memiliki kepribadian dengan karakter yang keras, tegas, dan berani, juga seorang yang berhati sangat dermawan. Di pagar depan rumahnya, berjejer puluhan kendi berisikan air putih untuk diminum oleh siapa pun yang membutuhkan. Kebanyakan mereka yang memanfaatkan jasanya itu adalah para pedagang dan penarik becak.

Setiap pagi, ia sendiri yang memasukkan air ke dalam kendi tersebut dan tidak ingin ada orang lain yang menggantikan pekerjaan itu. Bahkan ia sangat marah bila ada di antara anggota keluarganya sendiri yang ingin membantunya dalam aktivitas sehari-harinya itu. Dari kebiasaan menyediakan air di dalam kendi untuk minuman orang banyak itulah, ia kemudian banyak dikenal dengan julukan Habib Umar Kendi.

Selain menjejer kendi yang menghiasi depan rumahnya, Habib Umar juga meletakkan kotak kecil berisi uang yang ia sediakan untuk mereka yang membutuhkan. Setiap hari, para pengemis datang dan tangsung mengambil uang di dalam kotak itu.

Yang menarik, setiap mereka yang datang, mengambilnya secara tertib sesuai kebutuhan. Tidak pernah terjadi ada orang yang mengambil seluruh uang di dalam kotak tersebut, sekalipun saat mereka mengambil uang itu Habib Umar tidak pernah mengawasinya.

Di dalam keluarga, ia sosok yang sangat menyayangi anak-cucunya. la senang menggembirakan hati anak-anak kecil. Setiap saat selalu tersedia permen dalam jumlah yang banyak, yang selalu menjadi jatah khusus bagi cucu-cucu kecilnya. Sekalipun wataknya keras, menurut sementara anggota keluarganya yang masih hidup saat ini, keberadaan Habib Umar selagi hidup dulu benar-benar menjadi perekat kuat dalam ikatan keluarga besarnya.

la juga memiliki kebiasaan menutup majelis pertemuannya dengan membaca qashidah penutup majelis. Hampir setiap menerima kedatangan orang, baik tamu maupun anggota keluarganya sendiri, saat mereka meminta izin untuk pulang, Habib Umar selalu mengajak para tamu atau keluarganya untuk bersama melantunkan qashidah doa populer susunan Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad, yang dimulai dengan kalimat Ya rabbana’tarafnaa, bi anna-naqtarafnaa….

Mengetahui Akhir Hayatnya Di antara peninggalan Habib Umar adalah syi’ir-syi’ir (syair)-nya yang masih terjaga dengan baik oleh salah seorang keturunannya. Terdapat pula peninggalan-peninggalan sehari-hari Habib Umar lainnya, seperti tasbih dan sorban yang biasa dikenakan semasa hidupnya. Sementara kendi mujarab miliknya, sebelum wafat ia berikan kepada sahabatnya, Habib Muhammad bin Husein Alaydrus, atau dikenal dengan julukan Habib Neon. Entah kenapa, ia berpesan kepada Habib Muhammad bin Husein Alaydrus agar kendinya tersebut tidak diberikan kepada anak-cucunya.

habib abubakar bin umar bin yahya sarkub.comSahabat-sahabat Habib Umar lainnya adalah Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf (Gresik), Habib Shalih bin Muhsin Al-Hamid (Tanggul), Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdhar (Bondo-woso), Habib Ahmad bin Ghalib Al-Hamid (Surabaya), dan Habib Abubakar bin Husen Assegaf (Bangil). Namun dari berbagai sumber diceritakan, sahabat terdekat Habib Umar adalah Habib Husein bin Muhammad Al-Haddad atau dikenal dengan Habib Husein Jombang. Semasa hidupnya, keduanya sering kali saling mengunjungi.

Dari hasil pernikahannya dengan Syarifah Salma Alaydrus, ia mempunyai banyak putra dan putri. Namun yang melanjutkan nasab keturunannya hingga saat ini adalah kedua putranya yang bernama Muhammad dan Abubakar.

Dikisahkan, sudah sejak lama putranya yang bernama Muhammad menderita sakit yang agak keras. Beberapa waktu sebelum wafatnya putranya ini, salah seorang anggota keluarganya menyampaikan berita kepada Habib Umar tentang penyakit anaknya tersebut yang semakin bertambah keras. Dokter yang merawatnya pun sudah memberikan isyarat bahwa secara medis usia putra Habib Umar sudah tidak lama lagi. Saat berita itu disampaikan, Habib Umar dalam kondisi sehat-sehat saja sekalipun sudah mencapai umur seratus tahun lebih. Kala itu ia malah me-ngatakan, “Sayalah yang terlebih dulu akan wafat, setelah itu baru anak saya.”

Benar saja, tidak lama setelah itu Habib Umar pun wafat. Baru kemudian, sepekan setelah ia wafat, putranya yang bernama Muhammad menyusul kepergian sang ayah.

Dalam catatan Habib Muhammad bin Husein Ba’bud disebutkan, Habib Umar wafat pada tanggal 4 Rabi’ul Awwal 1385 Hijriyyah. Bila dikonversi ke dalam penanggalan Masehi (dengan kemungkinan selisih satu-dua hari), tanggal wafatnya 4 juli 1965 M.

Jenazah Habib Umar dimakamkan di Kompleks Pemakaman Pegirian, Surabaya, pada kubah Al-Habib Al-Quthb Abubakar bin Umar Bin Yahya, salah seorang gurunya. Ribuan pelayat mengantar jenazahnya. Pengaruh Habib Umar semasa hidup memang cukup besar, terutama di kalangan masyarakat muslim etnis Madura, yang banyak mendiami wilayah di sekitar Ampel, Surabaya.


Sumber: MAJALAH ALKISAH NO. 27/29 DES. 2008-11 JAN. 2009 seperti dipoting oleh http://www.sarkub.com