Habib Umar bin Alawi bin Abi Bakar Al Kaff

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Muqaddimah بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على أشرف المرسلين سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين وتابعيهم باحسان الى يوم الدين.أما بعد: Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kita segala rahmat-Nya sehingga kita dapat merasakan ni'matnya iman, islam dan ihsan. Dan hanya dengan berkat pertolongan Allah swt saya dapat menyusun sebuah biografi salah seorang ulama yang asal Tarim Hadramaut pada abad ke 14 H, yaitu Habib Umar bin Alwi bin Abi Bakar Al-Kaff yang bergelar "Sibawaihi pada zamannya ", biografi ini saya kutip dari berbagai sumber, besar harapan saya semoga dapat berguna bagi saya pribadi dan pembaca sekalian.

Diantara hikmah ulama mengatakan : "Barangsiapa menulis manaqib atau biografi seorang wali karena Allah, maka dia akan beserta wali itu, dan barangsiapa membaca manaqib waliullah didalam kitab-kitab tarikh karena cinta terhadapnya, maka seakan-akan dia menziarahinya, dan barangsiapa menziarahinya diampuni dosanya selama dia tidak menyakiti wali itu dan menyakiti orang muslim yang ditemuinya dijalan".

Dan kata Mufti diyar al-Hadhramiyah Habib Abdurrahman bin Muhammad Al-Masyhur (Penulis kitab Bughyah al-Mustarsyidin) : " seorang manusia tidak akan kenal terhadap tuhannya kecuali setelah ia mengenal nabinya,dan tidak akan kenal ia terhadap nabinya kecuali ia mengenal pendahulunya yang saleh wali Allah".

Salawat dan salam semoga tercurah dan terlimpah kepada nabi besar Muhammad SAW, karena dengan peninggalan beliau kita dapat mengambil warisan yang berharga melalui pendahulu kita dan guru-guru kita.

Saya ucapkan terimakasih atas kerjasama teman-teman dalam merealisasikan manaqib ini, dan terimakasih khusus saya ucapkan kepada guru kami yang mulia Al-Habib Idrus bin Umar Al-Kaff yang telah mengijazahkan (memberi ijazah sanad) seluruh kitab karangan ayah beliau kepada kami semoga Allah memanjangkan umur beliau sehingga kita senantiasa mengambil faidah darinya. Dan saya mohon maaf jika dalam penulisan manaqib ini terdapat kesalahan dan kekeliruan karena itulah sudah batas kemampuan saya. Akhirnya hanya kepada ALLAH kita memohon petunjuk, semoga kita dimudahkan jalan menuju kehidupan yang bahagia didunia dan akhirat kelak dan semoga apa yang saya persembahkan ini ikhlas karena Allah semata. Amien ya Robbal 'Alamien.

Hadramaut, 5 Safar 1429 H Penulis

M. Nuruddin (Aidin) bin Nurani al-Banjari MAHASISWA UNIVERSITA AL-AHGAFF AL-ALLAMAH AL-HABIB UMAR BIN ALAWI BIN ABI BAKAR AL-KAFF (Sibawaihi Zamannya)


Nasab dan Kelahiran beliau

Nasab beliau as-Sayyid al-Imam al-Allamah al-Habib Umar bin Alwi bin Abi bakar bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad (al-Kaff) bin Muhammad bin Ahmad bin Abu bakar bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin al-Faqih al-Muqaddam Muhammad bin Ali bin Muhammad (Shahib al-Mirbath) bin Ali (Khali' al-Qasam) bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Muhammad bin al-imam Ali al-'Uraidhi bin Ja'far Asshadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal 'Abidin bin Husain as-Sibth bin Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah az-Zahra binti Rasulullah Muhammad SAW.

Beliau dilahirkan di kota Tarim al-Ganna' pada tanggal 8 Rabi'ul awwal 1325 H, dari orang tua yang mulia yang bernama Habib Alwi bin Abu bakar bin Ahmad al-Kaff dan Syarifah Alawiyah binti Ahmad bin Alwi as-Sari.

Pada masa kecilnya beliau ditinggal ayahnya berimigrasi ke wilayah Asia, dan pada masa kanak-kanak beliau ditinggalkan oleh ibunya yang tercinta pergi untuk selamanya, sehingga beliau pertama kalinya dididik dan dibesarkan dibawah asuhan kakek beliau ayah dari ibu yaitu seorang wali yang saleh Habib Ahmad bin Alwi as-Sari (yang menurut keterangan dari kaum shalihin Habib Ahmad as-Sari ini memiliki hal ihwalnya al-Faqih al-Muqaddam). Beliau selalu mengarahkan cucunya untuk belajar mengambil manfaat ilmu dari para guru dan ulama yang saleh di Tarim dan sekitarnya, juga selalu memperhatikan dan membimbing dengan penuh kasih sayang, sehingga beliau ini sangat berkesan dikehidupan cucunya, oleh sebab itu tidak diragukan lagi beliau adalah " Syekh al-Fath " cucunya ini.

Diriwayatkan :

لولا المُربِّي ماعرفتُ ربِّي " jika seandainya tidak ada murabbi (pembimbing) maka aku tidak akan kenal tuhanku " <r> Jalan pendidikan sayyid Umar ini dimulai dari belajar al -Qur'an, membaca dan menulis di salah satu madrasah favorit dikota tarim yaitu "Madrasah 'Ulmah Bagharib" kemudian pindah ke madrasah "Jam'iyatul Haq" (yang dirintis tahun 1334 H), madrasah ini mempunyai metode atau kurikulum pelajaran yang sangat padat dalam konsentrasi keilmuan islam dan bahasa melebihi madrasah lain.

Sebagai ekstrakurikuler, ia berpindah-pindah antara Rubath dan Zawaya dalam rangka mempelajari berbagai ilmu yang berbeda dari para ulama dan pakar terkemuka. Dan demi sebuah penguasaan disipilin ilmu ia tidak jarang berusaha untuk betul-betul Tahqiq dalam suatu pembahasan.

Di masa-masa dahaga akan ilmu hampir seluruh waktunya hanya digunakan untuk ilmu, bergadang adalah suatu rutinitas kesehariannya guna mengulang dan mempelajari kitab. Disamping selalu berdiskusi dengan para ulama, sampai akhirnya beliau mahir dalam berbagai disiplin ilmu pengetahuan seperti Nahwu (Gramatikal Arab), Sharaf, Balaghah, Fiqh, Tafsir, Tarikh, ilmu Nasab sehingga melebihi teman-temannya.


Guru-gurunya

Guru beliau dapat dikatagorikan banyak, sebab sejak masa kecilnya sudah belajar dengan ulama kaliber Tarim, juga dengan para ulama dari berbagai penjuru yang datang ke Tarim untuk ziarah.

Diantara guru-guru beliau:
• Al-Habib Al-Allamah Ahmad bin Alwi as-Sari.
• Al-Habib Al-Allamah Abu Bakar bin Muhammad bin Ahmad as-Sari Jamalullail.
• Syekhul Islam Al-Habib Al-Allamah Abdullah bin Umar bin Ahmad as-Syatiri.
• Al-Habib Al-Allamah Ahmad bin Umar bin Awad as-Syatiri.
• Al-Habib Al-Allamah Alwi bin Abdullah bin Syihab.
• Al-Habib Al-Allamah Alwi bin Abdurrahman al-Masyhur.
• Al-Habib Al-Allamah Ali bin Abdurrahman bin Muhammad al-Masyhur.
• Al-Habib Al-Allamah Abdullah bin Idrus Al-Aydrus.
• Al-Habib Al-Allamah Abdul bari bin syekh Al-Aydrus.
• Al-Habib Al-Allamah Salim bin Hafidz bin Syekh Abi Bakar.
• As-Syekh Al-Allamah Abi Bakar bin Ahmad al-Khatib.
• As-Syekh Al-Allamah Muhammad bin Ahmad al-Khatib.
• As-Syekh Al-Allamah Taufiq Faraj Aman.

Beliau juga mempunyai guru-guru tabarruk (ambil berkah) diantaranya :
• Al-Habib Al-Allamah Ali bin Muhammad al-Habsyi ( shahib simthuddurrar ).
• Al-Habib Al-Allamah Ahmad bin Hasan al-Attas.
• Al-Habib Al-Allamah Muhammad bin Hadi as-Seqqaf.
• Al-Habib Al-Allamah Ahmad bin Abdurrahman as-Seqqaf.

• Al-Habib Al-Allamah Abdurrahman bin Ubaidillah as-Seqqaf dan lain-lain. Sedangkan karirnya sebagai guru di Rubath Tarim di tahun 1340 H setelah Shubuh dan Maghrib, dan tiap pagi di madrasah al-Kaff sampai madrasah ini digabung dengan madrasah al-Ukhuwah Wal Mu'awanah.

Beliau juga memimpin pelajaran di kubah keluarga besar Abdullah bin Syekh al-Aydrus pada tahun 1376 H dalam fan nahwu, fiqih dan tafsir sampai wafat beliau.

Di tengah kesibukan mengajar antara rubath dan madrasah, rumahnya juga selalu terbuka untuk para pelajar, sehingga seluruh waktu digunakannya untuk ilmu dan mengajar dari fajar sampai malam.

Gregetnya yang luar biasa untuk menyebarkan ilmu sehingga tak ayal waktu bepergian pun digunakan untuk mengajar. Tepatnya waktu beliau pergi untuk melaksanakan ibadah haji pada tahun 1415 H (haji yang kedua kalinya), Sayyid Abdul Qadir bin Salim bin Alwi al-Khirid meminta waktunya untuk mengajarkan sebagian pelajaran nahwu dan fiqih kepada anak dan para muridnya, juga para pelajar yang ada di Jeddah, maka dengan senang hati beliau kabulkan permintaan tersebut tanpa ragu-ragu. Dan mereka berdatangan pada waktu pagi ke kediaman beliau, demikian itu berlangsung selama tiga bulan lebih, sehingga banyaklah yang mereka ambil dari beliau baik ilmu maupun adab.

Mereka yang belajar kepada beliau di Saudi arabia ini sangat banyak, kalangan ulama Makkah lebih khusus kalangan imigran Hadhramaut dan Jeddah yang berdomisili disana, diantara mereka adalah menantunya yang juga putra dari gurunya yaitu As-Sayyid Al-Allamah Muhammad bin Ahmad as-Syatiri (pengarang Syarh Yaqut an-Nafis), Al-Imam Al-Allamah Ahmad bin Masyhur al-Haddad dan Imamnya ulama khalaf pengganti ulama salaf Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Seqqaf.

Pada suatu acara kumpulan ulama di Jeddah, para pemuka dan pemudanya dimana dalam acara itu hadir Al-Habib umar al-Kaff ini, Habib Abu Bakar Aththas bin Abdullah al-Habsyi berkata : Wahai para pemuda (pelajar)….bahwasanya ulama salafushalih yang ada di Tarim telah mengutus sebagian dari mereka yaitu Al-Habib Umar bin Alwi…kepada kalian supaya dapat menikmati dengan memandangnya bagi mereka yang tidak pernah pergi ke Hadramaut, pandanglah beliau dan beliau akan memandang kalian agar terjalin hubungan dengannya, sungguh ulama salaf telah mengirimnya untuk hal yang penting ini bukan karena untuk haji sebab beliau sudah haji pada tahun yang lewat ".

Ketika beliau berada di Jeddah ini juga datang ziarah ke kediaman beliau, Al-Allamah Habib Prof.DR Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani membaca kitab dihadapan beliau juga mengijazahinya.

Cara beliau dalam menyampaikan pelajaran sangat menyenangkan hati dan menarik jiwa pendengarnya, memberikan penjelasan dengan ayat-ayat al-Qur'an dan hadits-hadits nabawi serta dengan bait-bait sya'ir disamping itu juga diselingi dengan ilmu yang langka dan kisah-kisah yang berkesan. Kepiawaian dalam mentransfer maklumat kepada hati para pendengarnya, ini bisa dilihat ketika beliau menerangkan "Alfiah ibn malik" dalam ilmu nahwu terlihat beliau asyik tenggelam dalam menerangkannya hampir-hampir menetes air liur beliau karena sangat asyiknya menerangkan kitab tersebut, beliau berbicara (mengajar) beberapa jam lamanya tanpa memandang kitab, kiranya tidak ada yang menyainginya dibidang ilmu ini, tidak heran bila beliau digelari "Sibawaihi" pada masanya.

Sayyid Husain bin Idrus Aided bercerita : "Sudah dikenal bahwa guru kami (Habib Umar al-Kaff) menghabiskan seluruh hidupnya untuk menyebarkan ilmu dengan penuh kemurahan sampai wafatnya, seluruh kegiatannya untuk kajian dan diskusi keilmuan, benar-benar beliau telah menunaikan kewajibannya yang sangat sulit; karena beliau termasuk orang yang berkompeten dalam bidang ilmu bahasa Arab (ilmu alat), meski sangat dalam dan sulitnya ilmu itu beliau mampu menguasainya dan menyajikan kepada murid-muridnya sesuai dengan selera sehingga beliau digelari " Sibawahi " zamannya".

Ia telah mempersembahkan sesuatu yang indah dan mahal harganya dalam menjalankan kepentingan ilmu dengan jalan lebih utama, tidak menjadikan ilmu itu sebagai usaha untuk mencari penghasilan alias sisi materi dunia belaka, bahkan ia menjadikan para pelajar sebagai tamu kehormatan di rumahnya dan menyuguhkan kepada mereka beberapa jamuan, sebagai motivator mereka dalam menuntut ilmu, lebih lagi ketika dipadu dengan hikayat-hikayat serta dan diselingi humor, untuk memberi semangat kepada mereka, metode ini merupakan metodologi pendidikan yang benar dan tepat.

Ketika sudah berusia lanjut ia mengadakan pelajaran nahwu, fiqh dan sejarah di kediamannya pada tiap sore ahad, mayoritas (kebanyakan) ulama, pemuka dan pemuda tarim saat itu ikut serta melahap hidangan intelektual itu.


Akhlak dan Hidup bermasyarakat

Ia dikenal begitu rendah diri, tidak suka pamer dan popularitas, bahkan beliau memandang diri beliau sendiri paling rendahnya manusia dalam ilmu dan amal, tidak menyukai perkataan yang sia sia dan berceloteh. Apabila berkata tidak lain kecuali perkataan yang berfaedah dan dengan susunan kata yang menyenangkan para pendengarnya.

Apabila menegur suatu perbuatan yang jelek maka dengan teguran yang sopan, berbudi dan mendidik. Maksudnya apabila beliau melihat seseorang berbuat sesuatu yang jelek maka beliau tegur (biasanya kalau seorang ayah/guru melihat anak/muridnya berbuat sesuatu kejelekan maka ia akan menegurnya dengan kasih tidak dengan kasar), apabila menasehati maka dengan jalan yang meyakinkan, mempunyai sifat yang terpuji serta lisan yang selalu basah dengan zikir baik di rumah ataupun di jalan, sebagaimana dikatakan murid beliau sayyid Husain Idrus Aided : Habib Umar memiliki akhlak yang tinggi, tidak pernah memberi tahu orang yang duduk bersamanya bahwa ia berilmu yang tinggi atau mempunyai kemuliaan yaitu kemuliaan yang menarik perhatian orang disekitarnya dan mengumpulkan pengikut dibelakangnya (biasanya kalau orang itu mulia dan punya pengaruh ia banyak punya pendukung/pengikut), inilah puncak daripada kerendahan hati.

Sopan santun dan manisnya perkataannya juga diakui oleh para pribadi yang nota bene tidak sepaham dengannya, diceritakan oleh putranya yaitu Sayyid Idrus Umar al-Kaff : " Saat aku bersamanya (Habib Umar) dirumahnya tiba-tiba datang salah seorang pegawai pemerintah dan bersamanya seorang orientalis asal Jerman yang kebetulan seorang sejarawan, bertujuan ingin meminta keterangan tentang sejarah hidup komunitas ibadhiyin di Tarim pra perkembangan golongan alawiyin, maka beliau menjawab dengan jawaban yang ilmiah dan logis, dengan gaya bahasa yang luar biasa dari sisi Nahwu, Sharaf dan Balagah. Sebagaimana beliau juga adalah referensi dalam ilmu sejarah khususnya biografi para ulama salaf bani Alawi dan lainnya".

Walhasil, rendah diri dan kecintaan terhadap penuntut ilmu sekaligus selaku motivator mereka dalam belajar merupakan "warisan" dari keluarga dan salafus shalihnya, tidak heran bila tiap orang yang datang atau duduk bersama beliau menjadi senang. Inilah karakteristiknya yang seyogyanya menjadi cermin teladan bagi generasi sekarang lebih spesifiknya para ulama (jangan hanya karena perbedaan pendapat lalu menjadi ajang perang hina ini bukan ulama sebenarnya, Wallahua'alam)

Sayyid al-Fadhil Abdul Qadir bin Abdurrahman al-Junaid - ketika menyebutkan biografi guru-gurunya dalam kitabnya "Durr al'Uquud al Jahizah" mengkategorikan Habib Umar al-Kaff ini sebagai guru utamanya, dalam kajian kitab Minhaj (fiqh) dan Alfiah (nahwu) : Ketika para guru habib Umar wafat, kepemimpinan ulama di Tarim jatuh ke tangannya dan jadilah beliau sebagai orang yang diutamakan dalam majelis ilmu dan aktifitas relegius (keagamaan) lainnya.

Adapun kegiatan sosialnya sangat banyak, seperti mendamaikan orang yang berseteru, menikahkan orang, menuliskan wasiat, membagi harta warisan dan membantu melepaskan segala kesusahan umat dsb. Beliau memimpin majelis fatwa di kota Tarim dari tahun 1410 – 1411 H.

Beliau mempunyai jangkauan yang luas dalam silaturrahim, membantu orang yang berhajat, menolong orang yang memohon pertolongan, menjenguk orang yang sakit dan yang lanjut usia, tidak pernah terlambat kalau diundang dalam suatu perkumpulan ataupun acara penting, selalu aktif menghadiri majelis khusus atau umum walaupun usia beliau sudah lanjut, dengan dibantu murid-murid beliau atau ulama Tarim untuk menghadiri tersebut seperti al-Allamah Syekh Fadhl bin Abdurrahman Bafadhal, Sayyid Abdullah bin Muhammad bin Syihab dan Sayyid Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafizh.

Karya-karyanya

Beliau menguasai berbagai bidang ilmu sebagaimana telah tersebut sehingga banyak pula karangan beliau diantaranya : Khulashat al Khabar, al-Faraid al Jauhariah, Tuhfata al Ahbab, Assharhul Mumarrad Wafakhrul Muabbad, Mawahib al Quddus, al Khabaya Fi az-Zawaya, Irsyad at-Thalib an-Nabiih, Atthib al Anbari, dan Ta'liqat 'Ala Alfiah ibnu Malik.

Murid-muridnya

Muridnya terhitung sangat banyak karena tidak ada dari ulama Tarim yang tidak pernah belajar kepadanya, bahkan bukan dari Tarim saja yang belajar kepada beliau, melainkan juga dari berbagai kota di Hadramaut khususnya dan Yaman pada umumnya dan luar Yaman.

Diantara mereka yang termasuk murid mutaqaddimin (terdahulu) adalah:
• Al-Allamah Habib Salim bin Thalib al-'Athas.
• Al-Allamah Habib Muhammad bin Salim bin Hafizh.
• Al-Allamah Habib Muhammad bin Alwi bin Syihab.
• Al-Allamah Habib Salim bin Alwi al-Khirid.
• Al-Allamah Habib Hamid bin Abdul Hadi al-Jailani dan lain-lain.

Diantara murid beliau yang termasuk mutaakhirin (masanya dibelakang dari masa mereka diatas) adalah :
• Habib Abdullah bin Muhammad bin Syihab (sesepuh ulama Tarim).
• Anak beliau sendiri as Sayyid al-Fadhil Idrus bin Umar al-Kaff (Ketua umum administrasi fakultas Syari'ah Universitas al-Ahqaff Tarim).
• Almarhum mufti Tarim Syekh Fadhl bin Abdurrahman Bafadhal (Guru di Rubath dan Dosen fakultas Syari'ah Universitas al-Ahgaff).
• Al-Allamah Habib Prof.DR.Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani Makkah.
• Al-Allamah al-Mufti Habib Ali Masyhur bin Muhammad bin Hafizh (Ketua majelis fatwa Tarim sekarang dan pendiri sekaligus pengasuh pesantren Darul Mustafa).
• Habib Umar bin Muhammad bin Hafizh (Dekan Pondok Pesantren Darul Mustafa).
• Habib Zein bin Ibrahim bin Smith (Pengasuh Rubath di Madinah Saudi Arabia).
• Habib Salim bin Abdullah bin Umar as-Syatiri (Pengasuh Rubath Tarim).
• Habib Abdul Qadir Jailani bin Salim al-Khirid Jeddah.
• Habib Husain bin Idrus Aided (Dosen fakultas Syari'ah Universitas al-Ahqaff) dan lain-lain.

Karamahnya

Bagi tiap-tiap amaliah dan mujahadah itu ada buahnya, dan buahnya amal adalah istiqamah dan nampaknya karamah. Sebagaimana dikatakan oleh ulama salaf : الإستقامة أعظمُ الكرامة "Istiqamah adalah sepaling besar karamah "

Mereka para ulama seperti Habib Umar bin Alwi al-Kaff ini sejak lahirnya sampai wafatnya sudah mencapai tingkatan pendidikan, ilmu, amal dan pergaulan dengan para ulama yang saleh serta menjauhi kemewahan duniawi.

Karamah atau sesuatu yang tidak sesuai dengan adat kebiasaan manusia bukanlah tuntutan juga bukanlah puncak dari amal yang dikerjakan, akan tetapi sebagai tanda kebenaran hubungan mereka dengan tuhannya. Sehingga jika seandainya tidak nampak pada mereka suatu karamah, maka jalan hidup mereka menuju keridhaan Allah yang maha kuasa dengan adab dan akhlak yang baik sudah merupakan kemulian yang besar melebihi karamah.

Dalam manaqib yang singkat ini tidak disebutkan karamahnya, karena tidaklah tujuan kita dalam menulis manaqib ini untuk memasyhurkan atau memperkenalkan seorang wali dengan karamahnya, melainkan untuk memperkenalkan kepada anak cucu kita tentang pemeliharan dasar-dasar syari'at islamiyah dan menekankan tingkatan edukatif (pengajaran atau pendidikan), sebagaimana yang dijalani oleh mereka karena itulah tujuan dari syari'at Nabi Muhammad SAW.

Wafatnya

Pada hari senin 26 Jumadil Awwal 1412 H, beliau berpulang ke rahmatullah dalam keadaan sehat tanpa diawali sakit, karena waktu itu beliau mau bersiap-siap untuk menyambut tamu dalam acara tasmiyah (pemberian nama) salah satu cucu beliau, maka setelah bersuci, memakai pakaian dan harum-haruman, ruh beliau diambil oleh yang Maha Kuasa dalam keadaan syahadah dan zikir.

Wafatnya beliau merupakan suatu kesedihan yang amat mendalam bagi rakyat Yaman dan umat islam umumnya. Surat dan telegram datang dari berbagai tempat sebagai ucapan bela sungkawa. Jenazah beliau dishalatkan di Jabanah yang diimami oleh Habib al-Quthb Abdul Qadir bin Ahmad as-Seqqaf, seluruh masyarakat Tarim ikut menshalatinya dan juga masyarakat sekitarnya seperti Seiyun, Syibam dan lain-lain. Kemudian jenazah beliau diantar keperistirahatan terakhir yaitu maqbarah Zambal (pemakaman para sadah bani Alawi dan para wali) dengan meninggalkan anak dua putra dan empat putri. Sebelumnya diceritakan bahwa Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Seqqaf ingin berangkat ke Aden tatkala beliau berada di Seiyun tapi selalu ada halangan tidak jadi berangkat, sehingga beliau menerima berita duka wafatnya Habib Umar al Kaff, barulah setelah itu beliau bisa berangkat ke Aden untuk kembali ke Jeddah Saudi Arabia setelah menghadiri pemakaman habib Umar ini. Kemudian masyarakat Tarim mengadakan acara tahlilan dan Ta'bin (kenang jasa) terhadap beliau setelah 40 hari dengan besar-besaran.

Sekian sekapur sirih tentang biografi salah seorang ulama Tarim, semoga kita dapat mengambil intisarinya dan bermanfaat untuk kehidupan kita. Amien ya Rabbal 'alamien. Disarikan dari berbagai sumber.

Biografi penulis Muhammad Nuruddin (Aidin) bin Nurani bin Darham bin Dupilih bin Dukari.

Sumber: http://tareemzone.blogspot.com