Habib Umar Al Mihdhar

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

AL-HABIB UMAR AL-MIHDHAR ( W: 833 H )

۞ Nasab Dan Keturunan

Beliau adalah anak dari " Al-Imam Wadi Ahgaff Abdurrahman As-Segaff bin Muhammad Maula Dawilah bin Alwi Al-Gayur bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shohib Mirbath bin Ali Khali' Qosam bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja'far As-Shadiq bin Muhammad Al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain bin Fatimah binti Nabi Muhammad Saw".

Beliau mempunyai empat anak perempuan, bernama Maryam, Alwiyah, Fatimah dan Aisyah.


۞ Kelahiran Dan Pertumbuhan

Keturunan ke dua puluh dari Rasulullah SAW lahir di kota Tarim Al-Ghanna pada bintang As-Su'ud dari Istri Sayyid Abdurrahman Assegaf yang merupakan putri salah satu teman akrab ayah beliau Syeikh Ali bin Abdullah Ba'alawi yang bernama Bahiyah, dari istri ini juga lahir tiga saudara beliau yaitu Ahmad, Muhammad dan Abu Bakar, mereka berempat adalah saudara seibu, dari tiga belas orang putra yang dimiliki oleh sayyid Abdurrahman Assegaf.

Sejak kecil beliau dibimbing oleh sang ayah yang memberikan pendidikan secara lahir dan batin, bahkan pada masa kecil beliau telah dapat menyelesaikan hafalan Al-Qur'an.

Kita akui bahwa seorang anak kecil yang lepas dari dosa ditambah dengan perhatian orang tua tentang segala yang berkaitan dengan syari'at (halal dan haram), akan sangat cepat menyerap dan menghafal apa yang dibacanya. Salah satu bukti yang lain bahwa beliau mencintai syariat adalah hafalnya (beliau) terhadap kitab Al-Minhaj At-Thalibin karangan Al-Imam Nawawi sebagaimana hafalan surat Al-Fatihah. Itulah ungkapan dari Al-Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi dalam Syarah Ainiyah.

Diceritakan bahwa suatu ketika beliau mengikuti majelis taklim yang diadakan oleh ayah beliau sendir (Syeikh Abdurrahman As-Segaff), sang ayah menerangkan tentang seorang ahli fiqih yang ingin membuang hajat dalam keadaan menghadap kiblat kemudian ia teringat bahwa hal tersebut tidak boleh (haram) , maka ia berpaling dari keadaan semula sehingga membelakangi kiblat dan ia teringat lagi bahwa itu juga haram, kemudian ia menghadap kearah lain, dengan begitu sang faqih mendapat ampunan dari Allah Swt. yaitu dengan menjalankan syariatnya dimana di dalamnya terdapat syiar syiar, salah satunya adalah menghormati Ka'bah sebagai kiblat. Berawal dari sanalah keinginan untuk memperdalam syariat secara matang tumbuh pada Sayyid Umar sejak kecil. Ketika majelis berakhir, Sayyid Umar kecil yang duduk di barisan akhir ditemui oleh ayahnya seraya berucap :"Oleh karena itu (yaitu ampunan Allah terhadap ahli fiqih dan niat beliau untuk itu) belajarlah, belajarlah dengan giat dan sungguh sungguh, karena sesungguhnya para ahli fiqih mempunyai bara apinya syariat Allah SWT (pangkal), sedangkan para ahli tasawuf mempunyai api unggunnya". Yang berarti bahwa ahli fiqih memperhatikan aktivitas yang bersifat lahiriah, sedangkan ahli tasawuf memperhatikan lahir dan batin. Sayyid Abdurrahman juga pernah berkata kepada beliau : "Bahwa uqiyah dari amal batin sebanding dengan sungai dari amal zhahir", dengan maksud agar sayyid Umar kecil bisa menggabungkan antara kedua ilmu syariat dan hakikat atau lahir dan batin.

Dengan tuntunan Syeikh Abu Bakar bin Muhammad Balhaj Bafadhal dalam bidang fiqih beliau menjalani pengembangan ilmu syariat, dan beliau lebih banyak menggandrungi kitab Minhaj (karya Imam Nawawi) dan kitab Tanbih karya Al-Imam Syirazi As-Syafi'i. Adapun kitab selain fiqih yang beliau lebih perhatikan adalah kitab Ihya Ulumiddin karya Al-Imam Al-Ghazali dan tafsir As-Sulami yang bernama at-Tahqiq, hingga dapat dikatakan beliau telah menghafalnya, selain itu, ia juga menimba ilmu dari ulama yang lain di Hadhramaut dan Syihr.

۞ Mujahadah

Dengan bimbingan orang tua yang juga sebagai guru, murabbi, didukung kemauan yang tinggi untuk menghiasi diri dengan akhlak-akhlak mulia sebagaimana yang dianjurkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, ia juga berenang di samudra hati (kalbu) dengan jihad terhadap hawa nafsu, dengan taufik yang Maha Kuasa serta lingkungan yang penuh dengan cahaya Rabbani, sedikit demi sedikit beliau melangkah meniggalkan segala yang berkaitan dengan hawa nafsu menuju ridho Ilahi. Dengan kemauan yang kuat serta tekad yang teguh dan waktu yang tidak sebentar beliau mampu meninggalkan segala sesuatu yang bersifat mubah, apalagi dari yang syubhat, sehingga amal perbuatan beliau selalu berkisar pada wajib dan sunnah, dengan demikian akhirnya beliau bias mencapai hasil yang tak terhingga, sebagaimana dikabarkan bahwa : "Ada salah seorang hamba Allah SWT yang mencapai derajat ketakwaan yang tinggi meminta kepada yang Maha Pengasih untuk memperlihatkan kepadanya derajat Syeikh Umar Al-Mihdhar, maka nampaklah cahaya yang menerangi dunia dan isinya", itulah maqam beliau saat itu, karena derajat ketakwaan adalah martabat yang tiada akhirnya, yang merupakan milik dan karunia-Nya dan orang yang masuk kelembaran putih itu adalah orang yang mencari keridhoan-Nya.

Dalam mujahadahnya, beliau senantiasa bersabar dan bersabar terhadap godaan hawa nafsu yang menjadikan hati sebagai target utama, karena rusaknya hati mengakibatkan kerusakan di berbagai bagian yang lain. Demi ridlo Allah dan jihad terhadap hawa nafsu. Beliau hanya makan sekali untuk berhari-hari dan juga lebih dari 30 tahun tidak makan Ruthob dan kurma. Pernah suatu hari beliau mengambil satu biji kurma dan meletakkannya di tangan dengan membolak-balikkannya di atas jemari sambil memperhatikannya, lantas kemudian ia berikan kepada orang yang berada di sampingnya. Sayyid Umar lantas ditanya mengapa beliau melakukan itu, maka beliau menjawab : "Bahwa kurma adalah makanan favoritnya (yang paling ia sukai), tetapi ia berikan kepada orang lain demi Tuhan dan untuk mematahkan kehendak hawa nafsu dengan tidak mematuhinya.

Contoh lain dari usaha beliau dalam memerangi hawa nafsu adalah beliau pernah selama dalam kurun 5 tahun tidak makan selayaknya orang yang hidup dan makan, selama sebulan beliau tidak menelan sesuatu kecuali air, begitu juga ketika dalam perjalanan haji selama 40 hari beliau tidak menelan sesuatu. Walau dalam keadaan begitu beliau tidak kehilangan kekuatan meneruskan perjalanan menuju Baitullah Al-haram.

Sesekali pernah pangkal tenggorokan beliau kering karena tidak pernah meneguk apapun dari makanan dan minuman, kemudian beliau menemui saudarinya yang bernama Maryam dan ia menyuguhkan serta menuangkan air untuk beliau, tetapi air itu tidak bisa masuk sampai akhirnya beliau meminum sedikit samin (sejenis minyak) guna melunakkan keringnya tenggorokannya sampai air itu bisa masuk ke dalam perutnya. Hasilnya, pengetahuan Rabbani dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan beliau raih, bumi seakan-akan tunduk untuk menerima perintah beliau dan menegah dari larangannya, kedudukan dan martabat beliau di mata Khaliq Sang Pencipta dan makhluk terpampang bahwa beliau menempati maqom Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani yang mana benda-benda mati dan hewan tunduk kepadanya.

Itu semua setelah perjalanan panjang, hasil mujahadah ilmu syariat dan ilmu hakikat. Dari ilmu pengetahuan Rabbani tersingkap maklumat beliau, pada tahun 808 H pada masa Syeikh Abu Bakar As-Syilli Ba'alawi. Ketika itu Syeikh Umar memimpin taklim dan mengucapkan dari mulutnya ibarat yang mengasyikkan, menggugah hati, memukau telinga dan menyinari hati yang diisi dengan kata-kata yang baru dalam masalah-masalah rumit tentang ilmu syariat dan hakikat. Sayyid Umar pernah berucap bahwa beliau mampu mengeluarkan apa yang ada dalam tafsir ayat Al-Qur'an : "ما ننسخ من آية أو ننسها نأت بخير منها أو مثله" (سورة البقرة، الآية:106) dan seluruh makna tersebut akan dipikul oleh 1.000 ekor onta.

Pengakuan kelebihan beliau juga diakui sang ayah, bahwa di dalam diri Umar Al-Mihdhar terdapat sosok yang tidak diduga bahwa kelebihan tersebut dimilikinya. Ketika Syeikh Umar mendengar ungkapan tersebut beliau lantas berkata :"Apakah ayahnda telah memiliki semua yang dianugerahi oleh Allah Swt. kepada diriku ?".

Bukti lain hasil mujahadah beliau bertahun-tahun dapat diketahui lewat kata kata beliau :"Aku memiliki tiga tangan : dari Rasululloh Saw. dari ayahku dan dari orang lain". Sayyid Umar pernah ditanya :"Darimana engkau memperoleh ilmu pengetahuan?", maka ia menjawab :"Kami mengambilnya setelah mengeluarkannya dari langit".

Syeikh Muhammad bin Ali bin Alwi Khirid pengarang kitab "Ghurar" berkata bahwa ia mendengar Syeikh Abdullah bin Abdurrahman Bafadhal Balhaj berkata :"Aku mengetahui 80 karamah dari Syeikh Umar Al-Mihdhar".

Diriwayatkan bahwa beliau biasa membaca Asma Allah Al-Husna Ya lathif (يا لطيف) 1.000 kali dalam satu nafas, begitu juga ya Hafizh (يا حفيظ). Menurut riwayat lain versi Khodim (pembantu beliau) beliau membacanya 500 kali dalam satu nafas. Dalam Syarah Ainiyah disebutkan bahwa Khadim beliau yang bernama Juraidan juga biasa membaca ya (Latif) 700 kali dalam satu nafas.

۞ Karakteristik

Beliau merupakan orang yang ringan tangan, sosialis, pemurah dan penuh rasa hormat terhadap tamu.

Diceritakan bahwa ada serombongan pasukan berkuda berjumlah kurang lebih 80 orang melewati daerah 'Urf dan mereka mengenal sifat Syeikh Umar, tetapi enggan dan segan untuk singgah, karena takut menyusahkan dan merepotkannya, sebab jumlah mereka yang tidak sedikit, ditambah tunggangan mereka, sedangkan beliau hanya mempunyai sedikit hasil dari kebun dan beberapa pembantu, akan tetapi rasa takut mereka kepadanya melebihi rasa enggan tersebut, maka singgahlah mereka, seraya Syeikh Umar menyapa, menyambut mereka dan berkata :"Jikalau kalian tidak turun singgah ke tempatku maka kalian tidak akan pernah sampai tujuan kalian!", itulah teguran dan sapaan beliau yang bertanda dari seseorang yang sangat bermasyarakat. Sayyid Umar menyatakan bahwa siap menjamu mereka walaupun mereka sejumlah daun daun pohon, tidak berapa lama siaplah jamuan untuk mereka dalam waktu yang singkat.

Pernah beliau menawarkan jasa kepada salah seorang sahabatnya tentang apa yang mereka kehendaki, kemudian sang sahabat meminta Ruthab kepadanya pada musim dingin yang bukanlah musim berbuah ketika itu, maka beliau masuk ke komplek pemakaman untuk ziarah, selang beberapa waktu datang kepadanya seorang laki laki menghampirinya, setelah berbincang bincang sebentar lelaki tersebut menyerahkan bingkisan seraya berucap : "Ini makanan yang diminta sahabatmu !", tidak berapa lama Syeikh Umar menyerahkan bingkisan tersebut kepada temannya, seraya berkata : "Ini yang kamu minta!", setelah ia buka bingkisan tersebut berisi Ruthab, sahabat beliau tersebut menerimanya sambil terdiam kelu dan tidak mampu mengungkapkan pertanyaan siapa lelaki tersebut dan darimana Ruthab tersebut didapat.

۞ Sebagai Pengasuh dan Pendidik

Diriwayatkan bahwa salah satu murid sayyid Umar, berduaan dengan wanita asing (bukan muhrimnya) di tempat yang sepi, ketika sang murid hendak melampiaskan hawa nafsunya datanglah utusan sang guru untuk menyuruhnya menghadap beliau saat itu juga, maka gagalah keinginan untuk memenuhi hasratnya, ia pun langsung menghadap, ketika itu Syeikh Umar mengambil debu dan menebarkanya ke wajah muridnya tersebut dan berkata : "Hampir saja kamu celaka".


۞ Aktivitas bidang sosial

Kiprah dan pengabdian beliau kepada agama Islam dalam bidang pendidikan, tarbiyah serta tazkiyah ternyata tidak menghentikan langkah beliau untuk khidmah kepada umat Muhammadiyah. Bukan hanya sekedar berkorban dengan lisan, tetapi juga dengan akhlak nabawiyah, salah satu contoh peran aktifnya dalam kemasyarakatan ialah kedudukannya sebagai pengasuh dan pengayom kegiatan dan usaha masyarakat setempat, seperti menentukan garis besar perekonomian di kota Syihr, Mukalla, Gheil dsb, karena penduduk setempat bermata pencaharian dibidang perkebunan, pertanian dan perikanan, dan zakat yang diperoleh dari masyarakat disalurkan kepada yang berhak, sedangkan hasil kerja bersama dikeluarkan untuk biaya kelangsungan kegiatan umat Islam agar berjalan lancar, seperti dakwah, pendidikan, pelayanan fakir miskin, anak yatim dan para pendatang.

Demikian banyaknya kontribusi yang telah beliau curahkan pada masyarakat semua itu tidak mengurangi kedermawanan yang tumbuh dari sosok kepribadian beliau untuk menyedekahkan hartanya sendiri, sampai menurut karabatnya Sayyid Umar terlalu pemurah dan berlebihan sampai orang lainpun menegurnya, tapi beliau malah melantunkan ayat suci al Qur'an : "ما عندكم ينفد وما عند الله باق" (سورة النحل، الآية: 96) Sayyid Umar juga aktif di lembaga resmi yang dinaungi pemerintah setempat sebagaimana yang dicatat oleh Sholih bin Ali Al-Hamid dalam bukunya "Sejarah Hadhromaut" bahwa beliau termasuk dari orang-orang yang menandatangani kesepakatan bersama dari pemerintah saat itu untuk mengatasi masalah-masalah krusial yang terjadi di masyarakat bersama sepuluh orang lainnya yang telah disepakati oleh 41 orang dari tokoh masyarakat setempat.

۞ Murid Murid

Diantara murid beliau adalah Syeikh Abdullah bin Abu Bakar As-Sakran , yang menurut beliau mempunyai peranan penting dalam "Hal" dan "Maqom" Bani 'Alawi,

Diantara muridnya Syeikh Ali bin Abu Bakar As-Sakran , Al-Habib Ahmad bin Umar bin Ali bin Umar bin Ahmad bin Al-Faqih Al-Muqaddam, Al-Habib Husain bin Ahmad bin Alwi, Al-Habib Muhammad bin Abdulah bin Ali dan juga saudara-saudara beliau seperti Abdullah, Hasan, Husain dan Syeikh, Al-Faqih Muhammad bin Ali Bazagoifan, Syeikh Sa'id bin Ahmad Baghorib As-Syihri, Syeikh Abdullah bin Al-Faqih Ali Baharmi, Syeikh Abu Bakar bin Abu Qubail, Syeikh Husain bin Abdullah bin Muhammad Maula Dawilah, Syeikh Ahmad bin Abu Bakar.

۞ Peninggalan

Diantara peninggalan beliau adalah masjid Umar al Mihdhar (lebih dikenal dengan sebutan masjid al-muhdhar) yang terletak di kota Tarim dengan menara yang tinggi terbuat dari tanah yang dibangun oleh Syeikh Abu Bakar bin Syihab dan masjid-masjid lainnya yang berada di Syihr.

۞ Berpulang Ke Rahmatullah

Wafat beliau pada hari Senin tanggal 2 Dzulqo'dah 833 H. di siang hari, tepatnya setelah adzan Zhuhur berkumandang, sayyid Umar mengambil air wudhu' diteruskan dengan iqomah sendiri dan langsung mendirikan shalat Zhuhur, ketika sujud pertama beliau berpulang ke rahmatullah, panjang sujudnya membuat orang yang disekitarnya merasa heran sampai mereka menegurnya, tetapi tidak ada reaksi apapun yang menandakan bahwa beliau sudah wafat, sampai ketika hendak dimandikan beliau masih dalam keadaan sujud.

Beliau disemayamkan di komplek pekuburan ahli Tarim sekitar persemayaman pendahulu Bani 'Alawi, Zanbal Turbatu Ahli Basyar. رحمة الله عليه والمسلمين رحمة الأبرار Beliau hanya memiliki 4 putri.


Sumber: http://tareemzone.blogspot.com