Habib Muhammad bin Ali

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

AL-HABIB MUHAMMAD BIN ALI Maula Aidid (Pemimpin Kota Aidid) W : 862 H

Bergelar "Jamaluddin" dengan nama lengkap Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi (paman Al-Faqih Al-Muqaddam) bin Shohib Mirbath Muhammad bin Ali, dilahirkan di kota Tarim dan besar di sana, diasuh serta dididik oleh ayahnya Ali bin Muhammad dan Syeikh Abdurrahman As-Segaff, serta mempelajari ilmu syariah dengan Syeikh Muhammad bin Hakam Baqusyair dan Al-Faqih Abdullah bin Fadhl.

Seorang pakar fiqih, tasawuf dan hakikat, bahkan guru-guru beliau memuji, sering bertemu dengan Nabi Khadir, beliau melazimi ibadah antara Maghrib dan Isya dengan membaca 3.000 Surat Ikhlas, dll.

Dihormati dan disegani serta petuahnya dijunjung tinggi oleh para murid yang menimba ilmu darinya, diantara mereka adalah Syeikh Ali bin Abu Bakar, Syeikh Abu Bakar Al-Adani, Abu Bakar Al-Aydrus (keponakannya), Al-Allamah Al-Faqih Muhammad bin Ahmad Bafadhal dan Muhammad bin Ahmad Abi Jars. .

Beliau memiliki beberapa anak enam anak laki-laki Abdullah, Abdurrahman, Ahmad Al-Akbar (dari istri beliau anak perempuan Hasan bin Al-Faqih Ahmad), alwi, Al-Faqih Ahmad dan Syeikh Ali.


AL-HABIB SYEIKH BIN ABDURRAHMAN AS-SEGAFF

۞ Kelahiran Dan Pendidikan

Tarim adalah tempat kelahirannya, sejak kecil telah menghafalkan Al-Qur'an dan beberapa kitab dasar di bawah asuhan ayahnya sendiri hingga dewasa, begitu pula dengan saudaranya Syeikh Umar Al-Mihdhar, Syeikh Jamaluddin Muhammad bin Hakam Baqusyair sampai kemudian menjadi guru dari Syeikh Abdullah Al-Aydrus dan saudaranya Syeikh Ali serta Syeikh Sa'id bin Ali.

۞ Kedudukan dan Pujian Terhadapnya

Saudaranya Syeikh Umar Al-Mihdhar berkata : "Saudaraku Syeikh orang yang tak terikat", karena beliau tidak pernah menikah dan mengenal perempuan yang bukan muhrimnya. Syeikh Umar ditanya : "Adakah kamu melihat sosok seseorang seperti kamu?", beliau menjawab : "Tidaklah aku bahkan sepuluh orang seperti aku bias menyamai sosok Syeikh saudaraku".

Syeikh Muhammad bin Hakam Baqusyair (guru beliau) berkata : "Sayyid Syeikh mencakup sifat-sifat Al-Imam Muhammad bin Abi Bakar Ba'ubad, Syeikh Fadhl dan Sayyid Hasan bin Ali Al-Wara', kemudian dalam percakapan diantara mereka (guru dan murid), Syeikh Baqusyair berkata : "Aku telah menimba ilmu lebih banyak darimu dari apa yang kau peroleh dariku". Saudara beliau Agil berkata : "Aku pernah melakukan sholat hajat untuk memohon kepada Allah SWT agar memperlihatkan padaku seorang sosok waliyullah, maka tertidurlah aku dan aku melihat Syeikh Sa'ad Al-Mu'allim bin Abdullah Ba'ubaid dalam mimpiku, kemudian aku shalat kembali dan berdo'a kepada-Nya agar memperlihatkan padaku sosok waliyullah yang paling agung, ketika tertidur kulihat saudaraku Syeikh". Dalam satu kesempatan pembantu beliaupun menyatakan kekaguman akan kemuliaan akhlaq dari majikan tersebut : "Aku telah berkhidmah kepadanya lebih dari sebelas tahun, selama itu aku tidak pernah melihatnya marah".


۞ Karamah-karamah

Sayyid Muhammad bin Husain bin Abu Bakar Ba'alawi berkata :"Aku melihat sayyid Syeikh bin Abdurrahman As-Segaff sedang memetik buah ruthab di kebun Masjid As-Segaff pada musim dingin". Khadim masjid As-Segaff lapor kepada Syeikh : "Timba sumur masjid As-Segaff telah dicuri", beliau menjawab : "Sabarlah barangkali saja dia akan mengembalikannya hari ini juga", keesokan harinya pembantu tersebut lapor kembali kepada beliau :"Pencuri tersebut tidak mengembalikannya", beliau menjawab : "pergilah ke tempat ini lalu duduklah di sana, dan tanyakanlah pada orang yang pertama kali lewat di depanmu", pergilah dia dan duduk di sana, ketika itu lewat seorang lelaki dan langsung ia tanya : "Mana timba masjid As-Segaff", lelaki tersebut terkejut sembari berkata : "Padahal setauku tidak ada seorangpun yang mengetahui kejadian itu kecuali Allah SWT", kemudian ia bergegas mengembalikan timba yang dia curi.

۞ Berpulang ke rahmatullah

Kegetirannya terhadap maksiat membuatnya enggan menatap dunia ini, hingga beliau pernah menegur seseorang agar meniggalkan perbuatan maksiat yang selalu dilakukannya, namun dia tidak peduli terhadap teguran serta nasehat-nasehat yang beliau tuturkan hingga beliaupun merasa letih : "Alangkah indahnya perjalanan mejauhi dunia fana ini" keluhnya, kemudian berdo'a agar Allah SWT berkenan mencabut nyawanya, beliau memberitahu kepada keluarga : "Aku akan meninggalkan dunia hari ke empat belas dari bulan ini".

Sayyid Aqil saudaranya bertanya tentang keadaannya, beliau menjawab : "Aku diantara para tokoh yang menentramkan orang yang duduk bersama mereka akan musibah zaman ini, aku diantara orang-orang yang karena merekalah bumi menjadi harum, yang disebutkan dalam al-Qur'an : "يختص برحمته من يشاء" (البقرة 105) "aku termasuk orang yang diberi keistimewaan oleh-Nya dengan rahmat-Nya", imbuhnya.

Al-'Arifbillah Ali bin Sa'id berkata kepada saudaranya Abdullah : "Jangan kamu menjauh dari saudaramu Syeikh, karena aku telah melihat para wali datang menjenguknya, mungkin ia akan meninggalkan dunia ini".

Saat masa kritis lampu dinding padam, ketika itu sebuah sekilat cahaya keluar dari pandangan mata, itulah ruhnya yang telah pergi dari dunia ini, semoga Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya kepada beliau, sebelum ajal beliau sempat melontarkan ayat suci al-Qur'an yang berbunyi:

(إبراهيم ث: 27)"يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة",


Sumber: http://tareemzone.blogspot.com