Cak Nun (Emha Ainun Nadjib)

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search
Cak Nun
Cak nun.jpg
Lahir : 27 Mei 1953
Wafat : -

Kembali ke Main Page << Nusantara

Emha Ainun Nadjib lebih akrab dipanggil dengan Cak Nun merupakan seorang yang sangat unik di mana terdapat di dalam diri beliau perpaduan antara seniman, budayawan, intelektual muslim, dan juga penulis, sebagian besar jamaah pengikutnya menganggapnya memiliki saluran-saluran akses kepada para wali yang memiliki kemampuan di atas rata-rata manusia pada umumnya.


Riwayat Keluarga

Kelahiran

Cak Nun lahir di Jombang, Jawa Timur pada 27 Mei 1953 yang merupakan anak ke-4 dari 15 bersaudara. Ayahnya bernama MA Lathif yang adalah seorang petani. Dia mengenyam pendidikan SD di Jombang (1965) dan SMP Muhammadiyah di Yogyakarta (1968).

Keluarga

Beliau sempat menikah dua kali, yaitu yang pertama dengan seorang wanita yang menghasilkan keturunan bernama Sabrang, selanjutnya istri pertama tersebut berpisah (cerai) dan dalam banyak kisah diceritakan bahwa mantan istrinya tersebut yang meminangkan istri keduanya. Istrinya yang kedua yaitu, Novia Kolopaking, dikenal sebagai seniman film, panggung, serta penyanyi yang dikaruniai 4 orang anak.

Keturunan

Anak : Sabrang Mowo Damar Panuluh, Ainayya Al-Fatihah, Aqiela Fadia Haya, Jembar Tahta Aunillah, Anayallah Rampak Mayesha


Pendidikan

Pendidikan Formal

Pendidikan formalnya sempat mengenyam di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM). Sebelumnya dia pernah terpaksa dikeluarkan dari Pondok Modern Gontor Ponorogo karena melakukan ‘demo’ melawan pemerintah pada pertengahan tahun terakhir studinya, kemudian pindah ke Yogya dan tamat SMA Muhammadiyah I.

Pendidikan Seni dan Sastra

Lima tahun hidup di Malioboro, Yogyakarta antara tahun 1970-1975 dan belajar sastra kepada guru yang dikaguminya, Umbu Landu Paranggi, seorang sufi yang sangat mempengaruhi perjalanan Cak Nun. Selain itu ia juga pernah mengikuti kegiatan lintas negara antara lain:

  • Lokakarya teater di Filipina (1980)
  • International Writing Program di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1984)
  • Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda (1984)
  • Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman (1985)

Silsilah Keilmuan

Dalam beberapa kesempatan beliau menyatakan berguru kepada:


Aktivitas

Aktivitas Keseharian

Dalam kesehariannya, Emha terjun langsung di masyarakat dan melakukan aktivitas-aktivitas yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik, sinergi ekonomi guna menumbuhkan potensialitas rakyat. Di samping aktivitas rutin bulanan dengan komunitas Masyarakat Padhang mBulan, ia juga berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, rata-rata 10-15 kali per bulan bersama Musik Kiai Kanjeng, dan rata-rata 40-50 acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Selain itu ia juga menyelenggarakan acara Kenduri Cinta sejak tahun 1990-an yang dilaksanakan di Taman Ismail Marzuki. Kenduri Cinta adalah forum silaturahmi budaya dan kemanusiaan yang dikemas sangat terbuka, nonpartisan, ringan dan dibalut dalam gelar kesenian lintas gender. Dalam pertemuan-pertemuan sosial itu ia melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.

Dalam berbagai forum komunitas Masyarakat Padang Bulan, itu pembicaraan mengenai pluralisme sering muncul. Berkali-kali Cak Nun yang menolak dipanggil kiai itu meluruskan pemahaman mengenai konsep yang ia sebut sebagai manajemen keberagaman itu. Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.

Riwayat Karier

Karirnya diawali sebagai Pengasuh Ruang Sastra di harian Masa Kini, Yogyakarta (1970). Kemudian menjadi Wartawan/Redaktur di harian Masa Kini, Yogyakarta (1973-1976), sebelum menjadi pemimpin Teater Dinasti (Yogyakarta), dan grup musik Kyai Kanjeng hingga kini. Penulis puisi dan kolumnis di beberapa media.

Cak Nun memacu kehidupan multi-kesenian di Yogya bersama Halimd HD, networker kesenian melalui Sanggarbambu, aktif di Teater Dinasti dan mengasilkan beberapa reportoar serta pementasan drama. Di antaranya:

  • Geger Wong Ngoyak Macan (1989, tentang pemerintahan ‘Raja’ Soeharto)
  • Patung Kekasih (1989, tentang pengkultusan);
  • Keajaiban Lik Par (1980, tentang eksploitasi rakyat oleh berbagai institusi modern)
  • Mas Dukun (1982, tentang gagalnya lembaga kepemimpinan modern).

Selain itu, bersama Teater Salahudin mementaskan beberapa teater antara lain:

  • Santri-Santri Khidhir (1990, di lapangan Gontor dengan seluruh santri menjadi pemain, serta 35.000 penonton di alun-alun madiun)
  • Lautan Jilbab (1990, dipentaskan secara massal di Yogya, Surabaya dan Makassar)
  • Kiai Sableng dan Baginda Faruq (1993).
  • Perahu Retak (1992, tentang Indonesia Orba yang digambarkan melalui situasi konflik pra-kerajaan Mataram, sebagai buku diterbitkan oleh Garda Pustaka)
  • Sidang Para Setan
  • Pak Kanjeng
  • Duta Dari Masa Depan.

Dia juga termasuk kreatif dalam menulis puisi. Terbukti, dia telah menerbitkan 16 buku puisi antara lain:

  • “M” Frustasi (1976)
  • Sajak-Sajak Sepanjang Jalan (1978)
  • Sajak-Sajak Cinta (1978)
  • Nyanyian Gelandangan (1982)
  • 99 Untuk Tuhanku (1983)
  • Suluk Pesisiran (1989)
  • Lautan Jilbab (1989)
  • Seribu Masjid Satu Jumlahnya (1990)
  • Cahaya Maha Cahaya (1991)
  • Sesobek Buku Harian Indonesia (1993)
  • Abacadabra (1994)
  • Syair Amaul Husna (1994)

Selain itu, juga telah menerbitkan 30-an buku esai, di antaranya:

  • Dari Pojok Sejarah (1985)
  • Sastra Yang Membebaskan (1985)
  • Secangkir Kopi Jon Pakir (1990)
  • Markesot Bertutur (1993)
  • Markesot Bertutur Lagi (1994)
  • Opini Plesetan (1996)
  • Gerakan Punakawan (1994
  • Surat Kepada Kanjeng Nabi (1996)
  • Indonesia Bagian Penting dari Desa Saya (1994)
  • Slilit Sang Kiai (1991); Sudrun Gugat (1994)
  • Anggukan Ritmis Kaki Pak Kiai (1995)
  • Bola- Bola Kultural (1996)
  • Budaya Tanding (1995)
  • Titik Nadir Demokrasi (1995)
  • Tuhanpun Berpuasa (1996)
  • Demokrasi Tolol Versi Saridin (1997)
  • Kita Pilih Barokah atau Azab Allah (1997)
  • Iblis Nusantara Dajjal Dunia (1997)
  • 2,5 Jam Bersama Soeharto (1998)
  • Mati Ketawa Cara Refotnasi (1998)
  • Kiai Kocar Kacir (1998)
  • Ziarah Pemilu
  • Ziarah Politik
  • Ziarah Kebangsaan (1998)
  • Keranjang Sampah (1998)
  • Ikrar Husnul Khatimah (1999)
  • Jogja Indonesia Pulang Pergi (2000)
  • Ibu Tamparlah Mulut Anakmu (2000)
  • Menelusuri Titik Keimanan (2001)
  • Hikmah Puasa 1 & 2 (2001)
  • Segitiga Cinta (2001)
  • “Kitab Ketentraman” (2001)
  • “Trilogi Kumpulan Puisi” (2001)
  • “Tahajjud Cinta” (2003)
  • “Ensiklopedia Pemikiran Cak Nun” (2003)
  • Folklore Madura (2005); Puasa ya Puasa (2005)
  • Kerajaan Indonesia (2006, kumpulan wawancara)
  • Kafir Liberal (2006)
  • Jalan Sunyi EMHA (Ian L. Betts, Juni 2006)


Pluralisme

Cak Nun bersama Grup Musik Kiai Kanjeng dengan balutan busana serba putih, ber-shalawat (bernyanyi) dengan gaya gospel yang kuat dengan iringan musik gamelan kontemporer di hadapan jemaah yang berkumpul di sekitar panggung Masjid Cut Meutia. Setelah shalat tarawih terdiam, lalu sayup-sayup terdengar intro lagu Malam Kudus. Kemudian terdengar syair, “Sholatullah salamullah/ ’Ala thoha Rasulillah/ Sholatullah salamullah/ Sholatullah salamullah/ ’Ala yaasin Habibillah/ ’Ala yaasin Habibillah…” Emha Ainun Nadjib Tepuk tangan dan teriakan penonton pun membahana setelah shalawat itu selesai dilantunkan. “Tidak ada lagu Kristen, tidak ada lagu Islam. Saya bukan bernyanyi, saya ber-shalawat,” ujarnya menjawab pertanyaan yang ada di benak jemaah masjid.

Tampaknya Cak Nun berupaya merombak cara pikir masyarakat mengenai pemahaman agama. Bukan hanya pada Pagelaran Al Quran dan Merah Putih Cinta Negeriku di Masjid Cut Meutia, Jakarta, Sabtu (14/10/2006) malam, itu ia melakukan hal-hal yang kontroversial. Dalam berbagai komunitas yang dibentuknya, oase pemikiran muncul, menyegarkan hati dan pikiran.

Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme.

“Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.

Sumber: http://biografi.rumus.web.id/biografi-emha-ainun-nadjib/


Cak Nun dan Tim 9 di Keruntuhan Presiden Soeharto

Cak Nun adalah salah satu anggota Tim 9 yang dipanggil presiden Soeharto di akhir masa pemerintahan di tengah huru-hara kericuhan di banyak wilayah Indonesia.


Kisah Teladan Beliau

Penghargaan

Pada bulan Maret 2011, Cak Nun memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, Penghargaan Satyalancana Kebudayaan diberikan kepada seseorang yang memiliki jasa besar di bidang kebudayaan dan mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara.


Video dan Artikel

Festival Budaya


Kenduri Cinta


Macapat Syafaat


Bang Bang Wetan


Pengajian Tombo Ati