Aisyah

From Wiki Aswaja NU
Share/Save/Bookmark
Jump to: navigation, search

Sebelum hijrah, Aisyah r.a dinikahi Rasulullah saw di Makkah al Mukarramah, tepatnya pada bulan kesepuluh masa kenabian. Pada saat itu, Aisyah r.a masih berusia 6 tahun. Di antara isteri-isteri Rasulullah saw, hanya Aisyah r.a yang masih gadis ketika di nikahi oleh beliau, sedangkan yang lainya dinikahi dalam keadaan janda. Aisyah r.a lahir 4 tahun setelah Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul. Ketika Aisyah r.a berusia 9 tahun, barulah dia dibawa ke rumah Nabi saw. Rasulullah saw wafat ketika Aisyah r.a berusia 18 tahun dan pada tanggal 17 Ramadhan tahun 57 Hijriyah, malam selasa, Aisyah r.a telah wafat pada usia 66 tahun.Sebelum wafat, Aisyah r.a telah berpesan agar dimakamkan di tempat pemakaman umum, seperti juga isteri-isteri Nabi saw yang lainnya. Jadi dia tidak di makamkan di dalam kamar nabi saw, tetapi dimakamkan di pemakaman Baqi.

Telah menjadi kepercayaan bagsa Arab pada saat itu, bahwa pernikahan yang dilaksanakan pada bulan Syawwal akan mendatangkan hal-hal yang tidak baik. Mengenai hal ini, dengan bangga Aisyah r.a berkata, “Saya telah menikah pada bulan Syawwal, dan telah pindah ke rumah Nabi saw pada bulan Syawwal juga.Siapakah isteri Rasulullah saw yang paling beruntung dan paling di cintai olehnya?”

Aisyah r.a adalah seorang wanita yang cerdas. Dia banyak meriwayatkan hadist dan menggali ilmu dari Rasulullah saw sehingga dia tampil sebagai sosok ilmuan yang serba bisa. Selain itu dia juga meriwayatkan hadist dari Abu Bakar r.a , Umar bin Khaththab r.a, Sa'ad bin Abi Waqqash r.a, Hamzah bin Amr al Aslami r.a, Jumadah binti Wahab dan dari fatimah r.a

Kisah mengenai pernikahan Rasulullah saw dengan Aisyah r.a adalah sebagai berikut,” Setelah Khadijah r.a meninggal, Khaulah binti Hakimlah r.a datang menemui Rasulullah saw dan bertanya,”Wahai Rasulullah saw apakah engkau tidak ingin menikah lagi ?” Beliau menjawab,”Ya, tapi denga siapa?” Khaulah r.a bertanya,”Mana yang engkau sukai, yang masih gadis atau yang sudah janda? Apabila engkau menginginkan yang gadis, dia adalah Aisyah, puteri sahabat dekatmu sendiri, Abu Bakar Shiddiq, dan apabila engkau menginginkan yang janda, pilihan adalah Saudah binti Zam'ah.” Rasulullah saw menjawab,” Baiklah, bicarakanlah dengannya, nanti saya lihat”

Kemudian Khaulah r.a pergi ke rumah Abu Bakar r.a dan berbicara dangan ibnu Aisyah r.a yang bernama Ummu Ruman r.a “Saya datang kesini membawa suatu keberkahan dan kebaikan yang besar.” Ummu Ruman r.a bertanya, “Apakah itu?” Khaulah r.a menjawab, “Saya telah di utus oleh Rasulullah saw untuk meminang Aisyah.” Ummu Ruman terkejut sambil berkata, “Bukankah dia adalah keponakan Nabi sendiri, bagaimana mungkin dinikahi? Tetapi baiklah, saya akan berunding dengan ayahnya dulu,,” Ketika itu Abu Bakar r.a sedang tidak ada di rumah. Setelah dia datang, maka di ceritakan tawaran tersebut, dan jawaban Abu Bakar r.a juga sama dengan jawaban Ummu Ruman r.a bahwa Aisyah r.a adalah keponakan Nabi sendiri,bagaimana mungkin dia dapat dinikahi?

Kemudian Khaulah r.a datang menemui Rasulullah saw dan menceritakan peristiwa tadi kepada beliau. Rasulullah saw bersabda “Memang Abu Bakar adalah sahabat saya dan saudara sesama seIslam, tetapi puterinya boleh dinikahi oleh saya.” Maka Khaulah r.a kembali ke rumah Abu Bakar r.a dan memberi tahu jawaban Rasulullah saw tersebut. Hal ini membuat Abu Bakar r.a menjadi gembira dan dia menghendaki supaya Rasulullah saw datang sendiri. Lalu Rasulullah saw datang ke rumah Abu Bakar r.a dan menikahlah keduanya.

Beberapa bulan setelah Rasulullah saw hijrah ke Madinah,Abu Bakar r.a bertanya, “wahai Rasulullah saw, mengapa engkau tidak mengajak Aisyah untuk tinggal bersama engkau?” Rasulullah saw menjawab, “Saya tidak mempunyai peralatan runah tangga.” Kemudian Abu Bakar r.a memberi uang kepada Rasulullah saw untuk membeli barang-barang yang diperlukan, sehingga masalah ini dapat terselesaikan. Setelah semuanya siap, pada bulan Syawwal tanggal 1 atau 2 Hijriyah, pada waktu Dhuha, Abu Bakar r.a telah mengirimkan puterinya kerumah Nabi saw. Inilah pernikahan Rasulullah saw yang dilaksanakan sebelum Hijrah. Setelah itu semua, pernikahan dilaksanakan setelah hijrah ke Madinah.(Sumber Himpunan Kitab Fadhail Amal Hal 740-741)


====

RIWAYAT HIDUP SITI AISYAH

Siti Aisyah memiliki gelar ash-Shiddiqah, sering dipanggil dengan Ummu Mukminin, dan nama keluarganya adalah Ummu Abdullah. Kadang-kadang ia juga dijuluki Humaira’. Namun Rasulullah sering memanggilnya Binti ash-Shiddiq. Ayah Aisyah bernama Abdullah, dijuluki dengan Abu Bakar. Ia terkenal dengan gelar ash-Shiddiq. Ibunya bernama Ummu Ruman. Ia berasal dari suku Quraisy kabilah Taimi di pihak ayahnya dan dari kabilah Kinanah di pihak ibu.

Sementara itu, garis keturunan Siti Aisyah dari pihak ayahnya adalah Aisyah binti Abi Bakar ash-Shiddiq bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin Umar bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Fahr bin Malik. Sedangkan dari pihak ibu adalah Aisyah binti Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abd Syams bin Itab bin Adzinah bin Sabi’ bin Wahban bin Harits bin Ghanam bin Malik bin Kinanah.

Siti Aisyah lahir pada bulan Syawal tahun ke-9 sebelum hijrah, bertepatan dengan bulan Juli tahun 614 Masehi, yaitu akhir tahun ke-5 kenabian. Kala itu, tidak ada satu keluarga muslim pun yang menyamai keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq dalam hal jihad dan pengorbanannya demi penyebaran agama Islam. Rumah Abu Bakar saat itu menjadi tempat yang penuh berkah, tempat makna tertinggi kemuliaan, kebahagiaan, kehormatan, dan kesucian, dimana cahaya mentari Islam pertama terpancar dengan terang.

Dari perkembangan fisik, Siti Aisyah termasuk perempuan yang sangat cepat tumbuh dan berkembang. Ketika menginjak usia sembilan atau sepuluh tahun, ia menjadi gemuk dan penampilannya kelihatan bagus, padahal saat masih kecil, ia sangat kurus. Dan ketika dewasa, tubuhnya semakin besar dan penuh berisi. Aisyah adalah wanita berkulit putih dan berparas elok dan cantik. Oleh karena itu, ia dikenal dengan julukan Humaira’ (yang pipinya kemerah-merahan). Ia juga perempuan yang manis, tubuhnya langsing, matanya besar, rambutnya keriting, dan wajahnya cerah.

Tanda-tanda ketinggian derajat dan kebahagiaan telah tampak sejak Siti Aisyah masih kecil pada perilaku dan grak-geriknya. Namun, seorang anak kecil tetaplah anak kecil, dia tetap suka bermain-main. Walau masih kecil, Aisyah tidak lupa tetap menjaga etika dan adab sopan santun ajaran Rasulullah di setiap kesempatan.

Pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah merupakan perintah langsung dari Allah, setelah wafatnya Siti Khadijah. Setelah dua tahun wafatnya Khadijah, turunlah wahyu kepada kepada Rasulullah untuk menikahi Aisyah, kemudian Rasulullah segera mendatangi Abu Bakar dan istrinya, mendengar kabar itu, mereka sangat senang, terlebih lagi ketika Rasulullah setuju menikahi putri mereka. Maka dengan segera disuruhlah Aisyah menemui beliau.

Pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah terjadi di Mekkah sebelum hjirah pada bulan Syawal tahun ke-10 kenabian. Ketika dinikahi Rasulullah, Siti Aisyah masih sangat belia. Di antara istri-istri yang beliau nikahi, hanyalah Aisyah yang masih dalam keadaan perawan. Aisyah menikah pada usia 6 tahun. Tujuan inti dari pernikahan dini ini adalah untuk memperkuat hubungan dan mempererat ikatan kekhalifahan dan kenabian. Pada waktu itu, cuaca panas yang biasa dialami bangsa Arab di negerinya menyebabkan pertumbuhan dan perkembangan fisik anak perempuan menjadi pesat di satu sisi. Di sisi lain, pada sosok pribadi yang menonjol, berbakat khusus, dan berpotensi luar biasa dalam mengembangkan kemampuan otak dan pikiran, pada tubuh mereka terdapat persiapan sempurna untuk tumbuh dan berkembang secara dini.

Pada waktu itu, karena Siti Aisyah masih gadis kecil, maka yang dilangsungkan baru akad nikah, sedangkan perkawinan akan dilangsungkan dua tahun kemudian. Selama itu pula beliau belum berkumpul dengan Aisyah. Bahkan beliau membiarkan Aisyah bermain-main dengan teman-temannya. Kemudian, ketika Aisyah berusaha 9 tahun, Rasulullah menyempurnakan pernikahannya dengan Aisyah. Dalam pernikahan itu, Rasulullah memberikan maskawin 500 dirham. Setelah pernikahan itu, Aisyah mulai memasuki rumah tangga Rasulullah.

Pernikahan seorang tokoh perempuan dunia tersebut dilangsungkan secara sederhana dan jauh dari hura-hura. Hal ini mengandung teladan yang baik dan contoh yang bagus bagi seluruh muslimah. Di dalamnya terkandung hikmah dan nasehat bagi mereka yang menganggap penikahan sebagai problem dewasa ini, yang hanya menjadi simbol kemubaziran dan hura-hura untuk menuruti hawa nafsu dan kehendak yang berlebihan.

Dalam hidupnya yang penuh jihad, Siti Aisyah wafat dikarenakan sakit pada usia 66 tahun, bertepatan dengan bulan Ramadhan, tahun ke-58 Hijriah. Ia dimakamkan di Baqi’. Aisyah dimakamkan pada malam itu juga (malam Selasa tanggal 17 Ramadhan) setelah shalat witir. Ketika itu, Abu Hurairah datang lalu menshalati jenazah Aisyah, lalu orang-orang pun berkumpul, para penduduk yang tinggal di kawasan-kawasan atas pun turun dan datang melayat. Tidak ada seorang pun yang ketika itu meninggal dunia dilayat oleh sebegitu banyak orang melebihi pelayat kematian Aisyah.

Sumber: Gusdurian